
Di malam hari setelah beberapa hari kegembiraan mewarnai wajah semua orang. danita Masi berfikir bagaimana meminta Rangga menceritakan sebuah alkisah kehidupan yang sangat ingin dia tahu. sebenarnya mudah saja, tapi bukan kah ini terlalu sensitif?.
"sayang" panggil danita sedikit lembut karna yang dipanggil tidak ada henti-hentinya bermain di perutnya.
"apa?" akhirnya setelah sekian lama.
"kau pernah berjanji kepada ku kan?" mengehentikan tangan besar rangga.
"tunggu sebentar aku ingat-ingat" menempelkan jari telunjuknya ke dahinya.
"sepertinya semua janji ku sudah ku tepati" menatap bingung.
"ada satu" mengacungkan jari telunjuk didepan wajah Rangga, "katanya lelaki yang dipegang itu janjinya, masa janji sendiri gak inget" menyilangkan tangannya.
Rangga tambah berfikir keras, dia rasa semua janjinya kepada danita sudah dia penuhi. apa istrinya ini sedang mengerjainya?
"sepertinya aku lupa" menggaruk kepala bagian belakangnya.
"menceritakan masa kecil mu" memainkan jari-jari panjang milik Rangga.
Rangga terdengar menghembuskan nafas kasar, apa sesusah itu menceritakan masa kecil kita kepada orang lain? isi otak danita sekarang.
"sepertinya aku sudah pernah mengatakan masa kecil ku sangat berbeda dengan anak-anak lain" membaringkan tubuhnya di sebelah danita.
"yaa memang kamu sudah pernah bilang gitu, tapi aku pingin tahu masa kecil suami ku" memeluk Rangga dari samping.
"nama yang bagus apa ya buat anak kita" membuat tangannya menjadi bantalan kepalanya.
"jangan ngalihin pembicaraan" mencubit perut Rangga. sampai membuat yang punya perut meringis.
"sshh" memegang perutnya yang habis kena cubitan istri.
dan setelahnya tercipta keheningan yang sangat mendalam.
"apa sesusah itu bercerita dengan ku?" mengangkat kepalanya menatap wajah tampan yang sedang memejamkan matanya.
"bukan itu" membuka matanya dan pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
"lalu?" mengangkat kedua alisnya. menuggu kata-kata yang sangat menggantung itu.
"aku tidak mau kau melihat sisi hitam dari hidupku" bibirnya memang tak berucap tapi matanya tidak pernah bisa berbohong.
"baiklah tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai kamu sudah mau menceritakannya" kembali berbaring di atas dada Rangga.
tangannya bergerak mengelus lembut Surai panjang dan hitam di lengan sebelahnya. dia terkadang ingin bercerita tapi terkadang juga dia berfikir orang akan menertawakannya.
"aku memang tidak pernah tahu masa kecilmu karna aku seperti orang baru yang berani masuk kedalam hidupmu. tapi ntah kenapa aku merasa sudah banyak yang kamu lalui sendirian, bibir seseorang memang sering tidak mau berucap tetapi mata seseorang tidak pernah bisa berbohong" mengeratkan pelukannya seperti sedang memeluk boneka Teddy bear yang besar.
entah kenapa suasananya menjadi hening, hembusan nafas diatas kepalanya terdengar sangat teratur. dan saat dia menaikkan kepalanya. dan benar saja Rangga sudah tertidur.
"dasar!, aku menunggu mu, Mala tertidur" mencubit kecil hidung mancung didepannya.
Rangga menggesekkan kepalanya kekanan dan kekiri membuat hidung danita bersentuhan dengan hidung rangga.
"baiklah kamu pasti sangat lelah, selamat tidur sayang" mencium lembut kening Rangga.
dia harus menaikkan tubuhnya lagi agar bisa menyentuh dahi Rangga dengan bibirnya.
"aku iri dengan mereka" tiba-tiba gumaman sangat pelan dan terdengar tidak jelas keluar dari mulut Rangga.
"tadi dia bilang apa ya?" menggaruk jidatnya.
akhirnya ikut Rangga masuk kedalam mimpi dengan tangan yang masi memeluk erat tubuh Rangga. tangannya tidak berhasil memeluk semua perut Rangga, haiss kenapa dia ini sangat besar?.
****
cup cup cup cup
suara kecupan lembut sangat mengganggu tidur danita, dan saat dia membuka matanya, yah Rangga sudah seperti malaikat yang berada dibawah sinar matahari.
"pagi" tersenyum secerah mentari diluar sana.
Rangga menggesek-gesekkan hidung dan jidatnya di hidung dan jidat danita. entah apa yang ada di otak Rangga sampai-sampai dia berbuat seperti ini.
"sayang kenapa?" memberhentikan kepala Rangga yang masi bergerak.
__ADS_1
"tidak apa-apa" dan satu kecupan singkat di bibir merah alami danita.
"Untung aku sudah terbiasa dengan sikap anehnya" mengernyit ketika sinar matahari langsung menampar wajahnya. silau
"jam berapa ini sayang?" menikmati keindahan didepannya yang tidak ada tandingannya.
"jam 10" ucapnya santai.
"apa?!! astaga aku kesiangan" terduduk seketika.
"tidak masalah kau kesiangan, mau tidur seharian juga boleh" sangat santai dengan kepala yang sudah diposisikan di tempat yang seharusnya.
"apa-apaan itu" melirik tajam.
"tidak ada yang salah kan?" mulai kemana-mana.
"ahaha geli sayang" menggeliat dibawah dekapan rangga.
"ahh jadi males ke kantor" sudah aba-aba melepaskan dasinya.
"ahahaha tidak akan ku biarkan sayang, sana berangkat" mendorong tubuh Rangga sampai mendarat di sandaran ranjang.
maaf banget aku lupa namanya apa ༎ຶ‿༎ຶ
oke mari buang pikiran di otak kita.
Rangga tertawa terbahak-bahak, dan setelah itu mencium penuh sayang dahi dan bibir danita. setelah itu Rangga kembali membenarkan dasinya.
"nanti malam akan ku tepati janjiku" ucapnya pelan dan halus sekali.
danita menajamkan telinganya seketika dan dapat didengar jelas olehnya. oh tentu saja rasa senang ada di hatinya. lalalala dia sangat tidak sabar menunggu malam tiba.
"hati-hati sayang" teriak danita saat rangga sudah diambang pintu.
"hm"
terserah apa yang dikatakan Rangga tadi, yang terpenting akhirnya dia akan mengetahui cerita masa kecil suaminya. senang bukan main, karna itu tandanya dia akan mengetahui lebih dalam tentang suaminya bukan? dia sangat senang karna tidak ada orang yang mengetahui banyak tentang rangga. hanya Presdir adinata. mungkin hanya itu yang orang-orang tau. bertanya kepada sekertarisnya sama saja menembakkan anak panah yang akan menjadi Boomerang kepadanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
ps:ingatkan author jika ada typo