
Belanja perlengkapan bayi dimulai sejak danita melihat sebuah toko yang menjual baju-baju bayi yang menggemaskan. seakan lupa dengan perutnya yang membesar, si ibu hamil ini berjalan ke sana kemari dengan membawa troli.
Sementara suaminya? sudah menatap ngeri ke perut sang istri, sungguh danita seperti lupa ada dua janin kembar di dalam perutnya.
"sya sya lucuan ini apa ini?" mengangkat satu baju bayi dan satu lagi di tangan kanannya.
"ini lucu si ada sepatunya gitu, ih gemes" mengambil gantungan dan menatapnya gemas.
"tapi yang ini ada kantongnya, sama-sama gemes gimana dong" bimbang sudah bumil satu ini.
"beli aja dua-duanya, gak bisa milih ini mah semuanya gemes-gemes" rasya dilanda bimbang dengan pilihan yang di berikan danita.
"oh iya" langsung menaruh dua gantungan baju itu ke dalam troli.
Mereka berdua berjalan lagi mengitari toko besar ini dengan terkagum-kagum setiap melihat ada baju yang gemas. karna anak danita itu kembar nanti, pasti nanti dia akan mendandaninya dengan baju yang samaan. coba bayangkan, sangat menggemaskan bukan?.
Dimana rangga dan zan? mereka lebih memilih untuk memisahkan diri dari dua wanita yang sedang berkutat di dalam toko itu. hanya berjarak beberapa meter dari pintu toko itu, terdapat empat pasang mata yang setia menatap ke dalam toko baju bayi itu.
"ihh gemes baju mandinya"
"yang warna hitam ada kepala pinguinnya sya, yang mana ya?" kebimbangan kembali melanda.
"yang item si kayak jarang gitu yang punya"
Danita langsung merebut baju mandi yang sudah satu paket, sepertinya itu memang khusus untuk anak kembar.
sret
Bunyi gantungan yang di rebut itu membuat sepasang mata menengok ke samping.
"maaf mba saya yang duluan mengambil baju mandi ini" ucap danita sambil tetap memegang erat gantungan itu.
"tidak bisa gitu mba, saya duluan yang melihat ini dari kejauhan" tak mau kalah orang yang di panggil mba sama danita menarik gantungannya.
Bukan danita namanya kalau membiarkan apa yang sudah dia pegang duluan direbut.
"tapi saya yang mengambilnya duluan mba" menarik kembali gantungan itu.
"tapi saya yang melihatnya duluan!" menatap tajam danita dan menariknya lagi.
Terjadilah rebutan baju mandi disana, dengan rasya di tengah-tengahnya. rasya yang berniat membela temannya langsung memegang gantungan yang di perebutkan itu.
"gak bisa gitu dong mba, walau mba yang melihat duluan, tapi teman saya yang mengambilnya duluan" sudah memeluk baju mandinya.
"yang penting saya yang melihatnya duluan!" ingin merebut baju mandi itu dari dekapan rasya.
"oh gak bisa gitu! yang mengambil duluan dia yang punya, gada sejarah yang melihat duluan dia yang punya!!" tekan rasya kesal, ah sungguh muka julit rasya sudah keluar.
"pokoknya ini punya saya!" menarik lagi baju itu.
Rasya dengan sarkas langsung menariknya lagi dan berdecak pinggang disana sambil memegang baju mandinya. "hei mba kenapa tidak meminta karyawan disini untuk mengambilkan stok baju ini? sudah tahu sudah ada yang ngambil tetap aja kekeh" menatap dengan sorot mata yang sama persis seperti emak-emak tukang julit yang biasa julitin dia kalau pulang bersama lelaki yang setiap Minggu dan bulannya berbeda.
"kamu aja, saya mau yang ini pokoknya" beranjak mau menarik baju yang ada di pinggang rasya.
Rasya langsung menatap tak menyangka.
"mbaknya kalo males ngomong bilang aja, saya bisa kok bilang ke karyawannya gitu aja susah" langsung berjalan ke kasir untuk menanyakan stok baju itu, dengan muka yang sudah galak seperti neneknya tapasya difilm uttaran.
Sementara danita? dia mendukung segala perkataan dan perbuatan rasya, emang paling mantep rasya tu kalo tentang nantang orang.
Rasya menggebrak meja kasir yang terbuat dari kasa itu dengan menaruh kasar baju mandinya lalu menatap sang karyawan. "stok baju ini apa masi ada?" seperti itu lah nada bicara rasya, seperti seorang preman yang sedang memalak.
__ADS_1
Sang penjaga kasir tentu terkejut tapi setelahnya langsung bersikap normal. dia melihat baju apa yang rasya maksud lalu dia menggeleng pelan. "maaf kak stok baju ini hanya ada satu karna baju mandi ini termaksud pakaian yang limited edition di toko kami" jawab lelaki yang merupakan penjaga kasir itu ramah.
