Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Aroma tubuh


__ADS_3

mobil rangga sudah menghilang dari pandangan danita, dia langsung masuk kedalam gedung dan berjalan menuju kelasnya. saat dia sedang berjalan ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.


saat sampai dikelas danita sudah melihat Rasya yang sedang duduk sambil membaca buku dan menggunakan hensetnya, Rasya terlihat sangat memukau karna dia terkena pancaran sinar matahari.


"hito ni bukanya, makasih ya to udah mau minjemin" mengembalikan buku yang dipinjamkan oleh hito.


"eh iya nit, cepet juga kamu nulisnya" mengambil bukunya.


"hehe, sekali lagi makasih ya to" tersenyum ceria.


"sama sama" balik tersenyum.


danita kembali ketempat duduknya memperhatikan Rasya yang sedang serius membaca buku yang danita tidak tau itu buku apa. danita tidak menghiraukan Rasya, dia mengambil buku dan pulpennya dari dalam tasnya.


"hei gaes" tiba² Vita datang.


"ngagetin aja lu" protes danita menatap vita.


"sorry sorry, eh sya lu lagui baca paan?" mengambil buku yang dipegang Rasya.


"buku pelajaran lah" menarik kembali bukunya.


"tumben bgt lu" duduk di bangkunya.


"ini kan dah mau ujian semester, jgn ganggu gw" kembali membaca bukunya.


"udahlah vit Rasya kan emang gitu berapa Minggu mau ujian baru mau siapin" membuka buku kuliahnya.


"iya sih" Vita pun ikut membaca buku kuliahnya.


"eh btw gw denger² istrinya tuan Rangga sedang hamil loh" ucap Vita membalikan badannya menghadap danita.


"beritanya dah nyebar dikampus" tambah Rasya.


danita tersenyum malu dengan perkataan dua sahabatnya yang tidak ada letak salahnya.


"siapa sih istrinya tuan Rangga?, kyknya dia beruntung banget mendapatkan suami tuan Rangga" ucap salah satu cewek yang duduk didepan Vita.


"gw juga penasaran, pasti istrinya dari kalangan konglomerat mungkin aja si mantan kekasihnya itu" teman yang disebelahnyapun ikut nimbrung.


"tapi kemarin katanya si bunga model yang terkenal itu baru pulang setelah pernikahan tuan Rangga"


"mungkin mereka habis pulang bulan madu"


danita mendengar semua ucapan cewek yang duduk didepan Vita, ada rasa heran kenapa sampai sekarang Rangga tidak mau mempublikasikan dirinya apalagi dia sekarang sedang mengandung anaknya.


danita melupakan semua perkataan dua cewek itu dan kembali fokus menyiapkan untuk ujian semesternya.


tidak berasa hari sudah siang menjelang sore, jam danita sebentar lagi selesai dan dia akan segera pulang. danita benar² menyiapkan semuanya dia mau dirinya mendapatkan nilai yang setimpal dengan kerja kerasnya sendiri.


"selamat datang nona danita" sapa pak Tan ramah sambil tersenyum. danita membalas senyuman pak Tan dengan senyuman sejuta keceriaan.


tapi keceriaan danita berubah karna danita merasa lelah, dia naik ke atas dengan muka yang lesu dan sangat menunjukkan kalau dia sedang lelah.


pak Tan merasa khawatir, dia langsung memberitahu sekertaris zan lewat pesan yang dikirimnya.


danita langsung ambruk diatas tempat tidur, tas dan sepatunya berserakan di lantai, tidak perlu waktu lama danita langsung terlelap dalam sekejap dan masuk kedalam mimpinya.


sementara itu digedung adinata grup zan sedang terlihat gusar diluar ruang meeting, setelah mendapatkan pesan dari pak Tan zan langsung memutar otaknya bagaimana cara memberi tahu Rangga. sekarang atau nanti saja setelah meeting ini selesai. zan benar² berdebat dengan otaknya. akhirnya dia kembali masuk kedalam ruang meeting dan langsung duduk dikursinya.


Rangga melirik zan yang kembali duduk dikursinya memperhatikan orang yang sedang mempresentasikan hasil kerjanya, begitu pula dengan Rangga dia kembali menatap layar yang cukup besar didepannya.


