Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Tertangkap


__ADS_3

2 jam sebelumnya


Zan menaruh tumpukan kertas yang barusan dia baca dan sudah ia pisahkan dengan kertas-kertas penting lainnya. tak memperdulikan jam yang sudah berganti dan hari pun juga ikut berhenti.


Libur satu hari bukan berarti dia lepas tugas sementara dari adinata. berjalan ke arah tumpukkan rak-rak buku yang menjulang tinggi dan tertata rapih. sama sekali tak ada suara, hanya suara langkah, lemari kaca yang di buka, dan suara helaian lembar yang di balikkan.


drrt drrt


Melirik sekilas ke arah meja besar tempat ia awalnya berada, ada benda pipih yang baru saja berbunyi menandakan pesan masuk.


...... Audri ......


|


|tuan ini file-file yang anda minta


00.20


Mengirim file yang di maksud masuk ke dalam komputernya. tak lama, semua informasi tertera panjang di sana. membaca dalam sunyi dengan otak yang tak ada hentinya berputar. memecahkan suatu misteri tentang si pelukis L.


"mayoritas orang jepang kesulitan untuk mengucapkan huruf R, kebanyakan dari mereka terdengar seperti mengucapkan huruf L bukan huruf R" Zan menciptakan kerutan di dahinya. dia sudah tahu itu, karna dia sendiri menguasai bahasa asing itu, bahkan dia yang menerjemahkan surat yang tertera di belakang lukisan itu.


"ada kemungkinan dia mengubah inisialnya" gumamnya menatap lamat-lamat komputernya.


"inisial nama yang sebenarnya adalah r."


Tunggu, bukankah lumayan banyak orang-orang di sekitarnya yang berinisial R? Rizal, dokter rajwa, tuan rang–.


Tidak mungkin tuan rangga yang mengirimnya, bodoh!.


Rizal? tidak mungkin, jelas-jelas kemarin dia yang menerima kado dengan bentuk sangat aneh. tentu itu dikirim oleh orang yang aneh juga.


Dokter rajwa? memangnya sejak kapan dokter berkacamata itu menyukai hal-hal berbau jepang? hidupnya hanya di rumah sakit, mengabdi kepada pasiennya.


Lalu siapa? orang-orang yang jauh darinya? kenalan nona Danita? .


Dia mengetik sesuatu dengan cepat disana. dia yang memegang semua data nona Danita saat tuan Rangga memintanya. karna itu merupakan hal yang sangat rahasia, jadi dia memisahkan filenya dan menjadi file yang bergembok.


Bisa? tentu saja bisa! apa yang tidak bisa dilakukan oleh sekertaris Adinata ini.


Mencari nama-nama berinisial R. tapi tunggu, dia seperti melewatkan sesuatu. tapi apa itu?.


Tak mau kalah dengan pikirannya, kembali mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu pencariannya. ini harus cepat di pecahkan.


'Rasya Kurniawan Dwi'


Apakah ini yang dia lewatkan sedari tadi? inisial nama depan rasya adalah R, oke mulai dari sini zan mulai menata setiap ingatan saat bersama rasya.


Apakah rasya menyukai anime? tidak.


Apakah rasya jago dalam hal melukis? tidak.

__ADS_1


Apakah rasya bisa menulis kanji jepang? tidak.


Dari mana zan mengetahui itu semua? ingat perkataan rangga waktu itu yang dia ucapkan untuk menenangkan istrinya.


Zan menghembuskan nafasnya kasar, membanting badannya kebelakang membuat kursi besarnya sedikit mengayun ke belakang.


Siapa lagi kalau begitu?.


Menatap langit-langit ruang kerjanya, sesekali mengerjap saat lampu gantung mewah itu menyilaukan matanya. dia merasa Rasya adalah sumber informasi besarnya. dia juga merasa, rasya pernah mengucapkan sesuatu yang menjadi kunci teka-teki ini. tapi apa itu?!.


