
Rangga POV
setelah 20 menit menunggu balasan Chet dari danita Rangga mulai terlihat gusar karna dari tadi dia sedang chetan dengan danita sepertinya percakapan seru terjadi tadi.
Rangga mondar mandir didepan mejanya menunggu balasan dari danita, tapi yang ditunggu tidak kunjung mengirim balasan membuat Rangga tambah gusar. dia merasa kalau danita sedang mengabaikannya dia tidak mau sampai di cuekkin oleh danita.
disisi lain zan sedang melihat kearah ruangan Rangga dari ruangannya, dia melihat Rangga sangat gelisah saat dia hendak beranjak pergi ke ruangan Rangga hpnya berbunyi ada pesan masuk.
isi pesan
"selamat sore sekertaris Fauzan kami dari pihak kuliah ingin memberitahu kalau ada suatu kejadian yang menimpa nona danita, tiba-tiba ada seorang wanita yang menyerang nona danita mengakibatkan kepala nona danita terluka akibat benturan yang keras, saya harap anda dan tuan muda Rangga segera ke kampus karna wanita yang menyerang nona danita sedang kami amankan, maaf atas kelelailan kami"
zan menggeram kesal saat membaca pesan itu, dia berpirasat kalau bunga lah yang telah menyerang danita di kampus. sebelum dia pergi menuju ruangan rangga zan sempat melihat kondisi ruangan Rangga, yang punya ruangan Masi mondar mandir. setelah melihat Rangga sudah tidak mondar mandir lagi tapi dia masih berdiri ditempatnya barulah zan melangkah menuju ruangan Rangga.
"ada apa?" melihat kearah zan dengan memutar setengah tubuhnya.
"tuan sepertinya kita harus pergi ke kampus" ucap zan pelan.
"kenapa?" kembali bertanya.
"ada suatu kejadian yang terjadi di kampus tuan" zan sedikit takut untuk memberitahu kejadian yang dialami danita.
"kejadian apa? apa ini bersangkut kepada danita?" menatap zan memutar badannya menghadap ke zan.
zan tidak menjawab dia hanya diam menatap Rangga yang sudah berubah air mukanya.
"katakan sialan" sudah meninggikan suara kesal.
zan tetap tidak bergeming dengan perkataan Rangga yang sudah sangat berbeda.
"zan kau mau buat aku kesal?" nada suaranya sudah sangat kesal dan penuh emosi.
__ADS_1
"tuan sebaiknya kita segera berangkat kekampus" akhirnya Rangga nurut kepada zan dia mengambil hpnya yang diletakkan diatas meja.
"semoga bukan kau bunga dalang dibalik ini semua, kalau memang kau dalangnya entah apa yang akan dilakukan Rangga walaupun kau pernah menempati tempat paling spesial di hati Rangga, menyusahkan sekali" dengus zan dalem hati seraya mengikuti langkah Rangga keluar dari gedung.
zan langsung tancap gas menuju kampus danita, zan melihat air muka Rangga yang sudah tidak enak, Rangga terlihat sangat gusar dan khawatir.
sesampainya dikampus Rangga langsung turun tidak memperdulikan keadaan sekitar, masuk kedalam kampus seenaknya. terserah yang punya kampus dong mau masuk keluar sembarangan.
"selamat sore tuan Rangga" sambut bapak yang dipercaya Rangga.
"apa yang sudah terjadi?" Rangga langsung bertanya.
"mari tuan kita bahas diruangan saya" bapak itu berjalan mendahului rangga, yang ditinggal berdengus kesal dengan basa basi bapak tua ini.
saat masuk kedalam ruangan Rangga melihat sosok wanita yang sangat dia hindari, bukan hanya Rangga yang melihat wanita itu tapi zan juga melihat wanita itu.
"ternyata benar dugaan saya anda ternyata dalang dibalik semua ini, huhh sangat menyusahkan" zan mengepalkan tangannya geram dengan bunga.
"begini tuan Rangga sebelumnya saya minta maaf atas kejadian ini, pada saat nona danita keluar dari kelas menuju lobby, wanita ini tiba² menyerang nona danita dia mendorong nona danita sampai menempel ke tembok dan sesuai para saksi mata yang melihat kejadian itu nona ini juga membenturkan kepala nona danita dengan keras ke tembok membuat kepala nona danita terluka dan mengeluarkan darah, dan ju.." belum sempat bapak itu menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh Rangga.
"apa kau bilang? danitaku terluka dan kepalanya mengeluarkan darah?" nada suaranya sudah sangat berbeda seperti ingin membunuh seseorang.
"i-iya tuan" bapak itu sangat ketakutan dengan sorot mata dan nada bicara Rangga.
