Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Kenapa?


__ADS_3

Rasya turun dari lantai dua, membawa nampan berisi piring yang masih ada sisa. pikirannya kosong sekarang.


"pulang sana" usirnya menaruh nampan di wastafel.


"tidak mau" dia mengikuti rasya ke dapur.


"sudah ku bilang ayah ku tidak akan pulang hari ini" menghentakan dengan keras gelas yang semula dia pegang.


"tidak mungkin ayah mu meninggalkan mu sendiri"


Rasya membuang nafas kasar, terserah lah.


"sejak kapan ibu mu mengidap penyakit itu?" berjalan mendekati rasya.


Rasya diam fokus mencuci piring-piring dan gelas bekas ibunya. dia malas untuk menjawab. ini adalah kehidupan pribadinya.


"hei" menarik tangan rasya.


"apa peduli mu tentang ibu ku?" nada suaranya menaik dan mengubah intonasinya.


zan tak bergeming, menatap datar wajah rasya.


"sebaiknya kau pulang sana" kembali mencuci piring.


"kau malu karna ibu mu seperti itu?" memegang pinggiran wastafel dan menatap datar rasya.


Rasya memberhentikannya tangannya. dia sama sekali tidak malu dengan keadaan ibunya, justru rasya sangat ingin menjaga dan merawatnya. dia hanya tak suka orang kasihan kepadanya. apa lagi kalau ada orang yang menjelekkan ibunya, kalau dirinya yang dijelekkan dia tak apa. tapi kalau ibunya dia tidak bisa diam saja.


"kau malu?" tambah mendekat ke rasya.


"enggak!" bentaknya menjauhkan diri.


"kenapa kau malu dengan kondisi ibu mu?" dan dia selalu mendekat ke rasya.


"aku sudah bilang aku tidak malu" rasya membentak lagi. dia tidak suka urusannya di campuri.


"lalu kenapa kau menutupinya?"


Rasya menunduk menatapi keramik meja dapur. "aku hanya tak suka orang mengasihani ku, aku tidak suka kalau ibu ku akan dihina orang dan ini adalah kehidupan ku sendiri, tak seharusnya aku mengumbarnya" menatap pantulan dirinya di keramik itu.


Zan menyenderkan kakinya ke meja dapur. memperhatikan rasya yang sedang menunduk.


"soal perkataan mu waktu di kafe, aku menolaknya" sekarang dia membereskan piring-piring yang telah selesai dia cuci.


"kau sepertinya benar-benar merasa malu karna ibumu seperti itu" menyilangkan tangannya.


Rasya mengepalkan tangannya. geram sangat dia. "terserah kau, pergi sana" sedikit membanting pintu lemarinya. kesal.


"kenapa kau menolaknya?" tak pedulikan rasa geram rasya yang sudah sampai di ubun-ubun.


"banyak nanya kayak pembantu baru" judesnya meninggalkan dapur.


"jawab" menarik tangan rasya.

__ADS_1


"karna aku tidak suka pada mu, karna aku tidak tertarik pada mu dan masih banyak lagi" jawabnya cepat sambil menghempas kasat tangan zan.


"kalau begitu aku akan membuat mu suka pada ku dan tertarik pada ku" kembali menarik tangan rasya. tapi sekarang dia menggenggamnya, agar rasya tak menghempaskan lagi.


Rasya menatap geli, cih percaya diri sekali. "kau bukan tipe ku, sana pulang" mencoba melepaskan genggaman zan yang besar. bahkan mungkin telapak tangan zan dua kali lipat dari telapak tangan rasya.


"tipe mu yang brengsek seperti mantan-mantan mu itu?" tambah menggenggam erat tangan rasya.


"lepaskan ini sakit" menghentak-hentakan tangan zan. tetapi tidak berhasil.


"ada kecoa" teriaknya menunjuk bawah.


zan langsung melepaskan tangannya.


"hahaha" dan rasya tertawa. dia masih tak menyangka zan takut dengan kecoa.


"cih" muka kembali menjadi horor.


"pulang sana cepat" menyembunyikan tangannya ke belakang.


Zan membuka telapak tangannya yang tadi menggenggam erat tangan rasya. keningnya berkerut saat melihat ada darah ditangannya.


