Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Keraguan


__ADS_3

Hari kembali seperti biasa, danita pergi kekampus sesuai jadwalnya dan Rangga pergi ke kantor setiap hari tidak lupa Rangga terkadang mengunjungi papanya yang sedang dirumah sakit.


sama seperti hari hari yang sebelumnya, hari ini pun dimulai dengan senyum bahagia dari penghuni kamar utama, Rangga selalu bangun dan langsung menatap wajah wanita yang sangat dia cintai itu setiap hari dan setiap pagi, hubungan mereka berdua tambah serasi tidak ada pertengkaran besar yang membuat seisi rumah digemparkan, itu karna Rangga selalu mengalah dan selalu sabar dengan sikap danita yang terkadang manja dan kadang juga cuek perubahan sikap danita membuat Rangga kadang² ngambek karna selalu dicuekin.


"danita" panggil Rangga dengan muka masam.


"hmm" yg dipanggil Mala cuek menyalakan televisi.


"kau lebih milih televisi atau aku?" membantingkan remot ke meja.


"televisi karna ada kartun kesukaan ku" jawab danita santai sambil memainkan dagu Rangga.


Rangga menepis tangan danita, langsung berdiri dan melangkah keluar kamarnya dengan kaki yang dihentakkan membuat suara sepatu Rangga berbunyi nyaring dilantai. danita yang melihat itu tersenyum dia suka melihat wajah ngambek suaminya, karna danita masih ada akal warasnya dia langsung menyusul Rangga bertujuan tidak menciptakan Mala petaka.


"sayang kau tidak sarapan?" mengikuti langkah Rangga ditangga.


"sarapan sana kau dengan kartun kesukaan mu" ketus Rangga berjalan menuruni anak tangga.


"hihi, gak kok sayang aku lebih milih kamu" memeluk lengan Rangga.


Rangga tidak menepis tangan danita dia malah berjalan melewati meja makan yang sudah ada pak Tan yang siap untuk menyambut.


"sayang ayolah kita sarapan dulu" menarik lengan jas Rangga tapi tidak sama sekali berhasil.


"sana kau sarapan dengan kartun kesukaan mu" Masi berjalan menuju pintu utama.


danita memeluk tubuh Rangga dari samping walaupun tidak semua badan Rangga berhasil dipeluk dengan tangan mungilnya.


"kartun itu memang kesukaan ku tapi kamu orang yang aku cintai melebihi kartun itu" ucap danita sedikit malu.


"kau yg bilang lebih milih televisi dari pada aku"


"itu hanya candaan ku sayang, yaudah ayo kita sarapan" aku akan telat kuliah kalau kau terus menimbulkan drama.


"berjanji kepada ku kau tidak akan mengabaikan ku hanya karna kartun kesukaan mu" menarik kembali tangan danita dan memegang dagunya.


"hmm iya iya aku janji" cupp, danita mengecup bibir Rangga membuat kesal yang ada didiri Rangga tadi menghilang tiba².


Rangga kembali berjalan menuju meja makan sambil memeluk danita dan berjalan bersamaan.


"arghh aku gak bakal kemana²" ingin rasanya dia teriak sekencang kencangnya dan kabur dari Rangga.


dimeja makan hanya ada mereka berdua karna Kelin sudah kembali ke London dua hari yang lalu, jadi tidak ada lagi jiwa ambyar dari seorang jomblo yang melihat dua orang ini bermesraan.


danita mengambilkan sarapan yang ada diatas meja lalu ditarus di piring rangga. Rangga sedang membuka hpnya seperti dia sedang membaca email atau sedang membaca pesan masuk.


sarapan yang hening dan hanya terdengar suara sendok dan sedikit obrolan orang yang sedang makan, tidak ada suara lain lagi. danita yang sedang menahan mualnya dan Rangga yang fokus pada makannya tidak lupa danita sesekali menyodorkan sendok ke mulut Rangga. sarapan pun selesai Rangga sudah pergi kekantor sementara danita sedang memuntahkan makanannya dikamar mandi.

