
Ditempat lain, setelah selesainya pesta itu. dua manusia ini sedang ingin meniru dua manusia yang sedang menjadi pengantin baru lagi, dengan cara yang berbeda.
"ih enggak dong, enakan ke pantai" kekeh dengan kemauannya.
"ini sudah malam ngapain ke pantai?" tidak menerima keinginan rasya.
"ini baru jam setengah sepuluh, belum terlalu malam" tetep kekeh.
"gila" gumam zan menatap ke depan.
"denger loh om aku" ucap rasya menatap agak kesal zan.
"kau pikir pantai jam segini ramai?" memalingkan wajahnya sekilas.
"iya!, udah deh kalo gak tau ikut aja" menatap zan sambil berwajah kesal.
Akhirnya zan menurutinya, mengarahkan mobilnya ke jalan menuju pantai. memangnya ada orang di pantai jam segini? pikir zan.
Mobil berhenti di sebuah parkiran yang depannya langsung berhadap ke laut. rasya sudah girang sementara zan mengkerut kan keningnya.
"pakai" memberikan jasnya ke rasya.
Rasya yang hendak melepas sabuk pengamannya langsung menatap jas itu.
"dingin, kau mau masuk angin?" dinginnya menatap datar.
Rasya menahan senyumnya, mengingat kalau dia memakai gaun tanpa lengan bisa jadi angin akan membuatnya sakit nanti. walaupun dingin dan datar tapi perhatian juga ya. lalu dia memakai jas zan yang besar itu.
Mereka keluar, angin langsung menampar kulit. err dingin. untung tadi zan memberikan jasnya, kalau tidak sudah dipastikan pulang nanti rasya akan masuk angin.
"lihat, banyak orang kan?" menunjuk orang-orang yang sedang berada di bibir pantai.
Zan tak bersuara hanya menatap, dia baru tahu kalau malam hari pantai tetap ramai.
"mangkanya om sekali-kali jalan-jalan jangan kerja mulu" celetuk rasya berjalan disamping zan.
Zan menatap galak ke samping, tak terima dengan kata-kata rasya.
"ya maap gak usah galak gitu" takut hanya dikasi tatapan mematikan seperti itu.
Rasya mendekat ke bibir pantai, lalu melepas sepatunya heelsnya yang tak terlalu tinggi. "cepat lepas sepatu mu" ucap rasya menaruh heelsnya di pinggir pantai.
"apa yang kau lakukan?" mengkerut kan keningnya dan memperhatikan tingkah rasya disana.
"udah buka aja cepat" setengah berteriak karna dia sudah berada sangat dekat dengan air pantai.
Walaupun ragu dan setengah hati melakukannya zan tetap membuka sepatunya dan menggulung celananya sampai sebatas betis. sudah merasa tak enak melihat rasya kegirangan disana.
ctass
Benar rasya menghentakkan kakinya ke air membuat airnya mengenai zan.
"kau gila?" menatap kesal.
"gapapa gila yang penting bahagia"
ctass
menghentakkan kembali kakinya dan mengenai zan lagi. dia membayangkan gimana ya nanti rambut zan saat sudah basah Karan ulahnya?. rasya harus menyiapkan jantung.
ctasss
Zan secara tiba-tiba menghentakkan kakinya sehingga membuat airnya mengenai rasya.
Tidak sedikit air yang mengenai rasya, rambut atasnya terasa basah sekarang. ini tidak adil! dia tadi hanya mengenai celana zan saja tapi dibalas dengan seluruh tubuh. oh sial.
"ih gak adil!"
ctass
__ADS_1
menghentakkan kakinya lebih keras sampai-sampai lumayan banyak air yang mengenai zan.
Tahu zan akan membalasnya, rasya langsung berlari menghindari zan. bisa basah seluruh tubuh dengan sekali hentakan kaki zan. perbedaan kekuatan yang sangat menonjol. dan zan berlari mengejar rasya.
"ih om kok kencang-kencang si cipratinnya!" katanya sebelum zan kembali menghentakkan kakinya.
ctass
Sepertinya ada dendam pribadi zan. "bukannya kau suka? kenapa kau menghindar?" ucapnya dengan kaki yang masi menciprat-cipratkan air laut.
"enggak gini! basah semua yang ada!!" teriaknya terus berlari menghindari cipratan zan.
Zan tertawa sambil terus menciprat-cipratkan air ke rasya. heran zan, tadi rasya yang mulai duluan tapi kenapa sekarang dia selalu menghindar?.
"iya iya om ampun" berhenti berlari dan mengatur nafasnya di jarak yang lumayan jauh dari zan.
"sayangnya tidak ada kata ampun" mendekat ke Rasya dan..
ctass
menghentakkan kakinya lagi sambil tersenyum menang.
sialan -rasya.
Dan jadilah mereka kejar-kejaran di sana, dengan rasya yang terus berteriak meminta berhenti zan dan zan yang terus menciprat-cipratkan kakinya. tidak peduli orang-orang telah melihat aksi konyol mereka.
"kan aku maunya dia yang basah, kenapa sekarang malah kebalikannya?!!" umpatnya dalam hati sambil terus berlari dan meminta ampun pada zan yang sama sekali tak mendengarnya.
Ngomong-ngomong mereka terlihat serasi dengan setelan jas dan gaun yang warnanya senada, sama-sama berwarna biru dongker. padahal tidak ada yang merencanakannya.
****
Rasya menatap sinis zan yang sedang mencemili kentang gorengnya. benar saja, rambutnya basah kuyup karena ulah zan. untung tubuhnya tak terlalu basah.
