
Pagi hari, bumi dijatuhkan banyak tetes air hujan. dingin menampar kulit sedari pagi.
"vit dia udah tahu tentang itu" memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya.
"dia?" menengok ke samping dengan mulut yang penuh.
yang ditanya diam. tidak mungkin orang yang disampingnya ini tidak tahu yang dia maksud.
"ohh" mengangguk sambil mengunyah.
"baguslah kalo dia tahu"
"mala petaka anjir" menatap jendela besar yang terdapat rintik-rintik hujan.
"gada salahnya lu terbuka sama orang lain sya" berhenti mengunyah.
Rasya diam, dia bingung.
"bagus lah kalo dia tahu kan ka–"
"suttt diem jangan bacot" langsung menutup mulut sahabatnya.
dia baru sadar disini agak ramai.
"gua gak mau ngeliat lu kayak dulu lagi" memutar kepalanya ke samping.
Rasya tersenyum. "enggak bakal" menepuk pundak vita.
"ini saatnya lu nemuin kebahagiaan, gua yakin ini saatnya" memegang tangan rasya yang agak dingin.
Rasya menengok ke samping. benarkah ini saatnya? tapi kenapa hatinya ragu.
"ke kelas ayo, bentar lagi dah mau mulai" memakaikan tasnya.
Vita membuang nafas kasar. rasya bertingkah seperti itu, malah membuat Vita tak nyaman.
"vit mau gua kasih tau info mencengangkan gak?" menatap vita yang berjalan disampingnya.
"apa?" vita udah semangat 45.
"gak jadi haha" yang ada nanti dia di pelototi sama batu bernyawa itu.
"kurang ajar bikin gua penasaran" dan vita langsung mengamuk.
Rasya tak menghiraukan, langsung berjalan duluan. meninggalkan vita yang mati penasaran disana.
****
Rasya bersenandung sambil berjalan pulang. ahh hari sudah malam, tetapi dia baru pulang. tidak apa, tidak ada yang akan mencarinya juga.
Saat dia sedang asik bersenandung, dari ujung dia melihat wanita cantik yang sangat dia kenal bersama seorang lelaki.
"pacarnya kak dinda ya?" menyipitkan matanya.
Rasya berlari menuju adinda. dia ingin menyapa sebentar lalu dia akan pulang. tetapi saat dia sudah sampai dan jarak antaranya dan adinda hanya berapa centimeter. dia tak jadi menyapa.
"rasya?" adinda langsung membalik tubuhnya saat merasa ada seseorang.
__ADS_1
"ha–hai kak dinda" sedikit mengangkat satu tangannya.
Mereka saling tatap satu sama lain. orang yang tadi rasya bilang pacarnya adinda juga menatap bingung.
"ohhh" tiba-tiba rasya memundurkan langkahnya sambil menutup mulutnya.
"bye kak adinda" langsung berlari dan berteriak.
"rasya tunggu" berteriak balik.
"langgeng ya kak adinda" rasya berteriak kembali sambil mengangkat tangannya.
Terlihat rasya berlari sambil tersenyum seperti mengejek adinda.
"langgeng?" adinda mengkerut kan dahinya. lalu menatap orang yang ada didepannya.
"zan aku tidak mau rasya salah paham, soal ayah nanti akan ku jelaskan sekarang kau pergi jelaskan kepada rasya" menatap bergantian zan dan rasya.
Zan menatap rasya yang sudah jauh berlari disana. "aku akan kembali ke adinata"
"jelaskan dulu pada rasya, aku tidak mau ada kesalahpahaman" mendongak sedikit untuk menatap wajah zan.
dia langsung masuk ke dalam mobil tanpa mendengar perkataan adinda. kembali ke adinata. itu lah tujuannya. soal rasya? dia tak yakin rasya akan salah paham.
"rasya.." mengepalkan tangannya dan menatap jalan yang tadi dilewati rasya.
Zan membelokkan mobilnya ke arah yang berlawan dengan rasya, dia melihat rasya berbelok tapi dia tidak mengikuti rasya. dia berbelok ke belokan yang berbeda dengan rasya. alasannya satu, dia sedang tak ingin bertatap muka dengan rasya. entah dari mana itu datang.
"dia tidak akan salah paham hanya dengan itu" menatap lurus kedepan.
Tetapi dia membanting stir kembali ke jalan yang tadi dia lalui. zan memang tak yakin kalau rasya akan salah paham, tetapi ada satu hal yang tiba-tiba membuatnya khawatir.
Lima menit, sepuluh menit berlalu. tetapi tidak ada tanda-tanda gerbang dibuka. karna merasa ada yang tak beres, zan langsung melangkah keluar dan membuka gerbang. lampunya mati, apa rasya sudah tidur? tapi kamar lantai dua masih menyala. walaupun remang-remang terlihat. ternyata pintunya terkunci.
