
Rasya berlari menuruni tangga, dia tidak mau satu mobil dengan zan dia tidak mau!. sementara zan menatap aneh rasya yang berlari cepat menuruni tangga.
"kunci mobil kunci mobil" mengorek-ngorek tasnya. mencari kunci mobilnya.
saat dia sudah menemukan kuncinya malah terjatuh.
"apa kau tidak mendengar perintah tuan rangga?" menarik lengan rasya. membalikkan tubuh rasya sampai menghadapnya.
"aku mendengarnya tetapi aku tidak mau melakukannya" berusaha melepaskan cengkraman zan di lengannya.
"lepas" kenapa tenaganya selalu kalah dengan zan?.
Zan tidak menghiraukannya langsung menarik rasya ke mobilnya.
"gak mau gak mau, dasar pedofil, kasar, datar" mengamuk sambil memukul-mukul lengan zan.
zan itu makan apa si kok tenaganya kuat banget.
Pasrah sudah rasya saat berada didalam mobil zan. memberontak pun tidak akan bisa, pintunya sudah dikunci. mimpi buruk apa dia semalam?.
"pakai sabuk mu" ucapnya dingin memegang setir.
Rasya mendengus dengan terpaksa dia memakai sabuk pengamannya.
"hei hei kunci mobil ku" menengok ke belakang saat mobil sudah dijalankan.
Zan tidak mendengarkan tetap melajukan mobilnya keluar dari kediaman adinata.
"mobil ku masih disana" memutar tubuhnya kebelakang. menatapi gerbang yang sudah dilewati.
"mobil mu akan ada dirumah mu nanti malam" masih fokus menyetir sama sekali tidak berpaling.
"ini su–"
"ini sore" potongnya cepat, menatap rasya sekilas.
"tuhan kenapa engkau ciptakan manusia seperti ini?" mengelus dadanya. sabar rasya sabar.
"apa yang kau lakukan?" menatap kedepan.
"apa lagi? menemani danita tentu saja" sensinya meremas sabuk pengamannya.
"maksud ku apa yang kau lakukan sampai rambut mu seperti itu?"
Rasya langsung membuka kaca, astaga rambutnya. buru-buru dia mengambil sisir dari dalam tasnya. berantakan sekali, seperti singa.
"disini tidak ada catokan rambut ya?" mengambil roll dari dalam tasnya.
Zan memalingkan wajahnya sekilas, bayangkan saja catokan rambut di mobil pria. jangan tertawa.
"disini juga tidak ada penjepit ya?" memegangi poni panjangnya yang sudah di roll hanya tinggal di jepit.
"kenapa tidak sekalian kau menanyakan disini ada salon atau tidak?!" dijawab dengan kekesalan yang mendarah daging.
"sensi bener" menatap wajah kesal zan sambil memegangi rollnya.
Zan berdecih membuang pandangannya ke jendela.
"aku lupa bawa penjepit bulu mata" menepuk dahinya keras.
"kau ingin tebar pesona dengan siapa?" kenapa nada suaranya terdengar kesal?.
"siapa yang ingin tebar pesona? ini hanya merapikan" fokus berkaca sambil menyisir rambutnya.
Zan menutup kaca dan melepaskan roll di kepala rasya.
"hei!" tentu saja diamuk oleh yang telah bersusah payah membuat roll dirambutnya.
Zan menulikan pendengarannya, membuang roll itu ke jok belakang.
"apa-apaan si" menatap kesal zan.
"saya tidak suka" kembali fokus menyetir.
"ya terus?" tambah menatap kesal. apa urusannya kalau zan tidak suka? pikirnya.
__ADS_1
"saya tidak suka" ulangnya lagi kali ini mengalihkan pandangannya lalu kembali ke depan.
"bukan urusan ku kau suka atau tidak" hendak melepaskan sabuk pengamannya.
cittt
zan mengerem tiba-tiba.
"kau gila ya?!" naik darah sudah dia dengan zan.
"kau mengerti bahasa manusia?" menatap dingin orang disampingnya.
Rasya diam, mata elang yang menyeramkan.
"bagus kalau kau masih bisa mengerti" melajukan kembali mobilnya.
Sebenarnya apa mau zan? rambut rasya sekarang sangat berantakan. sebagai wanita dia ingin merapikan penampilannya. apa itu salah?.
akhirnya rasya menguncir kuda rambutnya. dia sedang tidak ingin berdebat.
"ini bukan jalan ke rumah ku" mengedarkan pandangannya ke jendela.
zan tak menjawab dan malah menepikan mobilnya di sebuah toko mainan. rasya mengkerut kan dahinya menatap zan yang turun. ketika dia ingin turun, suara pintu mobil terkunci memberhentikannya.
"dia gila!" memelototi zan dari dalam.
Zan masuk ke toko mainan itu. rasya bingung, lalu dia disini buat apa?. tak lama suara pintu terbuka membuatnya menoleh. suara pintu belakang terbuka. rasya memutar kepalanya.
"banyak sekali mainannya" menatapi segala jenis mainan yang ada. sepertinya zan habis memborong mainan. sampai ke bagasi dong gak muat.
"kau membelinya untuk apa?" masih menatapi mainan-mainan itu.
Zan lagi-lagi tak menjawab, membisikkan sesuatu kepada pria yang tadi menaruh mainan itu. lalu menjalankan mobilnya.
