Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Arti dari sebuah Lukisan


__ADS_3

Saat pintu kaca besar itu terbuka otomatis, orang-orang yang ada di sekitarnya langsung memberhentikan langkahnya hanya untuk menunduk kepada orang yang datang. tidak bertanya-tanya siapa satu orang lagi yang berjalan di belakangnya.


"lihat orang-orang ini, sangat keren bukan kalau bisa bekerja seperti itu?" itu suara hati Rio sedang memperhatikan karyawan yang kesana kemari dengan membawa map setiap orangnya.


Ah tidak! melukis lebih menyenangkan.


Ting


Melirik sekilas Zan yang ada disampingnya lalu melangkahkan satu kakinya masuk ke lift khusus.


Terjadi keheningan yang menyelimuti keduanya, Rio yang sedang memikirkan kata-kata apa yang harus ia ucapkan agar –mungkin– bisa membuat kakak iparnya sedikit tersadar. dan Zan? tak berekspresi seperti biasa.


"apa tuan rangga tahu kalau pelukis itu adalah aku?" saat gambar diatas pintu lift itu sudah menunjukkan lantai 10 barulah rio mengeluarkan suaranya.


Zan menoleh sebentar lalu kembali menatap pintu lift itu "syukurnya belum"


Rio lumayan bernafas lega.


"kalau ada yang ingin kau sampaikan kepada tuan Rangga, sampaikanlah belum tentu kau bisa kesini lagi setelah keluar dari ruangannya"


Rio mengerutkan keningnya. sedetik kemudian dia tersenyum samar.


"ucapkan apapun yang kau ingin ucapkan, tetapi jangan terkesan kasar."


Pintu lift terbuka langsung terpampang koridor panjang yang berhiaskan foto besar yang berjajar sepanjang koridor sampai ke ujungnya. Rio menatap satu-satu foto berbingkai itu, ada di kanan kiri dinding. dia tak terlalu yakin itu apa. tapi didepan namanya ada tulisan 'presdir' dan tahun-tahun seperti masa mereka menjabat, serta angka Romawi di atas bingkainya.


Ohh ini adalah foto-foto mendiang presdir adinata dari tahun ke tahun. seperti leluhur?.


Tanpa basa-basi Zan langsung membuka pintu besar yang ada lambang adinata di tengah-tengahnya. padahal Rio belum siap dengan kata-katanya nanti.


Didalamnya tentu ada si presdir, sedang membolak balikan kertas putih di hadapannya. kegiatannya terhenti menatap siapa yang masuk. dikiranya pasti itu sekertarisnya, benar saja tapi sekertarisnya itu tidak datang sendirian.


"selamat siang kakak ipar" rio menyapa setelah mendapat lirik perintah dari zan.


Rangga meninggalkan kertas-kertas putih itu, berjalan ke sofa tak jauh dari mejanya. dia tak bertanya-tanya kenapa adik istrinya datang kemari bersama sekertarisnya?. sudah pasti ada yang ingin di bicarakan.


"duduk" seru Rangga menunjuk sofa depannya dengan ujung matanya.


Sementara Rio sudah tertarik dengan objek yg ditaruh di ujung sisi ruangan ini. lebih tepatnya tak jauh dari sofa tempatnya. dalam hatinya ia berucap "kukira sudah di buang".


Rangga menoleh ke samping, bertanya kepada sekertarisnya.


"dia adalah si pelukis L tuan" jawabnya menatap Rio yang juga menatapnya.


Rangga langsung berbalik menoleh ke Rio, menatap lukisan yang tak jauh di sampingnya, lalu kembali menatap adik iparnya.


"apa tujuan mu mengirimnya ke sini?" menatap lurus ke depan dengan alis yang di turunkan.

__ADS_1


Rio melirik sekilas si sekertaris. dilihatnya samar-samar zan mengangguk. barulah dia memiliki besar keberanian. "saya meminta maaf sebelumnya kalau saya lancang mengirim hadiah untuk kakak saya kesini, tapi saya punya alasan mengapa saya mengirimkannya kesini"


Rangga tetap pada ekspresinya. seperti mengucapkan 'jangan berbelit-belit'.


"apakah anda akan memberikan hadiah saya ke kak danita setelah tahu siapa pengirimnya?"


