Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Cinta Atau Obsesi?


__ADS_3

Acara berjalan dengan baik, para tamu undangan menikmati pestanya. berbincang satu sama lain, dan ada juga yang bertemu kerabat lama disini.


Disaat rangga sedang berbincang dengan salah satu rekan bisnisnya, masih sempat-sempatnya dia cemburu.


"tidak bisa apa kalau dilepas tangan mu ini?!" danita yang berada dalam rangkulan rangga merasa risih.


Ini adalah kesekian dari rekan suaminya yang berbincang didepannya. dari tadi juga rangga terus memeluk pinggang danita, kalau danita ingin melepasnya, rangga langsung bilang.


"nita kamu mau jadiin acara ini tempat terpanas?"


seperti itu kira-kira. ciut langsung danita.


"enjoy" ucap rangga sambil tersenyum.


Dari yang ditangkap danita, sepertinya mereka ini lumayan dekat. bahkan tadi mereka sempat bercanda. tapi rangga akan langsung mengalihkan pembicaraan saat orang tadi ingin berbincang tentang dirinya. gila bukan?.


"sayang kamu gak mau ke sana? itu sepertinya banyak sekali para pebisnis" menatap beberapa orang di sana yang berbincang sambil memegang gelas masing-masing.


"kamu modus ingin melihat pria lain? lagi pula yang ada disini hampir semuanya rekan bisnis ku" mengecup puncak kepala danita mesra.


"ohh" danita baru tahu.


"jangan melihat lelaki lain" mengangkat wajah danita sampai menatapnya.


"iya iya" nurut saja sudah, dari pada nanti panjang.


Rangga menangkap sosok yang sangat dia kenali dari luar pintu. dia terdengar berdecak sedikit, lalu mengalihkan pandangannya ke samping.


"nita kamu boleh ke orang tua mu" ucapnya terdengar terpaksa.


"sungguh?" menatap nanar, karna sudah dari tadi dia ingin bertemu ibu dan bapaknya.


"bersama audri" sesekali melirik ke luar pintu.


"makasi sayang" mencium pipi rangga lalu berjalan ke audri.


"aku ingin cepat-cepat mengurungnya di kamar, dia sangat menggemaskan" ucapnya dalam hati sambil memperhatikan langkah girang istrinya.


"selamat malam tuan rangga" orang yang tadi rangga lihat di depan pintu sudah berada didekatnya.


Rangga hanya menatap sambil mengangguk sopan.


"selamat atas perayaan satu tahun pernikahan anda" ucapnya lagi.


"terima kasih" balasnya datar.


"bawa ke sana" ucapnya melirik orang dibelakangnya yang membawa banyak kotak. itu adalah kado.


"saya meminta maaf yang sebesar-besarnya karna datang agak terlambat dari jam mulainya"


"aku memang berharap kau terlambat gentari" memasukkan tangannya kedalam saku celananya.


"hahaha anda memang paling mengerti saya tuan, sangat susah bukan mencari yang mana istri anda di kerumunan orang-orang ini" menatap orang-orang ini.


Ekspresi rangga berubah, menjadi datar dan malas.


"silahkan menikmati acaranya gentari, tidak usah capek-capek mencari yang mana istri ku, pokoknya yang paling cantik itu lah istri ku" seringainya muncul.


"terima kasih tuan rangga" menunduk dengan senyum yang tak jelas untuk apa.


Rangga berjalan meninggalkan gentari, tidak bukan kearah tadi danita pergi tapi kearah rekan bisnisnya yang lain. ada bagusnya juga dia memisahkan diri dari danita, jadi tak ada banyak mata yang selalu menatap istrinya.


"bapak, ibu" danita tersenyum sambil berjalan mendekati kedua orang tuanya.

__ADS_1


"danita" senyum terukir di wajah kedua orang tua danita.


Danita langsung memeluk ibunya. "Nita kangen ibu" ucapnya didepan telinga ibunya. sambil memejamkan matanya merasakan hangatnya pelukan ibu.


"ibu juga kangen kamu" mengusap bahu danita dengan senyum haru.


"ibu baik-baik aja kan selama danita disini? ibu gak sakit kan?" melepaskan pelukannya.


"ibu tidak apa-apa kok" tersenyum sambil memegangi tangan putrinya.


Danita tersenyum senang.


"danita bagaimana kandungan kamu? baik-baik saja kah?" tanya bapak yang berdiri disamping ibu.


Danita mengangguk sambil menatap bapak. "dua jagoan nita baik-baik saja kok pak didalam sini" menunjuk perut buncitnya dengan senyum yang belum hilang.


Mereka, bapak dan ibu tertawa bersama. tingkah putrinya ini memang terkadang sangat menggemaskan.


"eh ada si bontot" tiba-tiba rasya datang.


"kok lu masih temanan aja si kak sama ni cewek bar-bar" ucap rio yang dari tadi berdiri disamping ibu.


"gak ada temen lagi soalnya kakak" jawab danita menatap rasya yang sudah berdiri tepat di samping rio.


"dah gede lu bontot" ucap rasya tak memperdulikan muka kesal rio.


"ya iya lah gede, emang kaya lu pendek mulu" sinisnya.


"btw kakak lu juga pendek" melirik danita sekilas.


Rio berdecih. memang tak pernah akur kalau rio dan rasya sudah bertemu. dari dulu itu sudah terjadi.


"ri–"


tiba-tiba tangan besar dan satu kecupan di pipi danita berhasil membungkam mulutnya.


"sa–sayang" kikuk menatap ke samping.


Rangga merangkul pinggang danita mesra sambil menatap adik iparnya, tatapan pamer tepatnya. dia masih kesal nitanya pernah mengucapkan nama rio hampir seharian.


