Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Seperti Ibu


__ADS_3

"aca" entah dari mana nama itu berasal yang diucapkan zan.


Sementara orang yang dimaksud sedang fokus ke hpnya.


"aca" akhirnya zan menarik hp itu.


"ni orang manggil sapa dah" mengkerut kan keningnya sambil menatap bingung.


"kau manggil siapa?"


"memangnya siapa lagi yang ada disini?" menatap datar.


"perasaan nama gua rasya" bingung tambah menjadi-jadi.


"aca siapa?" dia ingin mengambil handphonenya dari tangan zan.


"aca \= rasya"


"heh?" menganga bingung dan mengkerut kan keningnya sedalam-dalamnya.


"banyak nanya" langsung membuka pintu mobilnya.


"enak amat ngubah-ngubah nama orang!". menatap bingung zan yang sedang keluar.


"keluar"


Rasya langsung membuka pintu. ah sial kenapa dia harus ke apartemen zan. andai tadi dia bisa menerobos tubuh zan dan masuk ke dalam rumahnya. tapi apa boleh buat, tenaga zan lebih besar.


Kenapa rasya bisa dibawa zan ke apartemennya? karna tadi saat mobil zan sudah berada di depan pagar rumah rasya, tak sengaja zan melihat ayah rasya yang pulang membawa wanita berpakaian mini yang bergelayut di lengan ayah rasya. dia memiliki pirasat buruk setelahnya, jadinya zan membawa rasya ke apartemennya.


Ting


pintu lift terbuka dan langsung mengarahkannya ke sebuah pintu apartemen zan.


"kalo dia apa-apain gua, bisa lari gak ya". melihat pintu lift yang sudah tertutup. ancang-ancang kalo emang beneran mau kabur.


Zan mendorong rasya masuk ke dalam dan dirinya berhenti membisikkan sesuatu pada dua orang yang berjaga.


"waww" rasya tercengang saat masuk ke dalam apartemen zan.


Memang si ini bukan pertama kalinya dia berada di dalam apartemen sekertaris zan. tapi saat itu dia langsung pergi tanpa memperhatikan detail apartemen mewah ini. dan sekarang dia baru melihat seberapa mewahnya apartemen si sekertaris adinata ini.


"masuk" menarik rasya ke dalam kamarnya.


"mau ngapain!!" takut dia saat ditarik zan.


"ma–mau ngapain?" menjaga jarak dari zan.


Zan menurunkan alisnya, menatap rasya yang mengambil jarak darinya.


"apa isi otak mu sekarang?" datarnya masih di tempat.


"lah si om napa nanya?"


Zan berjalan mendekat membuat rasya memundurkan langkahnya. dan saat rasya sudah merasa kakinya menyentuh ranjang, dia terduduk. saat ingin bangkit, zan menahannya.


"kalo mau ngepedo jangan disini, ntar di razia gak enak" ucap rasya seperti merasa tak ada yang salah dari kata-katanya.


Zan mengkerut kan keningnya, benar-benar rasya ini.


ding dong


Zan menonyor kepala rasya sampai terjatuh di atas ranjang. lalu dia keluar dan menutup pintu.


"kenapa kepala ku di toyor?" memegang dahinya.

__ADS_1


Pandangannya mengitari isi kamar zan. rapih sekali, tapi kok agak mistis ya. warna kamarnya dominan hitam semua. dan lampu yang tidak terlalu terang, dan juga seprainya berwarna hitam.


Tiba-tiba zan masuk kembali membawa kantung plastik berwarna putih dan menaruhnya di samping rasya.


"mandi" ucapnya dingin sedikit melirik rasya. lalu dia keluar lagi dan menutup pintunya.


Rasya menatap kepergian zan. lalu beralih ke kantung plastik yang tadi zan taruh, dibukanya sama dia dan mengeluarkan apa isinya.


"lucu" ucapnya sambil mengeluarkan piyama dari sana.


Piyama bermotif kelinci berwarna kuning, ada yang memegang wortel dan ada juga yang tidak. ahh pokoknya lucu sekali. rasya menaruh piyama itu disampingnya dan mengambil barang yang masih ada di dalam plastik putih itu.


Matanya membulat saat melihat apa isinya. "siapa yang membelinya!!" ucap rasya setengah berteriak. jangan bilang zan yang membelinya. malu dia malu sial!.


***


Di ruang tengah, zan dan orang didepannya terdiam seketika setelah terdengar suara teriakan wanita yang agak nyaring.


Zan melirik pintu kamarnya sekilas.


"tuan apa anda mendengar teriakkan wanita?" tanya orang didepan zan dengan raut wajah penasaran.


"tidak" singkatnya bohong.


Orang itu ber oh tapi hatinya masih penasaran dan bingung.


"lanjutkan" menyenderkan punggungnya ke sofa.


"jadi pelukis itu kabarnya masih sangat belia tuan, bahkan ada yang mengatakan kalau dia masih duduk di bangku sekolah" orang itu melanjutkan bicaranya.


Zan mengangguk mendengarkan.


"sepertinya dia ini sudah lumayan terlatih, menurut saya dia merupakan anak yang menyukai karakter-karakter jepang tuan" menyodorkan hpnya.


"iya tuan" mengangguk.


Zan berdiam sebentar, ada seseorang yang mengirimkan lukisan besar bergambar seorang wanita yang di warnai dengan abstrak dan sedikit sentuhan corak-corak khas karakter Jepang. zan berfikir awalnya ini adalah teror tapi setelah dia melihat pesan di belakang lukisan besar itu, dia menghilangkan pikirannya bahwa ini adalah teror untuk adinata.


