Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Mie instan


__ADS_3

Didalam kamar utama danita sudah terbangun dari tidurnya, saat dia bangun dia merasa badannya sangat remuk dan lelah entah karna permainan Rangga yang terlalu bersemangat atau kondisi danita yang belum stabil.


perlahan² danita berjalan kekamar mandi, tubuhnya sangat lemas tapi danita bisa berjalan ke kamar mandi. danita merendamkan tubuhnya di bathtub yang ada di kamar mandi besar ini, kalo dilihat² besar kamar mandinya sama dengan besar ruang ganti baju yang tak kalah besar juga.


danita memejamkan matanya sejenak menikmati air hangat yang menenangkan pikiran dan hatinya.


"kenapa aku sangat lemas? tidak seperti biasanya" gumam danita memainkan sabun ditubuhnya.


"mungkin karna dia mainnya terlalu semangat, tapi itu seperti biasanya aihh aku ini kenapa? kok jadi mudah lelah seperti ini?" mengguyur badannya menggunakan shower.


danita keluar dari ruang ganti baju sudah memakai pakaian santainya dan rambut yang dikuncir kuda keatas, danita sedang duduk diatas kasur membuka hpn barunya, karna hpnya sudah hancur akibat diinjek dan terjatuh karna bunga, hp danita sekarang keluaran terbaru. dia membuka apk WhatsApp dan melihat² sosial medianya. sudah setengah jam danita memainkan hpnya tanpa bersuara akhirnya dia memutuskan untuk turun kebawah menemui suaminya.


saat menuruni tangga danita melihat di ruang tamu ada orang dan dia juga melihat ada Rangga dan zan yang sedang duduk bersama orang asing itu. saat danita sampai di anak tangga terakhir pak Tan menggerakkan tangannya untuk danita mendekat, tentu saja danita mendekat, saat danit berjalan kedapur Rangga sempat melirik danita yang sedang berlari kecil menuju dapur.


"pak Tan itu siapa?" tanya danita duduk didapur.


"tamunya tuan Rangga yang datang dari luar kota nona, dan anda tidak boleh kesana" pak Tan memberikan piring berisi stroberi dan gelas yang berisi susu.


"kenapa?" meraih garpu lalu ditancapkan ke stroberi yang merah segar itu.


"saya pun tidak tau tapi kata sekretaris zan tamu tuan Rangga itu mata keranjang jadi anda harus disini" masuk kedalam dapur.


danita mengangguk mengerti sambil memasukkan stroberi ke mulutnya, dia sedikit melirik keruang tamu yang hanya terlihat ujung kepala Rangga.


tamu yang dimaksud pak Tan adalah orang bernama gantari merupakan Mentri tertinggi di salah satu kota yang terkenal dengan tempat wisata dan keindahan alamnya, kalau tentang bagaimana gantari bisa mengenal Rangga? Rangga adalah orang yang berdiri di belakang layar mendukung tim gentari yang membuat para lawannya menciut nyalinya saat mengetahui siapa orang belakang gentari.


"Rangga aku dengar kau sudah menikah, dimana istrimu?" gantari itu orangnya cerewet sampai sampai Rangga menjulukinya mulut cewek karna banyak omongnya.


"memangnya kenapa kau menanyakan istri ku?" balik tanya dengan ekspresi dingin yang tidak dibuat².


"kapan lagi aku bisa bertemu istri Rangga adinata" gelak tawa yang garing membuat zan sedikit berdecak.


"aku tidak akan mengeluarkan istriku untuk kau lihat" Rangga sudah sangat malas dengan gentari yang selalu kekeh dengan keinginannya.


"ayolah kau sudah menikah 9 bulan, kau Masi mau ngumpetin istri mu itu?" Masi membujuk Rangga.


"suka² aku dong aku yang suaminya aku yang punya hak atas istriku, lagi pula istriku terlalu manis untuk kau lihat" ucap Rangga membanggakan dirinya dan memuji istrinya. ya emang kenyataan istrinya itu manis.


perkataan Rangga berhasil membungkam mulut gantari, dia langsung diam seribu bahasa. dari pada membawa Mala petaka lebih baik dia diem saja.


"sudah mau malam saya permisi pulang tuan muda Rangga besok saya akan berkunjung lagi" berdiri lalu merapikan jasnya.


"ck" dengus Rangga menatap kearah lain seprti sudah males melihat gantari.


zan mengantar gantari sampai ke pintu depan tentu saja atas perintah Rangga, yang nyuruh lebih memilih tetap didalam rumah dari pada mendengar lagi omongan gantari yang tidak habisnya.


