Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Tempat wahana (1)


__ADS_3

Kelas danita baru saja dibubarkan, sekarang danita, Vita, dan Rasya sedang berjalan di aula. Rasya yang dari tadi menanyakan tentang kehadiran Rangga yang tiba² dan juga kejadian luck dan juga Rangga. oh sungguh danita ingin menjahit mulut sahabatnya itu.


jangan lupakan audri yang selalu berjalan dibelakang danita dan mengikuti kemanapun danita pergi. danita sudah menyuruh audri untuk berjalan disampingnya saja tapi audri menolak.


"nona danita silahkan ikut saya" tiba² orang berjas hitam berkacamata hitam menghampiri mereka bertiga.


"om siapa?" tanya Rasya was was karna takut itu penculikan.


audri tentu saja langsung berjalan ke danita dan mendekati lelaki itu dan berkata.


"tunjukkan kartu yang ada dilehermu" ucap audri yang sudah berdiri didepan danita dengan tujuan melindungi danita.


lelaki itu mengeluarkan kartu yang dikalungkan di lehernya dan menunjukkan ke audri.


"mari nona ikut saya" membalikan badan.


"e eh iya" langsung berjalan meninggalkan kedua sahabatnya yang masi menatap bingung.


"kehidupan konglomerat memang beda" gumam Rasya dan Vita serempak.


danita berjalan mengikuti lelaki itu bersama audri, menuju mobil yang ada di halaman kampus ini. danita mengenal mobil itu.


"jangan bilang kalau ini...." duga duga danita dalam hatinya saat pintu mobil mulai terbuka.


jeng jeng...


sesuai dugaan danita, siapa orang yang ada di dalam mobil?


"ada apa dengan wajahmu?" yups tidak lain dan tidak bukan orang itu adalah Rangga.


"enggak papa" gugup danita masuk kedalam mobil.


"kok lama?" tanya Rangga memasangkan seatbelt untuk danita.


"kamu saja yang cepat² keluar dari kampus" Elak danita.


"buat apa aku lama² disana?" menatap wajah danita dari dekat.


"sayang jauhkan wajahmu" ucap danita sambil mendorong tubuh Rangga.


"memang kenapa? wajahku kan tampan" Rangga mode nyeselin on.


"ya saja" memutar bola mata malas.


"sayang kenapa?" bingung danita saat Rangga melepaskan seatbelt danita.


"kau lebih aman di dalam pelukanku" ucap Rangga menarik tangan danita untuk masuk kedalam pelukannya.


"dasar gila, apa urat malumu sudah putus?" geram danita dalam hatinya.

__ADS_1


padahal danita sangat nyaman dengan pelukan Rangga, karna pelukan Rangga itu hangat danita merasa aman dan tenang saat berada di pelukan Rangga.


"pura² tidak dengar dan melihat saja" gumam zan sambil mulai menancap gasnya.


"astaga kenapa disini berubah jadi panas?" audri yang duduk di bangku sebelah zan ikut bergumam bukan lebih jelasnya protes dalam hatinya karna tidak berani untuk berbicara.


"sayang kita mau kemana?" tanya danita masih berada didalam pelukan Rangga.


"kesuatu tempat" memainkan jari imut danita.


"kemana?" Masi penasaran dengan yang dimaksud Rangga.


"sudah nanti kau juga akan tau" beralih menciumi ujung kepala danita dengan tangan yang masi menggenggam jari² imut danita.


danita berdecak pelan dan tidak terdengar oleh Rangga. sampai akhirnya sampai ketempat yang dimaksud Rangga.


"tempat wahana?" antusias danita sampai matanya ingin keluar sangking senangnya.


"ini kan yang kau minta waktu itu?" memainkan rambut danita yang terburai indah di pundaknya.


"ayo turun" langsung membuka pintu dan keluar tanpa memperdulikan Rangga.


"seantusias ini kah?" gumam Rangga saat melihat danita keluar terlebih dahulu.


