
Dimalam-malam berikutnya, danita sedang menuggu rangga pulang. jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. tapi dia sudah mengantuk. dia mencuci mukanya berkali-kali agar dia tidak tertidur. karna ini hari yang penting.
"kenapa dia lama sekali?" menguap beberapa kali.
"masa iya dia lupa hari ulang tahunnya sendiri" bergumam sendiri ditemani angin.
Hari ini adalah hari ulang tahun rangga, danita mengingatnya karna waktu itu rangga pernah menyuruhnya untuk mencari tahu tentang dirinya. apa kalian masih ingat?.
"jangan tertidur jangan tertidur" menepuk-nepuk pipinya membuat matanya kembali tersadar.
"tapi kenapa namanya beda ya?" membuka lagi hpnya. "atau memang ini nama aslinya?" memperhatikan situs pencarian itu.
Banyak sekali disana tentang rangga, satu hal yang baru ia ketahui sekarang. nama asli rangga bukan rangga adinata. tetapi saat itu dia melihat namanya rangga adinata sekarang berubah lagi. bahkan rangga saat itu mengucapkan namanya rangga adinata. danita bingung sendiri.
bodoh bukan dia baru mengetahui nama asli suaminya?.
"ahh lama sekali" menyenderkan tubuhnya di pundak ranjang. dia sangat mengantuk.
Pintu terdengar terbuka, tetapi danita sudah tertidur dengan posisi duduk. yang membuka pintu tentu rangga. siapa lagi yang berani masuk ke kamar utama selain dirinya?.
"kenapa dia tidur dengan posisi seperti ini?" menurunkan sedikit tubuh danita, sedikit terpangku di paha rangga.
"cantiknya" mengusap pelan wajah sang istri.
"kamu gak nakal kan?" bisiknya beralih ke perut danita.
danita melenguh saat dirasakan posisinya tidak enak, dia baru menutup matanya tetapi sudah diganggu. tetapi saat dia membuka mata, wajah rangga yang dia lihat.
"sayang aku punya sesuatu" langsung bangun dan menggeser tubuhnya.
baru rangga ingin menciumi wajahnya, sudah digeser duluan.
"apa?" menatap sedikit kesal tetapi juga penasaran.
"kau tidak ingat ini hari apa?" mengambil kotak kecil yang dia simpan di laci dan langsung menyembunyikannya.
"hari ini hari yang sibuk" ucapnya sudah melirik-lirik tangan danita yang disembunyikan.
"coba ingat lagi" meenggeser-geser tubuhnya agar rangga tidak bisa melihat tangan yang ada dibelakangnya.
"memangnya ini hari apa?" ingin sekali rasanya dia menarik tubuh danita dan mengeluarkan apa yang ada dibelakangnya.
"masa gak inget" mengerucutkan bibirnya.
"hari ini hari yang sibuk–ahh" mengingat sesuatu.
danita sudah kegirangan rangga menunjukkan wajah meyakinkannya.
"biasanya kalau tanggal segini zan akan memberikan laporan bulanan" wajahnya itu sangat meyakinkan tetapi nyatanya sangat menyebalkan.
"bukan itu sayanggg!" kesel danita sedikit menaikkan suaranya.
__ADS_1
"lalu?" pasrah saja sudah.
"serius kamu gak inget?" menatap nanar rangga yang sudah malas main tebak-tebakan.
"tidak" jawabnya cepat. dia penasaran sekali apa itu yang ada dibelakang danita.
"padahal ini hari spesial kamu loh" masih menatap penuh harap rangga mengingatnya.
"hari spesial?" mengkerut kan dahinya sedalam-dalamnya.
sudahlah danita geram melihatnya, ini rangga beneran lupa atau pura-pura lupa?.
"selamat ulang tahun sayang" mengeluarkan kotak yang tadi dia sembunyikan dengan senyum manis dan lebar.
Rangga terdiam, ini mah beneran dia lupa sama ulang tahunnya sendiri.
ada emang orang kayak rangga?.
"kamu serius lupa?" mengangkat alisnya dengan tangan yang masi memegang kotak kecil itu.
Rangga malah tertawa ringan membuat danita mengkerut kan dahinya.
"terima kasih" tersenyum tulus namun tipis. membuat ketampanannya terhalang.
"kamu melupakan ulang tahun mu sendiri?" menatap tak percaya. tangannya sudah kosong karna rangga sudah mengambilnya.
"aku selalu ingin melupakannya" terdengar pelan namun masih bisa didengar. tangannya membuka kotak yang sudah membuatnya penasaran.
"siapa yang membuat ini?" membiarkan kotak itu terbuka ditangannya.
