Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Akan Traumanya


__ADS_3

Sementara di tempat lain, orang yang sedang di cari-cari keberadaannya oleh rangga atau mungkin sekarang rangga sedang menjerit-jerit mencari sekertaris kesayangannya itu dimana. yang di cari malah sedang asik bermain-main di temani rasya.


Ralat, zan yang menemani rasya.


"kenapa perasaan ku tidak enak?" memalingkan wajahnya kesana kemari dengan tangan yang ia masukkan ke dalam kantung.


"zan! ayo cepet kesini!, ngapain disitu doang?!" teriak rasya di tengah keramaian.


Karna suasana sangat ramai di sekelilingnya, rasya jadi menaikkan suaranya.


Zan hanya mengangguk-angguk sambil berjalan pelan ke sana. sampai dia tak sadar bagaimana kondisi tempat yang dimana rasya memanggilnya tadi. dengan wajahnya yang sangat amat datar tentu.


"ayo kesana" menggandeng tangan zan dan menariknya cepat. aneh ya? bukan zan yang menggenggam tangan rasya, tapi malah sebaliknya.


Rasya berhenti di suatu tempat yang bernuansa merah dan ada beberapa boneka barongsai mini dan juga ada yang besar, itu sebagai hadiah kalau kalian bisa menembakkan peluru air itu ke balon-balon yang sudah di siapkan sebagai target.


Ah rasya baru ingat kalau sebentar lagi adalah hari raya Imlek. pantas saja mall sudah dihiasi dengan nuansa warna merah.


"zan tembak, nanti hadiahnya buat aku yaa" menyerahkan pistol air itu ke zan.


Tapi zan diam di tempat menatap ke depan dimana semua toko itu isinya warna merah semua tanpa terkecuali, bahkan sang pemilik mendandani dirinya dengan nuansa merah pula. sedikit tidak ada bedanya dengan barongsai. menyeramkan.


"zan?" memegang lengan zan yang saat disentuhnya terasa ada getaran.


Zan sedang gemetar?!!.


"zan kau sakit?" menyentuh pelan dahi zan dan apa yang di dapat rasya lagi? zan sedang berkeringat dingin.


Semula-mula harusnya zan mengambil pistol air dari tangan rasya tapi malah menarik lengan rasya sampai rasya harus menyerahkan dengan tergesa-gesa pistol air itu.


"hei kau mau kemana?!" berlari kecil menyeimbangi langkah zan dengan tangan yang di tarik tarik.


Demi neptunus! zan seperti habis melihat setan. bisa rasya dengar nafas zan terdengar jauh lebih berat. dan cengkraman pada lengannya semakin erat, membuat sang empunya meringis dalam ke khawatiran.


Brakk


Dengan seenak jidatnya zan menutup pintu toilet pria dengan keras dan kasar, tubuh rasya terhempas sampai menyentuh wastafel. sempat mengaduh nyeri pada pinggangnya tapi langsung tak jadi saat zan menatapnya seperti hewan yang sedang kehilangan akal.


Dada bidangnya turun naik di barengi dengan deru nafasnya yang sepertinya sangat berat dan keringat yang sudah membanjiri kening sampai pelipis yang tercetak jelas di wajah tampannya. jangan lupakan mata elangnya yang selalu menatap dingin, kini menatap seperti ada sesuatu dalam dirinya yang sedang menggerogotinya.


Tatapan sayu yang menyakitkan.


"za–zan kau ke–" terhentak dengan tubuh besar yang tiba-tiba memeluknya erat sangat erat, sesak rasya rasakan sekarang.


"jangan ke sana ada merah" itu yang di ucapnya dengan suara yang parau dan tangan yang memeluk sangat erat bahu mungil wanitanya.


Bukan rasya namanya kalau langsung paham dengan apa yang zan ucap "a–apa yang merah? kamu kenapa?" berusaha meraup udara banyak-banyak untuk memenuhi paru-parunya.


