Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Heboh


__ADS_3

Danita Masi berada diatas ranjangnya, dia sudah bangun tapi dia enggan untuk turun dari ranjangnya. ada sesuatu yang ada dipikirannya, yaitu Rangga. dia ingin menelponnya tapi Rangga pasti sedang sibuk disana. waktu terus berjalan sampai akhirnya danita merasa bosan dan mencoba menghubungi sahabatnya.


"hai gaes" teriak danita lantang saat panggilannya sudah terhubung ke Rasya dan vita.


"gak usah teriak bisa kali" dengus rasya memegang telinganya.


Vita hanya menatap Rasya dan danita sambil menutup telinganya karna ulah danita.


"ayo maen kesini" mengajak dengan antusias tidak peduli komentar kedua sahabatnya.


"emang boleh?" tanya Rasya.


"tuan Rangga emang ngebolehin?" tanya Vita bersamaan dengan Rasya.


"dia lagi diluar negri, eh tapi gak tau juga si dia bakal bolehin atau gak" menggaruk kepalanya.


"ye dasar gak usah ngomong kalo gitu" sewot rasya.


"tapi kan gw belom minta izin ke tuan Rangga, mungkin aja dibolehin"


"yaudah sana cepat minta izin" Rasya malahan antusias.


"gak segampang itu sya, tuan Rangga pasti sedang sibuk" merapikan rambutnya yang masi berantakan itu.


"gak usah ngomong kek nit, php tau gak?" kesal rasya.


"hehe" danita Mala cengir didepan kamera.


"eh tau gak si" ucap Rasya sok misterius.


"kenapa kenapa ada apa?" danita mulai mencium bau yang mencurigakan.


"si Vita ka–" terpotong oleh danita.


"eh eh bentar tuan Rangga nelpon" langsung kalang kabut mematikan sambungan.


danita langsung merapikan rambutnya dan wajahnya yang masi kelihatan muka bantalnya itu, baru dia mengangkat panggilan dari Rangga.


"halo sayang" gugup danita mengangkat panggilan Vidio dari Rangga.


"dari mana saja kau?" langsung bertanya seperti mengintrogasi.


"tidak kemana-mana sayang" cengar-cengir didepan Rangga.


"kau habis telponan dengan siapa?"


"sama Rasya dan vita sayang" mengucek matanya.


"kenapa kau telponan dengannya?" menatap danita seperti sedang dicurigai.


"memangnya kenapa kalau aku ingin telponan dengan teman ku?" seperti biasa danita hanya berani berbicara seperti itu didalam hatinya. "aku merindukan sahabatku sayang".


"kenapa kau tidak merindukan ku Mala merindukan sahabatmu?" apa ini drama baru lagi?.


"tentu saja aku sangat merindukanmu, aku sampai tidak bisa tidur karna merindukanmu, aku juga bermimpi bertemu denganmu apa kau juga merindukan ku?" dia memasang wajah polos yang dibuat-buat. "apa kau ingin menimbulkan drama baru lagi pagi ini?" sudah was-was dalam hatinya.


"benarkah kau memimpikan ku? tapi aku tidak merasa merindukanmu" bergaya sok cool padahal dihatinya sudah banyak bunga-bunga bermekaran.


zan yang melihat Rangga seperti itu, hanya berdecik didalam hatinya sambil berusaha memalingkan pandangannya. "apa-apaan itu, semalam saja audri memberi tahu kalau anda menelponnya hanya untuk melihat wajah nona danita, bilang saja kalau anda merindukannya tuan" kritik zan kepada Rangga hanya bisa dia lakukan didalam hatinya.


danita disana juga berdecik sangat keras bahkan dia secara langsung berdecik didepan Rangga tidak tanggung-tanggung.


"jahat sekali kau tidak merindukan ku, padahal aku sampai memeluk bantal yang sering kau pakai sebelahku tapi kau tidak merindukan ku, kau jahat" memalingkan wajahnya kearah lain tidak kekamera hpnya.


"bwahahaha" tawa Rangga sangat keras.

__ADS_1


"ishh tuh kan dia mengerjai ku" sinis danita. "tidak usah ketawa" ucap danita kesal mantap tajam Rangga.


"memangnya kenapa aku tidak boleh ketawa?" Masi tertawa kecil.


danita sudah cemberut tidak mau menatap kearah Rangga.


"kenapa?" terdengar suara Rangga mulai berbeda.


"apa?" tidak mau kalah balik menatap Rangga tajam.


"katakan cepat" seperti biasa tidak ada penjelasan dari kata-katanya yang setengah itu.


"apa?" mulai mengeraskan suaranya karna Rangga pura-pura tuli.


"katakan kau merindukan ku"


"tidak mau, kau duluan" ucap danita malu.


"cepat" ini kata-kata ancaman bagi danita kalau Rangga sudah mengulang kalimatnya dua kali.


"aku merindukanmu" ucap danita cepat sangat cepat.


"aku juga sayang" senyum lebar Rangga sampai terlihat gusi atasnya.