"nona jangan lari bahaya" audri setengah berteriak ketika melihat danita berlari seperti anak kecil.


"hei jangan lari² ntar kau jatuh" Rangga menangkap Tangan danita agar berhenti.


"silahkan tuan nona masuk" ucap zan sudah berada dibelakang.


"heh? kita tidak membeli tiket masuk?" wajah polos yang tidak dibuat buat.


"tidak nona, silahkan masuk" sekali lagi zan mengucapkan itu.


"apa tempat wahana ini punya mu?" tanya danita menatap Rangga bingung.


"tidak"


"lalu bagaimana..."


"sudah ayo cepat masuk" langsung dipotong oleh Rangga.


mereka berempat memang masuk tanpa membeli tiket, karna zan hanya perlu memberikan kartu nama punyanya dan kartu nama milik Presdir adinata grup yaitu Rangga. dengan kartu nama Rangga mereka berempat bisa masuk tanpa tiket.


tiket masuk tidak ada artinya dibanding kartu nama seorang Rangga adinata. silahkan tepuk tangan semuanya:).


sebenarnya disini yang menikmati wahana hanya Rangga dan danita, bagaimana dengan zan dan audri? mereka berdua hanya memperhatikan sekitar dan memastikan keadaan. sesekali audri pergi untuk membeli cemilan.


"sayang ayo naik itu" dari tadi danita terus menarik Rangga kemana mana sampai Rangga mulai lelah.

__ADS_1


"astaga kenapa dia sangat bersemangat dan tidak lelah sama sekali" eluh Rangga saat sudah sangat lelah ditarik kemana mana dengan danita. bahkan mereka sudah menaiki roller coaster dua kali dan sekarang Rangga mual.


"sudah sudah mau berapa kali kau menaiki itu?" akhirnya danita berhenti.


"umpung gratis gk bayar" enteng danita.


"hei aku bisa mengajak mu kesini kapan saja mari kita duduk dan beristirahat" nafas Rangga sudah tidak beratur.


"sayang kamu kenapa?" panik danita.


dan...


huek huek


Rangga muntah akibat mual yang amat mual yang dia rasakan.


"astaganaga sayang kau muntah, air air" histeris danita yang sedikit bisa dikatakan berlebihan.


zan yang mendengar keributan itu langsung menghampiri Rangga yang masi memuntahkan isi perutnya.


"tuan ini minum dulu" memberikan sebotol air mineral yang masi utuh belum diminum.


Rangga mengambil botol mineral itu dan menengguknya hingga sisa setengah dan keringat bercucuran di dahinya.


"tuan duduklah" ucap zan sambil menggiring tumbuh rangga kekursi yang ada didekat situ.


"saya akan membeli minyak angin dulu" hampir zan hendak pergi tapi Rangga menahannya.


"tidak usah, aku sudah merasa lebih baik" ucap Rangga Masi bernada lemas.


"maaf" lirih danita menundukkan kepalanya dan Masi berdiri didepan Rangga.


"kenapa kau meminta maaf?" mengernyitkan dahinya.


"karna antusias ku kau jadi muntah" Masi menunduk.


"hei kau ini bicara apa?" kata²nya menggantung. "zan jelaskan" meneguk air mineralnya lagi.


"tuan Rangga memang tidak bisa menaiki wahana yang tinggi, bukan takut ketinggian tapi tuan Rangga selalu mual jika menaiki wahana tinggi seperti itu" jelas zan.


"tapi ini tetap salahku" kembali menunduk.


"sudah lah ini bukan salahmu, sana kau cari makan bersama dia" menunjuk audri yang ada disebelah danita.


"yeyy makan, ayo mba" seperti tidak merasa apa yang terjadi barusan, danita langsung kembali bersemangat lagi.


"cepat² cari pasangan sana kau zan" kembali meneguk minumannya.


zan tertawa mendengar perkataan Rangga dan mengingat tingkah danita barusan. itu juga membuat Rangga tertawa samar, dan jadilah mereka saling tawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2