Dibalas dengan gelengan kepala orang yang biasa di sebut sekertaris kesayangan tuan rangga itu. bukannya menjawab, dia malah menyembunyikan wajahnya di rambut-rambut rasya sampai menyentuh telinga si manis.

__ADS_1


Tak menghiraukannya, rasya mengusap kepala dan punggung zan dengan lembut. dengan membuka mulutnya lebar-lebar untuk menghilangkan sesak.


Sekitar 5 menit bertahan dengan posisi seperti itu, akhirnya zan mengendurkan tangannya membuat rasya bisa bernafas lega. dia pikir dia akan mati setelah ini.


"udah enakan?" menatap manik yang masih memancarkan sendunya.


Yang ditanya hanya diam dan balik menatap dengan tatapan yang demi apapun rasya tak mengerti.


"zan tadi kau melihat hantu kan?! atau tadi kau melihat tuyul yang berlarian di toko itu? jangan-jangan kau melihat hantu pelaris? iya?! sungguh?!" mentang-mentang tidak orang jadi seenaknya berteriak heboh.


Dibalas dengan decakan tak menyangka dan. gelengan kepala dari zan.


"lalu?" gencar mencari kebenaran.


Helaan nafas pun terdengar "aku membenci warna merah, itu mengingatkan ku dengan darah ayah dan ibu"


Rasya tercekat di tempat, ayah ibu? itu tadi yang di katakan zan? berarti ayah dan ibunya sudah meninggal? tunggu tunggu rasya perlu waktu untuk mencernanya.


"ba–bagaimana bisa?" dia sebenarnya tak siap untuk mendengar jawaban zan. dia merasa akan ada sebongkah batu akan menimpanya saat zan mengatakannya.


"ayah ibu ku meninggal karna kecelakaan, hanya aku yang selamat dan warna merah selalu mengingatkan ku dengan darah ayah dan ibu ku yang sedang sekarat di depan mata ku dan bersimbah darah dimana-mana" jawabnya sukses membuat rasya ingin menangis sejadi-jadinya.


Entah apa yang di rasakan rasya, hatinya seakan di remas kuat saat mendengarnya. jadi zan mengalami trauma karna kecelakaan itu?. rasya merutuki dirinya sendiri akan kebodohannya.


"maaf aku tak tahu kau mempunyai trauma de–"


ceklek


gak tau namanya (╯︵╰,)


Bersyukurlah kau wahai rasya zan bisa bergerak cepat dan memiliki refleks yang bagus dan kebetulan dengan orang yang masuk itu hanya berdiri di wastafel dan mencuci tangannya. beruntung sekali! kalau tidak mungkin mereka sudah di tarik ke pos mall dan diintrogasi macam-macam.


Rasya bernafas lega saat orang tadi keluar dan menutup pintu lagi. beralih ke zan, dengan perasaan bersalah dia memeluk dan berkata lirih


"maaf aku tidak tahu.." sedih rasya tuh tak becus menjadi pacar sekertaris adinata ini.


Andai zan tak punya telinga seperti kelinci, maka dia tak akan mendengar perkataan rasya.


Sebagai balasan dia hanya mengangguk dan berdiam diri.


KAKU!!


******


Derap langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa mencoba mencari keramaian ditengah mall yang sedang menjadi pusat segalanya. zan menyumpahi dirinya kalau sampai terjadi sesuatu pada tuan rangga dan nona danita.


Sampai di kerumunan orang yang sudah seperti lautan manusia yang entah dimana pusat dari keramaian ini zan tidak bisa melihatnya. sampai satu tangan melambai padanya. detik itu juga zan langsung menerobos lautan manusia itu.


Oh jangan lupakan para pengawal yang di bawa rangga untuk melindungi istrinya dan malah melindungi dirinya juga.

__ADS_1


"bukankah itu sekertarisnya tuan rangga? foto dia foto tampan sekali ya tuhan!"


"astaga dia sangat menawan dengan kemeja itu, arghh siapa namanya si?"


"aku dapat gambarnya! aku dapat gambarnya!"


"gak bisa dapet tuan rangga sekertarisnya bisa kayaknya!!"


