Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Berlebihan


__ADS_3

Rangga keluar dari ruangan bersama zan, raut muka Rangga masih sama masih bermuka merah menahan emosi tapi seketika raut muka Rangga kembali cemas dan gusar saat mengingat danita.


"zan dimana danita?" menatap zan dengan tatapan cemas penuh kekhawatiran.


"nona danita sedang di ruang kesehatan" berbicara cepat.


Rangga langsung melangkah cepat menuju ruang kesehatan, zan yang mengikuti Rangga dari belangkang berlari kecil mengikuti langkah Rangga yang besar.


sesampainya di ruang kesehatan, Rangga langsung mendobrak pintu ruang kesehatan, tentu saja orang² yang ada didalam kaget dengan suara dobrakan yang sangat keras.


"danita" panggil Rangga setelah mendobrak pintu.


danita yang sedang duduk sehabis dipakaikan perban dikepalanya oleh seniornya melotot kaget dengan suara dobrakan pintu dan suara lelaki yang sangat dia kenal.


"kenapa dia bisa disini?" danita sudah mulai takut dengan hal yang akan dilakukan Rangga.


Rangga mendekat ke danita yang masih berekspresi kaget yang bukan dibuat².


"kalian semua silahkan keluar dulu" zan sudah mencium aroma² yang akan rumit untuk dijelaskan.


rasya,Vita, dan senior keluar semua dari ruangan dengan tatapan penuh tanda tanya dan kebingungan kecuali dua sahabat danita yang sudah tau lebih dulu.


didalam ruangan danita menundukkan kepalanya takut kalau Rangga akan marah besar dengannya, tapi saat Rangga sudah berada disamping danita Rangga mengelus kepala danita yang diperban. danita mengangkat kepalanya menatap Rangga dengan mata yang sudah ketakutan.


"apa ini sangat sakit?" Rangga tidak tega menatap danita dengan mata yang berbinar.


"tadi sakit tapi sekarang sudah lumayan mendingan kok sayang" menjawab perkataan Rangga dengan suara lembut dan tatapan seperti ingin menangis.


"zan panggilkan dokter rajwa dan dokter lainnya untuk memeriksa kepala danita kalau perlu bawakan alat medis untuk memeriksa organ dalam kepala danita" Rangga sangat enteng mengatakan itu beda dengan danita, dia tidak habis fikir dengan Rangga, ini hanya benturan biasa tidak usah sampai diperiksa organ dalam. seperti itu lah arti ekspresi wajah danita.


"baik tuan" zan keluar dari ruangan meninggalkan danita yang masih tercengang.


"sayang tidak usah sampai segitunya" danita memegang tangan Rangga yang mengepal disamping danita.


"kepala kau sampai mengeluarkan darah seperti ini kau bilang tidak usah sampai segitunya?" geram Rangga menatap danita tajam.


"akukan sudah diberi obat oleh kakak senior tadi" nyali danita mulai pias ketika melihat tatapan Rangga.


"aku akan tenang saat kau sudah diperiksa dan diobati oleh dokter yang benar" Masi menatap danita tajam dan tangannya Masi mengepal kuat disamping danita.


"haih kenapa dia jadi susah dilunakkan begini" wajah danita pias saat melihat Rangga mengepalkan tangannya dengan tatapan tajam melihatnya.


danita menunduk kembali dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah dan mata Rangga yang sudah sangat kesal itu.


"sayang maaf sudah membuatmu khawatir" masih menunduk, danita meneteskan air matanya, dia merasa sangat bersalah dan hanya bisa menyusahkan Rangga.

__ADS_1


"kau tidak salah yang salah itu dia, kau tidak usah meminta maaf kepadaku" kembali bernada lembut.


"tapi aku selalu membuatmu khawatir" mulai terisak.


"itu sudah menjadi tugasku untuk selalu menjagamu" Rangga memeluk kepala danita, merangkul bahu danita lembut.


