
Hari-hari yang sangat sulit dan rumit yang harus dilalui dokter yang ditunjuk rajwa untuk menjadi dokter pribadi danita. bukan hanya dokter itu saja, semua suster dan dokter saat danita masi dalam perawatan, semuanya merasa hari-hari yang mereka lewatkan saat itu lebih berat dari pada hari-hari kemarin. semua dokternya wanita tidak ada pria kecuali Rangga, zan dan rajwa saja. rajwa pun tetap tidak boleh menatap danita lama-lama karna sang suami pasti akan ngamuk.
danita kembali pulang kerumah saja dokter yang ditunjuk rajwa Masi harus memantaunya, dari apa yang dimakan danita, hal-hal apa saja yang boleh danita lakukan selama hamil pun diatur oleh dokter. Rangga memang tidak masalah dengan hal itu, tapi danita sangat merasa tidak enak. dia tidak bisa memakan makanan kesukaannya, pempek yang dia bayangkan sejak lama itu tidak bisa sembarang dia makan lagi. semuanya harus sesuai resep dokter. dan lebih lagi danita harus selalu diatas ranjang, tidak boleh sering bergerak dan harus berjemur setiap pagi. belum lagi dia harus meminum obat dan vitamin. danita sudah hampir lelah dengan semua ini.
"indahnya diluar" danita sudah melamun dari tadi didalam kamar, menatap keluar jendela matahari yang sedang memancarkan hangatnya.
cup
tiba-tiba Rangga membuyarkan lamunan danita.
"sayang kau sudah mau berangkat?" menatap Rangga yang sudah rapih dengan pakaiannya.
"hm, apa kau mau makan sesuatu?" menyelipkan rambut danita kebelakang telinga.
"tidak, aku hanya sedikit bosan" tersenyum secerah matahari.
"panggil saja pak Tan kalau kau membutuhkan sesuatu" mengusap bibir yang baru saja tersenyum dengan sangat manis.
"iya sayang" Masi tersenyum lebar.
"aku berangkat ya" menciumi pipi danita sampai dia rasa cukup.
danita hanya mengangguk sambil tersenyum dan membiarkan Rangga menciumi pipinya. danita merasa geli saat merasakan hembusan nafas Rangga.
"sayang udah" mendorong-dorong bahu Rangga.
dan satu kecupan terakhir mendarat di bibir manis danita. "kalau perlu apa-apa panggil saja pak Tan ya?" menyampingkan rambut danita.
"iya sayang, sudah sana" menjauhkan dirinya.
"jangan nakal" mengelus lembut perut danita.
danita lagi-lagi hanya mengangguk, dan menatap Rangga.
akhirnya danita bisa mandi setelah Rangga keluar dari kamar, mempersiapkan bajunya untuk nanti dokternya akan datang.
****
__ADS_1
"nona apa anda merasakan nyeri di perut?" tanya dokter cantik itu memegang perut danita.
"tidak dok" memegangi bajunya.
"baik nona, konsul hari ini selesai ya" membantu danita menutup perutnya.
"apa kandungan ku baik-baik saja dok?" Masi berbaring ditempatnya.
"sangat baik nona, minum selalu vitaminnya ya nona" tersenyum sambil memberikan alatnya ke suster yang ikut dengannya.
danita balik tersenyum dengan mengangguk kecil. "apa aku sekarang boleh beraktivitas normal dok?"
"untuk saat ini sebaiknya anda jangan terlalu banyak gerak dulu" dokter cantik ini sangat ramah.
"begitu, terima kasih dok" danita pun tak kalah ramah.
"sama-sama nona danita, saya pamit permisi" membungkuk hormat sebelum dokter cantik itu pergi dari kamar.
"aku sangat bosan" ucapnya sendiri diam diatas ranjang. "aku panggil sari saja" meraih telpon rumah dan memencet nomor ke pak Tan.
"selamat siang nona" menaruh nampan yang dia bawa kemeja sebelah ranjang.
"selamat siang sari" tersenyum sangat ceria menatap sari yang menata makanannya dengan rapi.
"nona sedang apa?" sari sekarang sudah mulai bisa berbicara normal dengan danita, itupun dengan kesetujuan pak Tan dan tentu saja yang punya rumah.
"seperti biasa aku hanya bengong" menepuk-nepuk sisi ranjang agar sari duduk disana.
"nona jangan kebanyakan melamun" duduk di sisi ranjang sedikit menserongkan badannya.
"mau gimana lagi, aku tidak ada kerjaan" mengambil bantal untuk dia peluk.
"tapi nanti nona kesambet loh" menunjuk-nunjuk berencana menakut-nakuti danita.
"hahaha, mana ada yang seperti itu" mereka berdua tertawa bersama. "oh ya sari kamu ngeliat mba audri gak sih? aku udah berapa Minggu gak liat mba audri, atau aku yang gak pernah keluar kamar?" mengambil sepotong pepaya yang sudah diiris rapi diatas piring.
"saya juga tidak melihat nona" menatap danita yang dengan nikmat memasukkan makanannya.
__ADS_1
danita menancapkan garpunya ke buah yang ada disana dan dia menyodorkan garpu yang dia pakai ke sari.
"tidak nona, nona saja yang makan" menggelengkan kepalanya serta tangannya.
"tidak apa-apa aku sudah mulai bosan dengan menu ini" tetap menyodorkan garpunya.
akhirnya sari mengambil garpu itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "ini sangat enak!, buah apa ini?" meresapi buah yang dimakannya.
"apa itu enak?" kembali menyodorkan garpu yang sudah dia ambil buahnya lagi.
"cukup nona, makanan ini bukan untuk saya" kembali menolak garpu kedua dari danita.
"haiss sudahlah aku tidak akan habis memakan semua" akhirnya dia sendiri yang menyodorkan buah itu ke mulut sari.
"kenapa anda sangat baik nona" terpaksa tapi pingin dia mengunyah lagi buah yang ada di mulutnya.
"mari kita bagi dua makanan ini" mengambil piring-piring yang tadi disusun sari.
"nona tidak boleh, ini semua sudah sesuai dengan catatan dokter tentang gizi anda, ini adalah porsi anda" menatap danita yang sepertinya sudah tau itu.
"aku tahu itu, tapi memakan ini terus-menerus dan menghabiskan sendirian rasanya tidak enak" suara danita sudah tidak semangat seperti tadi.
"emmm nona bagaimana kalau makannya sambil mengobrol?" memberikan sebuah ide cemerlang yang tidak pernah terpikir danita.
danita menatap bingung dengan perkataan sari.
"saya kan selama ini hanya menemani anda bagaimana kalau sekarang nona makan sambil kita ngobrol pasti seru" lihat seberapa polosnya sari.
"ide bagus" danita mulai menyuap makanannya dan sari memulai obrolan yang begitu rendom. sari sekarang sudah tidak terlalu canggung jika berbicara berdua dengan danita bahkan dia dan danita sangat nyaman saat mengobrol.
"betapa polosnya sari ini, ah dia sangat lucu" Masi mengunyah sambil mendengarkan sari sedang bicara disana.
tidak terasa makanan danita habis dimakannya sendiri, dia Masi mengobrol walaupun dia sudah tidak mengunyah lagi. walaupun awalnya danita mengira sari ini anak yang kalem tapi ternyata dia sangat lucu dan polos. siapapun pasti merasa sangat nyaman kalau berbicara dengannya. walaupun sari usianya lebih muda dari danita tapi danita merasa pola pikir sari lebih dewasa darinya.
*B**ERSAMBUNG*
ps: ingatkan author jika ada typo
__ADS_1