"dih apa banget ngambek" memperhatikan wajah zan dari samping.
tampan.
"itu untuk adik mu? wahh senang sekali pasti adik mu" berbicara sendiri.
merasa di cuekin, rasya menatap ke depan. sebenarnya apa mau zan?.
"panti asuhan?" dahinya lebih mengkerut sekarang.
"turun" suruh zan yang sudah menutup pintu.
Rasya kaget melihat jas dan dasi yang semulanya zan pakai sudah berada di kursi.
"dia mau ngapain ya? jangan-jangan dia mau buang aku disini?" menggigit bibir bawahnya.
tok tok
zan mengetuk jendela.
buru-buru rasya turun, ntar kalo diamuk gimana?. rambutnya sekarang sudah lumayan rapih.
"kita mau ngapain disini?" tanyanya saat sudah keluar dari mobil.
Zan tak menjawab, melangkah menuju panti asuhan itu. rasya spontan mengikutinya.
"nak zan" seorang ibu berkerudung datang menghampirinya.
Zan terlihat tersenyum tipis sambil bersalim kepada ibu itu.
"sudah lama kamu tidak kesini" memegang lengan zan dengan hangat.
"adinata sangat sibuk" balasnya dengan senyum tipisnya belum pudar.
"bagaimana kabar tuan rangga?"
"tuan muda baik-baik saja"
"ibu mengkhawatirkan tuan rangga saat mendengar kabar tuan besar meninggal" matanya jadi sendu.
Rasya yang ada disana hanya memperhatikan. agak sedikit terkejut sifat zan berbeda.
__ADS_1
"siapa ini nak zan? cantik sekali" ibu itu beralih ke rasya.
Rasya tersenyum lebar lalu bersalim seperti zan tadi.
"calon mu?" kembali menatap zan.
Zan hanya diam tak menjawab. dia tidak tahu harus menjawab apa.
"apa-apaan calon" kalau rasya mah udah gak setuju duluan. paling depan malah dia.
"kak fauzan" tiba-tiba segerombolan anak kecil berlari kearah zan.
Zan menoleh ke belakang. senyumnya terukir indah.
"siapa fauzan?" rasya yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap bingung.
"kak fauzan kita kangen loh sama kakak" ucap salah satu anak perempuan memegang mainan yang masih terbungkus kotak.
"kakak juga merindukan kalian" zan berjongkok didepan anak-anak itu.
"kak fauzan kaki aku sudah sembuh loh" anak lelaki yang juga memegang mainan masih terbungkus itu berucap memamerkan kaki kirinya.
"benar kan kata kakak tidak akan sakit" mengusap kepala anak lelaki itu dengan tersenyum.
"ohh fauzan itu zan" menutup mulutnya.
Disini zan dipanggil dengan sebutan kak fauzan.
"kak fauzan tadi ada loh orang kasih kita banyak mainan" menunjukkan mainannya.
Rasya menatap mainan itu. bukankah itu mainan yang dibeli zan tadi?.
"benarkah?" mengusap kepalanya.
"banyak banget loh kak disana" menunjuk kamar bermain.
"kak fauzan ayo bermain bersama lagi" anak perempuan lainnya bersorak setuju.
"baiklah ayo kita bermain" bangkit lalu menuntun para anak-anak itu ke kamar bermain.
Rasya hanya memperhatikan zan dengan segerombolan anak-anak kecil yang mengelilinginya. terlihat seperti anak ayam dan induknya. sungguh. dia masih bertanya-tanya, kenapa zan tidak bilang mainan itu dia yang beli? apa zan ingin menyembunyikannya?.
"nak?" suara ibu tadi mengejutkan rasya.
"i–iya Bu?" menengok cepat.
"siapa namamu nak?" tersenyum hangat.
"rasya" jawab rasya juga tersenyum manis.
"ahh nak rasya"
Rasya mengangguk tersenyum.
"kalau ibu boleh tahu nak rasya ini siapanya nak zan ya?" menatapi wajah rasya.
"bukan siapa-siapa kok bu hanya teman kantor saja" jawab rasya bohong dengan senyumnya masih terukir.
"ahh gak mungkin, baru pertama kali loh nak zan membawa seseorang bersamanya, apalagi sekarang yang dibawanya adalah seorang wanita" ibu benar-benar ingin tahu.
"enggak Bu hanya teman" mengelaknya dengan senyum.
"kamu cantik sekali nak rasya" ucap ibu kembali memuji wajah rasya.
"ah ibu bisa aja" malu kan rasya jadinya.
"semoga kamu bisa melihat sosok nak fauzan dari hatinya" ucap ibu lembut sambil mengusap lengan rasya.
Rasya bertanya-tanya dalam hati. melihat sosok zan dari hatinya? memangnya dia punya hati? galak gitu tampangnya.
"nak rasya ingin masuk bersama anak-anak?"
"boleh bu?" rasya mah mau banget dia sangat suka anak kecil soalnya.
"boleh dong pasti anak-anak sangat suka dengan nak rasya" menuntun rasya pergi dari sana.
__ADS_1
Panti asuhan ini terlihat lumayan kecil, banyak anak-anak yang bermain di teras. tapi rasya merasa nyaman dan hangat disini.
BERSAMBUNG