Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Tidak mau lepas


__ADS_3

Setelah zan keluar dari kamar membawa semua kertas-kertas yang sudah ditandatangani Rangga, didalam kamar ada bayi besar yang sedang merengek didalam dekapan.


"sayang abisin dulu buburnya" mengelus kepala Rangga yang wajahnya sedang ditenggelamkan di cekungan leher danita.


"gak mau pait" menggelengkan kepalanya dengan tangan yang masi memeluk erat pinggang danita.


"satu suap aja" mengambil sendoknya.


"tidak mau" tambah mempererat pelukannya.


sifatnya sangat berbanding terbalik saat tadi Masi ada zan dan sekarang hanya tinggal mereka berdua didalam kamar.


"kamu baru lima suap, sekali aja ni" mendekatkan sendoknya ke Rangga.


Rangga tetap menggeleng didalam leher danita, antara gemas dan geram danita melihat Rangga seperti ini. tubuhnya saja Masi hangat tapi dia selalu menolak makan dan meminum obatnya.


"ntar kamu gak sembuh-sembuh loh" menaruh kembali sendoknya.


Rangga mengeluarkan wajahnya dan menatap mangkuk bubur yang masi banyak sisanya.


"satu suap sayang" mengambil kembali sendok, mendekatkan ke mulut rangga.


dengan terpaksa rangga membuka mulutnya lalu kembali lagi memasukkan wajahnya ke cekungan leher danita.


"pahit" ucapnya membuat danita gemas.


"minum dulu supaya gak pahit" menyodorkan gelas.


dengan manjanya rangga meneguk gelas itu dengan dipegangi danita.


danita tersenyum geli sambil terus memegangi gelas.


"nita" panggil rangga tambah membenamkan wajahnya.


"apa?" mulai pegal dia dengan posisi duduknya.


"dingin" sebenarnya dari tadi danita merasakan tubuh rangga mulai menggigil.

__ADS_1


"tidur ya sayang sekarang" menepuk-nepuk kepala rangga sambil menutupi seluruh tubuh rangga dengan selimut yang tebal.


"jangan kemana-mana" ucapnya lemas.


"iya aku gak bakal kemana-mana" tambah menutupi tubuh rangga.


nafas rangga terdengar mulai teratur, nafas panasnya sangat terasa di leher danita. danita sangat tidak tega melihat rangga dengan kondisi seperti ini.


danita tidak ikut terlelap dia berjaga untuk memastikan suhu tubuh Rangga yang mungkin akan naik lagi nanti. saat dia melihat jam ternyata sudah jam satu siang, ingin membangunkan rangga tapi dia tidak tega tidak dibangunkan Rangga harus meminum obat. bingung sendiri dia disana.


"sayang" akhirnya danita membangunkan rangga dengan sangat lembut.


"hmm" terdengar lirih suara rangga dengan wajah yang pucat.


"bangun sayang, minum obat dulu" menepuk kecil pipi rangga.


rangga membuka matanya walaupun sangat berat. "obatnya pahit" menolak obat yang akan diberi danita.


"tidak ada obat yang manis sayang" tetap menyodorkan beberapa obat untuk rangga.


"sayang aku mau mandi dulu, ini sudah siang" berusaha melepas pelukan rangga.


"tidak usah mandi kau tetap wangi" menatap sebentar wajah danita.


"sempat-sempatnya dia berbicara seperti itu" mukanya mulai memerah.


walaupun sudah siang tapi gorden kamar belum dibuka, rangga tidak mau sinar matahari masuk kedalam kamarnya itu membuatnya tidak nyaman.


akhirnya rangga mengeluarkan keringatnya, bajunya basah danita membantu menggantikan baju Rangga dan mengusap keringat diwajah rangga.


****


tok tok


pintu diketuk pak tan membawakan makan malam rangga yang tentu saja menunya tetap bubur.


"tuan apa anda sudah baikan?" menatap rangga yang sudah seperti anak kangguru didalam kantung ibunya.

__ADS_1


rangga mengangguk kecil "danita sudah merawat ku" menatap pak tan dengan muka yang masi pucat.


"syukurlah tuan, silahkan makan buburnya saya mendoakan anda cepat pulih" menundukkan kepalanya.


"apa di dapur hanya ada bubur? kenapa makanannya bubur terus" mengomel didalam dekapan danita.


"sayang sekarang kamu makan ini dulu ya" mengusap-usap pipi rangga.


"astaga kenapa aku datang disaat seperti ini" zan yang baru masuk dikejutkan dengan rangga yang menempel erat ditubuh danita.


"ada apa zan?" menyadari kedatangan zan.


"nona al–" dia tidak melanjutkan kata-katanya karna rangga sudah menatapnya tajam.


"bagaiman kondisi anda tuan? apa anda sudah merasa baikan?" mengalihkan kata-katanya.


"kurang ajar kau, apa peduliku kepada wanita itu disaat aku seperti ini?" arti tatapan tajam rangga.


danita hanya menatap dan mendengarkan apa yang terjadi disini sambil tetap memeluk bayi besarnya.


"nita ini tidak enak" mari kembali kesini.


"apa rasanya Masi tidak enak walau aku yang menyuapi?" menyodorkan sendok bubur ke depan mulut Rangga.


"rasanya jadi enak" tersenyum tipis yang hanya bisa dilihat manisnya oleh danita seorang.


itu tadi hanya sebuah kode dari rangga, dia meminta danita menyuapinya dengan cara seperti itu. untung danita sudah mengerti semua bahasa rangga.


pak tan menatap senang dari sana, ya walaupun agak menggelikan rangga bertingkah seperti ini tapi ini sebuah keharmonisan yang sangat sayang dilewatkan.


"wah anda senang bukan main kan tuan? ini tontonan yang bagus" sepemikiran dengan pak tan.


lihat seorang rangga yang dikenal dengan sikap dingin dan dermawan diluar sana, disini dia sedang minta dimanja dengan istrinya. lepas dari dekapan danita saja sudah membuatnya seperti anak kangguru yang kedinginan tanpa masuk kedalam kantung ibunya.


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo

__ADS_1


__ADS_2