Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Permintaan maaf danita


__ADS_3

Sementara di gedung adinata grup yang menjulang tinggi itu Masi banyak karyawan yang sedang mengerjakan pekerjaannya. indahnya malam dilengkapi dengan lampu dari menara gedung adinata grup yang menyala dan berwarna.


sedangkan dengan presdirnya dia sudah dalam perjalanan pulang, zan sudah tau kalau danita ingin memberikan kejutan kepada Rangga tapi zan tidak mau menghancurkan acara surprise untuk Rangga.


"apa separah itu nona danita mengacuhkan anda?" melirik kaca spion dan menangkap raut wajah rangga yang tidak enak dilihat alias cemberut.


"nona saya yakin anda bisa mengubah ekspresi tuan Rangga dalam sekejap" harap zan.


******


"selamat datang tuan Rangga" sambut pak Tan seperti biasa disertai dengan senyuman yang tidak biasa.


"kenapa kau senyam-senyum seperti itu?" tanya Rangga dengan wajah yang masi sama.


"maaf tuan" menunduk dengan hormat.


saat Rangga dan zan masuk kedalam rumah mereka berdua mencium aroma yang sangat sangat menggoda perut, bahkan zan melihat Rangga menikmati aroma masakan ini.


"apa yang anda masak nona?"


"lihat hanya dengan harum masakan nona danita saja anda sudah lebih baik wajahnya" gumam sendiri zan.


"siapa yang memasak sampai harum seperti ini?" gumam Rangga pelan hampir tidak terdengar.


Rangga berjalan menuju meja makan tempat asal harum yang enak itu. dan saat dia sampai di meja makan....


cup


tiba-tiba danita mencium pipi Rangga membuat yang punya pipi terkejut.


maksudnya terkejut yang bukan benar-benar terkejut.


"permintaan maaf ku karna sudah mencampakkan mu" senyum danita.


wajah mereka berdua berdekatan sampai mungkin hanya berjarak 5 cm, dan itu membuat jantung danita berdegup kencang.

__ADS_1


"jangan menghancurkan ini jantung sialan" menahan nafasnya.


"kenapa muka mu merah seperti tomat begitu?" mencolek Idung danita.


yup sesuai ucapan zan dalam sekejap danita bisa mengubah ekspresi wajah rangga. sekarang Rangga sudah mengembangkan senyumnya.


"wajah ku tidak merah" memegang kedua pipinya dengan gugup.


"jadi kau memasak semua ini untukku?" kembali ke masakan yang telah dibuat danita.


angguk danita dengan muka polos khasnya.


Rangga memegang pipi danita mendekatkan wajahnya ke wajah danita dan aksi selanjutnya membuat wajah danita benar-benar merah seperti kepiting, yang benar saja Rangga mencium bibir danita didepan zan dan pak Tan bagaimana danita tidak malu.


"ah iya aku lupa kau malu jika aku menciummu didepan orang banyak bukan?" menggantungkan kata-kata nya membuat danita bingung.


"baiklah pak Tan bawa semua makanan ini kekamar" enteng Rangga memerintah lalu menggandeng tangan danita.


danita tidak sama sekali menolak atau mengoceh seperti biasa danita mengikuti langkah Rangga sampai kedalam kamar.


"tadi bukannya kau bilang mau minta maaf? berminta maaflah dengan ini" bisik Rangga ditelinga danita.


"bagaimana dengan makannya?" ikut masuk kedalam bathtub.


"kita akan memakannya setalah menyelesaikan yang ini" bisik Rangga membuat danita merinding.


lebih baik di skip saja ritual mandi ala Rangga yang selalu dilakukannya dan hanya dia yang tau asiknya dimana.


setelah menyelesaikan ritualnya dikamar mandi akhirnya mereka berdua keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi mereka berdua dan tentu saja memakan masakan danita yang sudah dihangatkan oleh para koki dibawah.


disana hanya ada satu sendok dan satu garpu diatas piring dan juga hanya ada satu piring untuk mereka berdua yang sudah tersedia di atas meja tempat tidur.


"ini kenapa hanya ada satu sendok satu garpu dan satu piring?" heran danita menatap piring didepannya itu.


"ahh sepertinya pak Tan lupa menaruh dua sendok dua garpu dan dua piring disini" kata-kata licik yang tentu saja danita tau apa maksudnya.

__ADS_1


"lihat senyum kemenangannya itu" gemas danita menatap suaminya yang bersandar di pundak ranjang dengan santainya.


akhirnya danita menyuapi bayi besarnya itu dan juga dia sendiri, makan malam mereka tidak sunyi seperti biasa mereka makan sambil menonton film kartun yang menurut Rangga membosankan itu tapi menurut danita sangat lucu. dan akhirnya Rangga pun ikut tertawa karna melihat tawa danita yang baginya sangat menghibur itu.


ya lebih tepatnya Rangga tertawa karna melihat tawa danita yang seketika menyejukkan hatinya itu.


makan malam pun selesai, saat danita hendak berjalan untuk mengganti bajunya dan mematikan tv tiba-tiba Rangga menahannya.


"kau mau kemana?" tanya Rangga.


"ganti baju"


"tidak usah, karna kau nanti juga akan kembali telanjang lagi" menarik tangan danita agar kembali duduk.


"eh?" bingung danita dan sedetik danita sudah paham.


"lalu bagaimana dengan tv dan piring ini?"


Rangga mengangkat tangannya lalu mempetikkan tangannya setelah itu lampu tv seketika mati dengan petikkan jarinya dan piringnya tiba-tiba bergeser secara otomatis.


danita membulatkan matanya melihat takjub apa yang baru saja Rangga lakukan dalam sekejap.


"tadi itu apa?" penasaran danita.


"mode sensor" mulai membuka tali jubah mandi danita.


"apa aku juga bisa melakukannya?" dengan polosnya menirukan yang dilakuan Rangga tadi.


"tentu saja tidak sensor itu akan bekerja hanya dengan suara ku dan petikkan tangan ku" jelas Rangga tapi tangganya sudah berjalan kemana-mana.


"memangnya beda suara petikkan tangan ku dan petikkan tangan mu?" sebenarnya tujuan danita membahas terus tentang sensor itu adalah agar mengalihkan perhatian Rangga dengan yang tadi dibilang Rangga.


"kau ini dari tadi mengalihkan perhatian terus ya" geram Rangga menatap danita dan mulai mencium bibir danita.


"ah sial dia menyadarinya, ini pasti akan menjadi permainan yang panjang dan mungkin aku tidak akan dibiarkan tidur olehnya" kesal danita hanya bisa mengoceh dalam hati karna bibirnya sudah dikunci dengan bibir Rangga.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2