
setelah kejadian sore tadi danita sudah mulai menerka neraka bagaimana kehidupannya setelah menikah,segala bayangan kehidupannya setelah menikah terngiang-ngiang didalam pikirannya.
selama perjalanan pulang danita berperang dengan pikirannya. "astaga sepeti apa kehidupanku setelah menikah?" danita tetap ngedumel dan bertanya tanya dalam pikirannya sampai dia sudah tiba didepan rumahnya.
"aku pulang" ucap danita lesu.
"oh kamu dah pulang,dah ketemu sama calon suami kamu?" bapak danita langsung bertanya.
"ketemu pak, sekarang bapak harus bilang kenapa bapak mau jodohin aku sama orang itu!" Jawa danita sengaja menekan bapaknya untuk memberitahunya.
"hahhh, jadi gini ayahnya Rangga itu sakit parah dia udah dirumah sakit selama satu tahun lebih. Rangga pernah menjalin hubungan dengan salah satu wanita, tapi wanita itu meninggalkannya dari situ Rangga tidak mau lagi menjalin, hubungan dengan wanita manapun dan juga karna kejadian itu Rangga berubah menjadi lelaki yang dingin. sampai saat ini tidak ada yang pernah melihat Rangga tersenyum lagi semenjak kepergian wanita tercintanya" bapak danita memberitahu semua yang dia tahu tentang Rangga.
"berapa tahun mereka menjalin hubungan pak?" danita sedikit tersentuh.
"3 tahun lebih dan wanita itu meninggalkan Rangga sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, nah karna itu ayah Rangga meminta bapak untuk menjodohkan kamu sama Rangga.ayahnya ingin melihatnya bahagia sebelum akhir hayatnya" jawab bapak danita penuh harap terhadap putrinya itu.
"jadi seperti itu?" danita mulai luluh dengan kisah Rangga.
"iya, jadi kamu besok ikut bapak menemui ayahnya Rangga dirumah sakit" .
"iya pak,Nita juga besok gada kelas" sebenarnya dia enggan tapi dia iba.
"yasudah pergilah ke kamarmu istirahatlah" menepuk-nepuk pundak danita.
"iya pak" danita pergi ke kamarnya.
"jadi seperti itu kisah tuan Rangga? dia pernah berhubungan dengan wanita? siapa wanita itu? kenapa dia berani meninggalkan tuan Rangga yang mencintainya itu?" danita sudah keluar dari kamar mandi dia sudah berbaring di kasur, dan tidak lama dia sudah terlelap karna sudah sangat lelah dengan hari ini.
****
"danita bangun kita harus pergi kerumah sakit menjenguk ayah Rangga" bapak danita sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar danita Dari tadi tapi danita tidak bangun juga.
"iya iya pak danita bangun" dengan setengah sadar danita duduk dan kembali tiduran lagi, berguling-guling dikasur mengumpulkan nyawanya.itu seperti sudah kebiasaan danita saat bangun tidur
"Bu Nita pamit ya" mencium tangan ibunya.
"hati-hati ya pak" ibu mencium tangan bapak
"ayahnya Rangga dirawat dirumah sakit mana pak?" Dania bertanya sambil menatap luar jendela,
"nanti kamu juga bakal tau" bapak danita menjawab santai Masi tetap fokus menyetir.
danita dan bapaknya sudah sampai dirumah sakit dan langsung menuju lift menuju kamar tempat ayah Rangga di rawat.
"selamat siang tuan besar" sapa bapak danita sopan.
tentu saja dijawab dengan gurawan papa kino "hahaha,ada ada saja kau ini harka kita kan sudah bersahabat sejak masa SMA" dan mereka jadi tertawa bersama.
"oh iya kino ini danita putri semata wayang ku" memegang pundak danita.
"ohh ini danita, umur berapa kau danita?" bertanya dengan senyum.
"saya tahun ini 21 tahun paman" menjawab dengan sopan dan gugup.
"kenapa panggil paman? panggil papa saja kan kamu calon menantuku" menjawab Masi dengan senyuman.
__ADS_1
"iya pah" danita menjawab gugup.
"kamu udah ketemu sama Rangga kan?" menatap danita dengan mata sayunya.
"iya pah sudah" jawab danita sopan dan mengembangkan senyumnya.
"Rangga bentar lagi kesini, dia ada rapat dengan kliennya sekarang, bentar lagi juga datang" .
papa kino dan bapa harka mengobrol dengan akrab sedangkan danita duduk di samping mama rangga.
mama rangga bernama Wulan jadi danita memanggilnya mama Wulan "kamu kuliah di kampus XXX kan?" tanya mama Wulan ramah.