Rangga berjalan kearah dapur dengan berlari kecil seperti tidak sabar menemui mamanya yang sedang memasak di dapur.


cupp


tiba² Rangga mencium pipi danita dan melingkarkan tangannya di pinggang danita, danita yang dicium dan dipeluk tiba² tentu saja terkejut karena saat itu danita sedang melamun.

__ADS_1


"kau sedang apa disini?" menatap danita sangat dekat karna danita tepat berada disampingnya.


"duduk, kan kau yang bilang aku gak boleh kesana" menunjuk ruang tamu.


"bahaya kalau kau kesana" mencium tangan danita, danita sedikit ngeri dengan tingkah Rangga yang selalu menciumi tangannya.


"ekhem ekhem" suara batuk seseorang dari belakang.


"nempel terus jangan kasih kendor" ejek Kelin melewati dua orang yang sedang bermesraan.


"ngapain kau disini?" ketus Rangga Masi menciumi tangan danita.


"buat makan malem lah kak masa iya buat ngeliat orang yang lagi bermesraan" mengambil air minum tanpa melihat ke Rangga.


"jomblo sih" ejek Rangga balik membuat Kelin menghentakkan gelasnya.


"jadi aku boleh nih pacaran?" tanya Kelin santai seperti ingin mengerjai kakaknya.


"ku penggal pala kau, belajar dulu yang bener baru pacar²an, selama kau belum menyerahkan ijasah mu jgn pernah bawa cowok kehadapan ku" sinis Rangga menatap adiknya yang sedang cekikikan.


"sinis amat jadi orang, canda kak, jadi ngeri sama leher sendiri" ucap Kelin meraba lehernya.


saatnya makan malam, di meja makan sudah tersedia banyak aneka makanan yang membuat orang menelan ludahnya saat melihat semua makanan ini, berbeda dengan danita dia hanya tertarik dengan ayam rica-rica yang membuatnya menelan ludahnya. tanpa tunggu lama danita langsung mengambil ayam rica-rica itu tanpa memperdulikan Rangga yang sudah mau menunjuk makanan yang dia pilih, kalau Kelin tidak terlalu memusingkan itu dia lanjut mengambil lauk pauk yang mengundang seleranya.


"dari sekian banyak makanan kenapa nona danita memilih ayam rica-rica? apa benar nona danita sedang hamil?" pak tak melihat danita yang menyantap ayam rica-rica dengan lahap.


si bayi besar yang biasa disuapi oleh danita diam membeku melihat istrinya makan dengan lahap tanpa memperdulikan dirinya yang sedang melihat istrinya tanpa berkedip.


"kenapa kau malah makan duluan?" balik bertanya dengan tatapan tidak suka.


danita memberhentikan suapannya, dia baru ingat kalau lupa menyuapi bayi besarnya itu. sebelum sang bayi besar ngambek, danita menyodorkan sendoknya ke mulut Rangga.


"ayo sayang buka mulutnya" bujuk danita menggoyang goyangkan sendok seperti seorang ibu yang sedang menyuapi bayinya.


hupp, Rangga membuka mulutnya sambil tersenyum membuat jiwa jomblo yang ada disitu berasa ambyar dengan adegan romantis ini, Kelin cepat² menghabiskan makanannya sebelum jiwa jomblonya tambah ambyar.


makan malam pun selesai, semua penghuni rumah masuk kedalam kamar masing-masing, melakukan aktivitas masing-masing sebelum masuk kedalam selimut.


jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi danita terbangun karena perutnya terasa lapar dan dia juga tiba² menginginkan makan mie instan pake telur, pake sawi, dan pake sosis. danita membayangkan itu sampai dia tidak bisa tidur kembali akhirnya danita memutuskan untuk membangunkan Rangga.


"sayang" panggil danita sedikit menggoyang goyangkan lengan Rangga.


"hmm" setengah membuka matanya.


"sayang aku lapar, aku mau makan mie instan" pinta danita menusuk² pipi Rangga.


"minta masakin pak Tan sana" memegang tangan danita.


"gak mau, maunya dimasakin sama kamu" pinta danita lagi dengan nada manja.


"hei aku menyentuh barang² didapur saja belum pernah apalagi memasak" malas Rangga kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


"sayang pliss, masakin aku mie instan" rengek danita mengalungkan tangannya di leher Rangga.


"kau menguji kesabaranku yah" membuka matanya dan menatap danita dengan tatapan ngantuk.


"sayang" rengek danita memajukan bibirnya.


"ada syaratnya" ucap Rangga meraba bibir danita.


"apa?"


"setelah aku masak beri aku ciuman terbaikmu" mata sudah berubah menjadi mata nakal.