"tapi aku hanya bisa menyusahkan mu" danita memeluk Rangga dan menangis didalam pelukan Rangga.


"kau tidak sama sekali menyusahkan ku, kau adalah wanita yang paling aku cintai aku akan selalu menjaga mu dan tidak membiarkan kau terluka sedikit pun" mengecup ujung kepala danita.


"makasi sayang" mengangkat kepalanya, menatap wajah ganteng Rangga.


"sekarang kau harus menuruti perintah ku, periksa kepalamu sampai organ terdalam" mengelus pipi danita menghapus air mata yang menetes dipipi danita.


danita mengangguk sambil tersenyum. tiba² sifat manja danita datang ntah dari mana.


"sayang" manja danita menusuk² bibir Rangga dengan jari telunjuk mungilnya.


"apa?" pura² tidak tau dengan apa yang dimau istrinya.


danita cemberut mendengar jawaban Rangga yang mendadak tidak peka dengan kemauannya. Rangga yang melihat danita sudah memoncongkan bibirnya langsung mengecup bibir danita gemas, danita yang mendapatkan kecupan lembut dari Rangga tersenyum disela² pautan bibir mereka.


"haishh dua orang ini bisa tidak sih liat keadaan dan tempat kalau mau bermesraan" zan hendak membuka pintu tapi apa yang dilihatnya membuat jiwa jomblonya benar² bergetar.


akhirnya zan mengetuk pintu dengan seribu keberanian. danita yang mendengar pintu diketuk langsung melepaskan pautan bibirnya, Rangga yang dilepaskan paksa oleh danita menatap heran. danita melirik pintu yang ada dibelakang rangga, Rangga paham apa maksud dari kode itu dia mempersilahkan zan masuk diikuti beberapa dokter yang mengekor di belakangnya.


"selamat sore nona danita, selamat Rangga" sapa dokter rajwa mengangguk sopan.


"langsung saja periksa danita" perintah Rangga yang ditanggepi oleh dokter rajwa.


"pasien darurat, apa yang telah terjadi denganmu sampai kepalamu diperban seperti ini?" dokter rajwa mulai membuka perban yang ada dikepala danita.


saat membuka perban kepala danita, dokter rajwa melihat luka yang ada dibelakang kepala danita, lukanya memang tidak terlalu besar tapi kalau dibiarkan lukanya bisa infeksi. dan saat membuka perban yang ada di jidat danita dokter rajwa kembali melihat luka goresan seperti dibeset oleh pisau.


Rangga juga melihat luka danita saat perban dibuka, dia kembali mengepalkan tangannya melihat jidat danita, tidak hanya Rangga zan juga menggeram kesal mengingat tingkah bunga kepada danita.


dokter rajwa mulai mengoleskan salep dibelakang kepala danita yang tertutup rambut, suster yang dibawa Rangga memegangi rambut danita agar rajwa mudah untuk mengobati luka danita. Rangga memperhatikan rajwa yang sedang fokus dengan belakang kepala danita mulai merasa aneh, kenapa yang diobati bagian belakang? bukannya yang terluka jidat?.


"zan kenapa rajwa tidak mengobati jidat danita?" bertanya tapi tatapan Masi mengamati danita dan gerak gerik rajwa.


"bagian belakang kepala nona danita juga terluka tuan, karna nona danita mendapatkan 2 kali benturan keras dikepalanya" jawab zan juga ikut memperhatikan danita.


"berani sekali" geram Rangga mengepalkan tangannya.


danita meringis saat dokter rajwa mengoleskan alkohol di luka danita pada bagian belakang kepalanya. sang suami yang mendengar rintisan sang istri langsung mendekat ke danita.

__ADS_1


"pelan² bisa kan?" omel Rangga menatap rajwa tajam.


"ini sudah sangat pelan tuan muda Rangga" balas dokter rajwa tidak menoleh menatap Rangga Masi fokus mengobati luka danita.