"kenapa tatapannya seperti ingin membunuhku?" ucap rio dalam hati.


"selamat malam tuan rangga" ucap kedua orang tua danita sambil menunduk.


Rangga tersenyum "selamat malam ayah mertua, ibu mertua" balasnya dengan sangat lembut.


Bapak dan ibu terkejut menerima balik ucapan sapanya dari tuan rangga.


"nita bukannya kamu sudah berjanji tidak berbicara pada lelaki lain selain aku?" berwajah manis tapi bisa dirasakan segala tekanannya oleh danita.


Danita menatap rangga yang ada disampingnya. "dia itu adikku!!" ingin sekali dia berbicara seperti itu, tapi dia tahu kalau kecemburuan suaminya ini tidak memandang siapa yang sedang dicemburuinya.


"bapak dan ibu mertua, aku izin membawa nitaku ya?" tersenyum yang sama sekali tak terlihat sisi palsunya.


"i–iya tuan" jawab mereka serempak.


Rangga tersenyum sebagai ucapan terima kasih lalu pergi meninggalkan ketiga orang itu setelah melempar lirikan tak enak kepada adik istrinya.


Sementara zan yang sedari tadi berjalan dibelakang rangga, menarik rasya dari sana. membuatnya menerima segala pertanyaan yang keluar dari mulut rasya.


****


Dan berakhir disini, danita dan rangga pergi ke kamar tanpa kembali lagi ke bawah. satu alasannya, karna rasa cemburu yang tak wajar rangga.

__ADS_1


"kenapa kamu melanggar janji mu?" tanya rangga sudah berekspresi tak suka.


"dia adik ku sayang" jawab danita lembut. walaupun rasa geram telah memenuhi hatinya.


"walaupun dia adik mu tapi dia tetap seorang laki-laki kan?" memegang dagu danita. menatap lekat wajah yang masih dilapisi dengan riasannya.


"aku bahkan belum sempat berbicara dengannya" gumamnya.


"kau bohong!, kau berbicara dengannya tadi"


Danita menghembuskan nafasnya, ya tuhan terbuat dari apa sebenarnya rangga ini?.


"tadi kamu bilang belum sempat kan? berarti kalau aku tidak datang saat itu, kamu masih ingin berbicara banyak dengannya?" menatap datar tapi bisa membuat bulu kuduk danita berdiri.


"dia itu adikku, memangnya salah kalau aku ingin berbicara dengan adik ku?" melupakan rasa takutnya.


"tentu saja salah karna kau sudah berjanji" menekan kata-katanya.


"aku tidak mengucapkan janji tidak akan berbicara pada laki-laki selain kamu, apa kamu lupa?" mengubah intonasi bicaranya.


"ya memang kau tidak berjanji seperti itu, tapi kau tadi berwajah manis dan bahkan tersenyum didepan adik mu" nada suaranya melambangkan rasa kesalnya.


Danita menghembuskan nafasnya lagi, kali ini sambil mengulum bibirnya. "kecemburuan mu saja yang tak wajar" berwajah kesal karna sudah gondok dengan kecemburuan suaminya ini.


"kau sudah tahu kecemburuan ku tak waras, lalu kenapa kau tetap saja membuat ku cemburu?"


Danita menatap dengan wajah yang kecewa. dia hanya merindukan adiknya, apa itu salah? apa dirinya harus selalu memikirkan rangga tanpa memikirkan perasaannya?. cinta macam apa itu? bukan kah itu lebih terlihat seperti obsesi semata?.


"apa aku harus selalu memikirkan kecemburuan mu itu tanpa memikirkan perasaan ku? apa aku harus selalu memendam rasa rindu ku pada adik ku sendiri untuk kecemburuan tak waras mu itu?" menaikkan intonasinya dengan mata yang berkaca-kaca.


Rangga mengeraskan rahangnya. dia marah, sekarang dia benar-benar marah.


"apa kau pikir itu cinta? itu hanyalah obsesi mu tuan rangga yang terhormat" menekan kata-katanya di akhir.


"kau pikir apa yang membuat ku seperti itu? dirimu lah yang membuat ku seperti itu, kau lah yang membuat ku tak mau berbagi, kau menjadi akar dari segala kecemburuan ku, apa kau sadar itu?" membentak keras danita dengan tatapan matanya yang sudah tak manusiawi.


Danita mematung di tempat. "kenapa aku harus menikah dengan mu?" suara gemetar menatap dengan mata yang berkaca-kaca dan pipi yang basah.


Rangga seperti disadarkan sesuatu, dia baru sadar perkataannya salah. ucapan istrinya tadi berhasil menamparnya. langsung memasang ekspresi yang berbeda.


"kenapa aku harus menikah dengan lelaki yang memiliki obsesi gila seperti mu?" teriaknya dengan isakan menyertai.


"Nita" lirih rangga tak kuasa menatap mata berkaca-kaca istrinya.


"jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku membenci mu" menyeret duduknya menjauh dari rangga.


"maaf maafkan aku" langsung mendekat dan menangkup wajah danita.


"aku membenci mu" ucap danita lagi berusaha melepaskan tangan rangga dari wajahnya.


"jangan ku mohon, aku minta maaf Nita"


Danita berhenti memberontak, sekarang dia menangis sambil menunduk dengan tangan suaminya yang masih menempel di wajahnya.


"jangan memperlakukan ku seperti burung di dalam sangkar mu" lirihnya menunduk.


"maaf kan aku" memeluk kepala danita dan sesekali mengecupnya.


Danita mencengkeram ujung jas rangga sambil menangis tersedu-sedu. dia merasa lega karena telah mengeluarkan unek-uneknya selama ini. walaupun rasa sakit dan kecewa pada rangga masih tersisa dalam hatinya.


Antara cinta dan obsesi, mana yang benar?.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2