Rangga dan zan sudah keluar dari ruang meeting kembali masuk kedalam ruangan Rangga. sesampainya diruangan Rangga, zan langsung memberitahu isi pesan yang disampaikan pak Tan tadi ke Rangga.


bughh


Rangga menendang kaki zan sampai zan berjongkok dilantai, sakit? tentu sakit tapi zan menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


"kenapa kau tidak bilang dari tadi?" bentak Rangga menatap kesal kearah zan.


"maaf tuan muda" zan kembali berdiri walaupun kakinya Masi terasa sakit akibat tendangan rangga.


"apa yang dikatan pak Tan?"


"nona danita pulang dengan senyuman ceria tapi saat masuk kedalam rumah senyum ceria nona danita berubah menjadi muka lesu dan kelelahan tuan" zan berhasil berdiri dengan seimbang kembali.


"pasti dia kelelahan" gumam Rangga dengan raut wajah yang khawatir.


zan diam tidak bergeming menunggu perintah yang dikeluarkan Rangga.


"kita pulang, atur ulang jadwal hari ini" langsung berjalan keluar.


zan pun mengikuti langkah Rangga keluarga dari ruangan dan tidak lupa dia memberi tahu kepada staff sekertaris untuk membuat ulang jadwal hari ini semua janji yang sudah dibuat undur menjadi besok.


didalam mobil rangga tidak henti²nya menatap keluar jendela ada awan mendung diatas kepala Rangga membuat wajahnya sangat terlihat gusar dan tidak tenang.


"kenapa kau tidak memberitahu dari tadi zan?" akhirnya Rangga bicara tapi Masi menatap kekuar jendela, nada suaranya pun lebih bersahabat.


"maafkan saya tuan muda" minta maaf saja kalau Rangga sedang kesal.


"pasti kau tau kan seberapa berharganya danita dan anak ku yang ada didalam perut danita? dan seberapa besar aku mencintai danita, kau tahu kan zan?" mencekram lengan jas zan.


"maafkan saya tuan muda" hanya itu yang bisa zan ucapkan saat disituasi seperti ini.


"ck, kenapa dengan danitaku?" bergumam sendiri tapi zan Masi bisa mendengarnya.


"nona danita hanya kelelahan tuan, apa janji yang diucapkan anda tadi pagi akan berakhir sampai disini?" zan kembali fokus menyetir.


mobil akhirnya sampai dirumah utama, tidak tunggu lama Rangga langsung masuk bahkan pintu belum dibuka oleh pak Tan dan zan belum turun dari mobil.


"apa yang akan terjadi setelah ini?" zan ikut membayangkan apa yang akan terjadi setelah Rangga naik kekamarnya.


Rangga masuk kedalam kamar dan melihat danita yang sedang tertidur, Rangga juga melihat sepatu dan tas danita tergeletak di lantai. Rangga dengan langkah yang pelan mendekati ranjang yang sudah berantakan karna danita tidurnya tidak bisa diam.


Rangga ikut berbaring disebelah danita, menyatukan jidat mereka berdua. ada rasa gusar didalam hatinya melihat wajah danita yang pucat.


"apa sesulit itu mengandung?" tatapan Rangga benar² tatapan yang tidak tega melihat danita yang seperti ini. dengan tangan yang masih mengelus perut danita, Rangga mencium pipi danita.


danita menggeliat, perlahan-lahan danita mulai membuka matanya. saat dia bangun dia langsung melihat Rangga yang sedang berbaring disebelahnya, danita langsung duduk sambil merapikan rambutnya yang sangat berantakan.


"sayang kapan kau pulang?" menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"beberapa waktu yang lalu" memainkan ujung rambut danita yang terburai panjang dan gelombang dengan indahnya dipundak danita.


danita melihat keadaan sekitar dan dia sangat terkejut melihat tas dan sepatunya berserakan dilantai.


"astaga kenapa aku lupa menaruh tas dan sepatuku?" danita hendak bangun tapi ditahan oleh Rangga.


"mau kemana kau?" Manahan tangan danita agar tidak pergi kemana².


"beresin tas dan sepatuku yang berantakan disana" dengan polosnya danita menunjuk lantai yang terdapat tas dan sepatunya.


"tidak usah biar nanti aku panggil pelayanan untuk membereskan itu" menjatuhkan tubuh danita lagi diatas kasur.


"hei gila kau yah? itu barangku sendiri aku harus membersihkannya sendiri" danita hanya bisa ngomel didalam hatinya.


"danita" panggil Rangga sambil memainkan tangan danita.


"hmm kenapa sayang?"


"apa kau merasa kelelahan semenjak kau hamil?" tangan satunya beralih mengelus pipi danita.


