Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 66


__ADS_3

Vivi masih terpaku di tempatnya berdiri, sampai pada saat bi Rima mendekat dan memegang tangannya barulah Vivi tersadar sepenuhnya.


"Benar kau pacar Dito?" tanya bi Rima dengan raut wajah senang.


Mulut Vivi masih tertutup rapat, dia tidak tau harus memberi jawaban apa.


Dito yang mengetahui Vivi masih syok, menarik bahu Vivi, membawanya lebih dekat dengannya.


"Bi'.. ngobrolnya di dalam aja. agar lebih nyaman". ucap sekretaris Dito.


"Aduh.. bibi' sampe lupa. ini karena bibi' terlalu senang saat tau gadis cantik ini adalah pacarmu"


"Ayo masuk nak, maaf yah rumahnya kecil" lanjut bi Rima melangkah lebih dulu ke dalam rumah.


Sepeninggal bi Rima, Vivi menginjak dengan keras kaki sekretaris Dito hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Aw... kenapa kau menginjak kakiku" seru Dito menahan sakit.


"Ini bahkan tidak setimpal dengan apa yang baru saja kau lakukan. Apa?.. pacar? kau mengakui ku sebagai pacar? hahahah" Vivi tertawa sumbang, tapi lebih tepatnya sedang menahan kesal.


"Di mata letak otakmu itu hah?". lanjut Vivi menggebu-gebu memukul lengan Dito menggunakan tas selempangnya.


"Hei..hentikan.. orang-orang bisa melihat kita sedang bertengkar, apalagi bi Rima".


"Memangnya kau fikir aku harus bersikap seperti apa hah?, setelah seenaknya kau main klaim orang sebagai pacar. sangat tidak sopan, memangnya sejak kapan aku jadi pacarmu" Vivi terus menerus meneriakkan kekesalannya pada sekretaris Dito.


"Sejak hari ini". bukannya meminta maaf, sekretaris Dito terus menerus membuat Vivi kesal.


Vivi menghembuskan nafas kasar, dia ingin kembali bersuara, tapi kehadiran Bi Rima membuatnya mengurungkan niatnya.


"Loh, kok masih di luar? ayo masuk. bibi udah bikin teh panas di dalam" bi Rima kembali keluar karena Dito dan Vivi tak kunjung masuk.


"Iyya Bi, ini kita baru aja mau masuk" ujar Dito menarik tangan Vivi memasuki rumahnya.


Dada Vivi naik turun menahan emosi, dia pasrah saat Dito menarik tangannya memasuki rumah tersebut.


"Bersikaplah layaknya seorang pacar" bisik Dito tepat di telinga Vivi.


"Hemm" balas Vivi singkat, rasa kesalnya masih bersarang di dadanya.


"Ayo silahkan duduk, maaf yah rumahnya kecil dan sempit" bi Rima mempersilahkan Vivi untuk duduk.


"Tidak papa bu' ". balas Vivi memasang senyum terbaiknya.


"Kita belum sempat berkenalan. siapa namamu?" tanya bi Rima.


"V-vivi bu' ". jawab Vivi gugup, suasana mendadak berubah.

__ADS_1


Vivi tiba-tiba gugup, dia merasa layaknya seperti pacar sungguhan Dito yang pertama kalinya di kenalkan pada orang tuanya.


"Nama yang cantik, seperti orangnya. Dito pintar yah mencari calon istri, sudah cantik kelihatannya juga baik" ceplos bi Rima.


Tubuh Vivi mematung mendengar penuturan bi Rima.


Apa lagi ini? calon istri? kesal Vivi dalam hati.


Vivi menatap tajam sekretaris Dito yang memasang wajah tanpa ekspresi.


Jadi ini alasannya Dito menariknya sampai ke sini?


Pria itu tengah mempromosikannya sebagai calon istri?.


Emosi Vivi benar-benar ingin meledak sekarang.


"Dito, kau sudah membawanya berkenalan dengan ibumu?" tanya bi Rima.


"Belum Bi' ".


Kening Vivi tiba-tiba berkerut, dia kira wanita paruh baya di depannya ini adalah ibu sekretaris Dito.


"Oh Iyya, kau pasti bingung kan? aku ini bukan ibu nya Dito, melainkan bibinya, bibi Rima. ibu Dito adalah kakak bibi', beliau sudah lama meninggal saat Dito masih SMP, sejak saat itu bibi yang mengurus Dito. setelah lulus SMA, Dito memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan kuliah di sana hingga bisa menjadi sekretaris kepercayaan tuan Askara seperti sekarang". jelas bi Rima membuat Vivi tercengang.