Rangga mendengus kesal, ingin sekali rasanya dia memukul rajwa tapi dia masi sadar kalau disini ada danita tidak mungkin kan dia bersikap kekanak-kanakan didepan danita. (setiap hari dia selalu bersikap kekanak-kanakan didepan danita).


bagian belakang sudah selesai, rajwa juga sudah meronsen organ dalam kepala danita tidak ada yang rusak hanya sedikit goresan diluar lapisan kepala danita. dokter rajwa beralih kebagian jidat danita, dengan posisi ini rajwa bisa menatap wajah danita sangat dekat. Rangga yang melihat itu lagi² berdengus kesal.


"kau mau memanfaatkan keadaan agar bisa menatap wajah danitaku dari dekat?", ujar Rangga dengan nada kesalnya, zan menepuk jidatnya merasa pending dengan sahabatnya ini.


"memang harus seperti ini Rangga, nanti kalau aku salah mengoleskan salep dijidat danitamu ini berabe urusannya? bisa² aku ditendang oleh kau" rajwa memang sudah biasa mengobrol dengan Rangga jadi dia santai saja.


"tapi jangan sedekat itu kau seperti ingin mencium danitaku" menarik tangan danita yang dari tadi dia genggam.


"bisa entar dulu gak berantemnya?, sakit jidatku yang hanya ditempel kapas berisi alkohol" melirik tajam kedua manusia yang bertengkar tanpa arti.


para suster dan dokter yang mendengar dan melihat saat Rangga melunak setelah mendengar Omelan danita yang kesakitan hanya bisa berbicara didalam hati.


"apa ini sosok wanita yang menikah dengan tuan muda Rangga?" gumam suster 1 yang berada disebelah dokter rajwa.


"kalau dibandingkan dengan mantan tuan Rangga yaitu bunga wanita ini sama sekali tidak ada apa²nya" kata dokter yang sedang memeriksa tubuh danita lainnya.


"wow siapa wanita mungil ini? sepertinya ada yang berbeda dengan cara bicara tuan Rangga" suster yang lain ikut bergumam didalam hati.


"bodoh!! kenapa kau diamkan kapas itu dijidat danita?" melirik kapas yang menempel dijidat danita.


"kau yang mengajakku ngobrol" langsung melepas kapas yang menempel lalu memberi salep agar lukanya cepat kering dan tidak berbekas.


setelah selesai dengan jidat, dokter rajwa kembali memakaikan perban yang baru dikepala danita. pala sudah selesai, saat rajwa hendak mengembalikan gunting ke suster dia melihat ada luka gores di leher danita dan leher danita terlihat berwarna merah.


rajwa kemabli mengambil salep lalu mengoleskan ke leher danita yang terdapat goresan, memakaikan hansaplast bergambar kartun Doraemon karna menurut dokter rajwa itu cocok dengan kepribadian danita.


"apa ini?" menunjuk hansaplast yang baru dipasang dokter rajwa.


"ada sedikit luka di leher danita jadi aku tempelkan hansaplast agar lukanya tidak terbuka" mengembalikan salep dan sampah bekas hansaplast.


Rangga mengangguk paham.


"rajwa danita membutuhkan istirahat yang cukup kan? agar lukanya lekas sembuh?" memberi kode dengan menajamkan matanya ke rajwa.


"iya, nona danita kau harus banyak istirahat agar luka dikepalamu cepat sembuh" cari aman aja.


"kau dengerkan?, kau harus istirahat dirumah" mengusap kepala danita seperti anak kucing.


danita cemberut mendengar perintah yang dibuat seeanaknya oleh Rangga.

__ADS_1


dokter rajwa pamit pulang berserta timnya meninggalkan ruang kesehatan yang bisa disihir menjadi ruang rawat rumah sakit. setelah kepergian dokter rajwa, danita digendong Rangga keluar menuju mobil yang diparkirkan seenaknya didepan pintu masuk, terserah yang punya kuliah gada yang derek juga tu mobil kalo ditaruh dimana pun.


Bersambung


__ADS_2