Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Mengingat Kembali


__ADS_3

Bagaiman rasanya ketika kita sedang menonton atau mendengar sesuatu yang seru tiba-tiba berhenti ditengah jalan? kesal bukan? itulah yang sedang dirasakan danita sekarang.


"kenapa berhenti?" nada suara kecewa terdengar.


yang memberhentikan ceritanya tetap santai memejamkan matanya. mengundang segala rasa kesal dan geram dari segala arah.


"sayang lanjutin" menggoyang-goyangkan lengan rangga.


"kamu gak lihat wajah suntuk author karna babnya banyak yang diulang-ulang?"


kenapa saya?


"oh iya ya, jelek tau thor mukanya di tekuk-tekuk gitu"


jangan maen-maen jangan maen-maen 🐍🐍


"jadi kapan lanjutin lagi thor?"


tanya ke suami mu, yang punya cerita dia.


"tuh sayang ayo lanjutin" melanjutkan aksi goyang-goyang bahunya.


"lanjutin thor"


gimana mau lanjutin? bab kemarin aja belum bisa dihapus.


"oh iya"


yeh si bapak mabok.


"jadi gak dilanjutin nih thor?"


kalo mau lanjut minta suami mu sana.


"sayang ayo lah"


sama sekali tidak mendapat balasan. dia sudah penasaran dengan selanjutnya.


"tidak mau, apa-apaan itu tisu sebanyak itu" melirik dua pack tisu yang sudah ada disana sejak tadi.


"sapa tahu kayak kemarin lagi, jadi sudah persediaan" memeluk tisu dua pack itu.


"ini yang aku malas, matamu masih bengkak dan memerah" menatap tidak terima mata cantik istrinya yang membengkak sejak kemarin.


muka cemberut sudah menempel diwajahnya.


"jangan cemberut gitu, ntar sama jeleknya sama author" menarik tubuh danita menempel ke tubuhnya.


pengen deh rasanya bersih-bersih kayak bang haji sensei.


"kayak ada suara tapi kok gada wujudnya ya" memposisikan kepalanya di dada rangga.


/pundung.


untuk beberapa saat keheningan tercipta. rangga yang sedang asik memainkan rambut danita dan danita yang sedang bertanya-tanya didalam pikirannya.


"sayang" membuka suara setelah menemukan titik ternyaman di dada rangga.


"hm" masih melakukan aktivitasnya disana.


"kamu ketemu dokter rajwa pertama kali disaat itu atau sudah bertemu sebelumnya?" menempelkan pipinya disana.

__ADS_1


"saat itu" menjawab singkat dan tangannya tidak berhenti memainkan rambut danita.


"kalau yang satu lagi?" memainkan tangannya di daerah perut.


"tidak tahu" sebenarnya dia malas.


"yang waktu itu pernah kamu bilang" mengehentikan segala aktivitasnya.


Rangga acuh tetap memainkan rambut danita. melilit-lilitnya, menyisirnya bahkan dia memperhatikan setiap helai rambut itu.


"rizal bukan?" mengangkat kepalanya untuk menatap sang suami.


karna kepalanya diangkat otomatis rambut yang sedang asik ia mainkan itu jatuh dari tangannya. "dia dibawa oleh papa" menaruh kembali kepala danita.


"kemana?"


"ke rumah ini" melanjutkan lagi yang tadi sempat terhenti.


"bersama siapa?"


"papa" sungguh dia sangat malas menjawab.


danita mengangguk paham. walaupun tidak semuanya dia pahami.


"kalau kau berfikir ayah ibunya memperbolehkannya, kau salah besar" sekarang beralih memainkan daun telinga danita.


"lalu yang benar?" menengadahkan kepalanya.


"mereka menelantarkan anaknya" mengunyel-unyel pipi danita.


danita hanya melebarkan matanya, pipinya terasa panas karna sedang diunyel-unyel oleh rangga.


"kedua orang tuanya seorang pebisnis, tetapi mereka terlalu ambisi sampai-sampai melupakan anaknya sendiri" berhenti mengunyel-unyel pipi danita setelah mendengar suara meringis.


"sayang ayah dokter rajwa sekarang dimana?" melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya.


"sudah meninggal" mengusap-usap pipi danita.


tatapan danita berubah menjadi sedih.


"jangan menatap ku seperti itu" merasa dirinya sangat menyedihkan.


danita menenggelamkan wajahnya di dada rangga. menyembunyikan perasaan sedihnya yang tiba-tiba datang tanpa permisi.


"cerita ku sama sekali tidak menyenangkan kan?" membiarkan dada bidangnya menjadi tempat sembunyi.


"tidak, kau hebat bisa melewati semuanya" tambah mempererat dekapannya.


Rangga terdengar berdecih. seolah-olah tidak setuju dengan perkataan danita.


"aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan suami seperti mu" tambah menenggelamkan wajahnya.


dia baru saja merasa senang rangga menemukan alasan untuk tetap menjadi dirinya sendiri saat itu, tetapi senang itu hanya sementara. lagi dan lagi rangga ditinggal seseorang yang menjadi alasannya untuk tetap berdiri di pijakannya. cukup membayangkan dirinya berada disaat itu sudah membuat danita ingin menangis. bagaimana dengan rangga yang saat itu menghadapinya langsung?.