__ADS_1


seperti biasa danita pergi bersama dua orang suruhan rangga, risih pasti ada dihati danita karna harus selalu berada didekat dua orang ini itu membuat danita seperti dibatasi ruang geraknya. danita harus sabar dan patuh terhadap semua perintah Rangga sebenarnya kalau dia ada keberanian untuk menggertak Rangga pasti Rangga langsung diam dan menuruti apa yang di mau danita, tapi danita lebih memilih patuh karna menurutnya itu bentuk perhatian dan kasih sayang Rangga terhadapnya.


*****


"eh gw ke kamar mandi yah mau ganti pembalut" Vita pergi keluar kelas meninggalkan Rasya dan Vita yang sedang sibuk dengan urusannya.


"oh iya gw juga lagi halangan" ucap Rasya.


danita langsung mengingat jadwal menstruasinya, danita membuka kalender yang ada di hp dan melihat pin tanggal menstruasinya.


"yaampun ini udah tanggal berapa?" ternyata danita hampir telat datang bulan 3 minggu.


"telat Dateng bulan lu nit?" tanya Rasya ikut melihat kalender yang ad di hp danita.


"udah 3 minggu gw telat Dateng bulan" jawab danita terkejut.


"periksa sana ke dokter" saran Rasya


danita hanya terdiam merenung perkataan Rasya.


"apa gw hamil sya?" ucap danita pelan.


"mungkin aja, lu ngalamin muntah², badan lu gampang lelah dan pusing gak?" menatap danita serius


"iya" danita mulai takut.


"gw takut sya" ini lah yang danita takutkan kalau dia menikah dengan Rangga yaitu hamil karna otomatis hidupnya tambah diatur.


"apa yang lu takutin nit, lu punya suami tuan Rangga orang yang terpandang di negara ini orang mana yang gak kenal Rangga adinata bahkan bisnisnya sudah sampai diluar negri" ucap Rasya panjang lebar.


"nanti kalo gw gak boleh kuliah lagi dan berkumpul bertiga lagi gmn?" mata danita sudah berkaca².


"coba aja nit jangan ngomong yang kyk gitu dulu" Rasya memegang tangan danita berusaha untuk menenangkan danita.


danita mengangguk menyeka air matanya yang sudah menetes dan mengalir di pipinya. lalu kembali tersenyum.


hari sudah sore saatnya danita pulang. sesuai apa yang diucapkan Rasya, danita mampir ke apotek sebentar untuk membeli testpek. ada keraguan dan juga ada rasa takut dihati danita dan pikiran danita berlari kemana² danita berusaha untuk tenang.


saat sampai dirumah danita langsung pergi kekamarnya dan memakai alat tes kehamilan itu, danita benar² merasa takut tapi dilubuk hatinya ada rasa senang dan bahagia saat mengetahui kalau dirinya hamil. setelah menunggu sekitar 15 menit alat tespack itu mengeluarkan hasilnya dan hasilnya..



kaki danita lemas sambil melihat testpack itu, dengan air mata yang sudah mengalir danita menyeret kakinya keluar dari kamar mandi Masi menggunakan jubah mandi.


menatap dengan tatapan kosong, dia menatap hasil testpacknya, garis dua merah yang tergambar di testpack itu berarti danita postive hamil, ada janin penerus adinata grup dia rahim danita darah daging Rangga adinata dan anak yang akan menggantikan posisi Rangga suatu hari nanti.


rasa senang, bahagia dan juga khawatir bercampur aduk dihati dan fikiran danita. danita senang dan bahagia saat mengetahui kalau dirinya sedang hamil tapi disisi lain ada rasa khawatir kalau dirinya sedang hamil berarti hidupnya tambah dikekang semua harus serba atas perintah Rangga bahkan mungkin Rangga tidak akan memperoleh danita untuk masuk kuliah lagi dan akan mengikuti kelas online.

