
Keesokan harinya, danita membuka matanya lebih dulu dan langsung melihat wajah tamaan Rangga yang sedang tertidur. badannya sangat remuk dan sakit bahkan didaerah sensitifnya juga sedikit merasa perih.
"kenapa sakit?" gumam danita dalam hati sambil berusaha bangun dari tempat tidur, setelah berhasil berdiri danita mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya yg polos dan berjalan kekamar mandi.
sementara itu Rangga perlahan lahan terbangun karna merasa dia tidak memeluk apa² di sampingnya. dia membuka matanya dan mencari disekitar dimana istrinya. saat Rangga mau berteriak memanggil danita tapi orangnya sudah keluar dari ruang ganti baju.
"sayang kau sudah bangun?, mandi sana badanmu lengket" berjalan mendekat ke Rangga.
Rangga tidak menjawab dia malah kembali menutup matanya dan menaikkan selimut kembali, danita terdiam menatap Rangga yang kembali tidur dengan begitu tenangnya tanpa berdosa
"sayang bangunnn" teriak danita ditelinga Rangga.
*****
jam menunjukkan pukul 12.30 Rangga sudah berangkat kerja tentunya saatnya danita pergi kerumah Rasya untuk kerja kelompok. saat dia berada didapur untuk berpamitan pada pak Tan dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
"selamat siang nona danita" seorang wanita cantik muncul dari belakang pak Tan.
"siang" danita terkagum kagum dengan kecantikan wanita ini.
"perkenalan saya audri, saya adalah asisten yang ditunjuk oleh tuan Rangga untuk anda" mengulurkan tangan ke danita.
danita menerima uluran tangan wanita itu sambil tersenyum ramah.
"salam kenal mba" ucap danita penuh senyum.
"Nona jangan panggil saya mba panggil saja saya audri" ucap audri sopan.
"tidak apa² aku yakin aku lebih muda darimu jadi tidak apa-apa kan kalau aku memanggil mu mba? aku ingin sekali loh mempunyai kakak perempuan" kata danita sambil cengengesan.
wanita itu tersenyum lebar sambil mengangguk walaupun dia merasa aneh dengan sebutan adinata tapi tak apa lah itu juga tidak buruk.
__ADS_1
danita berangkat kerumah Rasya bersalam 1 orang supir dan satu orang lagi merupakan audri, danita mau mengakrabkan diri dengan wanita itu karna selama dia berada di rumah Rangga, danita tidak pernah mempunyai teman.
selain itu disisi lain Rangga sedang membuka file yang dikasih oleh zan untuk dia tanda tangani, mood Rangga hari ini normal seperti biasanya. kesimpulan zan sambil menatap Rangga yang menutup laporannya.
zan kembali ke ruangannya dan memeriksa beberapa file yang habis di tanda tangani oleh Rangga, saat dia sedang membuka buka file tiba² dia mendengar telfon khusus staf sekertaris yang berada didepan ruangannya itu berbunyi, biasanya si kalau berbunyi tandanya ada yang mau membuat janji bertemu dengan tuan Rangga.
tok tok
pintu ruangan zan diketuk oleh salah satu staf sekertaris, dengan gemetar staf sekertaris itu masuk kedalam ruangan zan.
"ada apa?" tanya zan tanpa menatap staf sekertaris itu.
"tuan tadi ada telfon seseorang yang mau membuat janji bertemu dengan tuan Rangga" omongan staf sekertaris itu sedikit menggantung.
"yasudah buatkan agendanya" Masi tetap fokus dengan file yg ada didepannya.
"orang yang membuat janji adalah nona bunga tuan" muka staf sekertaris itu langsung pias.
zan menghentikan tangannya yang dari tadi sibuk dengan file-file ini.
staf sekertaris itu langsung menganggukan kepala lalu melangkah keluar ruangan zan. zan bertanya kenapa bunga tiba² mau membuat janji bertemu dengan tuan Rangga? apa lagi maunya?. itulah isi kepala zan sekarang.
Rangga manatap zan yang habis memberikan suatu informasi tentang tamunya itu, seperti biasa Rangga selalu bermuka datar kalo soal menyangkut bunga.
