Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Perbincangan malam


__ADS_3

Sebuah negara yang memiliki fasilitas canggih yang menjadi tempat para bisnisman dunia berkumpul, para bisnisman dunia berjumpa dengan bisnisman lainnya dinegara ini. sesuatu yang terlihat sangat normal jika seorang bisnisman berkumpul dengan bisnisman lainnya, tapi mereka semua tentu saja bersaing ketat didunia bisnis tidak jarang juga mereka berteman dengan bisnisman lainnya.


"selamat malam tuan Rangga adinata" sapa pemuda berambut cokelat dan berdiri tegap.


"selamat malam tuan" dibalas sapaan ramah pula dari Rangga.


"sebagai seorang bisnisman yang berasal dari negara yang sama, kita seharusnya bisa menjadi rekan bisnis yang baik mungkin tuan Rangga?" mengambil gelas bening yang berisi minuman berwarna kuning.


"sepertinya begitu tuan" melirik minuman yang baru saja diambil oleh pria itu.


"mari kita minum-minum dan bersenang-senang malam ini tuan Rangga yang terhormat" memberikan gelas ke Rangga.


Rangga mengulurkan tangannya sambil tersenyum risih. "terima kasih" bukannya meminumnya Rangga malah menaruh kembali ke meja sebelahnya.


"banyak rumor mengatakan anda sangat jago tentang yang beralkohol" menaikan satu alisnya dan memainkan gelas yang dipegangnya.


"saya sedang tidak ada niat untuk meneguknya" tapi dia malah meneguk gelas yang berisi wine itu.


"wah wah anda penuh kejutan ya" tertawa renyah menatap Rangga yang meneguk habis minumannya. "apa anda ingin menambah lagi?, dengan senang hati saya akan mengambilnya"


"tidak terima kasih" menghentakkan gelasnya.


"ayah saya sering sekali bercerita tentang anda, seberapa hebatnya anda ayah saya selalu menceritakannya" mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, dia tidak menatap Rangga yang ada didepannya. "saya terkadang iri dengan anda, muda, bertalenta, cerdas apa yang tidak anda miliki dalam diri anda bahkan seisi dunia bisa anda beli dengan harta anda . wahh membayangkan saja saya sudah merinding" lagi-lagi tertawa renyah dan hanya dibalas oleh tatapan aneh dari Rangga.


"dia sama seperti ayahnya, banyak mulut" menatapnya dengan datar dan risih.


"apa yang tidak bis–"


"maaf tuan saya tidak punya waktu untuk berbincang hal yang tidak perlu dengan anda" mengabaikan pria itu dan berlalu begitu saja.


selepas kepergian Rangga, pria itu tersenyum miring sambil menatap punggung Rangga yang berjalan meninggalkannya.


"Rangga rangga kau terlalu agresif" meneguk habis minumannya Masi menatap punggung Rangga.

__ADS_1


"tuan halta ya, gentari kau seharusnya mendidik anakmu lebih baik lagi" bisik zan dalam hatinya menatap dari ujung. dan beralih berjalan dibelakang Rangga.


banyak yang ingin menyapa Rangga, berjabat tangan dengannya dan bisa berbincang walau hanya beberapa saat saja dengan Rangga. sementara zan selalu siap disamping atau dibelakang Rangga untuk menjaganya.


"selamat malam Rangga" dua pasangan suami istri datang kerangga.


Rangga terdiam menatap dua orang yang ada didepannya.


"kau sudah sangat besar ya, tuan Kino merawat mu hingga sebesar ini aku kagum" sang suami yang kali ini bicara.


"bagaiman hubungan persahabatan kau dan rizal?, kalian baik-baik saja kan?" wanita paru baya itu memegang lengan Rangga.


"seharusnya kau menanyakan tentang anak mu bukan hubungan kami" melepaskan tangan wanita itu dengan sedikit kasar "rawatlah anakmu jika kau iri dengan papa ku yang bisa menjaga dan merawat anaknya dengan baik tidak seperti kalian" dingin Rangga meninggalkan dua pasangan itu.


mereka adalah orang tua kandung rizal yang lebih mementingkan urusan bisnisnya ketimbang anaknya yang mereka terlantarkan begitu saja. Rangga hanya kesal saat mengetahuinya dia menjadi muak saat melihat wajah mereka.


***


"hahhh akhirnya besok aku bisa bertemu dengan danita" bersandar disofa dan membuka jasnya dengan asal.


Rangga langsung meneguk air dingin itu dengan keringat yang bercucuran di dahinya, setelah itu dia memijat pelipisnya sepertinya Rangga juga lelah.


"wine yang tadi aku minum rasanya berbeda" menyenderkan kepalanya di pundak sofa.


"tuan anda tidak boleh minum terlalu banyak" mengambil jas yang dibuang sembarangan oleh Rangga.


"yaya aku tau" menaikkan kakinya kemeja.


"zan besok atur penerbangan pagi" bangun dari sandarannya.


"baik tuan" mengeluarkan hpnya.


keheningan pun tercipta didalam apartemen milik Rangga yang luas itu.

__ADS_1


"sial aku lupa membelikan sesuatu untuk danita" mencekam bahu zan dan zan terkejut dengan itu.


"saya akan menyiapkannya tuan" Sudah tau apa yang diinginkan Rangga.


"bagus pilih yang bagus dan mahal jangan belikan yang murah untuk nitaku" menyilang kan tangannya.


"baik tuan" menatap Rangga sekilas dan kembali lagi ke layar hpnya.


"seperti apa wajahnya melihatku besok?" bergumam dengan dirinya sendiri.


"ada berita apa dirumah?, selain kedatangan wanita tua itu" menatap zan yang masi berkutik dengan hpnya.


"nona danita memutuskan untuk berteman dengan salah satu pelayan disana tuan"


"eh? siapa?" wajahnya sudah susah untuk diartikan.


"pelayan dibagian perkebunan tuan namanya sari"


"apa dia baik dengan nitaku?" beranjak mendekat kezan.


"menurut laporan dari audri, sari Masi canggung untuk berbicara informal ke nona danita" menatap Rangga Yang sedikit aneh.


"biarkan mereka, selama pelayan itu tidak memiliki niat buruk berteman dengan nitaku" kembali bersandar.


"baik tuan" kembali ke hpnya.


Rangga berjalan meninggalkan zan yang masi membuka hpnya. "kau makan sana, kau belum mengunyah makanan dari tadi siang kan?" ucapnya sebelum masuk kekamarnya.


"baik tuan" berdiri dan menatap Rangga.


"setelah itu istirahat lah, jangan bersikap seperti robot ku" diakhiri dengan suara pintu kamar tertutup.


"baik tuan muda, selamat beristirahat" walaupun Rangga sudah menghilang dan masuk kekamarnya zan tetap mengucapkan selamat istirahat untuk tuan mudanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


ps:ingatkan author jika ada typo


__ADS_2