Dia memijat pelipisnya sendiri, merasa pening dengan segala yang berkecamuk di pikirannya.


Apakah dia harus menelfon Rasya? tidak, sepertinya gadis itu sudah tidur.


tak


Suara petikan jari seolah baru mendapatkan jawabannya, zan kembali mengetik sesuatu.


Sesuatu yang sedari tadi ia lewatkan. padahal itu sudah ada di depan mata.


****


"besok jadi ya bro!" melambaikan tangannya sebelum keluar dari cafe.


"tunggu aja" seru lelaki lain.


Membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas berwarna hitamnya. melirik ke luar jendela lalu menarik sedikit ujung bibirnya.


Saat mengeluarkan beberapa lembar dari dompetnya, atensinya teralih setelah mendengar pintu cafe di buka.


"selamat datang!" seru wanita kasir itu.


Si remaja tinggi ini tambah menaikkan ujung bibirnya, terdengar langkah kaki mendekat ke arahnya.


"maaf menggangu, bisa berbicara sebentar?" berhenti tepat di belakang lelaki yang hampir menyamai tingginya.


Badan tinggi itu berbalik dengan wajah yang seakan tau setelahnya akan seperti apa. "tentu" tersenyum tipis dan mengangguk.


Setelah membayar terlebih dahulu minuman yang sebelumnya ia pesan, baru mereka duduk di salah satu meja yang cenderung sangat terpojok dan jauh dari keramaian pengunjung lainnya.


Ini akan menjadi perbincangan yang seru.


"apakah saya perlu memperkenalkan diri terlebih dahulu?" ucap si remaja menaruh tasnya di atas pahanya sembarang.


"silahkan" berwajah datar bahkan cenderung tak berekspresi.


Si remaja tersenyum simpul. ini menarik, begitu batinnya. "nama saya Rio, jadi ada apa anda menemui saya disini?"


"saya fauzan, anda bisa memanggil saya zan"


Tatapan serius pun terjadi di antara mereka. keduanya sebenarnya sudah tau identitas lawan bicaranya, hanya untuk basa basi. lagi pula kata si remaja yang bernama rio itu, ini akan sangat menarik. percaya padanya.

__ADS_1


Zan membuka map yang sedari tadi ada di atas meja, mengeluarkan beberapa foto yang membuat Rio tersenyum miring, tapi sayangnya itu sangat tipis.


"kenapa anda tak langsung mengirim hadiah anda ke nona danita?" satu pertanyaan meluncur dari mulutnya. to the point.


"kau tak melihat seberapa sarkasnya suami kakak ku menatap ku? bisa di cabik-cabik kalau ketahuan dengannya" menaruh kedua tangannya di atas meja. ucapannya sangatlah benar, zan juga memikirkannya seperti itu. tapi apa harus dengan cara ini? cara ini sangatlah menyusahkan orang.


Zan mengangguk, membenarkan sifat posesif tuannya "itu memang benar, tapi tidak dengan cara seperti ini. cara yang anda lakukan sangatlah sampah bagi saya, merepotkan banyak orang dengan teka-teki asal yang anda ciptakan, bahkan nona Danita sangat menunggu-nunggu hadiah ulang tahun dari anda, kalau tuan rangga tau itu, anda akan lebih celaka" ujar zan tidak ada penekanan di kata-katanya.


"tuan rangga tidak akan tahu kalau tidak ada yang buka mulut, kak danita akan langsung melupakan penantiannya setelah kau kirim hadiah ku" itu adalah usulan dari anak laki-laki yang sebentar lagi menyelesaikan jenjang SMA-nya.