"tentu saja tidak" entengnya dia menjawab.


"saya tahu saya hanya seorang remaja yang masih duduk di bangku sekolah dimata anda, tapi jangan lupakan kalau saya ini adalah adik dari istri anda, rasa rindu antara adik dan kakaknya itu adalah hal wajar, kalau anda melarang saya untuk bertemu dengan kak danita saya bisa menerimanya, tapi jangan lupakan kakak saya mempunyai kedua orang tua yang selalu merindukan anak perempuannya" ucap Rio.


Rangga menatapnya datar tak berekspresi.


"kemana janji anda untuk membahagiakan kakak saya?" tanya Rio dengan nada suara yang sangat amat dalam.


"danita sudah bahagia bersama ku apa aku harus menginfokan kepada mu?"


Rio berhenti sebentar. dia mengingat kata-kata Zan. 'ucapkan apapun yang kau ingin ucapkan, tapi jangan terkesan kasar'.


"bahkan untuk sekedar menatap wajah adiknya saja anda melarang, bagian sudut mananya kakak saya telah bahagia?"


Persetan dengan kata-kata Zan, Rio sudah tak tahan.


Alis rangga menukik tajam. apakah ia harus merobek lukisan itu didepan wajah sang pelukis?.


"Zan" panggilnya masih menatap ke depan.


"ma–maafkan kelancangan saya tuan, tolong jangan merobek lukisan saya" langsung menunduk sedalam-dalamnya.


"zan" panggilnya sekali lagi, sekarang sedikit menoleh sembari menunjuk lukisan itu.


Zan menatap Rio yang sedang menunduk dalam sekali, lalu beralih ke lukisan yang di tunjuk Rangga. "lukisan itu dibuat dengan sepenuh hati dari seorang adik untuk kakaknya yang sudah ia rindukan, tuan" dalam hatinya ia membela Rio.


"saya sangat ingin kak danita melihat hadiah saya, setidaknya tolong biarkan kak danita melihatnya tanpa tau siapa pelukisnya. saya belajar melukis bertahun-tahun untuk bisa menggambar orang yang saya sayangi di atas kanvas saya. tolong biarkan kak danita melihat hadiah saya" kata-kata itu keluar dari mulut Rio dengan begitu cepat.


Bertahun-tahun ia belajar, menekuni dan berlatih melukis untuk suatu hari nanti ia bisa menggambar seseorang di atas kanvasnya, dan membuat seseorang itu tersenyum bahagia ketika melihat lukisannya. apa kalian tahu berapa waktu yang di habiskan Rio untuk melukis kakaknya? jawabannya adalah tiga bulan. benar kalian tak salah baca, selama tiga bulan dia terus mengoleskan cet di atas kanvasnya. dengan perasaan tak sabar kakaknya akan melihat hadiahnya. tak perduli hari sudah gelap atau petang, dia tetap mengoleskan cetnya. untuk membuat hadiah terindah untuk sang kakak.


Dan sekarang? apakah tiga bulan tak ada artinya bagi kakak iparnya?.


"zan" entah itu panggilan ke berapa.


"tuan" nada mencegah ingin sekali mencegah tapi apa daya?.


"kirim lukisan ini kerumah"


Rio langsung mengangkat kepalanya, Zan menatap datar tapi sedikit terkejut dengan ucapan Rangga. yang ditatap tertawa mengejek.


"kau terlalu banyak bicara tanpa mendengar yang selengkapnya" menyilang kan tangannya dan masi tersenyum jenaka.

__ADS_1


Rio mendadak linglung, ini kakak iparnya mengizinkan lukisannya untuk di terima kakaknya? Rio tak sedang berimajinasi kan?.


"kenapa kau memilih melukis dengan konsep negara jepang?" menghentikan tawa menyebalkannya


Rio langsung sadar kembali "i–itu karna saya menyukainya"


Mengerutkan keningnya. lalu tangannya kembali menunjuk lukisan itu, "apa makna dari lukisan itu? wanita itu Danita kan?" tanya Rangga melirik sekilas lukisan yang ada di sampingnya.


Rio mengangguk cepat, "saya mengambil tokoh wanita dari anime Jepang itu yang bernama Nezuko Kamado, apa kakak ipar tau siapa itu Nezuko Kamado?"


