
Pagi-pagi sekali Anin dan Vivi sudah berada di rumah sakit tempat ibu Anin di rawat. Anin berharap hari ini, hati ibunya mulai melunak dan mau bertemu dengannya.
"Embun, kau sudah datang nak?". tanya bude Yuni yang duduk di depan ruang rawat adik iparnya itu saat melihat Anin dan juga Vivi sudah datang.
"Iyya bude. tapi kenapa bude ada di luar?". tanya Anin setelah meletakkan rantang berisi makanan kesukaan ibunya yang khusus dia masak pagi tadi. berharap hati ibunya akan tersentuh sedikit saja setelah memakan hasil masakannya.
"Ibumu baru saja selesai di periksa dokter tadi. dan sekarang sedang istirahat. dan apa ini, Embun?". tanya bude Yuni melihat rantang makanan yang di letakkan Anin di sampingnya.
"Aku sengaja masak makanan kesukaan ibu, siapa tau ibu akan ingat kenangan bahagia kita dulu dan hatinya sedikit tersentuh untuk mau memaafkan aku, bude". terang Anin.
Bude Yuni menarik tangan Anin untuk duduk di sampingnya setelah menggeser posisi rantang yang di bawa oleh Anin.
"Ibumu pasti akan memaafkan kamu nak. asal kamu tau, saat kamu meninggalkan ruang rawatnya kemarin, bude lihat ibumu menangis dan sepertinya dia juga merasa tidak tega sudah berkata kasar padamu. ini hanya persoalan waktu, kau tau ibumu orang baik, bukan?. dia begini hanya karena keadaan, bicaralah lagi secara perlahan pada ibumu nanti". ujar bude Yuni.
Anin mengangguk tersenyum. "Iyya bude, dan terimakasih juga sudah mau menjaga ibu".
"Sama-sama nak". balas bude Yuni. "Oh Iyya, boleh bude tanya sesuatu?". bude Yuni tiba-tiba teringat akan satu hal.
"Boleh bude". jawab Anin.
"Boleh bude tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?, maaf kalo bude lancang nak, tapi bude ingin tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu hingga bisa menikah tanpa memberitahu kami". bude Yuni penasaran karena dia tau Anin adalah anak yang baik dan begitu menjaga kehormatannya.
Anin terdiam sebentar, lalu menatap Vivi yang masih berdiri di dekatnya.
"Iyya bude, aku akan ceritakan semuanya". Anin menguatkan diri dengan menarik nafas dalam terlebih dahulu, lalu menceritakan semuanya dari awal kejadian saat dirinya kehilangan kehormatannya karena suatu inseiden, hingga alasan dirinya harus menutupi semuanya di awal pernikahannya. tidak ada yang akan Anin tutup-tutupi, termasuk kesepakatannya dengan Askara yang akan bercerai jika anak yang di kandungnya sudah lahir, tapi itu dulu sebelum Askara memutuskan bahwa tidak akan perceraian di antara mereka lagi.
Bude Yuni membekap mulutnya tak percaya mendengar semua cerita Anin. ternyata selama ini, keponakannya itu melewati fase-fase terberat dalam hidupnya seorang diri. Anin menanggung dan memikul semuanya sendirian.
"Maafkan aku, bude. semuanya terjadi begitu saja tanpa bisa aku cegah". sesal Anin dengan deraian air mata.
Bude Yuni menggeleng dengan mata yang berair. "Tidak nak, ini bukan salahmu. semuanya sudah kehendak Tuhan, tugasmu adalah menjaga dia dengan baik, sekarang". tangan bude Yuni turun mengelus perut besar Anin.
"Iyya bude, aku pasti akan menjaganya dengan baik". balas Anin tersenyum.
"Lalu , di mana suamimu sekarang nak? kenapa dia tidak ikut kemari?". tanya Bude Yuni karena tidak melihat kehadiran suami Anin sejak kedatangan Anin yang malah di temani oleh Vivi.
Anin menatap Vivi dengan perasaan gusar, dia harus jawab apa sekarang.
"Nak embun? bude tanya suami kamu mana?". bude Yuni kembali mengulang pertanyaannya karena Anin hanya diam.
