Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 79


__ADS_3

Anin menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru hingga mengabaikan dirinya yang sedang hamil.


"Anin, pelankan langkahmu". peringat Askara setengah berteriak saat melihat Anin begitu terburu-buru menuruni anak tangga dengan tatapan mata tajam.


Anin seolah menulikan telinganya, dia berlari menghambur memeluk tubuh Askara saat melihat suaminya memasuki mansion.


"Mas Askara kemana saja?". tanya Anin dengan suara menahan tangis.


Askara heran melihat Anin dengan kening berkerut.


"Kau kenapa hemm?". tanya Askara mengurai pelukan Anin, sejenak Askara melupakan rasa kesalnya pada Anin yang berlarian menuruni tangga tadi.


"Aku khawatir Mas Askara kenapa-napa. ponsel mas Askara tidak aktif sedari tadi". ujar Anin terisak, selama usia kehamilannya bertambah dia tidak bisa jauh terlalu lama dari Askara.


"Maaf, aku tidak sempat mengisi daya baterai ponselku, aku banyak pekerjaan hari ini". ujar Askara tidak sepenuhnya bohong. namun mengenai Dalila, Askara masih mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu Anin.


"Lain kali jangan seperti ini lagi". ujar Anin mengerucutkan bibirnya.


"Iyya, maaf yah". Askara mengecup singkat bibir Anin agar istrinya itu merasa lebih baik.


"Sini biar jas Mas Askara aku yang bawa". Anin mengambil alih jas yang di tenteng oleh Askara saat memasuki mansion, kini hanya tersisa kemeja putih yang di gulung hingga siku.


"Mas Askara naik duluan aja, aku mau bawa jas nya ke belakang". ujar Anin akan langsung membawa jas yang di kenakan Askara ke tempat cuci khusus untuk pakaian kantor Askara.


"Hemm". Askara menjawab singkat, lagi pula dia memang merasa sangat lelah dan ingin segera berendam.


Anin berjalan ke belakang untuk menyimpan jas Askara di tempat pakaian kotor, namun Anin sedikit mengeryit heran saat tak sengaja mencium bau parfum lain di jas suaminya itu.


Anin mendekatkan hidungnya, mencium lebih dekat lagi. dan memang benar, ada bau parfum lain di jas Askara, bahkan bau parfum tersebut lebih dominan mengarah pada bau parfum seorang perempuan.


Dengan cepat Anin menggelengkan kepala, mengusir fikiran negatif yang hinggap di kepalanya. meski begitu, Anin merasakan gejolak aneh di hatinya seharian ini.


"Enggak, ini cuman fikiran kamu doang Nin". Anin bergumam untuk menenangkan dirinya sendiri dari fikiran negatif.

__ADS_1


Dia meletakkan jas Askara kemudian kembali ruang tengah menuju meja makan.


Di sana sudah ada bi Ratih dan Mia yang menyiapkan berbagai jenis hidangan makan malam di atas meja.


"Non Anin dari mana?" tanya bi Ratih melihat Anin muncul dari arah belakang.


"Abis naro jas kotor Mas Askara di belakang, Bi".


"Kenapa nggak nyuruh bibi aja Non". bi Ratih tidak enak.


"Nggak papa Bi. oh Iyya ini makan malamnya udah siap semua?". tanya Anin melihat berbagai hidangan di atas meja.


"Sudah Nona". balas Mia.


"Ya sudah, kalau begitu saya mau ke kamar manggil mas Askara buat makan malam".


Namun belum sempat Anin melangkah, terlihat Askara baru saja menuruni anak tangga dengan penampilan yang lebih segar.


"Baru aja aku mau naik nyemparin mas Askara". ujar Anin saat Askara sudah bergabung di meja makan.


"Maaf Mas, aku tidak akan mengulanginya lagi". cicit Anin menunduk lesu.


Askara merasa bersalah melihat wajah sedih Anin.


"Aku tidak bermaksud memarahimu, hanya saja aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kau dan juga anakku". jelas Askara menangkup wajah Anin dengan kedua tangan besarnya.


"Iyya Mas, aku mengerti kok". balas Anin tersenyum.


"Ya sudah kita makan malam, karena setelah ini kau harus mendapatkan hukumanmu". Askara menatap Anin dengan tatapan penuh arti.


"Oh Tuhan". seru Anin merasa dirinya akan bekerja ekstra malam ini.


Anin bukanlah wanita polos yang tidak mengerti arti tatapan suaminya itu.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, Anin dan Askara kembali ke kamar. dan di sinilah Anin sekarang, berada di dalam toilet kamar untuk mencuci muka.


Anin meraih handuk yang menggantung lalu mengeringkan wajahnya, rasanya sudah lebih segar sekarang. tak ingin berlama-lama Anin segera melangkah keluar.


"Astagfirullah, Mas. ngapain berdiri di situ". pekik Anin kaget saat Askara berdiri di ambang pintu toilet dengan melipat kedua tangan sambil menyenderkan tubuhnya di tembok.


"Kenapa lama banget". gerutu Askara yang ternyata menunggu Anin sejak istrinya itu masuk ke dalam toilet.


"Jadi dari tadi mas Askara nungguin?". tanya Anin melihat raut wajah kesal suaminya.


"Menurutmu?". gerutu Askara sudah tidak bisa menahan hasratnya.


Dengan gerakan cepat Askara menarik tangan Anin mendekat, menekan tengkuk wanita hamil itu hingga bibir keduanya berpaut, ciuman keduanya menjadi lebih panas hingga menimbulkan bunyi decapan mengisi setiap sudut kamar yang kedap suara tersebut.


Anin mendorong tubuh Askara pelan, dia hampir kehabisan nafas saat Askara tidak memberinya jeda.


"Aku bisa kehabisan nafas, Mas". ujar Anin saat berhasil meraup oksigen sebanyak mungkin.


"Maaf". terlihat jelas kabut gairah di mata Askara. pria itu tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.


"Malam ini kau harus di hukum karena sudah melakukan kesalahan". ujar Askara dengan smirknya.


Di angkatnya tubuh Anin menuju ke atas tempat tidur.


Wajah Anin bersemu merah saat tubuhnya berada di bawah Kungkungan tubuh besar Askara.


Tangan Askara perlahan membuka satu per satu kancing piyama yang Anin kenakan.


"Mas, lakukan dengan pelan-pelan". titah Anin dengan suara parau menahan gejolak dalam dirinya saat Askara menyusuri setiap inci bagian sensitif dari tubuhnya.


Bukan karena Askara bermain kasar, Anin hanya takut mereka over melakukannya hingga melupakan kondisi kandungannya, sesuai dengan arahan dokter Ziva mereka harus melakukannya dengan hati-hati.


"As you wish, sayang". ujar Askara melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


Malam ini, Askara dan Anin kembali melakukan penyatuan. suara lenguhan serta ******* keluar dari mulut keduanya yang sedang bergulat di atas tempat tidur untuk mengejar kenikmatan masing-masing.


__ADS_2