Zan tertawa renyah, menyesap kopinya sejenak. lalu dia melipat tangannya di dada "saya beri perumpamaan, seandainya tuan rangga sendiri yang menyuruh saya untuk memecahkan teka-teki konyol mu itu lalu saya berhasil memecahkannya dan saya beri tahu siapa pelakunya, apa tuan rangga akan diam saja setelah mengetahuinya? bisa-bisa lukisan mu itu di hancurkan dalam sekali injakan, sekalipun nona Danita meminta mengirim hadiah mu ke dirinya, tuan rangga tidak akan mendengarnya" zan menggeleng.


Rio merasa tercekik dengan perkataan zan, itu memang hanya sebuah perumpamaan tapi dia tahu itu bukan hanya sekedar perumpamaan. bagaimana bisa tuan rangga mengetahui lukisannya? dia mengirim kanvas yang sudah ia lukis dengan penuh hati itu ke adinata dengan nama tujuan adalah Abdillah fauzan, karna dia ingin zan yang hanya mengetahuinya. tapi bagaimana bisa?.


"Rio... kalau kau ingin mengirimnya atas nama ku, kirim lah ke alamat ku, bukan ke kantor adinata" tersenyum miring menatap remeh anak remaja ini.


"sebelum itu, bagaimana kau bisa memecahkannya?"


"sudah ku katakan trik mu itu sangatlah sampah, mengganti inisial nama mu dengan cara berbahasa orang jepang menjadi L, lain kali minta teman mu untuk menulis kanji jepang, jangan dirimu karna itu sangat mudah untuk di lacak, kau ahli dalam menulis kanji, tapi bedakan sedikit tulisan orang dewasa di jepang dan tulisan anak remaja di sana. apa gurumu tidak memberitahu mu itu?"


Bukan tidak mengajarkan, tapi sayangnya Rio tak berfikir sampai sana.


"dan lagi" menyodorkan foto ke depannya "jangan mencari informasi seseorang di komputer yang banyak sekali orang pakai secara bergantian, pakailah cara yang elit untuk mengungkapkan identitas seseorang, itu sangat berbahaya."


Rio menatap foto dirinya yang ada disana, dalam hati ia merutuki kebodohannya karna mencari nama asli zan di warnet dekat rumahnya. itu bisa di bajak dan itu sangat berbahaya.


"kenapa kau mengirimnya dengan tujuan nama ku?" tanya zan.


"karna memang yang ku targetkan adalah kau, bukan tuan rangga" jawabnya jujur, menang seperti itu. tapi itu adalah tindakan paling bodoh sebodoh-bodohnya.


Zan menggelengkan kepalanya, naif sekali remaja ini. "kau menargetkan ku sama saja kau membangkitkan induk kangguru, aku sudah seperti sinyal tuan rangga, kau menargetkan satu diantara lingkungan adinata, berarti kau memicu semua orang untuk mencari mu, termaksud tuan rangga" nadanya datar tapi penuh tekanan. mengingatkan remaja di depannya untuk tak main-main.


Rio menghela nafas paham, dia akui kesalahannya itu. memang benar seperti itu.


Dia tak menyesal sedikit pun, niatnya hanya ingin mengirim hadiah untuk kakaknya. karna dia pikir akan sangat susah, jadi dia menggunakan cara ini. sampai-sampai dia lupa siapa orang terpercaya di kantor adinata.


"lalu akan kau apakan lukisan ku setelah ini?" dalam hatinya ia berharap lukisannya tak dibuang di tempat sampah, setidaknya dia ingin kakaknya melihat hadiah yang sudah ia buat.


"semua keputusan ada di tangan tuan rangga, sekarang kau harus ikut dengan ku"


"kemana?" Menatap penuh tanya dan harap.


"menemui tuan rangga" tiga kata dia ucapkan dengan nada datar.


Rio menghela nafasnya, lagi-lagi dia harus berurusan dengan kakak iparnya yang sangat posesif itu. ini juga akibat kebodohannya, yang tadinya ingin menjuluki dirinya si kancil yang cerdik malah menjadi tupai yang jatuh kedalam lubang.


Cih


Tertangkap sudah kau rio.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2