
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu diperjalanan, zan meminggirkan mobilnya di depan sebuah rumah. mereka sampai saat hari sudah sangat petang. tidak peduli mau gimana nanti didalam, Rangga langsung melangkahkan kakinya ke pintu.
"danita" panggil rangga dengan bodohnya dia tidak mengetuk pintu.
"tuan rangga" ternyata disana ada bapak danita yang habis dari dapur.
"dimana danita?" langsung bertanya tanpa permisi.
"tuan maaf sebelumnya apa anda bisa berbicara dengan saya?" memberanikan dirinya untuk berbicara dengan Rangga.
Rangga tau siapa yang ada dihadapannya ini, dia juga Masi tau sopan santun. untuk menghormati ayah mertuanya dia duduk mengikuti apa yang dilakukan ayah mertuanya.
"bukan maksud saya untuk ikut campur masalah rumah tangga anak saya, pasti anda sudah mengetahui beritanya" menjeda ucapannya sebentar. "saya ingin mendengar langsung dari mulut anda, apa anda benar-benar mencintai anak saya?" menatap lekat dan serius kedua mata Rangga.
Rangga tidak memalingkan pandangannya dia juga menatap kedua mata yang ada didepannya. "saya mencintai danita, saya mencintai anak bapak, walau danita meminta seisi dunia akan saya beri karna saya mencintainya" tegas Rangga tanpa mengalihkan pandangannya.
bapak mencoba untuk mencari sebuah kebohongan dari mata seorang lelaki yang ada didepannya. tapi nihil, yang terlihat hanya sebuah ketulusan dan kejujuran yang dia lihat.
"kenapa anda mau menerima perjodohan tuan Kino?" melanjutkannya karna dia ingin melihat ada kah sebuah kebohongan dari setiap perkataan Rangga.
"karna dari awal saya sudah terpikat dengan danita"
lagi-lagi bapak tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Rangga.
"apa anda pernah berfikir untuk meninggalkan anak saya? apa tuan rangga pernah membandingkan putri saya dengan wanita yang lebih cantik diluar sana?" mata sayu yang terlihat sudah mulai ada lipatan itu tidak membuat Rangga takut untuk berbicara jujur.
"Dimata saya hanya danita wanita tercantik, terindah dan danita adalah wanita yang bisa membalikkan dunia saya, saya tidak pernah berfikir untuk meninggalkan danita sedikitpun, danita segalanya bagi saya, anak yang ada diperut danita juga segalanya bagi saya. tidak ada satu pun didunia ini yang mengalahkan pentingnya danita untuk saya" jelas Rangga panjang kali lebar kali tinggi.
terdengar helaan nafas bapak, dia seperti lega.
__ADS_1
"tuan saya tidak meminta apa-apa, saya hanya minta tolong jaga danita, dia anak perempuan yang selalu saya jaga sejak kecil, dia anak yang suka teledor waktu kecil dia sering jatuh dari tangga dan danita adalah anak yang tidak pernah saya kasari" menatap sendu mata yang tegas dan mata yang seolah-olah sudah merasakan beratnya dunia.
"saya akan menjaga danita, terima kasih sudah mempercayai saya" senyum tipis terpampang di bibir Rangga.
dijawab dengan senyum sendu dari bapak danita. Rangga melihat sebuah perasaan lega tapi juga ada perasaan tidak rela dari senyuman sendu bapak mertuanya.
"aku tidak jadi tutup kuping deh, ini sangat sayang dilewatkan" zan yang dari berdiri didepan karna ditahan Rangga sedikit terharu. ingat itu sedikit!
***
"buka saja pakai kunci ini" memberikan kunci cadangan kamar.
Rangga mengangguk mengambil kunci dari bapak.
ceklek
"dia bisa sakit" menaikkan tubuh danita sampai dia tidur di pelukan rangga, sambil menarik selimut yang terjatuh dilantai.
"sayang" erangan danita Masi dengan mata yang terpejam.
"hmm?" mengelus lembut pipi danita.
"jahat hiks" sepertinya dia menangis sampai ketiduran. terlihat jelas matanya yang sembab.
"kau lebih jahat meninggalkan ku dan pulang ke rumah mu" menaruh dagunya diatas kepala danita.
"kau selingkuh dibelakang ku kan?" dia sedang mengigau atau sudah bangun tapi dia belum sadar?.
Rangga memegang dagu danita untuk melihat dia benar-benar tidur atau tidak. semua kalimatnya sangat jelas.
__ADS_1
"benar-benar jahat" mencari titik ternyaman di dada bidang Rangga.
"lucu sekali" mengusap mata sembab dan merah danita.
tidak lupa Rangga mengecup lembut jejak-jejak air mata yang masi terlihat dipipi dan tengkuknya. dia tidak suka melihat kesayangannya menangis.
"ayo kita pulang" merapatkan selimutnya ke tubuh danita lalu menggendongnya dan berjalan keluar kamar.
Rio yang kebetulan lewat didapur dihiraukan begitu saja oleh Rangga. padahal dia menatap danita yang berada didalam dekapan kakak iparnya dengan sangat rapat. itu membuat Rio berdecih.
"hapus semua berita tentang tuan Rangga hari ini, jangan sampai ada keluar berita tentang tuan Rangga lagi" ucap zan didepan sana dengan salah satu reporter adinata.
"baik tuan" bergegas pergi dari sana.
zan membukakan pintu mobil untuk Rangga membawa masuk danita. bahkan dia hanya bisa melihat rambut danita saja karna tertutupi selimut oleh Rangga.
dia membuka pintu sendiri dan duduk sendiri di depan kemudi.
dibelakang sana Rangga tidak berhenti terus mengelus kepala danita yang sudah dia buka selimutnya. tampaknya danita masih menangis sambil tertidur.
"maaf sudah membuatmu menangis" menyenderkan Kapala danita ke dadanya sambil dia terus mengelus puncak kepala danita.
walaupun terdengar seperti hanya bisikan tetapi zan bisa mendengarnya, secara kan telinga dua manusia ini seperti kelinci sangat tajam.
mobil melaju dengan kecepatan sedang membuka jalan yang ramai dimalam hari. ini tidak sepadat waktu tadi, bahkan dengan mudah zan membawa mobilnya tanpa harus terkena macet.
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada typo
__ADS_1