Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Bunga lagi


__ADS_3

mentari sudah menampakan dirinya, sinarnya sudah menghangatkan bumi dan manusia yang berada didalamnya. Rangga dan danita sudah bangun dari tidurnya sekarang danita sedang menunggu Rangga keluar dari ruang ganti baju. akhir² ini sifat danita sangat manja dengan rangga, dia selalu minta dicium setiap pagi oleh Rangga, Rangga tentu saja memberikannya.


"sayang" panggil danita dengan nada manja.


Rangga langsung mencium bibir danita, karna itu yang dimau danita. Rangga sudah sangat mengerti seperti apa sifat istrinya ini, tapi dia senang kalau danita bersifat manja seperti ini.


"hehe, kamu tau aja apa yang aku mau" ucap danita cekikikan seraya berjalan keluar kamar bergandengan tangan dengan Rangga.


dimeja makan tidak ada Kelin karna Kelin sedang dirumah sakit menjaga papanya bersama mama Wulan. alasan kenapa Kelin menginap semalam dirumah sakit karna setiap malam dia selalu mendengar suara dari kamar Rangga, umurnya sudah sangat cukup untuk mengerti suara apa itu alhasil setiap malam Kelin selalu menggunakan henset.


"kau berangkat bersama ku" ucap Rangga tiba².


"kenapa?" tanya danita mengambil roti yang ada di piringnya.


"kenapa?, tentu saja aku ingin mengantarmu" jawab Rangga mengusap ujung bibir danita yang ada saus dengan jempolnya.


"aku gak suka berangkat pake mobil" ujar danita kembali mengunyah makanannya.


"kau tidak suka aku mengantarmu?" bertanya dingin sambil memasukan rotinya ke mulutnya.


"aku suka banget kalau kau mengantarku" jawab dengan senyuman ceria palsu.


Rangga membalas dengan senyuman ceria juga kepada danita. melihat senyuman Rangga membuat danita merinding.


"kenapa aku merinding gini?, tapi dia sangat tampan kalau tersenyum" ucap danita dalem hati kembali mengunyah rotinya.


sarapan pun selesai. Rangga mengantar danita dulu ke kampusnya sehabis itu langsung melaju ke kekantornya.


"zan" panggil Rangga menatap zan yang berada dibelakang kemudi.


"iya kenapa tuan?" matanya melirik spion.


"kau tidak mau mengejar wanita masa lalumu lagi?" tanya Rangga membuat zan terkejut.


"untuk apa saya mengejarnya tuan?, kalau orang tuanya tetap tidak menyukai saya apa boleh buat?" menjawab dengan pertanyaan.


"mungkin saja kalau kau saat itu mengejarnya ke luar negri, bisa jadi orang tuanya luluh denganmu" ujar Rangga membuat zan melirik kaca spion.


"saya lebih memilih berada disamping anda tuan" balas zan santai.


"akukan sudah menyuruhmu untuk mengejar wanita itu" ucap Rangga memandang lampu merah yang didepannya.


"tidak ada yang lebih penting dari pada anda, lagi pula mungkin memang dia bukan untuk saya" masih fokus menyetir.


"bodoh!, seharusnya kau memperjuangkannya bukannya malah menyerah seperti ini" ucap Rangga.

__ADS_1


"apa 1 tahun lebih itu bukan perjuangan tuan?" pertanyaan zan membuat Rangga bungkam.


memang benar selama satu tahun zan sudah berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan restu dari orang tua wanitanya, tapi perjuangannya selama itu tidak membuahkan hasil.


"lagian kenapa juga orang tuanya sampai sangat tidak suka denganmu" ucap Rangga menghiraukan pertanyaan zan tadi.


"saya pun tidak tau, waktu itu saya sudah berusaha mencari informasi kenapa orang tuanya sangat tidak menyukai saya, tapi hasilnya nihil informasi sedikitpun tidak saya temui" balas zan masih fokus menyetir.


Rangga kembali diam menatap keluar jendela, mengingat kejadian 4 tahun lalu yang sangat menyakitkan bagi zan.


karna obrolan tadi zan kembali mengingat masa lalunya bersama wanita itu, hatinya terasa sesak saat dia mengingat kejadian itu lagi. akhirnya zan bisa menguasai dirinya lagi dan kembali fokus menyetir.


Rangga sudah masuk kegadung adinata grup, semua karyawan menunduk hormat kepada presdirnya tak terkecuali.


tingg


pintu lift terbuka, Rangga melangkah menuju ruangannya diikuti zan dibelakangnya.


"ada apa?" tanya Rangga saat melihat salah satu staff sekertarisnya terlihat sangat cemas dan gusar.


"maaf tuan, didalam ada nona bunga" jawab wanita yang mewakili ketiga sekertarisnya.


zan mengepalkan tangannya saat mendengar bunga ada didalam.


"maaf tuan, nona bunga memaksa dan mendorong kami bertiga" jawab wanita itu pelan sambil menunduk.


Rangga masuk kedalam ruangannya tidak memperdulikan dua orang yang ada diluar.


saat masuk kedalam ruanganya sudah ada bunga yang sedang duduk dengan keanggunannya menumpu dagunya dengan tangannya.


bunga tersenyum saat melihat Rangga masuk kedalam ruangan.


"berani sekali kau sembarangan keluar masuk ruangan ku" ucap Rangga dengan muka kesal dan nada yang dingin.


"aku hanya ingin menemuimu" balas danita berjalan kerangga.


"kalau kau mau menemuiku kau harus membuat janji dengan zan, bukan seenaknya keluar masuk ruangan ku" ujar Rangga tegas membuat bunga berwajah pias.


"dulu aku bebas keluar masuk ruangan mu" ucap bunga melingkarkan tangannya di lengan Rangga.


"itu dulu tiga tahun yang lalu, setelah kau pergi bersama ******** itu jangan harap aku seperti Rangga yang kau kenal tiga tahun yang lalu" balas Rangga tambah membuat nyali bunga menciut.


zan sudah ada diruangan itu sejak tadi, ingin sekali zan menyeret bunga keluar dari ruangan ini. zan teringat bagaimana ekspresi danita saat melihat kejadian ini beberapa waktu lalu, dia tidak mau terjadi pertengkaran lagi di antara kedua majikannya.


"Rangga aku masih mencintaimu, aku masih sangat menyayangimu" ucap bunga dengan mata yang berkaca².

__ADS_1


"tapi aku sudah tidak mencintaimu, luka yang kau buat tiga tahun lalu sudah diobati oleh danita" kata danita sengaja ditekan oleh Rangga.


"aku tidak percaya itu Rangga" bunga menganggap kalau Rangga masih mencintainya dan danita hanya sebagai alasan.


"aku tidak perduli kau percaya atau tidak" melepaskan tangan bunga dari lengannya lalu berjalan kekursinya.


bunga mengikuti Rangga berjalan menuju kursinya. dengan tidak ada rasa malunya dia duduk diatas pangkuan Rangga dan melingkarkan tangannya dileher Rangga.


"nona tolong jangan kurang ajar dan bertindak yang tidak seharusnya anda lakukan" ucap zan sudah sangat kesal dan geram dengan sikap bunga yang sudah melebihi batas.


Rangga menatap bunga jengkel, bunga memanfaatkan keadaan dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah rangga saat dia ingin lebih dekat lagi Rangga langsung berdiri otomatis bunga terjatuh dari pangkuan Rangga.


"jangan melebihi batas, kau yang meninggalkan ku bersama lelaki ******** itu walaupun kau kembali aku tidak akan pernah kembali kepadamu lagi, kau yang menyakitiku jangan harap bisa kembali denganku" ujar Rangga menunjuk bunga yang terduduk dilantai dengan nada tegas.


zan berdiri dekat pintu siap untuk menyeret wanita tak tau diri ini.


"zan" panggil Rangga dengan suara beratnya.


"baik tuan" zan langsung menarik lengan bunga kasar membawanya keluar dari ruangan Rangga.


Rangga mendesah kesal dengan bunga, dia tidak menyangka dia pernah mencintai wanita seperti ****** itu. Rangga menatap keluar jendela melihat kepadatan jalan raya dari jendela ruangannya.


"kau sudah mengurusnya?" tanya Rangga sudah tau kalau zan sudah masuk kembali.


"sudah tuan" jawab zan menatap Rangga yang sedang melihat keluar jendela.


"jangan sampai berita tentang ini tersebar apa lagi sampai danita mendengarnya" suruh Rangga memasukkan tangannya ke saku celananya.


"baik tuan" balas zan.


"jam berapa kelas danita selesai?" tanya Rangga cepat.


"jam setengah tiga tuan" jawab zan.


"lama sekali" gumam Rangga kesal.


"tuan mau makan siang dengan nona danita?" tanya zan mendekat kerangga


"hmm" mengangguk.


"baik tuan akan saya urus" ucap zan langsung keluar ruangan Rangga. Rangga masih berdiri samb menatap luar jendela dia membayangkan wajah wanita yang sangat dia cintai sekarang.


"aku akan menjaga mu dan aku akan selalu mencintaimu" gumam Rangga tersenyum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2