
malam hari, sebuah mobil terlihat terparkir di pinggir jalan. zan keluar dan berjalan menuju gerbang hitam yang tertutup rapat. tangannya membawa sesuatu, lalu dia memencet bel rumah.
Pagar terbuka sedikit memunculkan kepala wanita dari balik pagar.
"astaga" yang membuka pagar malah terkejut.
Menatap datar tanpa suara, seperti hantu tepatnya.
"sampai kapan kau mau disana?" melebarkan pagarnya.
Dia baru pertama kali menginjakkan kakinya ke rumah ini. biasanya hanya sampai gerbang. saat kakinya melangkah masuk ke halaman rumah, sudah disambut dengan berbagai bunga di kanan kirinya. wanginya pun semerbak.
Ketakutan yang melanda tadi siang itu kembali muncul. gemetar dia membuka pintu rumahnya. cukup luas dengan ukuran rumah dua lantai. bahkan didalam rumah terdapat banyak tanaman hias. pecinta tanaman yang punya rumah.
"ka–kau mau minum apa?" menatap zan yang sedang mengitari pandangannya.
"kopi" langsung memalingkan wajahnya.
Rasya pergi ke dapur. hatinya masih dipenuhi dengan rasa takut. tadi dia sedang memasak sup tetapi harus di berhentikan karna bel rumah berbunyi.
"kenapa dia beneran datang sih!" gumamnya dalam hati. menyalakan kembali kompor.
Benar-benar sangat gelisah sekarang rasya. beberapa kali dia menggembungkan pipinya menahan gelisah dan rasa takut.
"kenapa kau kesini?" membawa nampan dengan sedikit gemetar.
Zan mengeluarkan hpnya dari dalam kantung jasnya, lalu menatap layarnya. "sepertinya aku sudah memberi tahu semalam" menunjukkan layar hpnya.
Rasya mendengus samar sambil menaruh nampannya. dia harus bagaimana sekarang?.
"dimana ayah mu?" menatap uap yang keluar dari cangkir kopinya.
Rasya meremas jemarinya. "dia masih berada di kantor" jawab rasya berusaha untuk tidak gagap menjawabnya.
Zan mengangguk samar. rasya mati kutu disini, tidak tahu harus ngapain. lagian ngapain si zan segala pake beneran datang.
"ka–kau pulang sana, disini tidak ada siapa-siapa"
Zan mengangkat pandangannya. bertemu dengan muka yang terlihat takut. "tidak apa aku akan menunggu" kembali menatap gempulan asap kopinya.
Rasya membuang nafasnya. frustrasi. lalu berjalan kembali ke dapur. rasa takutnya sama sekali belum hilang. apalagi setelah zan bilang dia akan menunggu. sampai kapan?.
sementara zan mengetik sesuatu di hpnya. sebenarnya dia tahu rasya sedang menyembunyikan sesuatu.
tak tak
Rasya memotong sayuran wortel itu dengan telaten. ukurannya sama semua. ya walaupun dirinya tidak terlalu bisa memasak, tapi kalau dalam hal potong memotong rasya bisa diandalkan.
"cepatlah kau sana pulang" menatapi zan sambil tangannya terus memotong sayuran.
"ssh" tangannya tak sengaja teriris pisau.
__ADS_1
langsung mencuci lukanya, dia membiarkan sebentar luka itu terbuka. darahnya masih keluar.
"semoga saja dia tak pulang hari ini" menghisap jarinya. dia ingin tidur cepat tapi mana bisa kalau zan ada disini.
dubrak
suara benturan itu membuat rasya mengeluarkan sedikit tubuhnya dan melihat ke sumber suara. dia sudah panik kalau suara itu berasal dari atas ternyata tidak. zan berjalan cepat ke rasya dengan muka yang agak gimana gitu.
"ada apa?" panik juga kan rasya.
"itu tadi ada hewan kecoa lewat" menunjuk sofa yang tadi dia duduki. mukanya si masih datar tak berubah tapi tangannya terlihat ragu untuk menunjuk.
Rasya mengkerut kan keningnya. kecoa?. dia berjalan ke ruang tamu dengan perlahan. ahh benar ada kecoa di sofa. otaknya langsung paham.
"hahahaha" dan dia tertawa keras.
zan sempat terkekeh saat rasya tertawa dengan tiba-tiba. dia berdiri di belakang rasya.
"badan gede takut kecoa" mengambil kecoa itu tanpa jijik dan sangat gampang.
"aku tidak takut ha–"
"hanya apa?" berbalik sambil menunjukkan kecoa di tangannya.
"buang itu cepat" menunjuk tempat sampah yang berada diluar dengan tatapan yang sudah horor.
"baik baik tidak usah marah-marah" berjalan ke arah pintu.
