
Bintang-bintang malam sudah datang, cepat sekali hari berlalu. jangan tanyakan apa saya yang dilakukan danita. dia hanya bolak balik dikamarnya, memeriksa hpnya sesering mungkin. jangan lupa pertanyaannya yang belum terjawab oleh Rangga. sungguh dia Masi berdebat dengan pikirannya.
Danita bertanya kepada Vita bagaimana keadaan kampus, tapi Vita hanya menjawab biasa-biasa saja. rasya yang dari tadi mengirim pesan yang hanya berisi umpatan kekesalannya membuat danita jengah. hahaha
"maafkan aku Rasya hihihi" menatap pesan-pesan dari Rasya yang belum satupun dia balas.
lama danita menunggu kepulangan Rangga, yang tadinya dia ingin makan malam bersama rangga tapi tidak jadi karna zan memberi tahu kalau rangga akan pulang sedikit telat. ada kesedihan dihatinya. sedikit kok
"suara mobil masuk" mengintip di jendela.
gerbang rumah terbuka lebar dan nampak lah sebuah mobil yang masuk.
"akhirnya dia pulang juga" seulas senyum terukir disana.
danita kembali duduk diatas kasur. dengan selimut yang masi tersusun rapih disampingnya.
pintu kamar terbuka muncullah kepala manusia dari balik sana.
danita tersenyum saat Rangga sudah masuk kedalam kamar. kecupan dipipi tidak pernah dilupakan Rangga saat dia sudah pulang.
"sudah makan malam belum sayang?" tanyanya lembut.
Rangga mengangguk mengiyakan pertanyaan danita.
"mandi sana" membalas tatapan lekat rangga
satu kecupan terakhir didahi danita. setelah itu Rangga pergi keruang ganti baju.
"sayangg" panggil danita sudah bergelayutan di lengan Rangga.
"kenapa?" menidurkan danita di dadanya.
"jawab yang tadi pagi itu" memainkan jarinya di perut rangga.
"Masi ingat ya?" mulai merencanakan sesuatu.
"kau bertanya apa tadi pagi?" mulai beraksi dia.
"kau selingkuh atau tidak?" dia mengumpulkan keberanian dari segala arah.
"apa kau sangat ingin tahu?" mengelus kepala danita.
"iya!" jawabnya sangat antusias.
"nanti aku kasi tahu kau sakit lagi" beralih memainkan daun telinga danita.
"sakit?" mengkerut kan dahinya.
"lebih baik jangan tahu nanti rasanya sangat sakit loh" mati-matian menahan tawanya.
__ADS_1
"jadi kamu beneran selingkuh?" mau mengangkat kepalanya tapi langsung ditahan Rangga.
"Alice cantik sekali ya" Masi memainkan daun telinga danita. "anggun, cerdas wahh sangat sempurna" Pi boong, lanjutnya dalam hati.
"dia sedang mengerjai ku ya?" mukanya sebenarnya sudah sangat berubah.
"kira-kira kapan ya waktu yang pas untuk memperkenalkan Alice ke publik" hebat sekali kau berakting.
"sebagai selingkuhan mu? kenapa tidak sekalian calon istri kedua saja? pasti Alice mu itu sangat senang kan?" ketusnya.
Rangga menahan tawanya sebisa mungkin. sungguh dia sangat senang bisa mengerjai istrinya.
"wahh sebuah ide yang bagus, baiklah aku sudah mendapatkan izin dari istri pertama besok aku akan memanggil seluruh reporter stasiun televisi" menahan tawa dibalik kata-katanya.
"ih sayangg" memukul-mukul dada Rangga.
"ada apa istri pertama? apa ada penambahan?" menurunkan pandangannya.
"besok bawa istri pertama mu ini biar aku cakar wajah si Alice itu" mempraktikkan ucapannya dengan mencakar dada Rangga yang berbalut baju tidur.
"bwahahahaha" Rangga sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.
dia tertawa sampai wajah dan kupingnya memerah. tapi tangganya Masi memeluk danita. hmm sangat aneh
"setelah aku cakar wajahnya aku akan menendang bokongnya" memukul dada Rangga pelampiasannya.
"hentikan" menggenggam erat tangan danita. tawanya sudah selesai walaupun dia Masi ingin tertawa lagi.
"kamu benar-benar ingin tahu jawabannya?" memegang dagu danita dan tatapan mereka bertemu.
"kau tadi s–"
"mau tahu atau tidak?" potongnya cepat.
"mau" ucapnya pelan.