Rangga menggelengkan kepalanya, masih saksama menatap ke adik iparnya yang sedang asik berbicara.


"Dia adalah seorang manusia yang berubah menjadi iblis akibat terkena darah dari raja iblis, Nezuko tidak seperti iblis pada umumnya yang memakan daging manusia dan tak bisa terpapar oleh sinar matahari, Nezuko kebalikan dari itu semua, Nezuko memiliki seorang kakak yang bernama Kamado Tanjiro, dia selalu memakai mantel kemanapun ia pergi, dan mantel itu bergambar seperti yang ada di lukisan ku." Ujar Rio menunjuk lukisannya.


Rangga tak bergeming ataupun menoleh ke lukisan yang di maksud, dia sudah melihatnya terus menerus beberapa hari yang lalu. jadi dia sudah hafal dengan setiap warna yang ada disana.


"Tanjiro selalu melindungi Nezuko, kemanapun dia pergi, Nezuko selalu ia gendong di pundaknya dengan tas yang dibuat dari kayu ringan oleh kakek yang mengajari ilmu berpedang, sekarang kenapa saya melukis tokoh anime Nezuko yang duduk dengan berbalut mantel sang kakak di tubuhnya?" Kata Rio menggantungkan kata-katanya.


"Nezuko saya gambarkan sebagai kak Danita, dan mantel yang melilit tubuhnya saya gambarkan sebagai kakak ipar, mantel itu memang memberikan kehangatan kepada Nezuko, tapi karna mantel itu melilit tubuhnya, Nezuko jadi tak bisa bergerak dengan leluasa, dan berkahir dia seperti terkurung di dalam mantel hangat milik sang kakak." Jelas Rio diakhiri senyum bangga untuk dirinya sendiri.


"Maksud mu?" tanya Rangga menyatukan alisnya.


"Kak Rangga menyayangi kakak saya dan selalu menjaga kakak saya dengan kasih sayang melimpah, tetapi apa kakak ipar tak menyadari kasih sayang yang kakak ipar berikan membuat kakak saya tak bebas untuk bergerak dan menjadi terkurung di dalam kasih sayang kakak ipar berikan?" Kalimat ini ditunjuk ke Rangga. ini adalah kesempatan sekali dalam hidup Rio.


Rangga menghilangkan kerutan di dahinya, diganti dengan tatapan datar cenderung tak suka.


"Saya tau kakak ipar sangat menyayangi kakak saya, tapi saya mohon jangan lupakan bahwa kakak saya juga mempunyai keluarga sebelum memutuskan untuk membuat keluarga baru bersama anda, ibu saya sering kali mengigau memanggil nama kak Danita dalam tidurnya, sekali saja anda mengunjungi rumah saya dengan membawa kak Danita, ibu dan bapak saya pasti sangat senang, tak perlu anda membawakan segala jenis makanan atau berbagai macam benda yang bernilai fantastis, cukup bawa kakak saya, kami semua sudah sangat senang." Lirih Rio berucap dengan mata memohon.


Rangga sedikit menoleh kebelakang, membisikkan sesuatu kepada Zan. yang tentu saja tak dapat di dengar oleh Rio.


"Kau boleh pergi." Ucap Rangga mengusir Rio.


Rio menghela nafas dalam hati, kecewa. Rio kecewa dengan kakak iparnya, sepertinya sudah tak ada kesempatan untuk dia bertemu dengan kakaknya. Rio sudah siap untuk mengucapkan selamat tinggal kepada lukisannya.


"Terima kasih, saya permisi." Pamit Rio berjalan ke arah pintu.


Rangga terdiam sejenak, menolehkan kepalanya menatap lukisan yang dibuat untuk istrinya.


"Kosongkan jadwalku untuk besok sampai lusa." Perintah Rangga untuk zan.


"Baik tuan." Jawab si sekertaris dari belakang.


Sebagai seseorang yang sudah diajari tata krama sejak kecil dan sopan santun yang sudah di tanamkan sejak dini, Rangga tak mungkin Setega itu kepada keluarga wanita yang paling ia cinta.


Bersambung.


Hehe apa kabarr? Masih ada yang nungguin novel ini gak?

__ADS_1


__ADS_2