Mereka berhenti bermain kejar-kejaran disana setelah zan puas membuat rasya teriak meminta ampun. memang tak punya hati batu bernyawa ini.
"kenapa?" tanya zan menatap rasya datar tak berdosa.
Zan tertawa samar sambil mengunyah kentang gorengnya. "kau yang memancing ku duluan" enteng dia berbicara sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya.
"ya tapi kan aku–" memotong ucapannya.
"sudah lah" dia salfok benar-benar salfok melihat rambut zan yang juga basah itu di kesampingkan.
Tampan sial!.
Zan melanjutkan makannya, tanpa merasa berdosa tentunya.
"bisa gitu abis buat basah anak orang terus makan tanpa bersalah, gak nawarin lagi" ngedumel rasya dalam hati.
"ini pesanan anda, selamat menikmati" dua wanita datang membawakan piring, mangkuk dan teh hangat.
Rasya tersenyum lalu mengucapkan terima kasih pada wanita itu,
Pecel lele. rasya yang memesannya, mana mungkin si manusia batu ini yang memesannya.
"kenapa diliatin terus?" tanya rasya mencelupkan tangannya ke mangkuk berisi air itu.
"sendok dan garpunya mana?" menatap bingung. tambah bingung lagi melihat rasya yang mencelupkan tangannya ke mangkuk itu.
"pakai tangan"
"ya aku tau pakai tangan, garpu dan sendoknya mana?"
"pakai tangan gak pake sendok sama garpu" menjelaskan lebih terperinci.
Zan mengkerut kan keningnya. "lalu aku makan pakai apa?"
Rasya menghembuskan nafas kasar, uji kesabaran ini namanya. dia mengambil nasinya dan ikan lele beserta sambal tak lupa, setelah lengkap dia tunjukkan tangannya yang sudah penuh itu ke zan.
__ADS_1
"seperti ini" menunjuk tangan kanannya.
Zan memicingkan matanya, bagaimana tangan rasya bisa menampung makanan itu?.
"lalu bagai–"
hup
"lama" kesalnya langsung memasukkan tangannya ke mulut zan.
Bodoh sekali.
Zan membeku disana, mulutnya sekarang sudah terisi makanan yang tadi ada di tangan rasya. tadi rasya menyuapinya?.
"gak usah terharu gitu, disuapin doang padahal" ucapnya sambil mengunyah dan menatap wajah terkejut zan.
Zan langsung tersadar dan mengunyah makanan yang ada di mulutnya. enak katanya. dia tak pernah memakan ini sebelumnya. apa namanya tadi?.
"lagi" ucapnya setelah selesai mengunyah.
Rasya menyatukan alisnya dan menatap tak mau sambil mulutnya terus mengunyah.
"makan sendiri" menatap sinis sambil terus mengunyah.
Zan mencoba meniru tangan rasya, ya walaupun terlihat sangat sulit ditangan zan tapi ya setidaknya dia berhasil memasukkan makanan ke mulutnya.
Satu hal yang baru rasya ketahui, zan ternyata kidal. pantas saja dia lebih banyak menggunakan tangan kirinya saat menyetir.
Mereka menyelesaikan makannya, setelah merasa kenyang zan berjalan ke kasir untuk membayarnya. bahkan zan tidak tahu kalau harus pergi ke kasir untuk membayar makanannya. definisi orang yang selalu memanggil pelayan saat sudah selesai makan dan meminta bill tagihannya. orang kaya mah beda.
Saat sedang menunggu zan membayarnya, rasya tak sengaja melihat ada seorang penjual mainan yang masih duduk disana menunggu orang yang akan membeli dagangannya. merasa zan masih lama, rasya melangkah ke penjual itu.
"selamat malam pak" sapa rasya berjongkok didepan pak tuan yang tadinya sedang menyeka keringatnya.
"iya neng, mau beli mainan?" bapak tua itu langsung tersadar.
Rasya mengangguk, lalu melihat gerobak bapaknya. dia mencari sesuatu.
"ini berapa pak?" menunjuk mainan yang dia incar.
"lima ribu neng" ucap bapak itu lembut.
Rasya menarik mainan itu sampai lepas dari penyatunya. lalu dia merogoh kantung di kanan kiri gaunnya. tak sengaja dia menyentuh saku jas milik zan yang masih ia pakai.
"ada uang?". mengeluarkan uang itu.
Selembar uang kertas berwarna merah yang terlihat sangat baru hanya terlipat saja.
"ini pak, kembaliannya buat bapak aja" ucap rasya menyembunyikan uang itu di telapak tangannya lalu memberikannya pada bapak itu.
"neng kebesaran uangnya, bapak enggak ada kembaliannya" ucap bapak itu menatap uang merah ditangannya.
"buat bapak aja kembaliannya ya? ini sudah malam pak, pulang ya pak istirahat?" ucap rasya tersenyum manis.
bapak itu menatap haru. "terima kasih banyak neng" meraih tangan rasya dengan lembut.
Rasya mengangguk sambil tersenyum dan berpamitan lada bapak itu.
"asik isengin dia enak ni". ucapnya dalam hati sambil menatap mainan di tangannya.
Kembali duduk di kursi tadi menatap zan disana yang masih belum selesai. lama sekali.
"semoga aja gua gak dibanting setelahnya" gumam rasya memerhatikan mainannya.
lalu dia tertawa geli. badan gede takut kecoa.
yups rasya membeli mainan kecoa bohong-bohongan yang terbuat dari karet untuk mengerjai zan nanti.
Bersambung
__ADS_1
doain ya semoga habis ini aku masih hidup -rasya