__ADS_1


tidak kerasa hari sudah mulai malam, saat mendapat informasi kalau Rangga sudah akan sampai danita langsung mengganti bajunya dan menyembunyikan testpacknya untuk sementara dia belum mau Rangga mengetahui kalau dia sedang hamil.


"tenang danita tenang, jangan memberi tahu Rangga dulu" gumam danita pelan menuruni tangga dengan hati².


"sayang" danita langsung memeluk tubuh Rangga, Rangga yang sudah mulai terbiasa dengan perubahan sikap danita pun membalas pelukannya.


Rangga pergi kekamar bersama danita lalu turun lagi, memakan makan malam berdua yang tidak ada siapa² lagi. setelah makan malam Rangga pergi keruang kerjanya bersama pak Tan.


danita melihat sekertaris zan sedang duduk disofa ruang tamu sambil membuka leptopnya dan meminum kopi yang dia buat sendiri, danita mendekati zan dan duduk disebelah zan.


"ada apa nona?" zan menggeser tubuhnya agar tidak berdekatan dengan danita kalau tidak sang suami akan ngamuk saat melihat itu.


"tidak ada apa²" memperhatikan leptop zan yang menyala.


"tidak mungkin anda kesini kalau tidak ada apa²" tidak bergerak diposisinya.


"sekertaris zan aku ingin bertanya sesuatu" itu inti danita mendekati zan.


"silahkan nona" Masi belum bergerak di posisinta.


"menurutmu kalau aku hamil tuan Rangga akan bagaimana?" beralihlah menatap zan serius.


"kenapa nona danita mendadak menanyakan ini, atau jangan² nona danita sedang hamil?"


"tuan Rangga tentu saja akan merasa bahagia dan senang saat mendengar hal itu" menggeser leptopnya.


"apa tuan Rangga akan mengatur semua yang dilakukan ku dan akan membuatku seperti burung didalam sangkar?" tanya danita dengan tatapan penuh harap.


"nona kenapa anda berbicara seperti itu? tuan Rangga melakukan itu karna dia sayang kepada anda tuan Rangga tidak mau kalau anda terluka seujung kuku pun, jadi semua yang dilakukan tuan Rangga terhadap anda anggaplah ini sebagai bentuk kesih sayang dan cinta dari tuan Rangga" ujar sekertaris zan panjang lebar berusaha menjelaskan kepada danita.


"sekertaris zan aku sedang mengandung anak tuan Rangga" ucap danita pelan sambil menundukkan kepalanya.


"nona apa ini yang membuat anda bertanya seperti tadi?" manatap danita yang sedang tertunduk.


danita mengganguk belum mengangkat kepalanya.


"nona percayalah tuan Rangga akan merasa senang dan sangat bahagia saat mendengar hal ini, beri tahulah kabar gembira ini nona" zan berusaha untuk meyakinkan danita bahwa Rangga sangat menantikan buah hatinya dari danita.


danita hanya terdiam tidak membalas perkataan zan, dia Masi berfikir beri tahu Rangga atau nanti saja. tapi apa yang dikatan zan memang benar seorang suami akan merasa sangat senang jika mendengar dan mengetahui kalau istrinya sedang hamil anaknya.


"kalau anda tidak mau memberitahu tuan Rangga saya sendiri yang akan memberitahu tuan Rangga" ucap zan cepat.


"iya iya aku akan memberitahunya" takut dengan ancaman zan. lebih baik dia yang memberi tahu dari pada nanti Rangga mendengarnya dari orang lain Rangga pasti akan marah kepada danita.


"saya harap anda bisa membuktikan perkataan anda" kembali menatap leptopnya.


danita pergi dari satu menaiki tangga menuju kamarnya, dia mau memikirkan cara bagaimana dia memberitahu Rangga sekaligus menenangkan pikiran dan hatinya yang berlari kemana².

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2