"dan siapa yang membuat danitaku terluka?" Rangga mengepalkan tangannya diatas meja seperti menonjok meja.
"nona ini tuan" menunjuk bunga yang sudah bermuka pias melihat sorot mata Rangga yang sudah sangat mematikan.
"berani sekali kau menyakiti danitaku" Rangga meninggikan suarannya kepada bunga.
"apa yang membuat mu berani menyakiti danitaku?" kembali berteriak sekarang Rangga menggebrak meja dengan keras.
__ADS_1
bunga tidak berani menjawab dia hanya menunduk, bunga tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah rangga yang sudah sangat marah.
karna tidak mendapat jawaban dari bunga, Rangga menatap bapak itu dengan tatapan penuh amarah. percayalah inilah tatapan Rangga saat bunga meninggalkannya 3 tahun yang lalu.
"para saksi mata juga bilang nona ini sempat mengatakan kalau nona danita harus mengembalikan apa yang harus dia miliki, dan wanita ini juga bilang tidak seharusnya nona danita masuk kedalam kehidupan tuan dan kehidupan adinata" bapak itu memberitahu semua yang diucapkan bunga.
Rangga tambah marah saat mendengar bunga memaki danita didepan banyak orang, nafas Rangga sudah memburu dan wajahnya sudah merah menahan emosinya.
"bunga aku menyesal pernah mencintai wanita jalang sepertimu, kau berbuat seperti ini membuatku tambah jiji denganmu bahkan hanya sekedar melirikmu saja aku sudah tidak Sudi, kau adalah wanita yang paling rendah dimataku" ucap Rangga dengan suara beratnya berhasil membuat bunga gemetar ketakutan.
"Rangga aku masih sangat mencintaimu, aku minta maaf pernah meninggalkanmu itu memang kebodohan ku aku mohon maafkan aku Rangga" ucap bunga terisak dalam tangisnya.
"bunga asal kau tau luka yang kau goreskan sudah disembuhkan oleh danita, kau yang pernah meninggalkanku bersama lelaki biadap itu semua kejadian dimasa lalu sudah aku kubur didalam pikiranku terutama kenangan masa lalu bersamamu, dan ini terakhir kalinya aku memperingatkanmu aku mencintai danita rasa cintaku kepada danita melebihi rasa cintaku kepada kau dulu, jangan pernah menyentuh milikku yang aku cintai dan aku sayangi" Rangga menekan semua kata²nya dan memberikan sorot mata sangat mengancam kepada bunga.
tanpa sadar pipi bunga sudah sangat basah oleh air matanya, kalau dulu Rangga selalu mengusap air mata yang jatuh dipipi bunga dengan lembut tapi sekarang Rangga tidak akan pernah melakukan itu lagi.
"Rangga" Isak bunga terduduk dilantai.
"inilah akibat kebodohan kau bunga tapi baguslah tuhan sangat sayang dengan tuan Rangga tuan mau memisahkan kalian berdua agar tuan Rangga mendapatkan kebahagiaannya yang sekarang yaitu nona danita" zan.
didalam ruangan itu hanya terdengar Isak tangis bunga yang menyesali kebodohannya dimasa lalu, dia berharap waktu bisa diputar kembali dia ingin mengembalikkan statusnya dulu sebagai kekasih Rangga adinata, yang selalu dihormati oleh orang² karna statusnya kekasih tuan Rangga adinata.
"Rangga apa tidak ada satu kesempatan lagi untukku?" bunga masih sangat berharap untuk kembali menjadi wanita yang sangat dicintai Rangga.
"jangan harap kau mendapatkan kesempatan kedua setelah kau berani kurang ajar meninggalkan ku bahkan kau berani membohongiku" tekan Rangga yang masih bermuka merah menahan emosi yang ada dirinya. mau bagaimanapun Rangga buka tipe cowok yang enteng tangan.
zan yang dati tadi diam memperhatikan keadaan yang terjadi didalam ruangan ini akhirnya ikut bicara.
"nona bunga anda Taukan kalau tuan Rangga tidak akan main tangan apapun kesalahan yang telah anda buat?, jadi keluarlah sebelum tuan Rangga memerintahkan saya untuk menyeret anda" ucapan manusia yang paling dibenci bunga yaitu ucapan sekertaris zan.
bunga langsung berlari keluar dari ruangan dengan keadaan Masi menangis, bunga sangat menyesali perbuatannya akibat perbuatannya itu dia sekarang seperti tidak ada artinya dimata Rangga. ada perasaan kesal dan benci kepada danita tapi perasaan menyesal jauh lebih besar dihati bunga.
__ADS_1
Bersambung