"A-nu bude". Anin berfikir mencari alasan yang tepat "Dia se____". ucapan Anin terpotong saat seseorang menginterupsinya.
__ADS_1
"Saya di sini". seru Askara berdiri tidak jauh dari posisi duduk Anin. di belakangnya ada sekretaris Dito, berdiri setia menemani ke mana kaki Askara melangkah.
Semua yang ada di sana memusatkan perhatian pada dua lelaki tampan dengan setelan jas rapi melekat di tubuh atletis mereka.
"Mas, Askara" gumam Anin berdiri dari duduknya di ikuti oleh bude Yuni. Anin menatap tak percaya keberadaan Askara di sini, sedangkan bude Yuni menatap dengan seksama dua pria yang sudah berjalan mendekat ke arah mereka. Vivi yang sudah tau sejak semalam bahwa Askara dan sekretaris Dito ada di Bandung, hanya memasang wajah datar tapi terkesan masih kesal, apalagi jika melihat wajah Askara.
Askara meneliti dengan seksama wajah istrinya yang terlihat sembab dan kurang tidur, terlihat dari kantung mata Anin yang sedikit gelap. Yah, semalam Anin tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Maaf, aku datang terlambat". gumam Askara memeluk Anin tapi tidak di balas oleh wanita itu.
"Kalian siapa?". tanya bude Yuni karena terlalu penasaran. apalagi saat Askara memeluk Anin.
Askara melepas pelukannya dan dia pun menyadari bahwa Anin tidak membalasnya sama sekali, istrinya itu hanya memasang wajah datar, tidak ada tanda bahwa Anin senang dengan kedatangannya.
Askara beralih pada Bude Yuni. pria itu mengulurkan tangan sembari tersenyum. "Perkenalkan, saya Askara, suami dari Anin. maaf datang terlambat karena saya harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu". ujar Askara sambil melirik Anin karena sengaja tidak memberitahunya sama sekali bahwa ibu mertuanya masuk rumah sakit.
Anin memalingkan wajahnya ke arah lain.
Bude Yuni menatap tak percaya bahwa pria yang begitu tampan yang sedang berdiri di depannya saat ini adalah suami dari keponakannya. seorang pengusaha sukses yang terkenal, seperti yang beredar di berita. sungguh apakah ini adalah suatu keberuntungan untuk Anin atau malah sebaliknya.
Dengan tangan sedikit gemetar karena masih di liputi rasa terkejut, bude Yuni menyambut uluran tangan Askara. "Saya bude Yuni, Kakak perempuan dari mendiang ayahnya Embun". ujar bude Yuni.
"Embun?". tanya Askara sedikit bingung namun dengan cepat menyadari fakta bahwa nama lengkap istrinya adalah Embun Anindira. "Oh, maksudnya, Anin?".
"Tidak masalah, bude. Embun atau Anin sama-sama nama yang cantik, seperti orangnya". Askara melirik Anin yang sama sekali tidak terpancing dengan ucapannya.
"Embun beruntung sekali mendapatkan suami setampan nak Askara. tolong jaga Embun baik-baik yah selama di Jakarta. bude titip dia sama kamu". ujar bude Yuni.
"Saya akan menjaga Anin dengan segenap jiwa raga saya, bude. karena dia adalah istri dan juga ibu dari anak-anak saya". balas Askara dengan senyum mengembang.
Vivi yang mendengar ucapan Askara memasang ekspresi seolah ingin muntah. "Buaya lagi ngomong". gumam Vivi yang dapat di dengar jelas oleh sekretaris Dito.
"Apa?". sentak Vivi saat sekretaris Dito menatapnya tajam.
Sekretaris Dito hanya diam, bukan waktu yang tepat untuk meladeni Vivi sekarang.
"Oh, Iyya. kau pasti ingin bertemu dengan ibu Embun, kan?. masuklah bersama Embun". ujar bude Yuni mempersilahkan Askara untuk masuk.
"Iyya bude, tapi sebelumnya saya ingin bicara berdua dengan Anin. bisa beri kami waktu?". tanya Askara.
Bude Yuni cepat mengerti, "Silahkan nak, kebetulan bude mau ke kantin rumah sakit untuk sarapan".
