
Dipagi hari setelah terjadinya amukan Rangga kemarin, semuanya sudah menjadi normal kecuali penjagaan diluar ataupun didalam rumah utama. jumlah pengawalnya bertambah. di setiap sisi rumah ada penjaga yang berlalu lalang disana. ini sudah seperti penjara.
dikamar utama terdengar sangat tenang tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam sana.
"nyenyak sekali tidurnya" Rangga tidak bersuara sama sekali sambil mendekati sofa.
"dia pasti sangat lelah" memperhatikan selimut yang mulai bergerak.
dibawah selimut itu terdengar erangan kecil dan pergerakan orang dibawah sana. ya danita mulai membuka matanya, satu detik, dua detik dia baru sadar kalau ini bukan kamarnya.
"aku dimana?" celingak-celinguk mengingat kejadian semalam.
"sudah bangun?" suara berat Rangga berhasil membuat danita terduduk dengan cepat.
"sayang kenapa kau disini?" mengangkat selimutnya menutupi tubuhnya.
"memangnya aku harus kemana? ini kan kamar ku" beranjak mendekati ranjang.
"kamarnya?... tunggu tunggu bukannya kemarin aku kabur bersama rasya" berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin.
"apa kau tidak ingat semalam?" menaikkan satu alisnya, memainkan telinga danita.
"t–tidak" menggeleng cepat.
"benarkah?" merebahkan tubuhnya disamping danita.
"ah aku lupa memberitahu, kabur dengan seenaknya, memecat semua pengawal" berhenti sebentar berfikir. "satu lagi hampir merubuhkan rumah ini, apa kau lupa itu?" menoleh ke danita yang tengah membeku mendengar semua perkataannya.
"hahaha kamu bercanda kan sayang?" muka sangat dipaksakan untuk tertawa.
"sejak kapan aku bercanda?" duarrrr hilang sudah senyum paksa danita digantikan dengan muka pias.
"aku melakukan itu karena ulah mu juga kan?" gemeter sendiri dia menatap wajah tidak biasa rangga.
"memang aku berbuat ulah apa?" memiringkan tubuhnya dengan tumpuan satu tangan. jangan lupakan muka tak berdosa khas rangga.
danita menggigit bibirnya, takut menjawab.
"apa?" tanpa bermuka tidak berdosa lagi dia.
"kamu selingkuh kan?" menjawab cepat. sungguh ini refleks dari mulutnya.
"benarkah?" menyentuh dagu danita.
"jawab bukan balik nanya lagi" menepis tangan rangga dari dagunya.
Rangga tersenyum menatap wajah marah danita yang dia anggap sangat menggemaskan itu.
"lihat itu!! sangat menyebalkan sekali bukan?" menatap Rangga tersenyum tanpa berdosa dihadapannya.
"ih jawab jangan senyum-senyum doang!!" emosinya memuncak.
dan itu membuat Rangga tertawa terbahak-bahak sampai wajahnya memerah. wajah itu sangat lucu jika sedang marah.
"jangan marah-marah tambah jelek nanti" mencolek hidung danita.
__ADS_1
"sayanggg" teriak danita membuat Rangga tertawa sampai kembali tiduran.
"jangan teriak-teriak nanti didengar sampai kebawah" mengusap-usap pelan dagu danita
"aku tidak percaya, kamu yang bilang sendiri kamar ini kedap suara" menatap sinis rangga.
"jangan teriak-teriak yang kau panggil sayang ada disini" mengakhiri tangannya dengan colekan di dagu danita.
"sana pergi cepat kau sangat menyebalkan" menutupi malunya.
"hahahaha" berdiri dari sana karna didorong danita.
"aku berangkat ya" mencium kening danita. padahal yang dicium bibirnya cemberut.
"bukannya jawab dulu" tidak merubah tatapannya.
Rangga pergi hilang dari pintu begitu saja, meninggalkan danita yang sedang dihantui pikirannya.
"jangan-jangan dia beneran selingkuh?" kembali berdebat dengan otaknya.
"lalu dia akan memperkenalkannya ke depan publik nanti" menghentikan tangannya.
danita terdiam merenungkan pikirannya. oh sungguh malang kau danita.
"awas saja kalau itu beneran terjadi" membuang nafas kasar.
"tapi bagaimana kalau itu terjadi? bagaimana kalau aku ditendang dari sini? bagaimana dengan nasib anakku?" menggigit jarinya, overtaking sekali dia sekarang.