Rasya menatap tak menyangka lalu dia kembali menatap si mba mba yang tadi perebutan baju dengannya, dia membuang nafas pelan dahulu. "ngalah aja deh mba, teman saya ini sedang hamil muda loh kasian kalo lama-lama disini lagi buat milih-milih baju, liat aja tu perutnya udah gede banget, kembar lagi mba, nanti kalo lama-lama disini terus teman saya melahirkan disini karna kelelahan bagaimana? ya mba? masi banyak kok kak tadi baju mandi yang bag–" ucapannya terpotong.
"saya tidak mau tahu, baju mandi ini saya yang beli" merampas baju itu dari tangan Rasya, berniat ingin membayar tapi tubuh rasya sudah seperti preman di meja kasir itu.
"benar-benar ni orang" dia sudah mengeluarkan asap dari atas kepalanya karna kesal dengan orang ini.
"sya sya udah kita cari yang lain aja yu" menggenggam tangan rasya untuk segera pergi dari sana.
"gak bisa dong nit kan lu duluan yang ngambil bukan orang ini" menunjuk dengan bibir yang mencibir.
"maksudnya apa ya kamu ngomong 'orang ini'? saya punya nama ya!" wanita itu kembali berbalik dan melipat tangannya di dada.
"saya tidak mau tahu siapa nama anda, yang penting balikan baju itu, yang ngambil lebih dulu baju itu adalah teman saya bukan anda!" menunjuk muka orang di depannya.
Habis sudah, danita sudah was-was akan ada adegan jambak-jambakan disini. dia ingin menarik rasya kalau tidak bisa saja rasya terus bergelut dengan wanita itu.
"heh kamu itu masih bocah ingusan yang sopan ya sama yang tua!!" maju mendekat ke rasya yang sudah berapi-api disana.
Rasya acuh tak acuh dia menyilang kan tangannya seperti menantang wanita di depannya yang sepertinya sedang hamil tua.
"dan kamu, kalau sedang hamil muda itu jangan banyak mau, seharusnya kamu yang mengalah karna saya yang lebih tua" sekarang dia mendekat ke danita sambil menunjuk-nunjuk muka danita.
Oh jangan harap danita akan diam saja setelah dibilang seperti itu "hei mba! yang ada yang lebih tua itu yang ngalah sama yang muda, mba belajar dimana? ngomong dulu yang bener baru ngasih tau orang" sekarang dia berdecak pinggang dengan perut besarnya.
Rasya mengacungkan jempolnya ke danita, asik seru ni kalau danita udah berdecak pinggang dan menatap tak kalah menantang.
"anak muda seperti kamu yang harusnya banyak belajar, hmm sepertinya ini anak haram ya? kok mamanya terlihat sangat muda? haha anak muda jaman sekarang be–" ucapannya terpotong karna tangan danita sudah berada di atas kepalanya.
"mba nyindir diri sendiri atau bagaimana?"
HEI! INI ADALAH DARAH DAGING SEORANG PRESDIR ADINATA! KAU SEENAKNYA BILANG KALAU DIA ADALAH ANAK HARAM? BEDEBAH SIALAN! -hati nurani seorang ibu.
"kau mencari ribut ya?!" balik menjambak rambut rapih danita dengan ganas.
"SADAR DIRI! KAU YANG MEMULAI DULUAN" kali ini rasya sudah ancang-ancang untuk menjambak rambut wanita itu.
Beberapa detik kemudian terjadilah adegan jambak-jambakan yang sudah danita ramal tadi, tapi kali ini dia yang memulai tadi.
"mba mba jangan berantem" lelaki kasir itu berusaha untuk melerai pertikaian antara wanita itu.
Dan berakhir dia yang di Jambak oleh rasya "diam kau!" menjambak keras rambut sang lelaki kasir sebagai pelampiasan kekesalannya.
"nona danita!!" terlambat. para pengawal datang terlambat, danita sudah membabi buta disana. kalau para pengawal kesana yang ada mereka bernasib sama dengan si lelaki kasir itu.
*****
"kalau kamu menginginkan baju mandi itu kamu bisa bilang ke aku, akan ku buat baju Mandi termewah dan terlucu kalau kau mau, jangan membahayakan dirimu dan anak kita seperti itu"
itu suara rangga yang tengah menahan amarahnya kepada sang istri tercinta. rahang telah mengeras sedari tadi, aksi yang tadi danita lakukan sangatlah berbahaya, bisa saja wanita tadi mendorong danita sampai terjatuh kalau tadi sang pengawal tidak merelakan rambutnya yang menjadi pitak karna di jambak wanita itu.
Ini juga salahnya, yang lalai memperhatikan istrinya dan malah membahas masalah kecil yang terjadi di kantor bersama zan.
"ma–maaf" danita menunduk takut, ya memang dia salah, ini salah dia. andai dia tadi tak menjambak rambut wanita tadi aksi jambak-jambakan yang mematikan tidak akan terjadi.