"jangan menangis" mengeluarkan wajah danita dari persembunyiannya. dan mata itu sudah mengeluarkan cairannya.


Danita malah tambah menangis. tangannya digunakan untuk menghapus setiap air mata yang akan keluar, tetapi air matanya malah makin banyak yang ingin keluar.


Rangga menyingkirkan tangan danita agar dia bisa melihatnya. "aku tidak suka melihat kamu menangis" menghapus seluruh air mata yang menetes di pipi danita.


"kenapa kamu bisa sekuat itu?" membiarkan air matanya jatuh dan jari jemari rangga yang akan menghapusnya.

__ADS_1


"keadaan yang membuat ku seperti itu" menghapus butiran bening yang jatuhnya paling akhir dengan ibu jarinya.


kembali memeluk satu sama lain, danita kembali menyembunyikan kepalanya di dada rangga.


"apa kau berfikir selama ini aku sendirian?" mengelus-elus rambut danita dan sesekali mengecupnya.


danita mengangguk tanpa suara.


"aku tidak sendiri, ada seseorang yang selalu berdiri disamping ku, bahkan dia selalu menyampingkan segala urusannya ketika sudah mendengar perintah ku" seperti sedang main tebak-tebakan ya. sekarang dia sedang memberikan cluenya.


Danita menerka-nerka siapa itu. isi pikirannya ada dokter rajwa, rizal, dan....


"zan" seolah-olah melengkapi isi pikiran danita.


tidak terlalu terkejut dengan yang dikatakan rangga, cluenya sudah bisa ditebak bukan?.


setelah mengucapkan terima kasih kepada zan lewat hatinya, dia menutup matanya perlahan merasakan hembusan nafas yang sudah terdengar teratur diatas kepalanya.


epilog


Sama-sama terhanyut dalam pikiran masing-masing, menatap pintu ruangan ICU yang samar-samar bisa terlihat aktivitas didalamnya. 10 menit mereka menunggu, 15 menit, dan sampai sekarang para dokter yang ada disana belum keluar.


Kesana kemari seperti orang linglung, tangan yang sudah dibasahi dengan keringat dan hati yang selalu berdoa diantara segala kegelisahan.


setelah menunggu lama, akhirnya pintu terbuka.


"bagaimana?" lelaki yang sedari tadi mondar mandir langsung bertanya.


"kami sudah melakukan semua yang kami bisa" ucap dokter itu dengan keringat yang membasahi dahinya.


Brakkk


satu kali tarikan dan satu kali dorongan keras membentur kaca ruangan ICU.


"selamatkan dia" mencengkeram kuat kerah kemeja sang dokter.


"maaf tuan kam–" ucapannya langsung terpotong dengan cepat.


"selamatkan dia" berteriak dan membentak dengan sangat keras didepan wajah sang dokter yang sedang memerah ketakutan.


"rangga" suara lemah itu hampir tak terdengar di telinga.


"tuan kendalikan diri anda" zan menarik kasar lengan rangga. sampai membuat lengan jas yang di pakainya menjadi kusut.


"kau tidak waras" menatap tajam zan yang sedikit terlihat kesal dari tatapan matanya.


"rangga sudah cukup" suara lemah itu kembali terdengar.


"kau gila? ayahmu sedang terbaring tanpa nyawa disana kau bisa setenang ini? apa kau tidak menyayangi ayah mu?" berteriak marah sambil meraih kerah kemeja orang itu.


"aku menyayanginya, karna aku menyayanginya aku sudah tidak mau melihat dirinya meminum semua obat-obatan itu, aku tidak mau melihatnya menancapkan jarum ke tubuhnya lagi, aku tidak mau melihatnya kesakitan lagi" balik berteriak dengan mata yang memerah dan wajah yang memerah.


"apa maksud mu?" suara rendahnya sangat mendominasi cengkeraman pada kerah itu.


"kau sudah tau bukan ayahku terkena gagal jantung?" menatap mata yang masi berapi-api menahan gejolak ditubuhnya.


dia melepaskan kasar tangan rangga dari kerah bajunya "kau bilang aku akan bisa menyelamatkannya suatu hari nanti, tidak bisa aku tidak bisa rangga" teriakan keputusasaan itu terdengar dibarengi dengan tubuhnya yang merosot sambil memegang kepalanya.


Rangga melangkah mundur perlahan, berharap waktu bisa ikut mundur bersamanya. dia memang telah mengetahui kalau orang itu, orang yang dia temui disaat terburuknya. terkena penyakit gagal jantung. karna itu dia langsung mencari semua dokter terbaik di bidangnya, dia bersumpah walaupun dokter itu berada diujung dunia akan dia kejar untuk orang itu. tetapi tuhan berkata lain. dia kehilangan seseorang yang pernah menggantikan posisi seorang papa untuknya dan seseorang yang telah mengenalkannya kepada pahlawan terlemah di dunia untuk selama-lamanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2