"kenapa aku harus berada disini dan mendengarkan dua orang yang sedang dimabuk cinta ini? aku ingin keluar dari sini" eluh zan mencari kesibukan didekatnya.


sementara danita disana sudah sangat merah mukanya dia melemparkan bantal kelantai, sangking senangnya dia tidak sengaja melemparkan bantal dan guling Rangga sambil berteriak tanpa suara.


"kenapa kau?" menatap keanehan danita.


"tidak kok sayang" merapikan rambutnya. "aku tidak boleh terlihat seperti orang gila didepannya, tapi dia yang membuatku kesenengan seperti orang gila huhu" tangis danita dalam hatinya padahal dirinya kesenengan sampai lupa sesuatu. "sayang aku boleh tidak mengajak Rasya dan vita main kesini?" menyembunyikan sementara rona senangnya.


diam sebentar, ekspresi Rangga yang seperti ini membuat danita pias karna takut Rangga akan menolaknya "hmm, lakukan sesukamu"


"eh benarkah?" meyakinkan jawaban yang dikasi Rangga.


"aaa sayang benarkah kau membolehkan? makasi sayang" menciumi layar hpnya sendiri.


"hmm" diam-diam bibirnya membentuk sebuah senyuman saat danita mencium layar hpnya seperti menciumnya.


"sayang udah dulu ya aku mau mandi, jangan lupa makan ya sayang, jangan lupa istirahat, dadah sayang" tersenyum lebar sambil berdadah dadah kerangga.


"hmm" ikut tersenyum.


dan sambungan telepon pun terputus, Rangga Masi menatap layar hpnya sambil tertawa kecil.


"lihat dia mulai gila" menatap Rangga yang tertawa sendiri.


sedangkan danita setelah diberikan izin oleh Rangga dia langsung memberi tahu sahabatnya dan mengirimkan alamat rumah Rangga.


"arghh kenapa dia tadi sangat manis" melempar bantal ke pundak ranjang.


****


"gede amat ni rumah" ucap Rasya masuk kerumah Rangga.


"bisa dijadiin tempat usaha ini" Vita pun ikut-ikutan.


"Woi ngapain planga plongo disitu?" panggil danita berjalan ditangga.


"mewah banget ternyata rumah tuan Rangga" vita Masi terkagum-kagum dengan rumah Rangga.


"pasti lah vit, rumah pengusaha tersukses ini" menatap sekeliling.


"udah jangan banyak planga plongo, ayo kita kekamar" menarik tangan Rasya dan vita.

__ADS_1


"kamar siapa?" tanya Rasya mengikuti danita.


"kamar utama lah" terus berjalan tanpa menoleh.


"kamarnya tuan Rangga" bisik Rasya dan vita bersamaan dibelakang danita.


Rasya dan vita semakin terkagum kagum saat masuk kekamar utama yang merupakan kamar Rangga dan danita. kamar yang besar, terlihat simpel tapi kesan mahalnya tidak hilang.


"udah fiks abis ini gw mau cari om-om kaya pengusaha biar gw bisa ambil uangnya" ucap Rasya membuat danita dan vita sontak menoleh bersamaan.


"***** ni anak" Vita tidak menyangka dengan jiwa matre Rasya ini.


mereka bertiga mengobrol panjang sambil mencemili cemilan yang diantar pak tan, danita juga tidak lupa untuk meminum susu hamilnya dan meminum vitaminnya.


"hampir lupa, danita lu harus tau ini" duduk bersila didepan danita Masi mengunyah cemilannya.


"apa-apa?" danita sebenarnya sudah penasaran dengan Rasya.


"sya jangan" mohon vita memegang pundak Rasya.


"udah gapapa supaya heboh" sudah siap-siap membongkar sesuatu.


"apa ni" tampah penasaran lah danita.


"kemaren pas pengumuman nilai" menggantungkan kata-katanya.


danita mengangguk-angguk seperti anak kecil yang sudah penasaran.


"luck nembak vita" teriak Rasya histeris diikuti terkejutnya danita.


"vita" teriak danita terkejut.


"gak usah histeris kek" menutup telinganya.


"woy woyelah kenapa lu gak cerita" menggoyangkan bahu vita.


"gw Masi malu nit" tubuhnya ikut bergoyang karna danita.


"nona danita apa anda baik-baik saja?" tiba-tiba suara audri terdengar dari balik pintu.


"enggak mba gapapa lagi bercanda doang kok gak papa" teriak balik danita.


beberapa menit kemudian suara audri sudah tidak terdengar.


"pelan-pelan aja" setengah bisik danita.


kedua sahabatnya membuat ok ditangannya.


"jadi gimana vit?" sudah tidak seheboh tadi.


"yaudah gitu doang, gw terima" wajah Vita mulai memerah.


"cieee ciee" Rasya dan danita menggoda Vita.


"apa si" malu-malu Vita.


"pajak jadiannya mana?" ucap danita.


"minta ke luck sono" mengunyah cemilannya lgi.


"dih gak asik masa" sinis danita ikut memakan cemilannya.


obrolan mereka Masi berlanjut sampai petang, ya walaupun isinya hanya kekepoan danita dengan hubungan antara Vita dan luck.


BERSAMBUNG

__ADS_1


PS: ingatkan author jika ada typo.


__ADS_2