Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Sumpah Yang harus Dilaksanakan


__ADS_3

Terbaring seolah-olah seperti manusia tak bernyawa diatas ranjang yang sedang dipanasi sinar matahari. memanggil satu nama sejak pagi dini hari. tangan dan kakinya gemetar seirama dengan setiap lirihan suaranya.


Zan kecil yang sedari pagi sudah duduk disamping ranjangnya, sesekali melirik tirai yang belum dibuka.


"kenapa kau disini?" satu suara berhasil membuatnya memalingkan wajah.


"perintah tuan Kino" menatap datar.


"dimana mama?" dengan susah payah dia bangkit terduduk.


Zan diam, tidak mau dan tidak tahu harus menjawab apa.


"dimana papa?" mengganti pertanyaannya berharap menerima jawaban.


"sudah berangkat sejak pagi-pagi buta" ternyata dijawab.


"kita ini teman bukan?"


yang ditanya hanya diam, dia tidak pernah diminta untuk menjadi temannya. dia hanya menerima perintah "jangan pernah meninggalnya" apa itu sudah bisa disebut teman?.


"apa kau marah karna aku tidak memberi mu mainan?" memperhatikan wajah yang terpapar sinar matahari.


"tidak" singkatnya.


"lalu kenapa kau menahan ku saat aku ingin mengejar mama kemarin?" menatap sinis.


"itu perintah tuan Kino" jawabnya membalas tatapan tajam dengan tatapan datar.


"aku selalu mengajakmu bermain, tapi kenapa kau tidak pernah mendengar perintah ku?" bermuka galak dan berbicara cepat.


padahal bagi lawan bicaranya sekarang, wajah galak itu sama sekali terlihat galak.


"memangnya apa perintah mu?" menjawab tidak kalah cepat dengan muka galak sesungguhnya.


rangga yang terhentak seketika karna mendapat ekspresi seperti itu yang baru pertama kali dia lihat.


"aku tidak mau mengajakmu bermain pedang-pedangan lagi" melempar pandangannya takut menatap wajah seperti itu.


"habiskan sarapanmu, pengajarmu sudah menunggu dibawah" menunjuk sebuah nampan yang diletakkan diatas nakas. lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


rangga menendang selimut tebalnya dengan kaki pendeknya sambil menatap pintu yang hampir ditutup rapat.


****


waktu sudah menunjukkan jam makan siang. waktunya untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan pelayan. tetapi bocah lelaki ini sedang memperhatikan pengajarnya yang sedang memasukkan buku-buku yang juga dia pelari kedalam tasnya.


"ada apa tuan rangga? apa ada yang belum anda mengerti?" mengehentikan tangannya saat melihat anak kecil itu berdiri didepannya.


"tidak mungkin materi mu tidak aku pahami dengan mudah" angkuhnya.


"lalu ada apa tuan muda?" menurunkan pandangannya.


"aku ingin bertanya sesuatu" melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"silahkan" tersenyum tipis.


"apa itu perceraian?" matanya yang lugu sangat tidak cocok dengan pertanyaannya.


sang pengajar seketika terdiam. bagaimana bisa bocah lelaki yang sehari-harinya ia ajari, yang cerewetnya lebih darinya, yang sangat berbeda dengan anak-anak seusianya. keluar pertanyaan seperti itu dari mulutnya?.


"aku menyuruhmu untuk menjawab bukan melamun" Masi melipat tangannya dengan angkuh.


"perceraian adalah sebuah perpisahan yang terjadi apabila pasangan suami istri sudah tidak saling mencintai lagi" setelah mencari kata-kata yang mudah dipahami akhirnya dia menjawab.


"iya" dengan ragu-ragu dia membuka suara.


"berarti mama dan papa sudah tidak saling mencintai lagi?" wajah dan nada suaranya sudah sangat serasi.


lagi dan lagi sang pengajar itu terdiam. diam sudah menjadi pilihan terbaik untuk saat ini kan?.


"terima kasih untuk pembelajaran hari ini" tiba-tiba zan masuk dan langsung menunduk ke sang pengajar.


bagaikan mendapat penyelamat hidupnya. ia tersenyum lega dan langsung mengambil tasnya.


setelah kepergian pengajar itu, tercipta keheningan untuk beberapa saat. zan yang sedang sibuk membersihkan meja belajar rangga. dan rangga yang sedang memikirkan perkataan pengajarnya tadi.


"zan, mama dan papa sudah tidak saling mencintai lagi" suaranya rapuh sekali.


walaupun sebenarnya dia tidak terlalu mengerti apa itu cinta, tetapi dengan mendengarnya saja dia sudah bisa menebak bukan?.

__ADS_1


Zan hanya mendengarkan saja, memilih untuk tetap membersihkan meja belajar.


"aku berbicara padamu" menarik ujung baju zan.


"kenapa berbicara padaku?" membalikkan tubuhnya.


"memangnya siapa lagi yang ada disini?" setengah berteriak.


kembali menghadap ke meja belajar rangga.


"mama pergi, apa papa juga akan pergi?" berharap ada yang menjawab, tetapi dia dari tadi merasa bertanya kepada tembok.


"tuan Kino tidak mungkin melakukan itu" langsung dijawab ternyata.


sama-sama terdiam dan keheningan kembali tercipta.


"kau diberi materi tambahan kan? baca buku itu setelah makan siang" membalik badan dan menatap rangga yang sedang berbaring santai.


"bahkan aku diberi pekerjaan rumah" suara kecil itu terdengar mengeluh.


"kerjakan segera, pengajar berikutnya akan datang sebentar lagi" menghampiri rangga yang sepertinya enggan untuk berdiri.


"bantu aku mengerjakannya" akhirnya terduduk dengan kaki yang melayang tak sampai menyentuh lantai.


"bukannya kau sudah mengerti semua?" mengerutkan keningnya.


"aku tidak bisa fokus" ucapnya pelan.


"pak tan sudah menyiapkan makan siang mu" berjalan meninggalkan rangga.


"hei tunggu, berjanji kau akan membantu ku" mengejar dengan kaki pendeknya.


akhirnya zan menemani rangga dari dia mengerjakan seluruh pekerjaan rumahnya, sampai-sampai zan harus menemani rangga juga saat pengajar sudah tiba. bukan tanpa alasan dia melakukannya, setelah dia melihat rangga seperti orang linglung selama setengah jam sang pengajar berikutnya memulai pelajaran. semaunya seakan-akan keluar dari kepala rangga. ilmu-ilmunya seperti hilang begitu saja, ini kacau. pikir zan.


"ayah ibu apa yang harus aku lakukan?" menatap wajah rangga yang tertidur pulas dengan tangan sebagai bantalannya.


sebenarnya zan sudah mengetahui segalanya, tuan kino sendiri yang telah memberi tahunya. tetapi dia harus menutup mulutnya demi sumpah yang telah dia ucap dan sumpah kedua orang tuanya yang harus dia laksanakan. demi si tuan mudanya yang bergaya angkuh diuar pemikirannya.


dengan hati-hati dia menutup buku-buku yang berserakan di meja belajar yang baru beberapa saat lalu dia bersihkan. wajah lelah anak kecil yang sedang tertidur itu seperti meluluhkan hatinya. seperti tidak siap dengan hal berikutnya yang akan terjadi kepada si bocah lelaki yang harus dia jaga atas sebuah perintah yang sudah dia terima.

__ADS_1


BERSAMBUNG


ps:ingatkan author jika ada typo


__ADS_2