Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Dalam Dekapannya


__ADS_3

Hari sudah sangat malam, tetapi belum menyentuh dini hari. tepatnya tengah malam. rasya berjalan sendiri menyusuri jalan yang sudah sepi. melewati beberapa trotoar yang sudah sepi dan berakhir di atas jembatan ini. merasakan tamparan angin yang lembut bersentuhan dengan kulitnya.


Tidak dia tidak akan loncat dari jembatan ini, dia hanya ingin bertegur sapa dengan angin.


"anak kucingnya lucu" menatap kebawah dimana ada dua ekor anak kucing disana.


"andai aku bisa bawa kamu cing" melipat tangannya di pegangan jembatan.


Sunyi menyertai. dia mengingat alasan dia kesini. dia tak ingin mendengar suara melonis yang melengking berasal dari lantai dua rumahnya. dia sudah muak dan sangat membencinya.


"hiks" rasya mulai menangis sambil menyembunyikan wajahnya di lekukan tangannya.


Mungkin rasya dari luar dilihat sebagai wanita yang kasar, sarkas dan bar-bar. tapi sebenarnya dirinya yang asli adalah gadis yang mudah menangis dan sangat rapuh dari dalam. dia ingin membuang kenyataan kalau dia adalah anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya oleh ayahnya, tetapi saat dia mencobanya hatinya malah tambah sesak karna terus menerus ditampar kenyataan.


"rasya gak pernah minta untuk dilahirin yah" lirihnya dalam sunyi.


Rasya akan pergi atau menarik dirinya kedalam kesunyian dan keramaian kalau dirinya ingin menangis. dia tak mau orang lain melihat dirinya lemah. dan dia pun tak suka menangis didepan orang banyak.


"pikirkan perasaan ibu sekali saja yah, tidak apa kalau ayah tak menganggap rasya tetapi tolong pikirkan ibu" mengeluarkan wajahnya yang sudah basah karna air mata.


Dan dia berteriak kencang meluapkan kesal dan sedihnya. ikan-ikan di sungai terganggu tidak ya dengan teriakan rasya?. anak kucing tadi saja langsung kabur.


"kenapa ayah rasya gak seperti ayah vita dan ayah danita?" sesenggukan dia menghirup udara lewat mulutnya.


Rasya kembali membenamkan kepalanya diantara tangannya. sambil sesenggukan dia bertegur sapa dengan angin melalui isak tangisnya.


Tanpa dia sadari, seseorang telah mendengarkan setiap tangisannya dari kejauhan. beberapa menit kemudian udara disamping rasya terasa sempit.


"sepertinya kau ada dimana-mana ya" tidak jadi terkejut dan sekarang kesal.


Orang itu tak menjawab, menatap lurus kedepan. dan karna merasa tak dijawab, rasya mengikuti menatap ke depan.


"kenapa kau keluyuran?" orang itu mulai berbicara dengan nada yang datar.


"bukan urusan mu" menyembunyikan sebagian wajahnya di lekukan tangannya.


"lanjutkan saja aku tidak akan menganggu mu" sedikit melirik rasya.


yang diajak bicara diam. orang ini sudah menganggu dirinya dan sekarang dia menyuruhnya untuk melanjutkan tangisannya. mana bisa sialan.


"hiks" tapi dia masih belum puas tadi.


Orang itu benar-benar hanya menatap ke depan tanpa melirik ke sampingnya. tidak mau mengganggunya, tetapi dia sudah menjadi pengganggu.


Rasya butuh sandaran sekarang. sungguh. dia juga lama-lama lelah dengan semuanya. mentalnya tak sekuat orang kira, dan sekarang dia sangat membutuhkan senderan.


"zan" panggilnya lirih karna takut.

__ADS_1


Orang yang dipanggil zan menengok ke samping, dia sangat tahu apa yang dibutuhkan rasya saat ini. tanpa diintruksikan, zan langsung memasukkan rasya kedalam dekapannya dan menempelkan kepala rasya ke dadanya yang berbalut kemeja.


sempat terkejut karna dia hanya butuh bahu tapi diberi pelukan. ini rezeki atau modus?.


Zan memberi kehangatan didalam dekapannya. mengelus kepala rasya dengan pelan dan membiarkan kemejanya akan basah nanti oleh air mata rasya. mendengarkan setiap isakan kecil rasya yang sepertinya ditahan olehnya.


"jangan ditahan" ucapnya terdengar lembut dan pelan.


Sopan sekali suara zan masuk ke dalam telinga rasya. dan tangisnya mulai ia lepas, karna merasa aman dan nyaman berada di dalam dekapan zan.


srot srot hiks srot


suara hidung rasya yang bersatu dengan suara tangisnya. sudah dipastikan kemeja zan sekarang sudah penuh dengan air mata dan ingus rasya. lebih dominan ke air matanya rasya si.


zan tidak jijik atau pun geli, dia malah menempelkan pipi rasya dengan nyaman di dadanya. jiwa setannya belum datang mungkin.


"bajumu kotor" menarik kepalanya dan menatap tempat tadi dia menangis sudah sangat basah.


"tinggal cuci, mudah kan?" menatap kebawah. karna rasya tingginya hanya sebatas dadanya.


Rasya menjauhkan dirinya dari zan. lalu menghapus pipinya yang ada jejak air matanya. "terima kasih" ucapnya menunduk sambil masih mengusap pipinya.


