
Seorang wanita berjalan menyusuri jalanan yang sepi, titisan air hujan lagi-lagi menemani setiap perih dihatinya. seorang wanita yang berkali-kali digoreskan luka oleh setiap lelaki yang dicintainya.
bodoh! memang sangat bodoh. dengan mudahnya setiap lelaki yang dicintainya itu selalu menyakitinya. dibalik senyum yang selalu mengembang, dibalik wajah yang selalu menampakkan keceriaannya. sekarang hanya terlihat sebuah kesedihan yang mendalam di wajah cantiknya.
klakson mobil dibelakang dia abaikan, derasnya air hujan mampu menutupi pendengarnya.
"kau mau mati?" menarik lengan wanita itu.
yang ditarik hanya diam, merasa pandangannya menjadi buram dan kakinya yang melemas. dia tumbang ke dada laki-laki yang ada didepannya.
"hei bangun, nona saya bukan kasur anda" menjauhkan tubuh basah kuyup wanita itu.
"dia pingsan?" tanpa basa-basi langsung mengangkatnya masuk kedalam mobil. tidak perduli bajunya yang ikut basah juga.
"dia wanita itu kan?" menyingkirkan rambut basah yang menutupi.
"dimana rumahnya?" mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
mobil melaju memecah genangan air. walaupun dia tidak tahu harus mengantarnya kemana tapi dia tetap melakukan mobilnya.
tapi dia malah memasukkan mobilnya ke sebuah apartemen mewah. karna tidak tahu harus kemana.
dia lupa gaes bukan sengaja ok!?.
"panggil resepsionis" melangkah santai melewati penjaga sambil menggendong gadis disana.
salah satu penjaga disana langsung melangkahkan kakinya keluar.
"astaga merepotkan sekali" menaruh sembarangan tubuh mungil itu dikasur.
"jangan tinggalkan aku" racaunya sambil meraih tangan kekar lelaki itu.
lelaki itu melepas kasar tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya. dia merasa risih sangat risih kalau tubuhnya disentuh oleh orang lain.
"merepotkan" membuang dasinya ke sembarang arah.
"permisi tuan" suara yang disertai ketukan pintu.
"ganti bajunya" menunjuk dengan dagunya setelah dia membukakan pintu.
”wanita pertama yang dia bawa ke apartemennya" gumam resepsionis itu menatap kacau wanita disana.
***
__ADS_1
"hoamm" suara menguap seseorang diatas ranjang.
"nyenyak sekali tidurnya ya?" suara berat dan serak itu berhasil membuat wanita itu terperanjat.
"siapa kau?" teriakannya melengking.
"menurutmu?" menopang kepalanya dengan tangannya diatas meja.
"apa yang kau lakukan?" melihat kebawah selimut. aman katanya, tapi.. hei ini bukan bajunya!!
dia baru sadar:)
"brengsek" melemparkan bantal-bantal yang ada disana.
tapi tidak ada satupun yang berhasil mengenai lelaki yang sedang duduk santai sambil menopang kepalanya disana.
"tunggu! dia bukannya.." mengedipkan matanya.
"k–kau zan kan?" ucapnya membulatkan matanya sebulat-bulatnya.
"anda sudah tidak amnesia nona?" beranjak mendekati ranjang.
"jangan mendekat" pekiknya memundurkan tubuhnya.
lelaki bernama zan itu tetap mendekat dengan sangat santai dan ekspresi yang susah untuk diartikan dan dijelaskan. ya begitu pokoknya.
cletak
sentilan pekik mendarat di dahi wanita itu. nyeri rasanya dipadukan dengan muka datar lelaki yang ada didepannya.
"kenapa kau menyentil dahi ku?" teriaknya memegang dahinya yang sepertinya memerah.
"agar otak anda berjalan dengan lancar" kembali menjauh dari sana.
"yang tidak lancar itu otak mu bukan otakku" protesnya mengusap dahinya.
cih
"dasar pedofil, muka rata, kasar" pekiknya meneriaki zan yang sangat bermuka datar disana.
"seharusnya aku biarkan saja dia diculik pedofil beneran tadi malam" gumamnya memalingkan wajahnya.
"apa!!" lagi-lagi wanita itu berteriak.
__ADS_1
"anda itu tidak pakai teriak-teriak bisa tidak?" terdengar sedikit membentak.
wanita itu langsung terdiam membalut tubuhnya dengan rapat disana. dia tidak mengingat apa-apa, yang dia ingat hanya mantan kekasihnya yang brengsek itu.
"apa yang sudah kau lakukan denganku?" ucapnya pelan menatap nanar lelaki yang menjulang tinggi didepannya.
"jauhkan pikiran mu itu" menatap datar dan sinis.
"bagaimana aku menjauhkannya? aku bangun di tempat yang sama sekali tidak aku kenali, langsung dikejutkan es batu bermuka datar dan lihat ini!!" membuka selimutnya "aku bangun dengan baju yang sama sekali tidak aku kenali, jelas-jelas ini kemeja pria, dasar pedofil!!!" bermuka galak dengan tangan yang direntangkan.
kemeja yang sangat kebesaran, lengan yang menggontai-gontai disana dan juga kemeja sedikit melorot menampakkan sedikit bahunya. zan langsung mengalihkan pandangannya.
"dasar pedofil" menutup bagian dadanya yang sedikit tembus pandang.
zan memandang sebuah lukisan besar yang menempel di dinding. mengalihkan pikirannya bahwa wanita itu terlihat imut dengan kemeja kebesaran itu.
"hiks papa aku sudah tidak peraw–"
cletak
satu sentilan lebih keras mendarat lagi di dahinya. sungguh ini rasanya lebih sakit. hampir saja butiran bening itu tumpah.
"yang mengganti baju anda resepsionis jangan pikirkan yang macam-macam" menatap tajam manik-manik yang sudah berkaca-kaca "satu lagi saya bukan pedofil, kalau anda mengucapkannya lagi akan saya seret keluar dengan kondisi seperti ini" tatapannya benar-benar lekat dan tajam.
"dia sangat tampan tapi sangat menyeramkan" tanpa sadar butiran beningnya keluar begitu saja.
"m–maaf" lirihnya menunduk.
"tidak usah menangis, kalau anda ingin keluar baju, sarapan dan transportasi untuk anda sudah saya siapkan" menyambar jasnya tanpa menoleh kebelakang.
"tunggu" sedikit beranjak dari posisinya.
zan menoleh menunggu apa yang di mau perempuan itu.
"t–terima kasih" terdengar lirih tapi jangan lupakan zan pemilik telinga seperti kelinci.
zan keluar meninggalkan wanita itu yang masih berada ditempatnya. dia tidak memusingkannya, toh tidak ada juga yang harus dibawa repot.
"kau bodoh sekali rasya" memukul kepalanya sendiri dengan sedikit keras.
"tuhan jangan pertemukan aku lagi dengannya hiks" mengepalkan tangannya.
bodoh bodoh hanya itu yang diucapkannya untuk melambangkan dirinya sendiri tadi. sangat bodoh bahkan dia tadi juga membuka selimutnya. SANGAT BODOH!!!
__ADS_1
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada typo