"iya ma aku mahasiswa di kuliah itu" jawab danita sopan.
"mama dengar kamu murid terbaik tahun ini?, namamu berada di paling atas saat pengumuman masuk kuliah?" mama Wulan menyentuh tangan danita.
"iya ma, tapi danita Masi tetap harus belajar danita belum apa-apa sama Albert Einstein manusia terpintar itu ma" jawab danita antusias. danita memang menggemari Albert Einstein sejak kecil dia bercita-cita ingin sepintar Albert Einstein dan membuat penemuan ilmiah yang akan membawa pengaruh terhadap dunia seperti Albert Einstein.
"kamu ini ada-ada saja" mama Wulan tertawa saat mendengar keluguan danita.
tidak berapa lama pintu kamar terbuka dan nampak lah Rangga dan dibelakangnya sudah ada sekertaris zan.
"Rangga kamu sudah datang?" tanya papa kino, Rangga tidak menjawab dia fokus pada wanita yang sedang berdiri disamping mama Wulan.
"sial,kenapa dia terlihat cantik di mataku aku pasti sudah gila!" dada Rangga sedikit berdetak kencang tapi dia kembali bisa menguasai dirinya. "papa gimana? sudah sehatan kah?" tanya rangga mengalihkan pandangnya.
"ya seperti yang kamu lihat, tapi Rangga papa merasa lebih baik setelah melihat danita" pandangan papa kino beralih ke danita membuat rangga sontak ikut melihat ke arah danita. danita tertunduk malu karna ucapan papa kino.
"sial! kenapa dia manis begitu" Rangga mengalihkan pandangannya lagi.
"nanti zan akan mengurusnya pah" Rangga memegang tangan papa kino meyakinkan.
"kamu mah segala permintaan papah pasti kamu serahkan zan untuk mengurusnya" jawab papa kino kecewa.
"akukan sibuk pah nggak sempat mengurus seperti itu" mencoba untuk meyakinkan papahnya lagi.
"ini kan acara pernikahanmu Rangga masa kamu akan menyerahkannya kepada orang lain untuk mengurusnya?" Masi kekeh dengan keinginannya.
"iya pah nanti aku ikut turun tangan mengurus acara pernikahanku nanti" Rangga tetap mengiyakan segala keinginan papahnya.
papa kino langsung tersenyum mendengar perkataan rangga. "nanti kmu mengurusnya sama danita kan?" bertanya sambil antusias.
"iya pah nanti aku ajak danita untuk mempersiapkan acaranya nanti" ucap rangga.
"tapi pah bukannya kalo cewek ga boleh keluar ya pah sebelum hari pernikahan? pamali tau pah!" seru mama Wulan karna khawatir.
"oh iya juga yah mah, yaudah rangga kamu mempersiapkan acaranya sendiri saja sama sekertaris kesayangnmu itu!" ucap papa Dino.
"iya pah nanti aku urus semuanya" Rangga Masi memegang tangan papa kino.
"danita kemarilah" ucap papa Dino sambil menggerakkan tangannya untuk danita mendekat. tentu saja danita langsung mendekat. "danita kamu sebentar lagi akan menjadi menantuku,menjadi istri sah rangga,dan akan menjadi wanita yang akan melahirkan penerus adinata grup dan tentu saja yang akan menemani Rangga selalu disampingnya sampai maut memisahkan kalian, kamu adalah wanita yang aku percayai untuk mendampingi Rangga sampai akhir hayatnya,membuatnya tersenyum setiap hari melupakan segala kesedihannya yang pernah dia rasakan. aku sudah mempercayaimu untuk menjadi pendamping hidup anakku" perkataan papa kino membuat semua yang ada di ruangan itu berkaca-kaca karna jika sudah papa kino menaruh kepercayaan pada seseorang, apa lagi untuk putra semata wayangnya apapun rintangannya orang yang sudah diberi kepercayaan nya harus melaksanakan amanahnya.
"jadi danita" papa kino menyatukan tangan danita dan Rangga agar berpegangan "hiduplah bersama putraku, bahagiakan lah dia lahir dan batin buat dia mencintaimu dan melupakan segala kesedihannya di masa lalu dan satu lagi buat dia tersenyum kembali seperti dulu, aku yakin kau wanita satu-satunya yang mampu membuat putra ku kembali tersenyum dan bahagia kembali, jalankan lah amanah dariku, danita" ucap papa kino berharap. "kamu mau kan danita?"
mata danita sudah berkaca-kaca dari tadi.
