Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Pertengkaran kecil


__ADS_3

Rangga pulang membawakan jus mangga yang diminta danita, dia membawanya dengan rasa bangga karna dia yang telah mengambil mangganya sendiri. tapi saat tuan muda ini sampai dirumahnya rasa bangga akan dirinya itu langsung anjlok begitu saja.


"danita" panggil Rangga mencari didalam kamarnya.


"apa?" keluar dari ruang ganti baju Masi menggunakan jubah mandinya.


"jus manggamu" menyalurkan tangannya yang menggantung jus itu.


"aku sudah tidak mau, kau kelamaan" naik keatas ranjang menatap Rangga yang masi disana.


Rangga menjatuhkan kantung yang dipegangnya ke lantai, menatap danita yang duduk cantik diatas ranjang, mukanya memerah ingin mengamuk disitu juga tapi dia tidak bisa.


"aku sudah mengambilnya untukmu" masi berdiri disana tidak bergerak selangkah pun.


"tapi aku sudah tidak mau" merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang menatap Rangga yang masi disana.


Rangga berjalan keruang ganti baju, sepertinya dia beneran kesal dengan danita. dan danita memiringkan tubuhnya sambil menaikkan selimutnya terdengar suara dibawah sana.


****


selepas dari kejadian sore itu terjadi kesunyian didalam kamar yang biasanya selalu ramai dengan ocehan Rangga atau danita didalam sana.


"sayang" duduk dipinggir ranjang.


"hm" Masi fokus mengutak-atik hpnya.


"kau tadi bertemu Rio?" menahan tubuhnya dengan tangannya.


"hm" tidak memalingkan wajahnya dari layar hpnya.


"baju yang kamu gunakan tadi itu punya Rio juga kan?" menatap Rangga yang tidak memalingkan wajahnya.


"hm" sebenarnya ekspresi Rangga dari tadi memang datar saja tapi saat danita menyebutkan Rio terus mukanya seperti jadi kesal.


"sayang" mendekat ke Rangga dan memegang wajahnya agar menatap dirinya.

__ADS_1


"apa? sana kau bicara dengan adikmu saja" menyingkirkan tangan danita.


"sayang kau marah?" menahan tangan Rangga agar tidak bangun dan pergi.


"terserah" menepis tangan danita lagi.


"kenapa kamu selalu marah saat aku menyebut Rio? padahal dia hanya adik ku" menahan Rangga lagi agar tidak berdiri.


"memangnya kenapa kalau aku cemburu dengan adikmu? kau selalu menyebut namanya, kau selalu berbicara tentangnya, bahkan aku tidak pernah memintamu untuk berbicara tentangnya, bagaiman aku tidak marah kau selalu menyebut namanya?" menatap danita dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, tangannya mencengkram erat tangan danita yang menahannya.


"tapi kenapa kau marah? aku hanya menyebut namanya" menatap sorot mata Rangga.


"aku sudah mengatakan berapa kali, aku tidak suka kau menyebut nama laki-laki selain aku" sekarang berteriak meluap ke atap-atap kamar.


"apa kau cemburu karna kau mencintaiku? atau kar–" ucapnya terpotong.


Rangga dengan cepat memotongnya dengan bibirnya, dia tidak mau mendengar kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut danita.


"apa? apa yang mau kau katakan?" melepaskan bibirnya dan menatap danita yang sedang mengatur nafasnya.


Rangga melahap habis bibir danita dan tidak memberi cela untuk danita mengatur nafasnya. danita merasakan sesak di dadanya, saat dia mendorong dada Rangga yang didorong mala semakin menarik dagunya dengan paksa.


"katakan apa yang kau ingin katakan tadi" melepasnya lagi dan mengatur nafasnya.


danita diem tidak mau bicara karna pasti Rangga akan menciumnya lagi, dia juga tidak mau berbicara apa yang ingin dia katakan tadi.