"i-iya iya sudah sana masak dulu"


Rangga bangun lalu duduk ditepi kasur mengucek2 matanya mengumpulkan nyawanya. Rangga berjalan keluar kamar dengan jalan yang sempoyongan seperti baru bangun tidur, sampailah dia di dapur yang hampir tidak pernah berkunjung kesini. didapur Rangga bingung mau ngapain dia membuka semua laci mencari dimana mie instan, telur dan juga sawi tidak lupa dia mencari tempat untuk memasak itu semua. akhirnya Rangga menemukan mie instan yang berada di laci paling pojok, setelah mendapatkan mie instan dia melihat cara memasak mie itu, tidak ada suara manusia selain suara yang ditimbulkan Rangga saat mencari semua bahan.


setelah mendapatkan panci yang mirip dengan yang digambar, Rangga menuangkan air kedalam panci lalu menghidupkan kompor sesuai dengan tata cara yang ada dibungkus mie tersebut. setelah menaruh mienya kedalam panci yang berisi air Rangga beralih mencari telur, kalau telur sudah pasti ada didalam kulkas. masalahnya Rangga tidak tau dimana letak sawi dan sosis, jadilah dia memutar otak untuk mencari dua bahan terakhir itu.


"sawi sawi dimana sih sawi, ini bukan? atau ini? kenapa pak Tan tidak memberi nama pada semua sayuran ini?" Rangga berdebat dengan pikirannya, karna otak Rangga yang cerdas dia mengambil hp yang disimpan di dalam saku celananya lalu dia meminta bantuan Mbah Gugel dia mengetik kata kunci yaitu "sawi" munculah gambar sawi yang bisa membantu rangga. setelah menemukan sawi, Rangga memasukkan sawi itu kedalam panci mie yang sudah menggeblek airnya. setelah menunggu sampai sawi dan mienya matang, Rangga memindahkan mienya kemangkuk lalu beralih ke telur dan sosis.


Rangga kembali meminta bantuan Mbah Gugel, dia mengetik "bagaimana cara masak telur dan sosis" rangga mengetik cepat.


setelah mendapat gambaran sosis dia kembali mencari sosis itu kedalam kulkas dan akhirnya ketemu, Rangga mengambil wajan lalu menuangkan minyak. di Mbah Gugel tertera tunggu minyak sampai panas lalu masukkan telur. Rangga menunggu minyaknya panas, setelah panas Rangga berusaha untuk memecahkan telur yang sangat membuat dia kebingungan akhirnya dengan usaha dan jerih payah Rangga akhirnya bisa memecahkan telur walaupun tidak berbentuk bulet bentuknya acak² yang penting telur gitu pikirnya. Rangga mengulangi adegan yang sama seperti telur tapi dia mengulangnya ke sosis, dan jadilah mie instan ala syef Rangga.


Rangga menyusun masakannya diatas nampan dengan rapih tidak lupa dia menaruh sendok, garpu dan juga gelas yang berisi air putih. setelah selesai menyusun masakannya Rangga membawa nampan itu naik keatas menuju kamarnya.


Rangga masuk kedalam kamar disambut dengan tepuk tangan Riang dari orang yang menyuruh Rangga.


"nih" menyerahkan nampan kedepan danita.


"makasih sayang, sedikit lama yah" mengaduk aduk mienya.


"emang katamu gampang mencari semua bahan² ini?" ketus Rangga naik keatas ranjang.


"hehehe iya sayang makasih" danita mulai memakan mie instan yang dibuat suaminya sendiri, rasanya seperti biasa tidak ada yang aneh hanya telur yang harusnya bulat ini malah acak²an tapi danita tetap menghargai hasil kerja keras suaminya.


danita sudah selesai memakan mie instannya perutnya sangat kenyang rasanya dia ingin tidur kembali, tetapi..


"mana janjimu?" Rangga sudah menindih tubuh mungil danita.


danita menarik wajah rangga dan bibir mereka bertemu, danita menikmati setiap gerakan suaminya didalam mulutnya lama² ciumannya seperti menuntut ingin lebih.


"aku mau lebih dari ciuman" tangan sudah nakal masuk kedalam baju tidur danita.


"apa? gak mau kan tadi syaratnya hanya ciuman gak lebih" memberhentikan tangan Rangga.


"syaratnya sudah berubah menjadi lebih dari ciuman" menyatukan bibirnya ke leher mulus danita.


"arghh aku ngantuk" danita hanya bisa ngomel dalam hati.


dan terjadilah adegan yang lebih dari ciuman. malam semakin larut semakin memanas juga dua insan ini diatas ranjang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2