Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Rio


__ADS_3

"Rio ayo bangun ini sudah siang, mau sampai kapan kau mau tidur?" teriak ibu dari bawah yang dari tadi sudah membangunkan Rio tapi yg dipanggil tidak juga turun.


sedangkan didalam kamar yang dipenuhi dengan poster Anime dari berbagai anime dan juga ada action figure di meja dekat lemari Rio yang banyak itu, Rio hanya bergerak sedikit dibawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


Rio hanya mengeluarkan kepalanya sedikit melihat jam lalu memasukkan lagi karna Masi belum bangun. padahal jam sudah menunjukkan pukul 10.45 tapi Rio belum juga ingin bangun. sebenarnya dia sudah bangun dari tadi tapi tidak ada niat untuk bangun dari tempat tidurnya.


"ini kan hari Minggu aku malas untuk bangun" bergumam dibawah selimutnya.


Ting


tiba² hpnya yang sedang di isi daya itu berbunyi pertanda ada pesan masuk, saat Rio membukanya ternyata itu DM dari temannya.


entah apa yang ada di DM itu tapi setelah dia membaca DM itu Rio menghembuskan nafas kasar serta mengusap wajah yang masi bantal itu kasar.


"Rio astaga ibu kamu udah teriak-teriak dari tadi kamu malah Masi ngeringkul aja" tiba-tiba bapak Rio datang dan masuk tanpa mengetuk pintu.


Rio tidak membalas ucapan bapaknya dia malah menutup hpnya dan kembali masuk ke selimutnya lagi, kali ini dia membelakangi bapaknya.


"kamu kenapa? galau?" tanya bapaknya duduk di tepi kasur Rio.


Rio tidak menjawab dia hanya diam dan mendengarkan ucapan bapaknya.


"rumah sekarang jadi sepi ya semenjak kakak mu menikah" menatap anak lelakinya yang seperti kepompong.


Rio Masi diam tidak menjawab ucapan bapaknya karna baginya dia hanya perlu mendengarkan saja, tapi entah kenapa ketika siapapun yang berbicara tentang kakaknya hatinya seperti ada yang aneh, seperti macam perasaan kangen tapi terlalu aneh jika dikatan rindu dengan kakak perempuannya itu.


biasa anak lelaki kalo soal itu suka malu-malu.


"bapak jadi mengingat waktu kecil kamu, kakakmu dan Lia saat kecil kalian sering bermain bareng" lanjut bapaknya beralih memandang sekeliling kamar anak lelakinya itu. "kamu selalu dijaga sama kakakmu kalau sedang bermain, dan kamu selalu mengajak Lia kemanapun kalian berdua pergi" lanjutnya.


"Lia.." terukir sebuah nama di pikirannya setelah bapaknya menyebut nama itu.

__ADS_1


setelah bapaknya berbicara itu mendadak suasana menjadi hening tidak ada yang berbicara.


Rio duduk dihadapan bapaknya, menatap wajah yang sudah ada kerutan halus diwajahnya tapi Masi terlihat gagah dan tampan.


"kenapa kamu bisa suka dengan Lia?" pertanyaan mendadak dari bapaknya membuat Rio tercekik sebentar.


"bapak ngomong apa sih" elak Rio.


"tidak usah mengelak seperti itu, kita ini sesama lelaki bapak paham apapun yang kamu rasakan. terutama perasaan kamu sama Lia" balik menatap putranya yang sudah beranjak dewasa sekarang. "bapak memang melarang kakakmu untuk berpacaran karna bapak tidak mau anak gadis bapak satu-satunya rusak, dan juga bapak tidak pernah melihat kakakmu itu memiliki rasa dengan siapapun".


"tapi yang namanya perasaan tidak pernah bisa dibohongi apa lagi seorang laki-laki" memegang bahu putranya yang sudah terlihat gagah karna pertumbuhannya.


Rio diam saja tidak menjawab sepatah kata pun bapaknya dan hanya menatap hitam pekat mata ayahnya yang sangat meyakinkan itu tidak ada keraguan Dimata ayahnya walupun dia tidak tahu apa arti dari ucapan bapaknya.


"perasaan suka kamu pasti berawal dari rasa ingin menjaga bukan?" itu seperti sebuah kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh Rio, memang benar itu.


"cinta didalam persahabatan itu memang rumit dan akan ada satu pihak yang tersakiti" bapak Rio bangun dari duduknya lalu mengusap rambut Rio yang agak berantakan itu.


"sudah ayo turun ibu sudah menunggu dari tadi" berjalan menuju pintu.


"satu diantara mereka bisa kamu temui, tapi kalo yang satunya bapak tidak tahu" menutup pintu setelah menyelesaikan ucapannya.


"kak danita... Lia.." gumamnya pelan menatap bingkai yang dimana terdapat tiga anak kecil yang sangat berharga bagi Rio.


*****


"Rio tunggu aku" teriak anak perempuan bersyal itu berusaha mengejar teman lelakinya.


"ayo cepat larinya Lia" teriak Rio jauh disana melambaikan tangan ke Lia.


"Rio jangan cepat-cepat nanti Lia kecapean" teriak seorang perempuan sepertinya dia yg paling tua disitu.

__ADS_1


"nanti lama nyampenya, kak danita ayo cepat" Rio tambah semangat berlari jauh disana.


"uhuk uhuk uhuk" tiba-tiba Lia terjatuh dengan keringat yang bercucuran dan wajah yang pucat.


"dimana obatmu Lia?" ucap kakak Rio mencari obat Lia. "ketemu" langsung menyodorkan kemulut Lia.


lia langsung menghisapnya dengan keringat yang membasahi dahinya sampai kepipi.


"Rio jangan cepat-cepat lihat sekarang lia kelelahan" omel kakaknya rio alias danita.


"iya kak maaf" tunduk Rio.


"tidak apa kak danita" senyum imut Lia setelah meminum obatnya.


"sekarang jalannya jangan cepat-cepat ya" ujar danita.


"baik kak" mengambil tangan Lia yang imut dan kecil lalu menggandengnya. "Lia kita berjalan bersama ya" ucap Rio kecil dengan imut.


Lia mengganguk lalu membalas genggaman tangan Rio dan berjalan bergandengan tangan dengan senyum yang mengembang dibibir mereka berdua.


"akhhh mimpi itu lagi" Rio terbangun dari tidur sorenya karna mimpi itu lagi.


"Lia... dimana sekarang kau berada? apa kau baik-baik saja? apa kau sudah mempunyai teman main yang baru?..." hatinya pun berbicara sembari menatap jendela yang menampilkan Oren senja.


"Lia.... apa kau merindukan aku?" lanjutnya lagi menatap cantiknya Oren senja yang terpapar dari jendela kamarnya.


dan kembali terbayanglah kenangan masa kecil mereka yang jujur Rio sangat merindukan momen dimana dia bisa bermain dengan danita kapanpun dan membawa Lia bersamanya untuk membeli gulali dipinggir jalan itu.


BERSAMBUNG


 

__ADS_1


*ps:ingatkan author jika ada typo*


 


__ADS_2