
Gemercik merdu burung-burung diluar sana, menyambut mentari yang sejak pagi sudah menampilkan keindahannya. antara ingin membangunkan manusia dari tidur atau ingin bersenandung bersama-sama dengan terbang bebas diangkasa. menjadi burung itu sangat menyenangkan ya?.
Seirama dengan senandung burung di angkasa dengan merdu tak kalah merdu juga siulan halus seorang lelaki tua yang sedang menyirami bunga-bunga.
"pak tan" panggil zan kecil yang sedari tadi sudah memperhatikan gerak gerik pak tan.
panggilan pertama tidak di sautkan dan malah tambah asik bersenandung.
"pak tan" akhirnya di Manarik-menarik seragam pak tan.
"eh ada apa nak zan?" langsung menaruh tempat Menyiram tanaman itu.
"aku ingin bertanya" ucapnya mengambil tempat Menyiram tanaman yang ditaruh asal oleh pak tan.
"apa itu?" mengambil gunting rumput sambil berjongkok.
"apa itu dokter psikolog?" memperhatikan pak tan dengan tangan yang kesana kemari membagi adil para tanaman yang sedang kehausan.
pak tan sontak menaikkan pandangannya. menatap zan yang juga sedang menatapnya. "nak zan mendengar itu dari siapa?" melanjutkan kegiatannya, memotong rumput.
"aku tadi tidak sengaja membaca satu artikel di majalah tentang dokter psikolog dan gangguan mental" Masi menatap kebawah.
"dokter psikolog yang bapak tau itu seperti dokter tetapi dia mengobati orang-orang yang kesehatan mentalnya terganggu" menggeser sedikit tubuhnya ke rumput yang lainnya.
"mental itu apa?" ikut menggeser tubuhnya tanpa memalingkan pandangannya.
"emmm apa ya, seperti misalnya seseorang yang gampang marah, gampang terkena stres, dan sebagainya" sekarang beralih memetik daun-daun kering.
"aku tidak mengerti" mengkerut kan dahinya dengan mata yang yang tak pernah beralih.
"contohnya seperti seseorang yang mempunyai keinginan untuk mengakhiri hidupnya atau seseorang yang selalu merasa kesepian. itu biasanya dinamakan mentalnya sudah terganggu" menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.
"berati mental itu seseorang yang akal sehatnya sudah terganggu?" mengikuti pak tan yang berpindah tempat.
"bukan seperti itu, mental itu seperti sebuah jaringan di tubuh manusia yang berbeda-beda di setiap tubuhnya" dia mulai bingung.
"berbeda?" kembali menyirami tanaman itu sambil memperhatikan pak tan.
"ada yang mentalnya kuat, ada juga yang mentalnya lemah" menggunting satu daun yang zan tidak tahu itu daun apa.
__ADS_1
"ohh" matanya beralih ke kedepan.
"memangnya kenapa nak zan bertanya seperti itu?" menengok sebentar.
"saat aku membaca majalah itu, disana tertera nomor telepon psikolog anak. ada juga tulisan perceraian orang tau akan membuat anak kehilangan segalanya dan mentalnya terganggu" serunya.
pak tan memberhentikan tangannya, ketika mendengar perceraian dirinya diingatkan dengan kejadian beberapa hari lalu yang membuat hati dan kakinya gemetar.
"kau mengkhawatirkan tuan rangga bukan?" menyelesaikan tangannya dan menatap zan.
zan mengangguk mengiyakan pak tan.
pak tan tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak zan. lalu berlalu meninggalnya.
"pak tan bagaimana kalau kita memanggil dokter itu untuk rangga?" mengejar pak tan.
pak tan berhenti di tempat. tidak mau berbalik.
"sudah dua hari bukan rangga mogok makan?" berdiri di depan pak tan karna sudah tau pak tan tidak mau membalikkan tubuhnya.
pak tan lagi-lagi hanya tersenyum tipis dan menepuk pundak zan pelan. lalu pergi dari sana.
****
"apa aku tidak bisa disini menemaninya?" berdiri didepan lelaki bertubuh tinggi.
"tentu bisa" tersenyum manis lalu mengusap kepala zan.
zan membukakan pintu kamar lalu menutupnya dengan tenang. seorang bocah yang duduk diatas ranjangnya dengan berbagai mainan disampingnya.
dia bermain sendiri.
"selamat siang tuan muda" menunduk sedikit sebagai bentuk hormat kepada bocah kecil itu.
Rangga hanya diam, menatap datar dan kosong.
"perkenalkan nama saya dokter anggara. bagaimana kabar tuan rangga?" tersenyum manis berjalan mendekat.
yang ditanya hanya diam, dia bahkan tidak mendengar dokter itu.
__ADS_1
"tuan rangga?" menyentuhkan tangannya ke pundak kecil itu.
"diam" teriaknya senyaring mungkin.
tetapi itu tidak membuat dokter itu takut atau gemetar. dia malah tersenyum ke rangga, itu membuat rangga heran. dokter itu menatap sebuah mainan anpanman.
"kau tahu kekuatan pahlawan anpanman? " memegang mainan itu lalu di tatapnya.
"tanpa kekuatan" menjawab pelan sambil menatap mainannya yang sedang dipegang orang lain.
"anpanman itu mempunyai kekuatan yang sangat berbeda dengan pahlawan lainnya" masih memegang anpanman yang dia sebut-sebut.
Mendengarkan dengan tenang walaupun sorot matanya sama sekali tidak berubah. begitu pula dengan zan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"anpanman adalah pahlawan baik yang mau membantu semua orang. dia akan mengambil bagian dari tubuhnya yang terbuat dari roti kacang merah untuk diberikan ke semua orang yang membutuhkannya" menunjuk bagian wajah yang berwarna coklat sambil seperti sedang mendongeng.
"hanya itu kekuatan anpanman" menurunkan tangannya yang memegangnya. "tapi apa kau tahu? walaupun sering dikucilkan karna menjadi pahlawan terlemah di dunia, anpanman tidak pernah berhenti untuk memberikan bagian tubuhnya untuk diberikan kepada orang lain" menatap lekat tanpa memberi jarak lawan pandangnya.
"dia bodoh" ucap rangga tidak suka dengan ceritanya.
sang dokter pun tertawa. "dia tidak bodoh tuan, anpanman adalah pahlawan terbaik, pahlawan yang selalu kesepian karna dijauhi orang-orang" menatap hangat manik-manik hitam itu.
meraih tangan kecil yang disembunyikan ke dalam selimut yang tebal lalu ia usap tangan itu.
"apa aku bisa menjadi anpanman?" dia ingin menarik tangannya tetapi tangannya sendiri sangat nyaman dengan usapan itu.
"tentu bisa" tersenyum hangat.
Rangga merasa nyaman dengan senyuman itu, hatinya menghangat. kejadian hari itu lah yang membuatnya seperti ini. tetapi ketika melihat senyuman dokter itu, dokter anggara, dia seperti melihat papahnya Dimata itu.
"mau mencoba menjadi anpanman?" tangannya berhenti tetapi senyuman hangat itu masih ada.
rangga mengangguk.
"seorang pahlawan harus pemberani, jadi maukah anda menceritakan apa yang anda rasakan kepadaku?" nada suaranya itu sangat halus bahkan sangat sopan masuk ke gendang telinga.
rangga mengangguk dan dia tersenyum. bukan senyum pudar tetapi senyuman khas anak seusianya. senyuman itu tipis tetapi sangat bisa dirasakan arti senyumannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo