
Matahari sudah menyilaukan kamar utama dimana pasutri yang ada didalam belum menandakan adanya tanda-tanda bangun dan sudah ada kegiatan didalam kamar.
Rangga dan danita Masi terlelap didalam selimut dan danita Masi tidur nyenyak didalam pelukan Rangga. pemandangan yang sangat membuat hati kaum jomblo bergetar.
"tuan saya boleh masuk?" ucap zan yang berada di luar kamar.
Rangga terbangun karna suara zan dari balik pintu, dia menggeser kepala danita tanpa membangunkannya lalu mengambil jubah mandinya yang berserak di lantai dan berjalan membuka pintu dengan muka bantalnya.
"ada apa?" tanya Rangga setelah membuka pintu lalu menutupnya tapi tidak sampai habis.
"tuan anda tidak kekantor?" tanya zan mencoba membaca situasi.
"zan ini hari apa?" tanya Rangga menyisir rambutnya dengan jarinya.
"hari Sabtu" jawab zan cepat.
"liburkan seluruh karyawan hari ini" ujar Rangga.
"eh kenapa? apa akan ada perang dunia?" pikir zan.
"aku ingin menghabiskan waktu dengan nitaku hari ini" seperti bisa membaca pikiran zan.
"sudah kuduga pasti karna nona danita" gumamnya.
"hei jangan melihat kedalam kamar, danita sedang tidur tanpa memakai baju" ceplosnya membuat zan terkejut dan tidak menyangka tuannya akan menjawab seperti itu.
"maaf tuan, selamat menikmati hari libur anda" mengangguk sopan lalu berlalu didepan Rangga.
Rangga kembali masuk kedalam kamar, tapi dia tidak kembali tidur lagi seperti danita yang masi terlelap di bawah selimut, dia berjalan ke ruang ganti baju dan melangkah ke kamar mandi
sementara diatas ranjang, danita mulai memberi tanda kalau ia akan bangun. tapi danita saat membuka matanya merasa sangat mual dan aroma apa ini dia tidak tahu yang membuat dia ingin muntah.
segera danita memungut jubah mandinya dan berlari masuk ke kamar mandi.
Rangga yang hendak keluar dari kamar mandi dikejutkan dengan danita yang tiba-tiba masuk dan memuntahkan isi perutnya ke tubuh Rangga yang sudah bersih tadi.
anehnya danita merasa mual sekali saat mencium aroma tubuh Rangga, dan akhirnya dia berlari ke wastafel dan memuntahkannya lagi.
bagi danita terkadang aroma tubuh Rangga sangat memualkan dan membuatnya ingin muntah saat mencium aroma Rangga. padahal tubuh Rangga tidak pernah tercium bau tidak sedap.
"danita kau kenapa?" panik Rangga sudah tidak perduli dengan tubuhnya yg sudah kotor lagi itu.
"kamu ba—" belum sampai menyelesaikan ucapannya danita langsung muntah la lagi.
"ha? apa?" bingung sendiri dibuatnya Rangga.
danita tidak kuat untuk berbicara akhirnya danita mendorong tubuh Rangga sampai jauh darinya, danita tidak kuat mencium aroma tubuh Rangga.
"kenapa dia mendorongku?" Rangga Masi tidak paham dengan danita.
__ADS_1
akhirnya Rangga dengan cepat membersihkan muntahan danita di perutnya dengan tissue basah dan mengambil baju santainya dan memakainya dengan cepat.
Rangga berlari kebawah sambil memanggil pak Tan dan zan yang sedang berbincang di depan.
"pak Tan zan" teriak Rangga menuruni tangga yang panjang itu.
zan yang telinganya sangat tajam itu mendengar teriakan Rangga memanggil dirinya dan juga pak Tan.
"tuan Rangga memanggil kita?" pak Tan pun mendengarnya.
zan langsung berlari masuk kedalam rumah dan menemui Rangga yang sudah berada di anak tangga terakhir dan menghampiri Rangga yang sudah berwajah panik itu.
"ada apa tuan?" tanya zan ikut panik melihat wajah rangga yang cemas itu.
"panggilkan rajwa sekarang cepat" tegas Rangga.
"baik" zan langsung mengeluarkan hpnya dan memencet no dokter rajwa.
sementara pak Tan langsung menuju dapur menyiapkan makanan untuk dokter rajwa saat datang nanti.
Rangga langsung naik lagi keatas menemui danita yang tadi Masi muntah di wastafel. Rangga sampai lupa kalau ada telfon yang tersambung ke bawah dan lebih gampang dari pada menuruni tangga yang panjang itu sampai bawah.
