Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Laporan


__ADS_3

Didalam kamar setelah kedatangan Tante marlin terciptalah suasana yang mengharukan.


"huaaa mba aku kurang ajar sama mama" menutupi wajahnya memakai selimut sampai menutupi seluruh wajahnya.


"pasti mama benci banget sama aku" suaranya sudah tidak stabil karna sesenggukan.


"nona tenanglah" audri hanya berdiri disamping ranjang tanpa melangkah sedikitpun.


"bagaimana aku mau tenang aku sudah menjadi anak durhaka" membuka selimutnya memandang audri dengan muka yang merah itu.


"kalau tuan Rangga tau anda menangis pasti akan gawat" merinding sendiri dia membayangkan amukan Rangga saat melihat wajah istrinya sekarang.


"nona tenangkan lah diri anda" mengambil tisu untuk diberikan ke danita. "yang anda lakukan itu sepenuhnya tidak salah" menaruh satu pack tisu didekat danita "saya juga sangat kesal kalau diperlakukan seperti itu, jadi jangan pikirkan itu nona" kembali ke tempat dia berdiri semula.


"bagaimana aku bisa tenang, orang yang ku teriaki adalah mamanya tuan Rangga" mengambil selembar tisu lalu membuangnya diatas nakas.


"saya juga tidak suka dengan perlakuan nyonya marlin kepada anda apa lagi anda yang secara langsung diperlakukan seperti itu, wajar kalau anda ingin menjaga harga diri anda saya mengerti perasaan anda itu semua memang harus anda lakukan untuk menjaga harga diri anda, jangan terlalu dipikirkan nona itu tidak baik untuk kandungan anda" memang seharusnya audri berkata seperti itu untuk sedikit melegakan hati danita.


"yang diucapkan mba audri memang benar, tapi tentu saja aku tidak enak dengannya" memeluk bantal, menggosokkan wajahnya dibantal sampai jejak air matanya hilang.


"jangan bilang ke tuan Rangga ya mba aku meneriaki mama marlin" mengelap ingusnya.


"baik nona" membuang semua tisu bekas danita.


***


"sialan kenapa baru beberapa jam aku pergi sudah ada keributan?" Rangga menendang sofa yang ada didepannya.


"penjagaan seperti apa yang kau utus zan" berteriak sampai langit-langit kamar hotel bergema.


"maafkan saya tuan muda" zan hanya bisa menatap amukan Rangga.


bugh


satu tendangan berhasil mendarat di tulang kering kaki zan, zan sempat tersungkur di lantai tapi dia langsung berdiri lagi dengan tegak.


"kenapa wanita itu bisa masuk dengan mudah kedalam rumah? penjagaan apa yang kau perintahkan?" menatap zan dengan tatapan seperti ingin mencabik-cabik orang.


"berikan aku rekamannya, kau pasti sudah menyiapkan kamera cctv kan?" membuka jasnya Masi menatap zan.

__ADS_1


"tentu tuan" mengeluarkan hpnya dan menghidupkan monitor dihpnya.


Rangga juga merasa lelah, dia duduk di sofa yang dia tendang tadi sambil melonggarkan dasinya dan melipat lengannya.mendengarkan dengan saksama, Rangga menyatukan alisnya saat melihat obat yang Tante marlin taro di atas meja.


"obat apa itu?"


zan sangat ragu untuk menjawab tapi kalau tidak dijawab masalah baru pasti akan datang. "obat untuk menggugurkan kandungan tuan" sengaja tidak melihat Rangga, pura-pura fokus ke hpnya.


terdengar Rangga menggertakan giginya sambil berdecak kesal. itu sangat terdengar oleh zan.


"selama tuan Rangga menaruh kepercayaan kepadaku akan ku genggam erat kepercayaan itu walaupun ibu kandungnya sendiri menjadi musuhku" terdengar teriakan danita sangat lantang, zan mengernyit sedikit mendengar teriakan danita.


berbeda dengan Rangga, dia membulatkan matanya mendengar teriakan kata-kata yang keluar dari mulut danita itu. terkejut dan tidak menyangka danita akan berteriak seperti itu.


"zan putar ulang" menepuk lutut zan.


zan mengulang adegan teriakan danita sesuai perintah Rangga. zan juga tidak menyangka danita berani berkata seperti itu.


"wah wah siapa yang mengajarinya?" mengulang-ulang terus bagian danita bertindak.