Satu tendangan berhasil membuka pintunya. entah seperti apa kekuatan yang dia pakai, sampai-sampai langsung terbuka seperti itu.
plak
baru zan melangkahkan kakinya ke tangga lantai dua, suara tamparan itu menghentikan kakinya.
"apa ayah pernah memikirkan perasaan ibu? kalau ayah ingin memuaskan hasrat ayah lakukan diluar jangan disini" pipinya memerah bercampur dengan air mata.
plakk
"apa kau mempunyai hak mengatur hidup ku? kau hanyalah anak haram dari seorang wanita penghibur malam yang meminta untuk aku hamili, jangan pernah menyebut ayah dari mulutmu, karna aku tidak pernah sudi kau panggil ayah" suaranya meninggi dan menekan tubuh rasya menempel ke dinding.
"seharusnya kau bersyukur bisa tinggal dirumah ku tanpa tunggal langgang di jalanan bersama ibumu, kalau bukan karena tuntutan penyakit ibu mu, aku tidak akan pernah sudi menampung ibumu dan kau dirumah ku" menunjuk wajah rasya dengan tatapan bencinya.
Rasya tak bisa berbuat apa-apa, dia adalah ayahnya. ayah yang membenci kehadirannya.
Pak tua itu mengangkat kembali tangannya, bersiap untuk mendaratkan tangannya dipipi rasya.
grep
zan menahannya.
"sekertaris zan? ke–kenapa anda ada disini tuan?" tatapannya berubah saat melihat zan.
__ADS_1
Zan mencengkeram kuat lengan pak tua itu. tatapannya sudah tak manusiawi. menatap datar tetapi mampu membuat orang yang dia tatap berasa sedang diujung kematian.
"serahkan anak anda pada saya, saya akan mengurusnya" ucapnya dingin memperkuat cengkramannya.
"tu–tuan bicara apa? rasya adalah anak saya, ti–tidak mungkin saya menyerahkannya kepada anda tuan" memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman zan.
Zan menghempas kasar tangannya ke udara. lalu dia menarik tangan rasya setelah melempar lirikan mematikan pada pak tua itu.
Rasya diam menunduk sambil tangannya terus ditarik zan. beberapa kali dia menghapus kasar air matanya. dia tak tahu akan dibawa kemana oleh zan.
"masuk" mendorong pelan punggung rasya.
tapi rasya diam tak masuk kedalam mobil zan. tangannya mengepal.
"disini dingin, masuk" mendorong kembali punggung rasya, kali ini dia lebih lembut.
"kenapa?" suaranya sangat pelan. tetapi zan mampu mendengarnya dengan jelas.
"apa?" memberhentikan tangannya di pundak rasya.
"kenapa kau mengetahui semua rahasia ku?" membalikkan badannya dengan matanya yang berkaca-kaca.
Zan hanya menatap datar.
"bahkan kau melihat dan mendengar dengan mata kepala mu sendiri" mengusapi pipinya sendiri.
"kenapa harus kau" rasya mulai sesenggukan.
Zan menghela nafas pelan. "masuk" memutar tubuh rasya lalu menundukkan kepalanya.
"gak mau, minggir" mengeluarkan kembali kepalanya.
"masuk jangan keras kepala" kembali menundukkan kepala rasya.
"ih orang gak mau, lepas!!" memukul-mukul tangan zan yang berada di atas kepalanya.
"kenapa tiba-tiba tenaganya menjadi kuat?" mendorong-dorong tubuh rasya.
"masuklah cepat rambut singa" gumamnya, menekan-nekan kepala rasya.
"apa kau bilang?" rasya menghempaskan tangan zan dari kepalanya dan berteriak.
"masuk cepat" kembali mendorong rasya.
Rasya memukuli tangan zan lagi, tapi zan usil ternyata. dia menarik kembali tangannya saat pukulan rasya hendak mendarat di tangannya. jadinya rasya memukul kepalanya sendiri.
"benar-benar singa" pasrah akhirnya zan.
bukk
"siapa yang kau sebut singa?" memukul lengan zan dengan rambutnya yang sudah menjadi singa.
"tentu kau" dia ingin tertawa melihat rambut rasya.
Rasya hendak melayangkan pukulannya lagi, tetapi zan langsung berlari meninggalkannya. "jangan kabur kau batu bernyawa" teriaknya sambil melepas sendalnya bersiap untuk memukuli zan kalau dia sudah berhasil mengejar zan nanti.
Zan terus berlari, dia tidak mempercepat larinya. sengaja, dia lari bukan untuk kabur dari rasya, dia berfikir mungkin dengan ini rasya bisa melupakan perkataan ayahnya tadi. walaupun hanya sejenak saja.
__ADS_1
Walaupun zan tidak berlari sungguh-sungguh, tapi tetap saja rasya tak bisa mengejarnya. lambat.
BERSAMBUNG