Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Latar Belakang


__ADS_3

Lama mereka berbincang didalam kamar utama, sampai hari tak kerasa sudah sore. belajarnya harus berhenti karna rasya mengeluh terus menerus. Sekarang didalam kamar utama hanya ada danita dan rasya, vita dan sari sudah pergi duluan. vita yang katanya ingin jalan sama luck dan sari yang dipanggil pak tan.


Danita tak mengijinkan rasya pulang seperti vita, untuk menemaninya sebentar saja.


"jadi gimana sya?" danita memeluk bantalnya diatas ranjang.


"apanya?" rasya memalingkan wajahnya dari laptop danita.


"lu sama sekertaris zan" memperhatikan rasya disana.


Rasya memberhentikan tangannya. lalu kembali mengetik disana.


"ih jawab sya" menepuk-nepuk pundak rasya.


"apaan si" tak menengok ke samping.


"ada perkembangan gak?" ahh dia sangat penasaran.


"perkembangan naon"


"gak usah muter-muterin pertanyaan!, jawab cepat" kesel juga ya.


Rasya tertawa samar, bikin kesel danita memang enak.


"gua lagi jaga jarak sama dia" masih menatapi layar laptop danita di pangkuannya.


"lah kenapa?" membulatkan matanya.


"ya gapapa"


"lu gak suka sama sekertaris zan?" tambah mendekatkan dirinya ke rasya membuat perut buncitnya sedikit menyentuh tangan rasya.


"om-om anjirt" berbicara dengan wajah yang masih menghadap ke depan.


"Halah, om siwon dah om-om lu gila-gilain, alasan lu" menampar tangan rasya sedikit.


"gak usah nampar tangan gue juga dong" melirik tangannya.


"mangknya yang bener"

__ADS_1


Rasya menutup laptop danita dan menatap danita disampingnya yang sudah bermuka-muka penasaran.


"lu tau gak siapa mantannya zan?" sedikit menatap serius padahal mah enggak.


"enggak" menggeleng singkat.


"namanya adinda, cantik banget, baik, ramah, lembut dan kak adinda itu tetangga gua dan udah jadi temen gua"


danita mendengar rasya mengucapkan seperti itu merasa ada yang aneh, apa rasya insecure dengan mantan zan itu? tapi mana mungkin seorang rasya insecure, secara kan dia itu anaknya bodo amatan.


"gua penasaran kenapa mereka putus" menopang dagunya seperti berfikir.


"buat apa lu mikirin kayak gituan? mantan mah yaudah mantan kan lu yang bilang kayak gitu" danita ingin membuat rasya tak memikirkan si adinda itu.


"bukan gitu, kak adinda itu dari kelurga yang baik-baik, latar belakangnya baik, pintar, tidak ada masalah dan hampir sempurna" memandangi laci dibawah sana. tatapannya mulai kosong.


"gak ada yang sempurna sya" ucap danita menatap rasya.


"gua gak tau alasan zan ngajak gua nikah itu apa, di liat dari segi apapun perbandingan gua sama kak adinda itu kayak bumi dan langit, kenapa dia gak balikan aja sama kak adinda? kenapa dia ngajak gw nikah tiba-tiba?" rasya mengeluarkan segala pikirannya selama ini.


"perbandingan itu gak penting sya" danita tahu rasya tak akan mendengarkannya sekarang, dia tahu rasya sekarang hanya ingin didengar. tapi dia ingin walaupun hanya sedikit sesuatu yang bisa membuat rasya semangat.


"ten–"


"gak ada orang yang mau terima seorang wanita yang merupakan anak haram dari seorang lelaki hiper sex dan ibunya adalah seorang penghibur malam, lebih parahnya lagi ibunya sekarang gila karna ulah suaminya yang setiap malam membawa wanita yang berbeda" memotong ucapan danita. tatapannya kosong.


"sya..." danita berkaca-kaca mendengarnya. dia tak mau sahabatnya mengucapkan seperti itu. sakit rasanya saat sahabatnya ini mengucapkan seberapa buruknya dirinya.