"tidak, hanya tekadang aku merasa lelah saja" memeluk tubuh Rangga.


"aku memang mengizinkan mu kuliah sampai ujian semester, tapi sepertinya kau membutuhkan pengawal" ucap Rangga enteng.

__ADS_1


"gak usah" danita langsung duduk kembali.


"diam" kembali menarik danita kedalam pelukannya.


"baiklah tidak apa tapi jangan cowok" mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah suaminya.


"hmm baiklah" Rangga sudah tidak bisa membantah permintaan danita kali ini.


"sayang sana kamu mandi aku mau muntah nyium bau kamu" danita menjauh dari Rangga sambil menutup hidungnya.


Rangga tentu saja langsung mencium bau dirinya sendiri, tapi dia tidak mencium bau asam atau keringat di bajunya malahan yang tercium parfumnya yang masi melekat dijasnya.


"memangnya kenapa dengan bauku?, aku tidak mencium bau keringat ku" membuka jas yang dia pakai.


"sudah sana mandi aku sangat mual mencium aroma tubuhmu" usir danita sekali lagi.


"hei sudah jelas² tubuhku tidak bau keringat" mendekat ke danita dan mau memeluk kembali tubuh danita tapi danita langsung lari kekamar mandi.


huekk


danita langsung berlari kekamar mandi meninggalkan Rangga yang menggantungkan tangannya diudara.


"kenapa dengannya? aku tidak sama sekali bau keringat" berjalan kearah kamar mndi.


"jangan mendekat" larang danita saat sudah melihat Rangga berada didepan pintu.


Rangga keluar dari kamar dengan wajah yang sedikit kesal, sesampainya di bawah Rangga langsung menghampiri zan yang sedang duduk dimeja dapur.


"zan" Rangga menepuk pundak zan.


"ada apa tuan muda?" langsung sigap berdiri.


"apa aku bau keringat? atau bau yang tidak enak dicium lainnya?" langsung bertanya sambil mendekatkan tubuhnya ke zan.


"tidak tuan, anda Masi wangi tidak tercium bau keringat sama sekali" jawab zan.


"memangnya kenapa tuan?" sambung zan bertanya.


"kenapa danita mual? katanya dia ingin muntah saat mencium aroma tubuhku" jawab Rangga ikut duduk disebelah zan.


"bagaimana cara ku untuk menjelaskannya?" sebenarnya zan paham dengan situasi seperti ini tapi dia bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Rangga.


"itu karna efek dari kehamilan nona danita tuan" mungkin sedikit demi sedikit Rangga paham itu pikir zan.


"memangnya anaku bisa mencium bau tubuhku?" Rangga benar² tidak mengerti dengan apa yang dikatan zan.


"bukan seperti itu tuan" haihh gimana caranya agar dia paham.


"anak yang ada didalam perut nona danita memang tidak bisa mencium aroma tubuh orang lain. tapi saat wanita sedang hamil, bawaan dari sang bayi atau ngidam yang dimau dari bayi itu sendiri berbeda² kalau tentang nona danita merasa mual saat mencium aroma tubuh tuan itu mungkin bawaan dari bayinya" zan berusaha menjelaskan serinci rincinya.


"jadi maksudmu anakku tidak suka aroma tubuhku?" sudah dengan tatapan serius.


"terlalu rumit untuk anda ketahui dan terlalu susah untuk saya jelaskan"


"bukan gitu juga" zan menggaruk kepalanya.


"jelaskan yang benar" sok pintar tapi sebenarnya dia juga tidak paham.


"saat nona danita mencium aroma tubuh kau pasti anak yang ada didalam perutnya juga ikut mencium lewat indra penciuman nona danita, mungkin karna parfum yang kau gunakan terlalu kuat baunya jadi nona danita merasa mual" seperti itu pokoknya.


"jadi karna parfum ku, besok ganti semua parfum ku ubah wanginya yang lebih lembut dan tidak kuat baunya" perintah Rangga seenaknya.


"baik tuan muda" turuti saja semua yang dikatan olehnya.


"baiklah aku sudah mengerti, ternyata kau banyak ilmu yang tersimpan di otakmu itu" menepuk² pundak zan beberapa kali.


zan hanya tersenyum tipis tidak berbicara hanya diam sampai Rangga menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"ini sebenarnya yang bodoh aku atau kau sih bocah ingusan" gumam² zan dalam hatinya.


Bersambung


__ADS_2