"lakukan sampai kau puas dan tenang" memasukkan tangannya kedalam saku celananya dan menatap rasya.


ah sialan zan ini, udah tau badannya peluk able malah bilang gitu lagi. -rasya


akhirnya dia menempelkan kepalanya dan perlahan memeluk zan dengan tangan mungilnya. tidak kepeluk semua pinggang zan karna tangan rasya tak cukup. dan rasya mulai menangis lagi. dia merasakan tangan besar zan yang balas memeluknya dengan hangat. menghirup wangi maskulin zan yang seperti sudah menjadi aroma kesukaannya.


Sungguh ini pertama kalinya rasya menangis didepan orang. kecuali danita dan vita, kalau sahabatnya itu sudah lumayan sering. tapi kalau kecuali dua sahabatnya, baru kali ini dia melakukannya. rasya baru pertama kali merasakan sebatapa nyamannya menangis di pelukan seseorang, dielus kepalanya saat menangis dan dipeluk balik untuk menenangkannya. akhirnya tuhan mengabulkan doanya.


"zan apa boleh aku meminta sesuatu?" tanyanya saat dirinya sudah lebih tenang.


"apa?" berhenti mengelus kepala rasya.


"jangan menjauh setelah kau mengetahui segalanya tentang ku, aku membutuhkan orang seperti mu" lirih rasya berusaha untuk mempererat pelukannya. nyaman sungguh.


zan tersenyum hampir terdengar tertawa samar. "aku tidak mau kalau hanya menjadi seseorang yang kau butuhkan" menaruh kepalanya di pundak rasya. membuat rasya terkejut. karna nafas zan terasa di telinganya.


"h–ha?" jantungnya berdebar tak normal.


"aku ingin menjadi lelaki yang kau idamkan bukan yang kau butuhkan" berbicara pelan bahkan hampir terdengar bisikan. deru nafasnya sangat terasa ditelinga rasya.


Oh sial jantung rasya sudah tak normal. gimana ya, tipe lelaki idaman rasya itu jujur sudah ada di zan semua. tampan, tinggi, bisa menjaganya, mempunyai tubuh kekar. hanya satu yang rasya masih ragu dan tak tahu, yaitu rasa sayang pada sosok ibu. apa zan memilikinya?.


selain itu dia juga di sadarkan oleh kenyataan keluarga mantan kekasih zan berasal dari keluarga baik-baik sementara dia sama sekali jauh dari kata baik.


"apa kau masih mau dengan ku setelah mengetahui segala rahasia kehidupan ku?" sebenarnya dia menutupi gugupnya.

__ADS_1


"bagi ku, latar belakang seseorang itu tidak penting, aku mengucapkan itu di cafe berarti aku sudah yakin padamu" menatap rasya lekat dan dalam.


"ayah ku seorang hiper sex" ucap rasya pelan hampir tak terdengar.


"lalu?" tanya zan seolah-olah tak masalah dan tak mempermasalahkan hal itu.


Rasya mengkerut kan keningnya, lemot kah? "apa kau mau mempunyai ayah mertua yang merupakan seorang hiper sex?"


Zan mendekat ke telinga rasya. "yang aku cintai adalah putrinya, tentang bagaimana ayahnya yang nanti akan menjadi ayah mertua ku sebisa mungkin aku akan menerimanya" itu lah yang zan katakan. ya walaupun mungkin dia tak bisa mengontrol emosinya saat rasya ditampar oleh ayahnya sendiri.


jedag jedug


hayoloh jantung rasya udah gak normal. ambulan ambulan ninun ninun.


"modus?" ciri-ciri orang gengsinya gede.


"kalau sungguhan?" menarik kepalanya kembali.


"Y" rasya bukannya sok jual mahal, dia malu sial. jadinya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"kau seperti nona danita selalu memalingkan wajah ketika tuan rangga menatapnya lekat" malah sengaja terus menatap rasya.


"itu tandanya dia malu!" tak habis pikir dimana otak zan.


"aku tahu itu" tersenyum seperti telah menang dari sebuah peperangan.


ah sialan dia dikerjain zan.


"masuk ke mobil" melepaskan pelukannya.


"kenapa?" ciri-ciri orang takut di culik.


"ini sudah malam, kau mau ngapain lagi disini?" menatap rasya dengan tatapan sudah seperti zan yang rasya kenal.


"oh oke" paham maksudnya.


Rasya berjalan ke mobil yang tadi zan tunjuk. dia masuk kedalam dan terkejut saat tak melihat zan disekitarnya.


"anjirt dia kemana?" celingak-celinguk dari dalam mobil.


Mata rasya terhenti di bawah jembatan itu, ada beberapa anak yang duduk disana dan zan yang sedang berjongkok didepan anak-anak itu. mereka terlihat mengobrol, lalu zan seperti mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu diberikan pada salah satu anak disana. zan mengusap kepala anak-anak itu lalu berjalan meninggalkan mereka.


Rasya tersenyum tipis didalam mobil, walau samar tapi rasya masih bisa melihat apa yang dilakukan zan. benar kata sari, walaupun sangat menyeramkan tetapi memiliki hati yang sangat baik.


Walaupun masih ada keraguan, tapi rasya ingin mempercayai ucapan zan. dia ingin merasakan cinta bukan egois yang dia tanam sejak dulu.


Benar bukan yang dikatakan rangga? tidak ada yang harus ditakutkan. rasya sudah dipertemukan dengan lelaki yang benar. jadi buang rasa takut tak beralasan mu itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2