"nak kalau itu terjadi mama akan ada disini kamu jangan khawatir ya?" mengelus perutnya.
lamunannya harus dihentikan karna dokter yang diutus rajwa atas perintah Rangga mengetuk pintu dan masuk dengan seizinnya.
"tuan orang itu sudah ada dibawah" mengikuti kaki Rangga.
"hm" memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "kita lihat siapa yang berani membawa kabur nitaku"
mereka berdua berhenti diruang tamu yang sudah sangat beda atmosfernya setelah kedatangan Rangga. disana sudah ada pak tan dan seorang wanita yang tampak ketakutan berdiri di samping pak tan.
"habis sudah riwayat ku" menggenggam erat ujung bajunya dengan tangan gemetar.
"hey" panggil zan lebih terdengar seperti teriakan dengan halus.
sontak wanita itu menegakkan kepalanya, sedikit memicingkan matanya ketikan pandangan bertemu dengan wajah zan. hmmm seperti tidak asing.
"kau" membulatkan matanya.
Rangga menatap kebelakang lebih tepatnya ke zan. hanya ada wajah datar zan yang terlihat sementara wanita itu terlihat sangat terkejut.
"kau mengenalnya?" Masi menatap zan.
"tidak tuan" sedikit mengalihkan pandangannya ke Rangga yang duduk disofa.
"kamu zan bukan?" mengedipkan matanya sapa tau dia hanya berhalusinasi.
tidak dijawab oleh zan, sementara Rangga sedikit penasaran bagaimana wanita ini mengenal sekertarisnya.
__ADS_1
"aku Rasya apa kamu tidak mengenaliku?" entah kemana rasa takutnya sebelum ini.
zan terdiam sebentar sepertinya dia mulai ingat. "wanita yang menangis karna pacarnya?" sangat tepat zan.
"iya yang kau antar wa–" ucapannya terpotong.
"tolong jaga sikap anda didepan tuan Rangga" suara pak Tan membuat terdiam wanita itu.
Rasya kembali takut setelah tersadar dia baru saja berbicara sembarangan di depan Rangga.
"kau teman nitaku kan?" mulai membuka suara.
"i–iya tuan" menatap sepatunya dengan gemetar.
"bagaimana kau membawa nitaku?" melipat tangannya didepan dadanya.
"d–danita keluar m–melalui pintu kecil y–yang terhubung k–ke belakang rumah i–ini tuan" gagapnya hampir tidak terdengar jelas.
"Rasya Kurniawan Dwi" ucapnya menyebutkan nama lengkap gadis ini.
Rasya tambah gemetar, takut apa yang akan terjadi.
"karna kau sudah menjadi sahabat baik nitaku aku tidak akan menghancurkan perusahaan ayahmu, tapi gantinya kau harus menghilangkan berita kemarin yang sudah menyebar dikampus. mudah kan?" perkataannya sudah sangat menekan Rasya.
"b–baik tuan akan saya lakukan" itu tidak akan mudah sialan, begitulah perkataan hatinya.
"pergi" melemparkan tatapan yang tidak enak ke Rasya.
Rasya langsung pergi dari sana mencari aman. sungguh itu tadi seperti neraka, dia sudah ingin menangis tadi sangking takutnya. dia berjanji demi Venus akan mencibir danita habis-habisan.
"dimana kau bertemu dengannya zan?" menatap lurus padahal orang yang dia tanya ada dibelakang.
"hanya kebetulan tuan" dia juga hanya menatap kedepan.
"aku mempunyai firasat baik" ucapnya pelan hampir terdengar hanya gumaman.
"pastikan apa yang tadi aku bilang" bangkit berdiri.
"baik tuan" menunggu Rangga berjalan.
"tuan Rangga kami sudah selesai memeriksa nona danita" seorang dokter diikuti seorang suster dibelakangnya.
Rangga hanya menatap dokter wanita itu seolah-olah bertanya.
"tidak ada yang terluka tuan, hanya saja nona danita harus dikurangi stresnya" dia sudah tau tatapan Rangga.
"jangan sampai itu terulang lagi" ucapnya dingin didengar oleh seluruh pengawal dilantai satu.
Rangga berjalan diikuti zan dibelakang, pak tan yang siap untuk mengucapkan selamat berangkat untuk rangga sudah menunduk hormat didepan pintu.
"sepertinya buat dia kesal dulu lebih seru" gumamnya hampir tidak terdengar melewati pengawal dipintu depan.
"apa yang sedang anda rencanakan tuan?" si telinga kelinci ini dapat mendengar jelas.
sialan!
__ADS_1
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada typo