Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Tak Asing


__ADS_3

Pagi telah tiba. kamar utama belum ada tanda-tanda ada kehidupan. entah manusia didalamnya sudah terbangun atau belum.


"badan ku pegal" memijit leher belakangnya. tubuhnya dia senderkan ke ranjang. dia kesiangan, rangga pun kesiangan.


Rangga keluar dari ruang ganti baju sambil mengibas-ngibaskan rambut basahnya dan hanya memakai jubah mandi.


"kenapa si enggak pakai baju dulu disana" menatap rangga yang masih mengibas-ngibaskan rambutnya. ahh wangi sekali saat rangga keluar.


"kenapa? kau masih lapar dengan tubuh ku?" menangkap danita yang sedang memperhatikannya.


Danita langsung memalingkan wajahnya, apa sebenarnya isi otak rangga?.


"sayang kamu sudah telat loh" kembali menatap rangga.


"biarkan saja, tidak akan ada yang akan memarahi ku" menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.


Danita mendengus. presdir mah bisa sesukanya ya.


"zan pasti di bawah sudah menunggu mu" memperhatikan tingkah rangga disana.


"benar kah? sepertinya dia sedang sibuk dengan wanitanya" berguling-guling disana.


"sekertaris zan memiliki kekasih? siapa sayang?" langsung mendekat ke rangga.


"kamu tidak tahu?" berhenti berguling-guling.


danita menggeleng.


"siapa itu teman mu risya risyi" menggaruk kepalanya, lupa nama yang dia maksud.


"rasya?" mengerut kan dahinya.


"iya itu" sekarang dia sedang mencari titik nyaman disana.


"sayang serius? rasya kekasihnya sekertaris zan?" membulatkan matanya dan menutup mulutnya.


"hem" malas menjawab.


"kok rasya gak bilang apa-apa" bertanya-tanya sendiri.


"aku juga tidak tahu teman mu itu sudah menerima atau tidak" bangun dari tidurannya.


"maksud mu?" memiringkan kepalanya, mengkerut kan keningnya.


"zan langsung mengajaknya menikah"

__ADS_1


"apa?! sekertaris zan langsung melamar gitu maksud kamu?" membulatkan matanya sebulat-bulatnya.


Rangga mengangguk.


"ahh sekertaris zan" nada suaranya merendah.


Rangga merebahkan tubuhnya dengan nyaman disana. niat tidak ingin kekantor datang tiba-tiba.


"sayang sekertaris zan tahu tidak kalau rasya itu banyak mantannya?" menatap rangga yang sedang bersantai disana.


"tidak tahu" mulai memejamkan matanya.


danita masih menatapi rangga.


"sayang kamu gak ke kantor?!!" teriaknya melengking di telinga rangga.


Niat rangga tak bisa di jalankan ternyata.


*****


Disinilah rangga sekarang, di ruangannya. bersama sekertarisnya. dia masih kesal karena harus ke kantor. dia ingin berduaan dengan danita.


Matanya beralih ke zan yang sedang membaca laporan. mengingat perkataan danita tadi. apa sekertarisnya tahu?.


"zan" panggil rangga menyilangkan tangannya.


"bagaimana hubungan mu?" menghentak-hentakan satu kakinya ke lantai.


"tidak gimana-gimana tuan" menggeleng singkat.


Rangga ber oh kecil sambil mengangguk.


"wanita masa lalu mu?"


zan kembali mengangkat kepalanya. kali ini dia terdiam sebentar tidak langsung menjawab.


"saya tidak tahu tentangnya lagi"


Rangga lagi-lagi ber oh. dia sebenarnya ingin bertanya yang danita tanyakan tadi pagi. tapi dia malas.


"kata nita si risya itu mempunyai banyak mantan, apa kau tahu itu?" tidak jadi malas dia juga ingin bertanya.


zan mengkerut kan keningnya. risya?. detik berikutnya kerutan di keningnya hilang. "saya sudah mengetahuinya tuan" dia mengerti siapa risya.


"ohhh" lumayan panjang ohnya.

__ADS_1


"kau sudah pergi ke orang tuanya?" melanjutkan lagi pertanyaannya.


Zan menggeleng.


Rangga mengangguk lagi, sepertinya sekertarisnya sedang menyembunyikan sesuatu. rangga tidak akan memaksa zan. karna sepertinya itu bersangkutan dengan risya. rasya maksudnya.


"aku masih penasaran kenapa orang tua wanita itu tidak memberi restu" menopang dagunya.


Zan tidak ada niat untuk berjawab. menganggap tuannya sedang berbicara sendiri.


"kemarin aku tidak melihat rizal, kemana dia?" mengalihkan pertanyaannya.


"tuan rizal sudah kembali ke sana sebelum hari itu tuan" zan menaruh kertas di depan rangga.


"awas saja dia kalau balik lagi kesini" gumamnya terdengar kesal.


Rangga menandatangani kertas itu. sebelumnya dia baca dahulu. pikiran dia kembali pada keinginannya berduaan dengan danita. dia ingin cepat pulang.


Benar saja. zan harus membatalkan semua janji dan mengatur ulang jadwal rangga. alasannya satu, ingin cepat pulang dan bertemu danita. zan membuang nafas kasar saat mendengar alasannya. sudahlah lakukan saja.


Dan disinilah dia sekarang. setelah mengantarkan rangga pulang, zan diperintahkan untuk membeli sesuatu ke mall. padahal masih banyak laporan yang harus dia baca.


"bawakan satu yang terbaru" ucapnya saat sampai di sebuah toko.


Disaat dia sedang menunggu, seorang pelanggan wanita datang dari samping. awalnya zan tidak peduli dengan wanita itu, tetapi saat dia tak sengaja mengendus aroma dari sampingnya. dia langsung menoleh cepat.


Zan memperhatikan wanita yang ada disampingnya, dia seperti tak asing dengan aroma wanita ini.


yang di perhatikan tentu risih. memutar kepalanya ke samping dan pandangan mereka bertemu. tetapi wanita itu langsung memalingkan wajah lagi. dia meninggalkan tempat itu dengan cepat.


"tunggu" suara zan berhasil memberhentikan langkah wanita itu.


Dia tidak berbalik badan, hanya memberhentikan kakinya. menelan ludahnya kasar.


"siapa nama anda nona?" menatap punggung wanita itu.


"a–airin" jawabnya gugup dan tidak memutar tubuhnya.


"maaf saya mengira anda kenalan saya" menunduk sedikit.


Wanita itu langsung berjalan kembali. bahkan dia belum sempat membeli apa yang ingin dia beli.


Sementara zan menggelengkan kepalanya. membayar barang yang dia beli sambil mengingat-ingat sesuatu. wangi parfum wanita tadi masih bisa ia rasakan, benar-benar tak asing wanginya.


Orang-orang yang ada di masa lalu mulai berdatangan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2