Rasa kesal yang bersarang di dadanya, menguap entah kemana setelah mendengar cerita bi Rima mengenai kehidupan sekretaris Dito.


"Dito pasti belum cerita yah?" tebak bi Rima.


Vivi refleks mengangguk.


"Memangnya sudah berapa lama kalian kenal?".


"Baru dua bulanan ini, Bi' ". jawab Vivi sama sekali tidak menyiratkan kekesalan lagi.


Bi Rima tersenyum "Perlahan kau akan tau kehidupan Dito yang tidak banyak orang ketahui".


"Iyya, Bi' ". balas Vivi tersenyum.


Entah kenapa, Vivi rasanya ingin banyak lebih tau mengenai kehidupan Dito di masa lalu.


"Dito, sekarang bawa Vivi ke makam ibumu. bibi yakin, ibumu di atas sana pasti senang kalau tau kau membawa gadis cantik menemuinya".


"Iyya Bi' ". Sekretaris Dito berdiri dari duduknya.


"Ayo" ajaknya menarik tangan Vivi.


Kali ini Vivi tidak banyak protes, perasaannya mendadak lunak dan memilih untuk mengikuti kemana Dito membawanya.

__ADS_1


Dengan menyusuri jalan setapak, dan melewati beberapa rumah warga, Sekretaris Dito berhenti di sebuah pemakaman umum di mana makam ibunya berada.


Sekretaris Dito semakin mengeratkan genggamannya pada Vivi, membawa gadis itu untuk bertemu ibunya.


"Dito datang, Bu ". ucap sekretaris Dito berjongkok di depan sebuah makam yang tampak begitu terawat.


Tertulis nama Riana di batu nisan tersebut.


Vivi ikut berjongkok di samping sekretaris Dito.


"Maaf Dito hanya bisa datang saat libur, tapi ibu tidak usah khawatir. setiap waktu di setiap helaan nafas Dito selalu mendoakan ibu agar bahagia di sana".


Di balik kacamata hitamnya, sekretaris Dito berusaha menahan untuk tidak menangis.


Vivi dapat melihat, betapa sayangnya Dito pada sosok ibunya.


"Andai ibu masih ada, pasti sekarang bangga bisa melihat Dito jadi sekretaris di perusahan besar. ibu pasti bisa menikmati semua hasil kerja Dito" suara Dito terdengar menahan tangisnya.


Vivi refleks mengelus punggung sekretaris Dito, memberi ketenangan lewat usapan lembut tangannya.


"Kalo mau nangis, nangis aja. nggak baik di tahan-tahan" ujar Vivi ikut terenyuh.


Vivi yakin, di balik kacamata hitamnya. Dito sedang berusaha menahan bulir air matanya untuk tidak jatuh.


"Oh ya bu'. Dito ke sini nggak sendiri. Dito bawa temen, andai ibu masih ada, pasti ibu sangat menyukainya. kriterianya persis seperti wanita idaman ibu untuk menjadi menantu".


Vivi mendadak diam mendengar pengakuan Dito. wanita yang di maksud tidak lain pasti adalah dirinya.


Memangnya siapa lagi? karena hanya dia yang ada di sini. apalagi Dito sempat mengakuinya sebagai pacar di depan bibi Rima.


"Namanya Vivi bu'. dia gadis yang baik, berani, tapi juga keras kepala dan galak. persis seperti kriteria ibu". terang Dito.


"Sekarang, Dito masih berusaha. do'akan semuanya lancar yah bu'. Oh Iyya.. Nyonya besar juga titip doa dan salam untuk ibu". ujar Dito mengakhiri ziarah di makam ibunya.


"Dito pamit yah, bu'. saat libur nanti, Dito akan kembali mengunjungi ibu". pamit Dito berdiri dari makam ibunya.


Berbeda dengan Vivi, kepalanya di isi dengan pertanyaan-pertanyaan. apalagi terkait perkataan Dito sebelum pamit tadi.


Sedang berusaha? berusaha untuk apa kira-kira?. batin Vivi.


"Ayo kita pulang, kita harus segera balik ke Jakarta sebelum hari terlalu sore".


Mereka kembali ke rumah Dito.


Setelah sampai di rumah Dito, dan berpamitan pada bi Rima, Dito dan Vivi akhirnya kembali ke Jakarta.


Vivi termenung menatap ke luar jendela mobil. memikirkan tentang apa yang di dengarnya hari ini. pengakuan-pengakuan Dito mengenai seperti apa wanita idaman ibunya yang merujuk pada dirinya.

__ADS_1


apa itu artinya Dito punya rasa lebih terhadapnya yang selama ini tidak di sadarinya?.


__ADS_2