"menurut ku dia tidak bermaksud untuk menarik perhatian tuan rangga agar dilirik karyanya" menatap lamat-lamat layar handphone yang ada di meja.


"kalau memang seperti itu, artinya dia memiliki tujuan lain begitu tuan?"


Zan mengangguk singkat.


"kau boleh kembali" ucapnya memecahkan keheningan.


"baik tuan, selamat malam" berdiri dan meraih handphonenya.


Dubrak


Orang itu yang tadinya hendak membuka pintu langsung menengok ke arah pintu kamar zan asal suara itu.


"pergi" perintah zan dingin.


Langsung membuka pintu dan menutupnya tanpa suara. "ngomong-ngomong untuk apa dia meminta dalaman wanita?". bertanya-tanya dalam hati dan meninggalkan apartemen zan.


Didalam, zan langsung berjalan ke kamarnya dan membukanya dengan tergesa-gesa.


"apa yang kau lakukan?" tanyanya berdiri di depan pintu.


Rasya mengangkat kepalanya dan memberhentikan tangannya yang sedang mengelus-elus kakinya. "tidak sengaja kesandung meja tadi" ucapnya menatap zan.


Zan masuk dan berjongkok di depan kaki rasya.


"ssh" rasya meringis sedikit saat pergelangan kakinya di sentuh zan.

__ADS_1


Zan memegang kaki rasya dan memutarnya pelan lalu menariknya secara tiba-tiba. sampai menimbulkan suara dari tulang pergelangan kaki yang dia tarik.


"gila ni orang mau bunuh gua ya?". meremas bantal di sampingnya. ngilu.


"gerakkan" ucapnya masih menatap kaki rasya.


Rasya menggerakkan kakinya perlahan. dia terkejut karna kakinya sudah tak sakit, lalu dia menatap kakinya sendiri sambil ber wah wah.


"pakai mata mu lain kali kalau berjalan" niatnya ingin memberi tahu tapi kenapa nada suaranya terdengar galak?.


"ya maap" mendongak ke atas.


"terus tadi gua jalan pake apa?". Hanya berani ngedumel dalam hati.


Zan duduk di samping rasya. membuat orang disampingnya menatap bingung. mengeluarkan hp rasya yang tadi dia simpan di saku celananya.


Tapi zan malah mengangkat rasya ke pangkuannya dan menaruh hpnya di atas nakas. membuat rasya terperanjat kaget.


"oke tenggorokan sudah siap untuk berteriak". menelan ludahnya kasar. sungguh dia sudah siap-siap untuk berteriak.


Tapi dia tak jadi teriak saat merasakan tangan zan memeluk pinggangnya dan kepalanya ditaruh di bahunya. bukannya dia heran, tapi dia malah tambah takut. serius.


"kenapa jadi kayak anak kucing gini". melirik bingung kepala zan yang menggeleng-geleng ke kanan dan ke kiri seperti anak kucing.


"kau sakit?" akhirnya bertanya sambil berusaha menyentuh leher bagian belakang zan yang tertutup kerah kemejanya.


"tidak" nada suaranya seperti tak ingin diganggu kegiatannya.


"oh oke" gumam rasya tak terdengar.


Tidak ada yang bersuara lagi, rasya merasa geli dengan tingkah zan. mana zan yang selalu bertampang galak? lalu apa-apaan tingkahnya sekarang yang seperti anak kucing ini?.


"bahu mu seperti bahu ibu" tiba-tiba zan bergumam memecah keheningan.


"ibu?" mengkerut kan keningnya.


"mendiang ibu ku" masih bergumam.


Rasya membeku seketika, mendiang? artinya ibu zan sudah meninggal?. "o–oh" takut salah bicara.


Pantas saja dia tak pernah melihat atau mendengar tentang keluarga sekertaris zan dari siapa pun. ternyata ibunya sudah meninggal, rasya jadi penasaran tapi takut lancang kalau bertanya.


Zan tambah mempererat lingkaran tangannya. dia merasakan kehangatan pelukan ibunya berpuluh-puluh tahun lalu di bahu mungil rasya. walaupun itu sudah sangat lama, tapi zan tidak bisa dan tidak mau melupakan sekecil apapun kenangannya bersama kedua orang tuanya. katakanlah kalau sekertaris zan kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya, ya memang benar adanya itu.


"zan sesak" sedikit mendorong tubuh zan.


Zan melonggarkan tangannya, tapi belum di lepas. seperti sudah nyaman dengan posisi ini.


Berbeda dengan rasya, tangannya sudah pegal karna menahan tubuh zan agar tidak terlalu menempel padanya. dia juga mau ke toilet, tapi hatinya tak tega untuk mengucapkannya setelah zan bilang kalau bahunya seperti bahu ibunya. rasya paham, berarti zan sedang merindukan ibunya. tapi dia pegal kalau terus-terusan seperti ini.


oh tuhan berikan secercah harapan kepada rasya untuk melepaskan pelukan zan.


Bersambung


epilog


"apa dalamannya muat?" berdiri di depan pintu.


"gila!" makinya tanpa ragu.


blam


Rasya membanting pintunya keras. oh sial kemana otak sekertaris zan ini?. sopan kah bertanya seperti itu?.


"apa salah ku?". mengkerut kan keningnya dalam.

__ADS_1


__ADS_2