Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Ngidamnya Rangga


__ADS_3

"danita" suara rangga yang dibuat-buat terdengar menggelikan.


"apa?" danita menengok ke samping.


"danita" panggilnya lagi.


"apa si sayang" sebenarnya danita sudah agak jengah dengan rangga.


bayangin saja, sudah satu jam lebih rangga memeluk lengan danita. tak mau dilepas.


"kok aku tiba-tiba kepengen mangga ya" menggesek-gesekkan kepalanya di bahu danita.


Danita diam, dia ingin melepaskan rangga dari lengannya. tapi takut rangga mengamuk nanti.


"beli dimana ya" sekarang menyenderkan kepalanya ke bahu danita.


"tumben kamu nanya beli dimana, biasanya langsung panggil pak tan" menatap kepala rangga.


"tidak tahu tiba-tiba ingin bertanya saja"


"sayang kamu sedang ngidam ya?" menjauhkan wajahnya dari kepala rangga.


"yang hamil kan kamu, tidak mungkin aku yang ngidam" memeluk perut buncit danita.


"kata siapa suami tidak bisa ngidam?, banyak tu suami yang ikutan ngidam"


"benarkah?" mengangkat kepalanya.


"heem" mengangguk.


"jadi kalian kepingin memakan mangga? baiklah papa akan mencarinya" berbicara di depan perut danita.


"tapi nanti kamu yang makan loh bukan aku" matanya menatap rangga dibawah sana.


"aku tahu itu" langsung menjauh dari ranjang.


"ayo mencari mangga" senandungnya sambil berjalan ke pintu.


"terkadang dia aneh" memperhatikan suaminya yang sedang asik berjalan sambil bersenandung.


****


"pak tan" suara rangga mengejutkan pak tan yang sedang menulis sesuatu di meja.


"a–ada apa tuan muda?" gagap pak tan langsung menutup bukunya.


"ada buah mangga tidak?" duduk di kursi dapur.


"buah mangga? ada tuan, anda ingin saya menyiapkannya?" melirik sekilas ke belakang dapur.


"boleh boleh, yang asam ada tidak pak?" mengangguk semangat.


"ada tuan, sebentar saya siapkan" menunduk sedikit lalu pergi ke belakang dapur.


Disana ada beberapa koki yang sepertinya sedang membuat sesuatu. rangga memperhatikan gerak-gerik koki itu, saat salah satu koki menggeser tubuhnya. terlihat ada seorang wanita disana. seingatnya dia tidak memperkerjakan koki wanita.


"dia sedang membuat kue ya?" berjalan menuju belakang dapur.


Saat dirinya sampai, tidak ada yang menyadari keberadaannya. para koki masih berkutat dengan alat-alat dapur dan segala jenis bahan-bahan. wanginya enak sekali.


"kalian sedang buat apa?" berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


Para koki terkejut mendengar suara rangga yang tiba-tiba masuk ke gendang telinga. bahkan ada satu koki yang tak sengaja menjatuhkan sendok berisi bubuk ke lantai.


"selamat malam tuan rangga" semua koki menunduk serempak.


"kenapa wajah kalian tegang?" menatap koki-koki yang menunduk.


tidak ada yang menjawab, mereka semua masih menunduk.


"mereka sedang membantu tante membuat kue" tante wulan yang menjadi pusatnya rangga kesini menjelaskan.


Rangga ber oh. "angkat kepala kalian, memangnya wajah ku ini menyeramkan?" kembali menatap kepala para koki yang masih menunduk.


para koki saling pandang dahulu sebelum mengangkat kepalanya.


"kalian sedang membuat kue apa?" tangannya mengambil sepotong kue yang sepertinya baru keluar dari oven dan sudah dipotong.


"ini hanya iseng-iseng saja" yang menjawab tante wulan, yang sedang mengaduk adonan berwarna hijau itu.


Rangga mengangguk, memperhatikan tangan tante wulan yang memegang pengaduk besi. "kenapa kalian diam? lanjutkan seperti yang tadi kalian lakukan" kembali ke para koki.


Koki-koki itu langsung kembali memegang alat dan bahan yang semulanya dia pegang. satu pertanyaan yang melekat di kepala mereka. kenapa tuan rangga tiba-tiba ada disini?.


"ini apa?" mengambil sepotong kue berwarna merah lalu ditunjukkan ke tante wulan.


"itu campuran rasa buah stroberi dan coklat sedikit" menjawab tanpa menatap rangga. tangannya sangat sibuk memegang tempat dan pengaduk besi itu.


Rangga memasukkan kue itu ke mulutnya. enak, lembut dan manis, ada sedikit rasa pahit dari coklat.


"kamu kenapa tiba-tiba ada ada disini rangga?" melirik sekilas wajah rangga yang sedang mengamati tangannya.


"menunggu pak tan menyiapkan mangga" jawabnya sambil memperhatikan tangan tante wulan.


"danita sedang mengidam?" menatap wajah rangga dan tangannya menekan-nekan adonan itu.


"ohh kamu mengidam" sekarang membanting adonan itu ke tumpukan tepung terigu.


brakk


Rangga ber wah wah melihatnya. sepertinya itu sedikit berat, tapi kenapa tante wulan bisa membantingnya?.