"mimpi apa aku semalam bisa melihat orang tampan hari ini!!!!"


Jengah rasya mendengarnya, bukan apa-apa ini mereka semua mendesak dirinya dan zan yang ada didepannya sambil menggenggam tangan rasya.


takut ilang bro!


"tuan rangga anda tidak apa-apa?!" akhirnya sekertarisnya muncul juga.


Bagai mendapat secercah harapan untuk menyelamatkan dirinya dan juga danita, rangga langsung merapatkan tubuh mungil yang terbalut jaket hitam ke pelukannya, walaupun sedari tadi sudah berada di dalam dekapannya.


"keluarkan aku dan danita dari sini, jangan sampai danita terluka sedikit pun karna kerumunan ini" perintahnya dan langsung diangguki oleh zan dan 10 pengawal yang mengelilinginya dari tadi.


"berikan jaket mu" titah zan kepada salah satu pengawal.


Meraihnya dengan sigap dan langsung dipakai untuk menutupi kepala rasya yang memang harus ia lindungi juga, entah itu dari kamera-kamera yang sudah menyorotnya dari tadi atau apapun yang dapat melukainya.


"jangan lepaskan kalau kau tidak mau hilang dan lenyap di kerumunan ini!" ucapnya tegas memerintah rasya.


Rasya hanya bisa mengangguk dengan jaket yang sudah menutupi kepalanya dan kalau dia menunduk akan tertutup semua wajahnya.


Zan melangkah duluan dengan sigap di menyingkirkan manusia-manusia yang mencoba menghalanginya, sudah dibilang zan tidak akan segan melakukan apapun kalau itu menyangkut tuannya. terutama mendorong seorang wanita sedikit keras sampai membuat dia menyingkir dan terjatuh, diikuti orang-orang yang di belakangnya ikut terjatuh karna pertanahan dan terlalu fokus kepada rangga dan dirinya. zan tak perduli, yang penting tuan rangga dan nona danita keluar dari sini tanpa lecet seujung kuku pun.


Selangkah saja zan berhenti, maka mereka tidak bisa keluar dari sini kapan pun. sedikit melirik ke belakang saat di dengar rasya meringis tetapi tetap melanjutkan langkahnya dan menyingkirkan manusia-manusia ini. di belakang dan disi kanan kirinya tentu ada pengawal yang siap berjaga, terutama di sekitar rangga. ingin pecah rasanya kepala rangga mendengar dan menyipitkan matanya saat sinar flash menyilaukan matanya.


brak


Suara hentakan keras pintu tertutup didengar rasya 2 kali hari ini. tapi ini bedanya pintu mobil.


"danita kamu tidak apa-apa?! apa ada yang terluka?! apa perut mu kram?! kepala mu terbentur sesuatu?! tangan mu terluka?! kakimu terinjak?! katakan mana yang sakit nita" menangkup pipi danita dengan mata yang memancarkan ke khawatirannya dan nafas yang terburu-buru.


Zan segera menggelapkan jendelanya dan sedikit bernafas lega.


"aku tidak apa-apa sayang, sungguh tidak ada yang terluka sama sekali" melepaskan tangan rangga dari pipinya tapi kembali ke tempatnya. sedikit mengucek matanya karna paparan flash dari luar jendela menyilaukannya.


"kenapa mata mu?! zan cepat kerumah sakit! mata danita ku terluka!!" teriak rangga menendang jok zan cukup keras dan berkahir memeluk danita erat. dia juga khawatir dengan anaknya!.


Baru zan bernafas lega tapi sekarang ia harus menekan gas yang di bawahnya. seketika ia teringat sesuatu saat melihat ke jok sampingnya yang kosong.


"tuan! rasya ketinggalan" mengerem dengan tiba-tiba kepalanya menengok ke belakang.


"cepat putar balik!" kali ini danita yang teriak.

__ADS_1


Hei! bagaimana rasya bisa ketinggalan di situasi seperti ini!!.


Bersambung.


__ADS_2