"Nita" Rangga masuk kedalam kamar mandi melihat danita yang sedang mencuci mulutnya, tapi saat Rangga masuk danita kembali mual lagi.
"sayang jangan deket-deket aku dulu, aku terus mual kalo cium bau kamu" ucap danita Masi muntah.
******
"apa maksudmu aku harus menjauhi danita selama sebulan?" teriak Rangga memenuhi ruangan.
"tapi dilihat dari kondisi danitamu dia tidak bisa berada dekat dengan mu" rajwa sudah menjelaskan berkali-kali situasinya.
"tapi apa harus sebulan?" amuknya lagi.
setelah pemeriksaan danita tadi, rajwa sudah memberitahu kalau hormon ibu hamil itu berubah-ubah setiap hari, ada banyak jenis macam ibu hamil yang dialami danita ini sudah biasa dialami ibu hamil, tapi ya namanya juga Rangga sedetik pun dia tidak mau jauh dari danita.
"hei Rangga kau bisa membangunkan danita kecilmu itu dengan teriakan mu" ucap Rizal yang tidak tau siapa yang mengundangnya.
"kamar ku itu kedap suara dari dalam maupun dari luar" tekan Rangga.
"lagi pula tidak ada yang mengundang lu kerumah gw" sinis Rangga.
"tadi numpang ke si kutu buku eh ternyata mampir dulu kerumah lu" jawab Rizal santai.
"rajwa apa tidak ada cara lain?" msi tidak menerima kalau harus berjauhan dengan istrinya selama 1 bulan.
"Rangga kan tadi aku sudah bilang itu semua sesuai kondisi danitamu, akupun juga tidak bisa mengaturnya" jelas rajwa berkali-kali.
"lagian atuh kang jangan Ampe jebol dong maennya kan kasian bini lu" lagi-lagi Rizal memancing rangga.
__ADS_1
"eh lu mending angkat kaki dari rumah gw" usir Rangga tanpa ragu.
"ntar tahun depan, tanggung kalo sekarang" memang pada dasarnya Rizal dan Rangga jarang akur dari dulu.
"tuan Rangga nona danita sudah bangun dan mencari tuan" ucap audri tiba-tiba muncul.
"rajwa apa ini yang kau maksud perubahan suasana hati?" tanya rangga.
rajwa mengangguk.
"bilang dari tadi dong, kan cape gw teriak-teriak dari tadi" langsung berjalan kesenangan.
"Rangga gua boleh nginep seminggu disini kan?" teriak Rizal.
"gua bunuh lu pas lu lagi tidur" menunjuk Rizal dari atas tangga.
dan Rizal pun tertawa terbahak bahak senang bisa membuat jengkel sahabatnya.
"zan lu gak bosen liat dua majikan lu itu?" Rizal beralih ke zan bertujuan untuk mencari korban baru.
"kenapa saya harus bosen dengan tuan Rangga?" Rizal sepertinya salah target korban karna cukup dengan beberapa kalimat zan bisa membungkam mulut Rizal yang suka menjengkelkan itu.
"salah target gw sial" decihnya.
"gw gak mau kasi tumpangan ke lu" rajwa langsung berdiri dan berjalan keluar.
"astaga terus gw pulang naek apa?" tanya Rizal menarik lengan rajwa.
"suruh aja ajudan lu kesini" melepaskan tangan Rizal dari lengannya.
"cih!" decih Rizal kembali duduk santai.
"gua gak bakal ngambil apa-apa disini om" berbicara sambil menatap zan yang menatapnya dengan tatapan yang aneh.
"buka seperti itu tuan Rizal saya hanya ingin bilang ajudan anda dari tadi sudah ada diluar" ucap zan seperti mengejek.
"sejak kapan mereka disini?" berdiri dan berjalan keluar.
"cih! padahal dia sendiri yang memanggil ajudannya tadi" heran zan menatap punggung atletik Rizal.
BERSAMBUNG
Ps:ingatkan author jika ada typo:b
NOTE
_____
jadi disini author mau kasi tau kenapa sifat Rizal lebih bar-bar dari pada Rangga dan rajwa itu karna sebelum Rizal mengenal Rangga dan rajwa dia sudah bergaul dengan anak lain, walaupun memang Rizal itu anak dari keluarga terpandang tapi dia sudah terlantarkan karna orang tuanya sangat sibuk berbisnis, itu membuat Rizal lebih terlihat bar-bar dari sifat maupun ucapannya.
__ADS_1