"bilang kalau mau bertemu denganku, setelah jam makan siang" berbicara tapi matanya kembali kepada kertas² yang berada di atas mejanya.
"baik tuan muda" keluar ruangan lalu memberi tahu staf sekertaris untuk membuat janji ulang hari ini.
saat Rangga sudah kembali kekantornya setelah makan siang diluar, dia melihat sosok wanita yang menunggunya didepan ruangan Rangga. Rangga mendesah kesal saat melihat wanita tidak peduli siapa wanita itu dahulu"
"ikut aku" berjalan masuk keruangannya tanpa menatap bunga yang berada di samping pintu.
__ADS_1
bunga masuk kedalam ruangan, bersama Rangga dan zan, kalau si zan sudah dari tadi melirik bunga dengan tatapan tidak suka dan menjengkelkan.
"ada apa kau kemari? kalau hanya untuk kekeh membicarakan omong kosong lebih baik kau pulang saja" duduk disofa.
"Rangga aku kesini hanya untuk memberi tahumu sesuatu, mungkin ini tidak pantas untuk aku ucapkan tapi ini menyangkut soal danita" tetap berdiri didepan meja.
Rangga melirik Bunga saat nama istrinya disebutkan oleh bunga, begitupun dengan zan ikut melirik seperti tuannya.
"aku tau seberapa besar kau mencintai istrimu itu, tapi jangan membuatnya seperti burung didalam sangkar itu akan membuat istrimu tertekan da.." Rangga memotong ucapan bunga dengan cepat.
"memangnya siapa kau berani memberi tahuku soal itu? danita tidak masalah dengan itu semua" muka dan nada sama² datar.
bunga menarik nafasnya pelan lalu mengeluarkannya perlahan-lahan, dia takut tapi dia harus memberitahu ini kalau tidak takutnya nanti danita akan meninggalkan Rangga sama seperti bunga.
"Rangga wanita mana yang nyaman kalau selalu dikekang oleh pasangannya? apalagi istrimu itu umurnya masi muda Masi mau merasakan kebebasan masa mudanya" ucap bunga mantap.
"pergi kau dari gedung ini, itu semua tidak aku anggap sebagai suatu kata²" bangkit dari duduknya lalu berjalan kekursi kebanggaannya.
"aku mengatakan itu karna itu adalah alasan utama ku pergi meninggalkan mu beberapa tahun lalu" akhirnya kata² itu keluar.
"nona apa yang anda katakan?" tanya zan dengan suara dingin.
Rangga memberhentikan langkahnya saat mendengar ucapan Rangga barusan, hatinya seperti tersadarkan kembali kalau itu memang salah.
"informasi yang sekertarismu ini dapatkan aku akui itu ada benarnya karna saat itu nenek ku yang hanya ku punya satu²nya sedang sakit parah dan aku membutuhkan biaya untuk Melakukan oprasi nenekku, tapi alasan yang paling utama adalah aku tidak sanggup lagi hidup serba diatur olehmu, berat juga rasanya aku meninggalkanmu waktu itu. dan lelaki itu memang pacar ku, tapi itu semua aku lakukan untuk mendapatkan kembali kebebasan ku, Rangga cobalah untuk mengerti perasaan istrimu, kau ingatkan alasan apa juga yang membuat ibu kandungmu meninggalkan papa kino?" ucap bunga panjang lebar dan itu berhasil membuat Rangga tersadar dan membenarkan perkataan bunga walau semua berita tentang kepergian bunga itu benar.
"pergi kau dari sini" kembali berjalan menuju mejanya.
bunga menyeka air matanya yang mengalir saat dia menjelaskan kembali siatusi masa lalu, dan pergi dari ruangan Rangga setelah mengucapkan sesuatu.
"semoga kau sadar Rangga" itulah kata² yg dikeluarkan bunga sebelum keluar dari ruangan Rangga.
__ADS_1
Rangga mencerna semua ucapan bunga tadi, memang tidak ada letak salahnya bisa dibilang semua yang dikatakan bunga benar membuat Rangga seperti menyadari kesalahannya itu yang membuat wanita yang sangat dia cintai di masa lalu pergi meninggalkannya.
BERSAMBUNG