"apa itu tidak berat?" menunjuk adonan hijau yang sudah terbalut tepung terigu.


"ini ringan rangga" membanting lagi adonan yang ada ditangannya.


Rangga penasaran. adonan itu tebal. masa iya tidak berat?.


"aku ingin mencoba membantingnya" menyalakan keran air lalu membasuh tangannya.


Tante wulan memperbolehkan saja. tapi nanti kalau adonannya rusak bagaimana?.


Brakkk


suara bantingan yang sangat keras membuat para koki tersentak ada juga yang langsung latah. ingin membalikkan tubuh untuk melihat tapi takut melanda.


"ahh sama sekali tidak berat ternyata" ucapnya santai melepaskan tangannya.


Tante wulan membeku disana. selain bantingan tadi yang lumayan mengejutkan jantung. bentuk adonan hijau sekarang lebih mengejutkan.


"rangga seharusnya kamu tidak menggunakan tenaga" mendekati adonan hijau yang habis di geprek sama rangga.


Rangga sedikit tercengang melihat adonan hijau itu menjadi sangat tipis sekarang. benar-benar jadi geprek.

__ADS_1


"aku bahkan sama sekali tidak memakai kekuatan" ucapnya menggaruk kepalanya. itu benar-benar menjadi adonan geprek.


Memang benar rangga sama sekali tidak memakai tenaga saat membanting adonan itu, ya tapi mungkin memang seperti itu tanpa kekuatan yang di maksud rangga.


"tuan ini mangganya" tiba-tiba pak tan datang membawakan sepiring mangga.


Rangga membalik badannya. dia meneguk ludah kasar melihat mangga-mangga yang tersusun rapih di atas piring. menggiurkan. tanpa ba-bi-bu dia langsung mengambil piring itu dan pergi meninggalkan dapur.


Matanya berbinar menatap mangga-mangga yang ada di piring. sekarang dia sedang duduk di sofa. bersiap untuk menyantap mangga asam itu.


"hmm asam" gumamnya menikmati rasa asam yang mengisi dinding-dinding rongga mulutnya.


saat sedang asik menyantap mangga itu, dia merasakan langkah kaki yang sangat dia kenal mulai memasuki rumah.


Benar saja, detik berikutnya ada yang masuk ke dalam rumah. kakinya berhenti saat melihat tuan mudanya sedang duduk di sofa.


"selamat malam tuan rangga" orang itu adalah zan.


"oh kau sudah datang, panggil pelayan itu" memasukkan lagi sepotong mangga kedalam mulutnya.


Zan menaruh sebuah paper bag yang dia bawa ke atas meja bersebelahan dengan piring berisi mangga.


Dan zan kembali bersama seorang pelayan wanita yang menunduk sepanjang perjalanan.


"se–selamat malam tuan rangga" pelayan wanita itu masih menunduk dalam.


Rangga memasukkan lagi sepotong mangga ke dalam mulutnya sambil memperhatikan pelayan wanita di depannya.


"apa saja yang kalian lakukan kemarin bersama danita?" mengunyah mangga yang ada di dalam mulutnya.


Sari lah pelayan wanita itu. dia gemetar-gemetar takut. baru saja kemarin dia di naikkan gajinya oleh tuan rangga, tetapi sekarang dia sudah berbuat kesalahan.


"jawab" suara zan lagi-lagi tambah membuatnya takut.


"ka–kami menonton drama Korea, ber–berbincang da–dan bermain le–lemmpar-lemparan bantal" takut dia tuh.


Rangga tak bersuara, suara garpu ditusuk ke potongan mangga itu lah yang terdengar. mendengar rangga tak bersuara membuat sari tambah takut.


"walaupun danita telah membujuk ku agar tak memecat mu" kata-katanya ia gantung.


Sari tak menghirup oksigen saat mendengar kata memecat. "tuan muda tolong ampuni saya" sari memejamkan matanya rapat-rapat.


"tapi aku tidak akan membiarkan mu begitu saja" mengehentikan tangannya dan menaruh garpunya.


Rangga melirik paper bag itu lalu menatap sari. "aku tidak mau mengecewakan kerja keras danita kemarin" lagi-lagi menggantungkan kata-katanya.


"ambil itu, nita bekerja keras untuk itu" mengintruksikan untuk sari mengambil paper bag didepannya.


Sari mengangkat sedikit kepalanya, menatap yang dimaksud tuannya. matanya membulat saat melihat gambar yang tertera di depan paper bagnya.


"ambil!, sebelum ku ubah pikiran ku dan memecat mu" ucapnya dingin.


Sari langsung mengambil paper bag itu dengan tangan yang gemetar.


"pergi" kembali memegang garpunya.


"te–terima kasih tuan" menunduk sampai 90 derajat. hidupnya masih selamat sekarang. berkat nona danita.


"terima kasih nona, anda telah menyelamatkan hidup saya" berjalan cepat meninggalkan ruang keluarga.


Rangga mengunyah lagi mangganya. kenapa mangga ini sangat enak? katanya dalam hati. mangganya yang benar-benar enak atau dirinya yang sedang ngidam jadi mangganya menjadi sangat enak?.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2