"kau tahu? banyak sekali perusahaan yang sangat ingin berkerja sama dengan adinata, setiap perusahaan memiliki perwakilan sendiri, sangat sering sebuah perusahaan mengirim perwakilan wanita ke Adinata" memotong sebentar ucapannya sambil mengelus lembut pipi yang mulai berisi itu.
danita Masi menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
"selama bertahun-tahun aku bertemu dengan berbagai perwakilan wanita, tidak ada satu pun yang menarik perhatian ku. Alice adalah perwakilan perusahaan ayahnya yang tidak bisa bertemu langsung dengan ku" matanya yang sendu mencoba untuk menyalurkan kejujurannya di setiap ucapannya. "kau memang bukan wanita yang menjadi perwakilan sebuah perusahaan. tapi kamu, danita putri amalia satu-satunya wanita yang benar-benar bisa menyentuh perasaan ku lagi setelah bertahun-tahun dibuat mati rasa" menatap manik-manik hitam yang terpancar di mata danita.
danita terpana dengan sorot mata yang seolah-olah memberi tahunya arti sebuah ketulusan.
"kau jelek, polos, dan gampang dibodohi" mencolek hidung danita membuat sang empunya hidung berkedip.
"a**hh merusak suana saja!" umpatnya sambil menekuk mulutnya.
Rangga mengangkat tubuh danita dan duduk dipangkunya, dia sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga danita.
__ADS_1
"tapi kenapa aku tergila-gila dengan gadis jelek polos dan gampang dibodohi seperti mu?" bisiknya tepat ditelinga danita.
danita tersipu malu, ya walaupun agak menyebalkan di ucapannya.
"jadi" belum juga dia menyelesaikan kalimatnya langsung dipotong tanpa permisi.
"jadi secantik dan seindah apapun wanita yang ada diluar sana, bagiku danita adinata lah wanita tercantik dan terindah didunia ini. wanita lain lewat" mengibaskan tangannya didepan wajah danita.
"sejak kapan aku ganti nama?" tahan tahan senengnya ditahan dulu yo.
"sejak kau dinikahi Rangga adinata" jawabnya cepat.
"namaku Masi danita putri amalia" ucapnya menyembunyikan wajahnya di cekungan leher rangga.
dia seneng sangat senang berati pikiran yang selama ini menghantuinya tidak benar. tapi senang yang bergejolak itu bercampur dengan rasa malu.
"namamu memang tidak berubah tapi status nama mu berubah menjadi nona Rangga, hanya milik Rangga adinata seutuhnya tidak bisa dibagi dan tidak bisa terbagi" mengelus-elus rambut danita yang wajahnya sudah memerah disana.
"jantung apa kau sudah tidak sehat?" memegang dadanya yang berdegup dengan kencang.
"jantungmu berisik sekali" tersenyum hampir dia melepas tawanya.
"diam" ucap si manusia yang sedang menyembunyikan wajahnya.
"bagaimana setelah mendapat jawaban? sakit kan?" Masi menahan tawa.
"sakit sekali sampai-sampai jantungku berdetak tidak normal" danita memeluk tubuh Rangga dengan tangan kecilnya. dia tahu kalau wajahnya sudah memerah.
"hahahaha" dan yaa tawa Rangga lepas.
"aku ingin mendengar satu ucapan dari mulutmu" sekarang berpindah menjadi menyender di dada bidang Rangga.
"apa itu?" memeluk pinggang danita dengan penuh kehangatan.
"apa kau mencintaiku?" tanya danita dengan mata yang terpejam.
Rangga membawa danita jatuh keatas ranjang dengan posisi yang masi menempel di dadanya. dia dah pw gaes.
"aku telah mencintai gadis jelek sebelum gadis jelek itu mencintaiku" bisik rangga ditelinga danita.
agak merinding saat Rangga membisikkannya, suasana malam bersatu dengan bisikan pengakuan di telinganya. tanpa terdengar sebuah keraguan lelaki itu mengucapkannya.
"terima kasih sayang" senyum tipis menghiasi wajahnya yang cantik tanpa polesan apapun.
"everything I will give to my world" ucapnya lebih terdengar bisikan karna hanya terdengar di telinga danita.
tempat tidur ini menjadi saksi bisu pengakuan yang selama ini dinanti-nantikan wanitanya. tentu saja pengakuan itu adalah sebuah pernyataan yang sudah menghempas segala pikirannya selama ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo
baper gak? gw ketiknya sambil senyum-senyum ni:)