"danita" teriaknya menggema ditelinga danita.


"aku tidak mau!!, aku tidak mau mengatakannya" menjauhkan diri dari Rangga.


"apa aku cemburu karna aku mencintaimu atau apa? lanjutkan kata-kata mu" menarik pinggang danita dan jatuh dipangkuan Rangga.


"atau kau hanya tidak mau aku menyebut nama laki-laki lain" menjawab dengan gugup dan takut dengan sorot mata Rangga yang membuat bulu kuduknya berdiri.


"oh jadi itu yang mau kau katakan" memasukkan tangannya ke dalam baju danita.

__ADS_1


"kau tidak pernah bilang kalau kau mencintaiku atau tidak, aku hanya ingin tau itu" tubuhnya sudah gemetar, sudah lama dia tidak gemetar seperti ini.


"kalau aku bilang aku tidak mencintaimu bagaimana?" tangannya Masi aktif disana, dengan tatapan yang masi sama seperti tadi.


"itu terserah kau, aku hanya ingin bertanya" perlahan tatapan mata danita turun kebawah dan wajahnya terlihat tidak seperti tadi.


dengan cepat Rangga meraih bibir danita lagi dan menjatuhkannya ke kasur dengan Rangga yang menindihnya.


"dengar dan telaah perkataan ku" memegang dagu danita supaya danita tidak memalingkan wajahnya.


"jangan sebut nama laki-laki lain kecuali aku!!" mengangkat telunjuk lalu mengangkat juga jari tengahnya "itu berarti sekalipun adikmu atau siapapun itu tidak boleh" tangan satunya berjalan ke kancing baju danita.


"t-tapi" mau protes tapi dihentikan oleh bibir Rangga lagi.


"aku belum selesai bicara" memainkan telinga danita "aku akan lebih marah kepadamu kalau kau menyebut nama laki-laki lain dibelakang ku, kau tau kan apa yang akan aku lakukan?" Masi memainkan telinga danita dengan santai. "aku akan membuatmu tidak bisa berjalan seminggu" menyeringai seram, danita merinding melihatnya. "apa kau masi berani menyebut nama laki-laki lain?" mengusap bibir danita dengan ibu jarinya.


"t tidak" dengan tubuh yang mungil dia tidak bisa berbuat apa-apa dibawah Rangga yang badannya dua kali lebih besar darinya.


"nikmati dan lakukan yang aku suru" melempar baju danita yang dengan mudah ditarik olehnya.


danita tidak bisa apa-apa dibawah kendali Rangga, Rangga memang sedang dalam kondisi kesal karena pertengkaran kecil yang terjadi tadi. tapi Rangga tentu tidak melampiaskan semua amarahnya karna dia tidak lupa ada anak didalam perut danita. Rangga berhasil membuat danita terkulai lemas dibawahnya, sebelum dia menyelimuti tubuh danita, yang diselimuti Mala sudah tidur pulas lebih dulu.


sepertinya Rangga juga kelelahan dengan permainannya sendiri. terlihat dia memijat pelipisnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


"sepertinya aku lupa menikahi gadis yang masih belia" mengusap pipi danita yang basah karna keringat. "apa perlakukan khusus yang aku berikan belum bisa memberitahu mu?" mengecup sekilas bibir danita yang memerah karna ulahnya.


dia menghembuskan nafas kasar, menyelimuti tubuhnya dan menarik danita masuk kedalam dekapannya. dingin malam yang berhembus menusuk ke tulang itu tidak dibiarkan oleh Rangga menyentuh kulit danita dengan bebas.


"aku mencintaimu lebih dari apa pun" satu kecupan terakhir di puncak kepala danita dengan rambut yang terburai berantakan.


pertengkaran kecil malam ini berakhir dengan hembusan nafas tenang dari kedua orang yang berada diatas ranjang yang besar itu.


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo

__ADS_1


__ADS_2