Rangga bergerak lebih mendekat ke danita yang sedang duduk dengan kepala yang di tundukan. dengan lembut dia mengusap puncak kepala istrinya dan tangan satunya ia gunakan untuk mengelus perut yang membuncit itu. dia tidak bisa meluap amarahnya kepada istri yang sedang mengandung darah dagingnya.
itu juga merupakan janjinya ke pada papanya bukan? jangan pernah membuat danita sedih. kalau dengan danita, rangga Masi bisa mengontrol emosinya.
"acara jalan-jalannya sudahi saj–"
__ADS_1
"jangan! aku masih mau disini" menatap memohon dengan mata yang seperti anak anjing.
"perlengkapan bayinya biar nanti aku beli satu toko kalau perlu satu mall, sekarang kita pulang" wajahnya datar, hendak menuntun danita untuk berdiri dari duduknya.
Danita menggeleng sambil berusaha untuk kembali terduduk "gak mau sayang, kan kamu janjinya kita yang akan beli bersama-sama, satu toko lgi aja abis itu kita pulang" menggenggam tangan rangga.
"yah masa pulang" raut kecewa rasya terpancar.
Ngomong-ngomong si batu bernyawa yang ada disampingnya ini tumben hanya diam saja. melipat tangannya di dada dan menatap lurus dimana ada rangga dan danita. tapi kok dia merasakan sesak di atmosfer sekitarnya. sungguh rasya tidak tipu-tipu.
Saat dia melirik ke samping dan mendapati zan yang sudah seperti harimau yang siap untuk mengamuk kapan saja, pantas rasya merasakan sesak di atmosfer sekitarnya, orang yang ada di sampingnya sedang menatap tajam dengan muka dinginnya. seperti mengatakan.
"akan ku habisi kau setelah ini"
Rrrrr bulu kuduk rasya merinding seketika.
Lalu dia kembali menatap ke depan, menggigit bibir bawahnya dan ya dia sekarang gemetar.
"tidak" ok mari kita kembali ke dua pasangan yang satu sedang menahan amarahnya, yang satu tidak ingin pulang karna dia belum membeli semua perlengkapan bayinya dan juga danita masih mau berlama-lama disini.
"sungguh kali ini aku tidak akan berbuat apa-apa, kan ada rasya yang akan berada di samping ku, plis ya sayang..?"
Rangga beralih menatap rasya tajam, bagaikan habis jatuh di timpa tangga. rasya tambah gemetar saat mendapatkan tatapan tajam dari rangga. siapapun tolong kutuk rasya menjadi debu yang berterbangan sekarang. cepat!!
Setelah melempar tatapan yang tidak mengenakkan, rangga kembali ke istrinya. "kita pulang" kali ini rangga tak main-main. dia hanya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi nanti.
"aku belanja sama kamu, gak sama rasya, plis plis plis" mengepalkan kedua tangannya, memohon.
Rangga terlihat berfikir sejenak, ini yang dia mau sebenarnya. istrinya mengajaknya untuk ikut belanja keperluan bayinya, bukan Mala mengajak orang lain.
"kalau sudah selesai langsung pulang?" rangga mulai luluh, akhirnya.
"iya!!" semangat danita menjawab.
Danita berdiri lalu menggandeng tangan suaminya. sebenarnya dia mau memakai jurus andalannya, yaitu menggunakan nama bayinya sebagai toleransi terakhirnya.
"urus wanita mu, jangan ganggu aku dengan danita"
Tidak pas rasanya kalau belum menginstruksikan sekertarisnya untuk memberikan hukuman kepada orang yang di sebelahnya yang sudah bergetar takut.
Siapa lagi kalau bukan rasya?!!!.
"huee ibu aku mau di apain" menangis dalam hatinya menatap nanar dua orang yang sedang bisik-bisik.
"baik tuan, panggil saya jika anda membutuhkan saya" menunduk singkat padahal isi otaknya sudah merencanakan sesuatu.
Rangga pergi meninggalkan dua orang yang masi berada di tempat. danita sudah punya pirasat tak enak kepada rasya, ia beberapa kali menengok ke belakang untuk melihat temannya yang mungkin akan bernasib naas bersama sekertaris zan. bibirnya mengucapkan sesuatu tanpa bersuara.
"good luck sya". begitulah danita menyemangati sahabatnya yanga akan di terkam harimau sebentar lagi.
Rasya hanya bisa memasang mimik sedih tidak tidak di buat-buat.
"ikut aku" suara datar dan rendah itu berhasil membuat rasya gemetar.
Kalau tadi rasya sangat senang akan pergi jalan-jalan. tapi sekarang di memilih belajar di rumah dari pada ikut kesini kalau tahu dirinya sebentar lagi akan di habiskan oleh zan.
Rasya ingin pulang!!!.
Bersambung
tapi tadi jambak-jambakannya seru juga -rasya
__ADS_1