"otodidak mungkin tuan" ikut memperhatikan danita yang ada dividio itu.


setelah puas mendengar teriakan danita, Rangga bersiap-siap untuk menghadiri rapat malam ini. melihat emosi danita yang baru pertama kali dia lihat itu Mala membuatnya senang dan tersenyum setiap saat. zan yang melihatnya seperti sedang melihat orang gila yang tersenyum-senyum sendiri.


"zan ayo kita berangkat" menghampiri zan yang sedang mengetikkan pesan dihpnya, sambil senyumnya tidak memudar. entah dengan siapa zan mengirim pesan Rangga tidak perduli.


"baik tuan" memasukkan kembali hpnya dan menatap Rangga sebentar. "wah anda ternyata sangat menyeramkan ya nona, bisa membuat mood tuan Rangga berubah hanya dengan teriakan anda" mengikuti Rangga dari belakang sesekali dia melihat senyum Rangga yang belum memudar.


bahkan sampai ke rapat malam dimulai, Rangga Masi tersenyum dan bersikap ramah kepada para pengusaha dari berbagai negara ini. itu membuat mereka semua keheranan setengah mati.


epilog


Rangga tidak bisa memejamkan matanya ditempat tidurnya, dipikirannya selalu terbayang sosok danita. jam sudah lewat tengah malam tapi dia tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang. Rangga ingin menyuruh zan menghubungi danita tapi dia tau zan sedang berkutat dengan leptopnya.


"danita pasti sudah tidur, hpnya juga selalu di matikan jika malam hari" mulai membuka hpnya yang bisa dibilang sangat jarang Rangga membuka hpnya sendiri.


terlintas dipikirannya audri, mungkin zan menyuruh audri untuk berada disamping danita selama danita tidur. itu pikir Rangga. tidak pakai lama dia menekan no audri setelah dia mengirim pesan ke pak Tan dan ternyata tidak dibaca.


"kalau tidak sesuai ekspektasi ku habis kau zan" menatap layar hpnya yang sudah mulai terhubung dengan audri.

__ADS_1


diseberang sana, audri yang sedang berjaga didalam kamar utama terkejut mendapat panggilan video dari Rangga. gemetar tangganya menggeser tombol hijau dilayar hpnya.


"selamat malam tuan Rangga" berusaha untuk tidak gugup.


"dimana danita?" langsung ke intinya.


"nona danita sudah tidur tuan" membalikkan kameranya menjadi kamera belakang.


"dekatkan ke ranjang"


mendekatkan hpnya ke ranjang, mengatur posisi agar Rangga bisa melihat wajah danita karna audri sudah tau inti dari perintah Rangga.


danita yang sedang memeluk bantal yang biasa Rangga gunakan membuat Rangga merona senang karna itu berarti danita juga sedang merindukannya. wajah bayi yang sering Rangga lihat itu lebih menggemaskan dengan pipi danita yang mulai berisi.


"lucunya" ucap Rangga pelan mengusap-usap layar hpnya seperti mengusap rambut danita. "selamat tidur danitaku, kau harus memimpikan aku karna aku merindukanmu" mencium pelan layar hpnya.


"audri kau Masi disana?" bersuara pelan tidak mau membangunkan danita yang sedang pulas.


"iya tuan muda" mengambil kembali hpnya.


"apa yang terjadi dengan nitaku?" beralih ke panggilan suara.


"maafkan kesalahan saya tuan muda, nona danita tadi siang menangis" berbicara pelan.


"cih" berdecik keras. "jaga nitaku seperti kau menjaga nyawamu sendiri, jangan sampai wanita itu kembali lagi, kau ku tunjuk sebagai pengawal pribadi danita sampai aku kembali, kalau masalah ini terulang lagi kau sudah tau kan apa yang akan aku lakukan?" tegas Rangga sedikit membuat audri gemetar kakinya.


"baik tuan muda" tapi tetap saja dia harus berkata seperti itu.


"jaga danita sampai aku kembali" tegasnya sekali lagi.


"baik tuan muda"


Rangga mematikan duluan panggilannya. baru lha audri bisa bernafas dengan biasa, kalau Rangga sudah sampai menelpon itu berarti sangat penting dan jika itu terjadi berarti itu sangat-sangat penting.


kembali lagi ke Rangga, dia baru bisa memejamkan matanya dengan tenang itupun dengan membayangkan dia sedang tidur disamping danita. biarkan kebucinan Rangga ini tetap berlanjut.


BERSAMBUNG


PS:ingatkan author jika ada typo

__ADS_1


__ADS_2