Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Mantan


__ADS_3

Pusat perbelanjaan bahan dapur rumah, itu lah tempat sekarang zan dan rasya berada. setelah kemarin melihat kondisi isi lemari es zan, rasya merasa seperti tinggal dengan sapi, isinya sayuran semua apa zan tidak bosan memakan sayuran terus?. bahkan tadi pagi sebelum zan mengantar rasya ke kampusnya, dia hanya meminum kopi yang bisa rasya pastikan itu tanpa gula.


Benar-benar datar sekali hidupnya itu.


"berapa ya? satu kilogram cukup tidak ya? eh tapi dia nanti dimasakin siapa?" gumam rasya memperhatikan daging ayam segar didepannya.


Zan berhenti dengan troli yang dia dorong sudah banyak isinya. entah lah, zan juga tak mengerti.


"siapa yang memasakkan mu sehari-hari?" membalikkan badannya.


"bibi" singkat zan menjawab.


"bibi? sepertinya kemarin aku tidak melihat ada orang lain" kembali menatap daging-daging segar itu.


"dia akan memasak bila ku suruh"


Rasya ber oh. oke sepertinya satu kilogram itu terlalu banyak. takut busuk ayamnya karna terlalu lama berada didalam lemari es zan.


Mereka berjalan lagi dengan zan yang mendorong trolinya. agak risih dan juga aneh zan melakukannya.


"coklat atau mocha?" berbalik dengan memegang dua bungkus saset minuman.


Zan menatap seperti tak mau menjawab. itu bukan yang dia suka, dia mencari kopi yang biasa dia minum tapi rasya sepertinya tau dimana rak kopi berada, jadinya dia berbelok terus.


"pilih om" menyodorkan dua bungkus itu ke depan wajah zan.


Zan berdecih "tidak dua-duanya"


"terus maunya apa?"


Tak menjawab dan malah mendorong trolinya ke depan rasya. dia menggeser tangannya sampai banyak bungkus kopi yang terjatuh ke trolinya.

__ADS_1


"mau buka pabrik kopi?" rasya melengos menatap kesantaian zan.


"ini yang ku suka tidak ada bantahan ataupun penolakan" menatap datar.


Rasya menghembuskan nafas kasar. keras kepala dia mah, tapi kan kopi itu tidak sehat. awas saja nanti.


"tukang telat keras kepala pula, ada manusia kayak gini!" ngomel rasya dalam hatinya.


Mereka janjian jam tujuh malam, tapi zan datang jam setengah sembilan malam. kesal rasya dia sudah siap-siap dari jam enam, dan zan datang satu jam lebih setelahnya. arghh untung rasya orangnya sabar.


"rasya?" sosok pria berdiri didepan rasya.


Rasya mengalihkan pandangannya dari rak-rak makanan ringan itu dengan segera. agak terkejut dia.


"robin?" berekspresi kikuk.


"ahh gua gak nyangka ketemu lu disini" menyilangkan tangannya didepan dada.


"iya hehe" rasya tambah kikuk jadinya.


Dugh


"siapa kau?" zan datang bagaikan penyelamat rasya.


Dengan muka datar khasnya dia datang dan melingkarkan tangan kekarnya di bahu rasya. merasa terselamatkan dan juga merinding ya rasya.


"siapa ni sya? om lu?" menatap bergantian rasya dan zan.


"buk–"


"siapa kau itu pertanyaan ku, jangan memanggil 'sya' dengan mulut kotor mu, jawab pertanyaan ku" ucapnya dingin tapi menekan.

__ADS_1


Si robin itu tertawa meremehkan dan bergaya sok didepan zan. "saya mantan kekasih rasya, ada masalah?" menaikan alisnya songong.


"sialan kenapa kau sekarang menjadi jujur sekali, dimana bakat berbohong mu itu!" melototi robin diam-diam.


"tentu masalah, mantan hanyalah bekas kekasih, bekas kekasih sama dengan masa lalu, masa lalu seharusnya dilupakan" tegas zan menatap dingin dan penuh tekanan.


"hei om saya hanya menyapa apa itu dilarang dalam kamus masa lalu mu?"


"seorang mantan seharusnya tidak menyapa dengan sengaja kalau memang kau mengerti kata mantan itu, itu sama saja dengan sengaja menyindir seseorang dengan halus, kau pasti akan mengungkit masa lalu mu dengan wanita ku lalu kau akan menyindir seperti apa sifatnya di masa lalu bersama mu, lalu kau akan menyakiti wanita ku dengan sengaja dan akhirnya kau akan menggunakan kata bercanda sebagai alasan konyol mu untuk menutupi kesalahan mu, benar seperti itu?" mengangkat satu alisnya.


Robi tak bergeming, siapa sebenarnya pria ini? 'wanita ku' ? itu tadi yang dia sebut? apa rasya berpacaran dengan om-om?.


terus apa masalah kau😏 -rasya


"ingat posisi mu, mantan !" tekan zan menarik rasya dari sana setelah melempar tatapan membunuh untuk robi.


Rasya tak bergeming mendengarnya. seram tapi kok lucu ya?.


"sya lu pacaran sama om-om? malu gua jadi mantan lu yang sekarang seleranya om-om" setengah berteriak robi mengucapkannya karna rasya sudah cukup jauh zan bawa.


Rasya membalikkan kepalanya lalu dia berucap "gapapa om-om banyak duitnya, dari pada lu sok tapi dompet tipis" mengeluarkan sedikit lidahnya.


Robi berdecih keras. tak menyangka rasya yang manja dan bawel padanya dulu sekarang menjadi berani. tapi dia juga mengingat seperti apa dirinya dahulu. ahh sial dia jadi mengingat masa lalunya bersama rasya.


Sementara rasya tersenyum malu sekaligus senang. sungguh sekertaris zan yang seperti ini sangat menggemaskan di matanya. apa lagi melihat muka kesal sekertaris zan yang masih menempel, bisa dipastikan dia cemburu sekaligus kesal sekarang.


"om senyum" ucap rasya sengaja menggoda zan yang sedang bermuka masam itu.


Zan tetap berjala sambil mendorong trolinya yang sudah ada banyak makanan dan berbagainya. tak perduli apa sudah atau belum rasya menyelesaikan belanjanya.


"ahahaha seram tapi kenapa lucu di mata ku?". agak geli rasya melihatnya.

__ADS_1


tapi menggemaskan, ahh sudahlah. sekertaris zan seperti berkepribadian ganda.


Bersambung


__ADS_2