"tapi boong" kembali berbalik ke zan dan menjulurkan tangannya yang memegang kecoa ke zan.
ahh padahal rasya ingin mengerjainya sebentar menggunakan kecoa ini. tapi di pelototi seperti itu saja sudah merinding.
"sudah sudah, sudah ku buang" menepuk-nepuk tangannya.
Zan melirik tempat sampah diluar itu. benar sudah dibuang.
"jago bela diri, badan gede masa takut sama kecoa" ledek rasya berjalan ke dapur. dia tidak pernah menyangka sekertaris zan takut dengan kecoa. oh sial dia ingin ketawa terbahak-bahak sekarang.
zan mendengarnya sambil mengikuti rasya ke dapur. kesal memenuhi hatinya sekarang. dia sebenarnya tidak kuat, tapi dia dibuat geli dan trauma karna dulu ada kecoa yang nempel di makanannya dan parahnya lagi makanan itu sudah masuk ke mulutnya.
ew
"jadi bahan bullyan enak ni" sudah merencanakan sesuatu untuk kedepannya.
"apa? mau menjadikan itu kelemahan ku?" menatap tajam rasya.
jujur rasya terkejut karna dia tidak tahu zan mengikutinya sampai ke dapur.
"tidak kok, jangan berpikiran buruk terus napa jadi orang" kembali memotong sayurannya sambil menatap ke samping.
"dari wajah mu sudah kelihatan" memegang pinggiran wastafel.
__ADS_1
Rasya mendengus "heran wajah cantik gini dipikiran yang buruk terus" merapikan sayuran yang sudah dia potong.
zan tersenyum miring. wajah-wajah pembohong di wajah rasya sudah dapat dengan mudah dia cirikan.
"kau duduk lagi deh sana" memegang talenan yang diatasnya sudah ada berbagai sayuran.
"kenapa?" dia sudah pw sepertinya disana.
"sempit tau gak, dah tau badannya gak kecil" menggeser dengan kasar tangan zan dari sana.
"dah tau badan gede tapi takut sama kecoa hahaha" hanya berani membully dalam hati.
Zan tak bergerak dari sana. hanya tangannya yang berhasil digeser rasya tetapi badannya tidak. alhasil begini lah posisi mereka sekarang. jarak diantaranya sangat tipis, bahkan jas yang dipakai zan bersentuhan dengan pakaian rasya. tetapi zan malah memperhatikan wajah rasya dari dekat.
"minggir bisa gak si?" menengok ke samping dengan tatapan kesalnya.
yang ditatap tak bergeming, memperhatikan setiap inci wajah rasya.
prang
Rasya langsung menatap tangga dan segera mencuci tangannya. berlari meninggalkan zan yang menatap bingung.
"ibu" suara nafasnya memburu saat sampai di depan kamar yang berantakan ini.
"akhhhh" menarik-narik rambutnya sendiri dan mencakar wajahnya.
Rasya masuk kedalam kamar dan memeluk ibunya "tenang ibu rasya sudah disini" ucapnya lembut sambil mengusap pundak ibunya.
Zan memberhentikan langkahnya di depan pintu kamar, pecahan kaca yang sudah dimana-mana dan seprai yang sudah tak berbentuk. matanya berhenti pada dua sosok wanita yang berada diatas ranjang.
"ibu lapar? rasya sedang menyiapkan makan malam, ibu tunggu sebentar ya?" menangkup lembut wajah pucat ibunya.
Ibunya tak menjawab hanya menatap rasya tanpa ekspresi. wajahnya pucat sekali seperti mayat hidup.
"ibu tidur lagi ya? nanti rasya bawain makanannya" menepuk-nepuk lembut kepala ibunya.
tak butuh waktu lama ibunya sudah memejamkan mata. dibantu obat tidur dan penenang tentunya.
Rasya berhenti saat melihat zan berdiri didepan pintu. tangannya gemetar, hatinya nyeri. ini yang dia takutkan. dia tidak mau orang lain melihat kehidupannya. rasya langsung menerobos tubuh zan. dia harus cepat menyelesaikan masakannya, ibunya pasti sudah lapar.
"ahh bodoh" ditangga rasya memukul kepalanya keras.
kembali melanjutkan masakannya. tidak memperdulikan zan yang sedang memperhatikannya di samping.
Malu sekali rasya. dia sudah berusaha untuk menutupi kehidupannya. tetapi mengapa sekarang zan telah melihatnya?.
"kau lihat kan? ibu ku gila, kalau kau ingin keluar dari sini keluar sana tidak akan ada yang menahan mu" ucapnya mengaduk-aduk supnya.
"kenapa aku harus keluar?" menyilangkan tangannya didepan dadanya.
"terserah" membuka laci tempat menyimpan peralatan makan.
__ADS_1
Rasya menyusun piring dan mangkuk ke nampan. dia meremas pegangan nampan, memalukan sekali dirinya sekarang.
BERSAMBUNG