__ADS_1
"Ayo Vi, temani bude". bude Yuni menarik tangan Vivi, meskipun terlihat ogah-ogahan, Vivi tetap ikut.
"Saya juga pamit ke kantin, tuan". sekretaris Dito ikut menyusul Vivi dan juga bude Yuni.
Kini tersisa Anin dan Askara.
"Kenapa Mas Askara bisa ada di sini?". tanya Anin dengan wajah dinginnya.
"Kenapa kau tidak memberitahu aku kalau ibumu masuk rumah sakit". Askara balik bertanya.
"Apa itu penting untukmu, mas?".
"Jelas itu penting untuk aku, Nin. ibumu berarti adalah ibu ku juga". lugas Askara.
Anin tersenyum kecut. "Lebih penting mana dengan Dalila? bukannya cuma dia yah yang penting untukmu?". sindir Anin.
Asalkan terdiam saat Anin menyerangnya dengan pertanyaan yang jelas menyulitkannya.
"Kau tidak bisa jawab kan, mas?. jadi untuk apa kau menyusul ke sini?, bukannya kau sudah berjanji untuk setia menemani dan menjaga sampai wanita itu sembuh?". Sarkas Anin.
Askara sedikit terkejut, kenapa Anin bisa tau. "Kenapa kau bisa tau?". tanyanya.
"Ayolah mas, Aku punya mata dan telinga untuk melihat dan mendengar semuanya. bahkan aku melihat dengan jelas bagaimana Dalila memelukmu dan memohon agar kau tidak pergi meninggalkannya dan dengan mudahnya kau mengiyakan itu semuanya, Mas. jadi pertanyaanku sekarang, untuk apa kau menyusulku ke sini?". suara Anin sudah bergetar, menahan cairan bening di matanya untuk tidak jatuh.
"Maafkan aku, Anin. aku benar-benar minta maaf. lagi pula aku tidak menemani Dalila sepanjang malam, justru aku langsung menyusulmu ke sini saat tau dari Bi Ratih, tapi karena aku sampai sudah larut malam, aku memutuskan untuk menemuimu hari ini. aku benar-benar mengkhawatirkanmu Anin". Askara meraih tangan Anin namun di tepis oleh wanita itu.
"Kau tidak benar-benar mengkhawatirkanku, mas. apa kau lupa ucapanmu kemarin? apa perlu aku ingatkan kembali?". Anin masih sakit hati dengan ucapan Askara yang menginginkan dirinya bertukar posisi dengan Dalila yang saat ini sedang di rawat. secara tidak langsung Askara menginginkan dirinya untuk celaka.
"Iyya... aku akui salah, Nin. aku terlalu emosi waktu itu. tapi sekarang aku mohon, tolong maafkan aku. kita tidak mungkin menemuimu ibu mu kalau kita sendiri masih begini. aku akan menjelaskan semuanya pada ibumu tentang hubungan kita, yah. sekarang redam dulu amarahmu". bujuk Askara.
Anin terdiam, saat ini yang terpenting adalah mendapatkan maaf dari ibunya.
"Aku mengiyakan bukan berarti aku memaafkanmu, mas. ini semua aku lakukan untuk mendapatkan maaf dari ibuku. setelahnya, terserah kau mau berbuat apa dengan Dalila, aku tidak peduli lagi. ujar Anin yang telanjur sakit hati.
Askara sedih mendengar pernyataan Anin, tenyata ucapannya begitu melukai hati dan perasaan Anin. bodoh, dirinya benar-benar bodoh.
"Tapi, Anin. aku sudah benar-benar meminta maaf. tidak bisakah ki_____".
Anin dengan cepat memotong ucapan Aksara. "Kalau kau keberatan, Mas Askara bisa pulang sekarang". usir Anin.
Askara menghela nafas, lebih baik dia menuruti kemauan Anin sekarang. "Oke. kita akan bersikap baik-baik saja hanya di depan ibumu". putus Askara akhirnya.
__ADS_1
Dari pada dia di usir oleh Anin, lebih baik dia menuruti kemauan istrinya itu. bukan waktu yang tepat untuk mendesak Anin sekarang.