"tangan mu terluka?"


"tidak" memegang luka gores akibat pisau tadi.


"berikan tangan mu" menjulurkan tangannya yang bersih.


"enggak mau, sana pulang" memundurkan tubuhnya.


"karna genggaman ku tadi?" mengangkat tangan rasya sedikit.


"enggak itu gegara gak sengaja kena pisau" menarik kembali tangannya.


"obati" menunjuk jemari rasya yang kembali di umpat kan.


"ya" jawabnya singkat.


"sana sana pulang" kembali mengusir.


zan akhirnya keluar dari pintu besar ini. rasya mengawasinya sampai pagar. nanti kalau zan sembunyi di halaman terus tiba-tiba pas malam hari dia keluar. hayoloh.


"kak adinda" tetapi dia malah ikut keluar untuk menyapa adinda itu.


zan menoleh cepat ke arah rasya melambaikan tangannya. adinda?.


"baru pulang kak?" wajah rasya berubah jadi ceria.


"heeh" mengangguk.


cantik sekali wanita bernama adinda ini. tingginya melebihi rasya, wajahnya yang putih seperti susu dan sikapnya yang ramah itu. ahh rasya insecure dengannya.


"tumben kamu keluar jam segini" belum menyadari kehadiran orang selain mereka.

__ADS_1


"tadi ada temen kerumah terus sekarang mau pulang" wajah cerianya belum hilang.


"ohh sekarang temannya sudah pulang?"


"belum lagi jadi pajangan tak bernyawa" menunjuk orang dimaksud dengan dagunya.


adinda beralih ke orang yang dimaksud. tubuhnya membeku saat melihat seseorang yang sedang menatapnya dengan tatapan datar.


"hahaha rasya kamu ada-ada saja" kembali ke rasya.


"emang bener kak batu dikasi nyawa dia mah" kembali meledek zan.


Adinda masih membeku disana. kenapa dia bertemu lagi disini?, padahal tadi dia sudah menghindari zan dengan susah payah.


"kak adinda kenal dia?" memperhatikan tatapan adinda yang agak gimana gitu.


"e–enggak sya, kayaknya kakak kecapean deh, kakak pulang dulu ya?" gugup dia berjalan sambil melambaikan tangan ke rasya.


"dadah kak adinda" rasya balik melambaikan tangannya.


Zan tak bergeming disana. dia kira dia yang salah, ternyata memang benar. aroma parfum dan tanda lahir di leher wanita yang bernama adinda itu sangat zan kenali.


"kau mau kesambet disana?"


zan menengok ke samping, sepertinya dia melamun. "kau mengenal wanita itu?"


Rasya mengangguk "kak adinda itu anaknya pak mamat, terus aku berteman dengan kak dinda, cantik banget kak adinda" menatap adinda yang sedang berjalan disana.


"Mamat? sudah mengganti nama atau bagaimana?" zan bingung kan jadinya.


"sana sana pulang" mendorong tubuh zan dengan sekuat tenaga.


zan segera masuk ke mobilnya. banyak sekali yang berterbangan di kepalanya. langsung menyalakan mobilnya setelah melihat rasya masuk kedalam rumah.


****


Pintu rumah tertutup rapat. rasya membuang nafas kasar. dia harus menghangatkan supnya yang sudah dingin.


Terlintas perkataan zan tadi.


'aku akan membuatmu suka pada ku dan tertarik pada ku'


lalu rasya tertawa ringan sambil mengaduk supnya. badan besar, takut sama kecoa dan sekarang sangat percaya diri. cih cih sekertaris zan kau sudah salah target.


"sayang nanti pake itu ya?" tiba-tiba suara wanita terdengar berbarengan dengan pintu yang terbuka.


"iya tenang saja, kau milikku malam ini sayang" dan suara berat itu terdengar sedang menggoda.


Rasya meremas ujung meja dapur. dia menahan nafasnya, setetes air bening jatuh di pipinya. dengan kasar dia menghapusnya. ah sial telunjuknya berdarah lagi, segara dia mencuci tangannya.


Suara melonis yang melengking dari lantai dua itu membuatnya kembali menahan nafasnya.


ayahnya selalu membawa wanita yang berbeda setiap malamnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2