Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Masa Kecil (2)


__ADS_3

Anak lelaki yang sedang tak berdaya tertidur pulas diatas ranjang yang sedang dihangatkan oleh sinar matahari. memanggil satu nama sejak pagi dini hari, dan tangan kakinya gemetar seirama dengan lirih suaranya.


zan kecil yang dari pagi sudah duduk disebelahnya hanya bisa mendengarkan setiap lirihan yang keluar dari sana.


"kenapa kau ada disini?" satu suara membuat zan kecil langsung memalingkan wajahnya.


"perintah tuan Kino" jawabnya.


"dimana mama?" dengan susah payah dia terduduk dari tidurnya.


yang ditanya hanya diam saja, dia ingin sekali tidak pernah tahu tentang masalah orang lain. tetapi keadaan tidak pernah mengerti keinginannya.


"dimana papa?" mengganti pertanyaannya berharap dijawab.


"sudah berangkat sejak pagi-pagi buta" tentu saja dia akan menjawabnya.


"kita ini teman bukan?" menatap zan kecil.


zan hanya membalas tatapan yang dia dapat, dia tidak pernah disuruh untuk menjadi temannya. dia hanya menerima perintah 'jangan pernah meninggalnya'. apa itu sudah disebut teman?.


"apa kau marah karna aku tidak memberikanmu mainan?"


"tidak" singkatnya.


"kalau begitu, kenapa kau menahan ku saat aku ingin mengejar mama?" ucapnya cepat.


"itu perintah tuan Kino" sama-sama cepat untuk berbicara.


"aku selalu mengajakmu bermain tapi kenapa kau tidak pernah mendengar perintahku?" berbicara sangat cepat.


"apa perintah mu?" menantang lawan bicaranya dengan tatapannya.


Rangga yang waktu itu masi sangat kecil hanya diam saat mendapat tatapan dari zan yang baru pertama kali dia lihat.


"aku tidak mau mengajakmu bermain pedang-pedangan lagi" menatap galak padahal bagi zan tatapan Rangga kecil sama sekali tidak membuatnya takut.


jangan lupakan kalau Rangga baru berusia lima tahun.

__ADS_1


"habiskan sarapanmu, pengajarmu sudah menunggu dibawah" menunjuk sekilas piring disebelah ranjang lalu pergi dari sana.


Rangga menendang selimutnya sampai terjatuh sambil menatap zan yang sudah hilang dibalik pintu.


****


hari sudah siang, saatnya untuk menyantap makan siang yang sudah disiapkan pelayan. tetapi anak lelaki ini memutuskan untuk menutup bukunya dan menghampiri sang guru yang sedang memasukkan buku-bukunya kedalam tasnya.


"ada apa tuan Rangga? apa ada yang belum anda pahami?" tanya sang guru menatap kebawah Dimata rangga kecil berdiri.


"semua materi mu sudah ku pahami semenjak pertama kali kau mengajar ku, apa kau tidak ada materi lagi? setiap hari kau selalu mengulangi itu itu saja" ocehnya yang memang sudah terbukti.


"maaf tuan Rangga, besok akan saya siapkan materi baru" dirinya harus selalu menuruti keinginan murid satunya ini. itulah resiko yang harus dia ambil.


"bukan itu yang ingin aku tanyakan" menyilangkan tangannya didepan dadanya.


"baik"


"apa itu perceraian?" matanya yang menatap itu sangat lugu dan sangat tidak cocok dengan pertanyaannya.


"aku meminta mu menjawab bukan melamun" tegurnya masih menyilangkan kedua tangannya.


"perceraian itu adalah sebuah perpisahan yang terjadi apabila sepasang suami istri sudah tidak mencintai lagi" setelah memikirkan mencari kata-kata terbaik dan mudah dipahami akhirnya dia menjawab.


"berarti mama dan papa sudah tidak saling mencintai lagi?" gayanya Masi sama disana tetapi air wajahnya sudah berubah.


pengajar itu lagi-lagi terdiam, diam sudah menjadi pilihan terbaik untuk saat ini.


"terima kasih untuk pembelajaran hari ini" tiba-tiba zan kecil datang dan menunduk ke sang pengajar.


pengajar pun langsung mengambil tasnya dan melangkah pergi dari sana meninggalkan dua anak lelaki itu.


didalam kamar terjadi keheningan sementara. zan yang sedang membereskan meja belajar rangga, dan rangga sedang memikirkan perkataan pengajarnya tadi.


"apa benar mama papa sudah tidak saling mencintai?" bertanya kepada zan tetapi yang ditanya seperti menulikan pendengarannya.


"aku bertanya padamu" menarik lengan zan sampai dia berbalik dan menatap rangga.

__ADS_1


"kenapa kau bertanya kepadaku?" dinginnya.


"memangnya siapa lagi yang ada disini?" setengah berteriak.


zan kembali melanjutkan aktivitasnya, memasukkan pensil rangga yang berhamburan di meja. entah apa yang dia buat.


"mama pergi, apa papa juga akan pergi?" kembali bertanya tetapi seperti bertanya kepada tembok.


"tuan Kino tidak akan seperti itu" kali ini dia langsung menjawab.


"papa dan mama sudah tidak saling mencintai lagi" membanting tubuh kecilnya keatas ranjang yang empuk.


"kau diberi pekerjaan rumah kan? kerjakan segera" sudah selesai bersih-bersihnya.


"bantu aku mengerjakannya" ucapnya pelan sangat pelan.


"bukannya kau sudah memahami semua?" menatap datar.


"aku tidak bisa fokus" ucapnya terdengar sendu.


"makan siang dulu sehabis itu kerjakan pekerjaanmu" melangkah meninggalkan rangga yang masih berbaring disana.


"kau akan menemaniku?" duduk dan membalikkan tubuhnya.


"pak tan sudah menyiapkan makan siang mu" melanjutkan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya.


"hei tunggu!!, berjanji kau akan menemaniku" berlari menyusul zan yang sudah menutup pintu.


akhirnya zan menemani rangga membuat pekerjaan rumahnya, tadi itu jawaban darinya. rangga saja yang tidak mengerti bahasanya. dia berfikir rangga hanya tidak fokus menghitung rumus matematiknya, tetapi semuanya seolah-olah hilang dari kepalanya. dia bahkan salah rumus dan salah membaca soal. ini kacau, pikir zan.


"ayah, ibu apa yang harus aku lakukan?" menatap wajah rangga yang sedang tertidur diatas meja belajarnya. dengan buku-buku yang berserakan disekitarnya.


sebenarnya zan sudah mengetahui semuanya, perceraian yang terjadi itu sudah ia ketahui lebih dulu dari pada rangga. tetapi dia di perintah jaga rangga jangan sampai rangga terluka dan jangan sampai rangga mengetahuinya. tetapi semuanya mengalir seperti air, seorang anak yang masi kecilpun nantinya akan mengetahui segalanya sesuai dengan jalan takdir yang telah di tulis tuhan.


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo

__ADS_1


__ADS_2