"mencoba untuk jatuh cinta pada dia sama aja kebodohan yang disengaja yang bakal nyakitin gua nanti" tatapannya kosong wajahnya datar.


Danita diam dan rasya juga diam untuk beberapa saat.


"kak adinda berasal dari keluarga baik-baik, ayah ibunya merupakan pasutri yang serasi. sementara gua yang disebut calon istri, bahkan tak diinginkan kehadirannya oleh ayahnya" sekarang rasya menatap danita, dalam sangat dalam.


"sya jangan ngomong kayak gitu" memegang tangan rasya dengan mata yang berkaca-kaca.


"sebelum terlambat, sebelum dia tahu tentang rahasia terbesar gua, sebaiknya gua mundur"


"sya kok lu jadi gini? mana rasya yang gak kenal kata takut kalo emang dia mau melakukan itu? mana rasya yang selalu gonta ganti pacar setiap putus? mana rasya yang selalu update story' sama pacarnya setiap malam minggu? dan mana sahabat gua yang gak pernah ragu untuk maju?" suaranya gemetar.

__ADS_1


Rasya tersenyum manis bahkan hampir terdengar tawa samar. "gua hanya sadar diri sebelum di injak-injak" tangannya bergerak mengusap air mata danita yang baru saja jatuh.


"gua gak mau nanti ibu gua dihina hanya karna gila, gua gak mau nanti gua di pisah sama ibu gua, dan gua gak mau nanti ibu mertua gua ngejelek-jelekin ibu gua, lu tau kan kelemahan gua apa?"


Danita menggigit bibir bawahnya, dia ingin bilang kalau zan itu sebenarnya sudah yatim piatu dan danita yakin kalau sekertaris zan itu bukanlah tipe lelaki seperti yang rasya takutkan tadi.


"lu tau kan gua keras kepala? jangan lakukan yang hanya akan menjadi sia-sia, oke?" mengangkat tangannya membentuk oke sambil tersenyum.


Tak tahu danita harus jawab apa. keras kepala rasya sangatlah tak masuk akal. kalau rasya sudah bilang tidak maka dia tidak akan melakukannya.


"satu lagi, lu tau kan kenapa gua sering gonta ganti pacar?" menatap danita yang sedang tak bergerak disana.


Danita diam. jelas dia tahu. rasya sudah mati rasa, akhirnya dia memilih egois. menjalin hubungan dengan banyak lelaki tanpa memiliki rasa sayang ataupun cinta. tapi dia selalu merasa sakit saat dikhianati. alasan mati rasanya yang membuatnya menjadi melupakan rasa sakitnya dan kembali menjadi egois.


"gua pulang ya? dah sore" bangkit dari duduknya.


Danita memperhatikan rasya tanpa menjawab.


"tau gak? gua dari kemarin ngebayangin anak lu nanti kalau dah lahir anjir, yang pastinya si gak mirip lu, jelek soalnya" meledek dan mengeluarkan sedikit lidahnya.


"yang penting tuan rangga cinta" dan itu membuat danita bersuara.


"haluuuu" ucapnya sambil berjalan ke arah pintu dengan gerakan-gerakan aneh tangannya.


blam


pintu tertutup dan rasya menghilang.


Danita menghela nafas pelan lalu mengelus perut besarnya. "tante rasya sangat keras kepala nak, mama harus apa ya?" berbicara pada anaknya. bukan sendiri.


Bersambung


epilog


Rasya berjalan keluar gerbang yang besar ini. matanya menatap hp sepanjang jalan, dia memesan ojek karna dia tak membawa kendaraan kesini. sepertinya ojeknya nyasar, jadi dia harus keluar. setidaknya keluar dari pemukiman mewah ini.


Sebuah mobil lewat berlawan arah dengannya. rasya yang sedang memandangi hpnya tak melirik sedikit pun mobil hitam itu yang lewat. ternyata mobil itu masuk ke gerbang besar yang tadi rasya lewati.


Siapa lagi orang yang ada didalam mobil itu? tentu saja rangga dan sekertaris zan.

__ADS_1


__ADS_2