__ADS_1
"i–iya pah aku mau" danita menjawab dengan mata yang semakin berkaca-kaca.
"Rangga?" papa kino beralih kepada Rangga yang dari tadi tertunduk.
"iya pah?" Rangga mengangkat kepalanya, Rangga tidak menangis dia hanya mendengarkan perkataan papahnya dan merasakan setiap perkataan papahnya.
"jangan pernah sekalipun membuat danita bersedih dan menangis, danita orangnya lembut jangan sakiti dia" menatap kedua mata putranya.
"iya pah" Rangga menjawab sambil tersenyum dan menggenggam tangan danita.
"astagaa tuan Rangga menggenggam tanganku? ini pasti hanya adegan palsu untuk membuat papa kino yakin iya kan?!!" dia antara senang dan tidak percaya.
"aku pasti benar2 sudah gila menggenggam tangan wanita ini, kenapa jantungku berdetak seperti ini ,benar2 sudah gila aku!". Rangga mulai frustasi dengan dirinya sendiri, Rangga seperti bocah yang merasakan cinta pertama belum tau kalau dia sedang jatuh cinta.
"baiklah aku percaya dengan kalian berdua, danita (mengusap rambut danita) kau jangan khawatir dengan acara pernikahan mu dan Rangga nanti rangga dan zan akan mengurusnya nanti, yah walaupun papa tau hanya zan yang akan sibuk kesana kemari mengurus pernikahan tuannya itu" ucap papa kino lebih jelasnya menggoda Rangga yang malas dengan urusan seperti ini.
"apa si pah, kan papah yang minta aku ikut turun tangan mengurus hal ini" wajah rangga mulai nampak tidak enak.
"menggemaskan sekali sih dia kalau seperti ini, segala pake senyum-senyum gitu lagi" Rangga masih menunduk malu.
"hahahaha, sudahlah Rangga papa hanya bercanda" papa kino sudah tertawa karna tau anaknya itu pemalu kalau ada yang mengejeknya. "Rangga kamu masi ada rapatkan dengan klain?" papa kino sudah berhenti tertawa.
"iya pah, kalau papa mau aku temenin papa disini aku bisa membatalkan semua jadwalku" menatap kembali papahnya.
"jangan dong sudah sana kamu balik lagi ke kantor mu" menyibakkan tangannya. "danita kamu mau kan nemenin mama Wulan sama papa disini?" beralih ke danita.
"iya pah aku mau kok" seru danita antusias.
"nah Rangga jangan pulang lama-lama kasian danita nungguin kamu disini, habis pulang jemput calon istrimu pulangkan kerumahnya jangan dibawa kemana mana jangan di apa-apainn dulu belum halal nih" papa kino kembali menggoda anaknya lagi. karna ucapan papa kino semua yang ada di ruangan tertawa terbahak-bahak melihat wajah merah malu Rangga
"sudahlah pah, papa ngomongnya tambah ga jelas, aku pamit dulu yah pah?" mencium tangan papa kino lalu mencium pipinya.
"inget ya jangan pulang lama-lama" Malirik danita.
"iya iya" Rangga langsung mencium tangan mama Wulan dan tangan bapak danita. sebelum keluar Rangga melihat danita yang masih tertunduk tidak berani menatap rangga.
"menggemaskan sekali kau danita" rangga tidak sadar dia tersenyum saat menutup pintu kamar.
"tuan anda benar-benar tersenyum?, sepertinya anda sudah mulai mencintai gadis kecil itu tuan". zan
zan sangat terkejut melihat tuannya tersenyum, selama sekian lama tidak terukir senyuman manis itu di bibir Rangga akhirnya kembali terukir karna seorang gadis.
"iya aku tau kau melihatnya zan,kau terkejut bukan melihat aku tersenyum lagi?" Rangga sudah menyadari terpancar aura senang dari muka zan.
"tentu tuan saya sangat senang jika anda bahagia" ucap zan senang Rangga hanya menjawab dengan senyuman samarnya.
tingg
pintu lift terbuka.
sampai kembali ke parkiran mobil senyum samar Masi menghiasi wajah rangga, walaupun itu tidak terlalu kelihatan tapi zan Masi bisa melihatnya dengan jelas kalau tuannya hari ini sedang berbunga-bunga.
"sepertinya agenda hari ini akan berjalan lancar, semoga suasana hati Anda seperti ini sampai semua agenda selesai hari ini tuan" zan sambil menjalankan mobilnya Masi berbicara di dalam hati dan sesekali dia melirik kaca spion dan menemukan senyuman Rangga yang sudah terukir dari tadi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo