
Setibanya di mansion, Askara langsung mencari keberadaan Maminya. dia ingin menanyakan secara langsung apa saja yang di bicarakan Maminya itu dengan Dalila.
"Mi, aku perlu bicara". ujar Askara saat mendapati Maminya sedang bersantai di ruang tengah sambil membaca majalah fashion.
"Tumben kau pulang jam segini, ini belum jam pulang kantor". balas Mami Sandra tanpa mengalihkan perhatiannya dari majalah di tangannya. dia sebenarnya tau apa yang ingin di bicarakan oleh Askara.
"Mami nggak perlu basa-basi. aku mau tanya, apa benar Mami menemui Dalila tadi?". tanya Askara terdengar tidak suka.
Mami Sandra spontan menutup majalah di tangannya dengan perasaan kesal setelah mendengar pertanyaan Askara. "Sudah Mami duga dia pasti akan datang menemuimu. apa yang dia katakan padamu?, apa dia mengatakan hal yang jelek-jelek tentang Mami?". tanyanya, dia sudah memprediksi bahwa Dalila pasti akan datang menemui Askara. wanita itu merasa gelisah dengan perkataannya saat di restorant tadi.
Askara menghembuskan nafas kasar. "Mami seharusnya tidak perlu melakukan itu semua. aku bisa menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri".
"Dengan cara apa kau akan menyelesaikannya, Askara?. kau bukannya akan memperbaiki keadaan tapi justru sebaliknya, kau akan membuat semuanya semakin kacau". tutur Mami Sandra menatap tajam Askara.
"Mami sudah ikut campur terlalu jauh dalam permasalahanku, seharusnya Mami sadar kalau keterlibatan Mami yang membuat semuanya kacau".
__ADS_1
"Jadi kau tidak suka karena Mami datang menemui Dalila dan menyuruhnya untuk menjauhimu?, semisal mami tidak melakukan hal itu, kau pasti masih akan terus berhubungan dengan Dalila. begitu maumu, Askara?". bentak Mami Sandra karena Askara sepertinya tidak akan pernah bisa berubah
Tanpa Askara dan Mami Sandra ketahui, di balik tembok yang membatasi mereka. Anin mendengarkan percakapan keduanya. hatinya kembali merasa sakit karena Askara seperti tidak suka dan melindungi Dalila dari Mami Sandra.
Dengan mata berkaca-kaca, Anin memilih pergi dari sana, dia tidak ingin lagi mendengarkan percakapan antara Askara dan Mami Sandra.
"Bagaimana mungkin aku lebih memilih Dalila, Mi. sedangkan yang aku cintai adalah Anin". ungkap Askara dengan wajah lesuhnya. "Aku sadar jika Anin begitu berarti dalam hidupku, bahkan rasa cintaku padanya lebih besar di bandingkan pada Dalila dulu. Anin segalanya buatku, Mi".
Mendengar pengakuan anaknya, Mami sandra diam-diam tersenyum karena akhirnya Askara tau hatinya untuk siapa.
Setelah mengatakan hal tersebut, Mami Sandra lalu meninggalkan Askara.
Tujuan sebenarnya Askara pulang lebih cepat dari kantor adalah untuk menemui Anin, tidak peduli wanita itu akan menolaknya.
Askara sudah berdiri di depan kamar Anin dan langsung masuk tanpa mengetuk, untungnya pintu tidak terkunci.
__ADS_1
Tampak Anin sedang berdiri menghadap ke arah luar jendela. rasa rindu yang sudah bersarang di hatinya membuat Askara langsung memeluk tubuh Anin dari belakang.
"Aku merindukanmu". ujar Askara tepat di telinga Anin. menciumi pundak istrinya itu berkali-kali, dia benar-benar merindukan wangi Anin.
Anin tak bergeming dalam dekapan Askara, pandangannya hanya lurus ke depan. meskipun rasanya dia rindu, tapi rasa sakit di hatinya lebih dominan.
"Mari kita berpisah, Mas". ujar Anin setelah bungkam beberapa saat.
Tubuh Askara langsung menegang mendengar ucapan Anin, jantungnya berdetak hebat saat kata-kata yang tidak ingin dia dengar tiba-tiba keluar dari mulut Anin.
"A-pa maksudmu, Anin". Askara sampai tergagap, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
"Aku mau kita berpisah saja, Mas. dengan begitu kita bisa berhenti saling menyakiti dan melanjutkan hidup kita masing-masing". ulang Anin membuat dekapan Askara perlahan terlepas.
Hari para readers!
__ADS_1
mungkin banyak yang udah kangen sama updatenya author. dalam beberapa minggu ini author sibuk banget. tapi, mulai hari ini author akan mulai rajin update. semangat terus yah, ceritanya hampir nyampe final nih.