Itu bukan sesuatu yang bernilai fantastik, tentu rangga bisa mendapatkannya dengan sesuka hati. maka dari itu danita menghadiahkan sesuatu yang mungkin terkesan jelek dan tidak enak dipandang tetapi dibuat dengan penuh cinta.
"aku" cengengesan melirik hasil tangannya.
"kau turun ke bawah?" nah kan aura-aura tidak enak mulai terpancar.
"enggak sayang aku dibantu sari sama beberapa pelayan lainnya, aku tidak turun malah aku yang merepotkan mereka bulak balik dapur ke kamar beberapa kali" ucap danita menjelaskan agar tidak ada sesuatu yang akan terjadi.
"pelayan pria atau wanita?" menatap danita lekat dan tidak memberi danita jeda untuk mengalihkan pandangannya.
"wanita sayang" ucap danita lembut.
"disini kan ada pak tan, mata telinga mu" dalam hatinya dia protes.
Rangga kembali menatap yang ada disana. bentuknya ada yang bagus, lucu dan ada juga yang sedikit hitam, sedikit tidak rata bentuknya. maklum tidak ada yang sempurna. hal itu membuat rangga tertawa.
"sayang sekali kalau ini dimakan" mengambil salah satu dari ke 10 yang ada disana.
"makan dong, biar tau enak apa enggak" memeluk bantalnya.
"aku tidak akan memakan wajah ku sendiri" menaruh kembali itu menjadi lengkap kembali ber 10.
__ADS_1
Danita cekikikan. rangga langsung mengetahuinya toh, untung lah dia tidak perlu susah-susah menjelaskan satu per satu.
"apa ini? wajah ku tidak pernah seperti ini" mengambil lagi yang lain. hanya untuk di perhatikan bukan dimakan.
"itu wajahmu kalau sedang cemburu" jawabnya menahan tawa. agak malu juga si hasil tangannya yang jauh dari kata bagus.
"jangan mengarang" kembali menaruhnya lalu mengambil yang lain. "apa ini?" mengangkat itu ke udara.
kek apaan aja ya.
"itu wajahmu kalau sedang manja" jawabnya lagi, dengan cekikikan menyertai.
Rangga ikut tertawa ringan melihat itu yang belakangnya berwarna coklat ke hitaman. itu gosong sendiri dia. kenapa bisa ya?.
"maaf ya sayang aku g–"
"ini hadiah terbaikku" memotong cepat dengan tangan yang masih memegangnya. dan senyum hangat melengkapi wajahnya.
Danita tersenyum senang, dia tidak mau menanyakan hal lain. itu sama saja membuka lembaran masa lalu rangga. melihat rangga senang karna hasil tangannya yang jauh dari kata bagus itu sudah membuatnya ikut tersenyum.
"pantas saja mereka bersikap aneh" mengingat kejadian di kantor. semua karyawan tersenyum kearahnya. biasanya hanya membungkukkan badan lalu menyapanya dengan hormat tanpa berani bertatap muka dengannya. dan juga pak tan tadi tersenyum kepadanya. ahh bagaimana bisa dia melupakan hari spesialnya.
"sayang dimakan jangan diliatin saja" sedikit kesal karna rangga hanya memperhatikan hasil tangannya bukan memakannya.
"ini sangat sayang kalau dimakan" masih asik memperhatikannya.
danita mendengus pelan, padahal dia penasaran dengan rasanya.
"makan" mengambil satu dan langsung memasukkannya ke dalam mulut rangga.
Rangga sontak terkejut dan langsung mengunyahnya. rasa aneh muncul di lidahnya.
sial di memakan yang gosong.
"enak tidak?" yang memberi masuk makanan itu menatap polos tanpa dosa.
Rangga mengangguk, tidak mau mengecewakan istrinya. lagi pula dia mengunyah yang gosong, berarti dianya saja sedang sial.
"serius?" matanya sudah bersinar. senang bukan main kan?.
Rangga hanya bisa mengangguk, dengan susah payah dia menelannya.
"terima kasih" memeluk erat tubuh rangga yang masih berbalut jas.
"aku yang seharusnya berterima kasih" mengelus puncak kepala danita sambil mengecupnya penuh sayang. tangan satunya masih memegang kotaknya.
dia kembali tersenyum menatap kotak yang masih dia pegang. itu adalah hadiah terbaiknya yang pernah ia dapatkan. cookies bergambar ekspresi wajahnya di berbagai keadaan, yah memang jauh sekali persamaannya, tetapi kalo yang buat danita apa si yang gak? tetep bagus aja Dimata rangga mah. apa lagi dibuatnya pakai cinta.
aw
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo