
Rumah utama, danita terbangun dan segera berjalan ke kamar mandi. tubuhnya merasa aneh sejak tadi pagi. tubuhnya pun menjadi lebih lemas.
"huek huek" danita memuntahkan isi perutnya.
Mencuci mulutnya dengan air lalu danita melihat pantulan dirinya di cermin.
"kenapa tubuhku menjadi sangat lemas?" menelan ludahnya. dan memuntah lagi. hanya cairan yang keluar. tidak ada makanan sama sekali.
"sayangg" dia tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri.
satu detik dua detik.
ceklek
pintu kamar mandi terbuka dengan lebar. menampilkan rangga yang bermuka bantal, sekejap langsung melek sempurna.
"Nita kamu kenapa?" memegangi perut danita dan mengitari pandangannya ke wastafel.
"sayang tolong bawa aku ke kamar ya?" menaruh tangannya diatas bahu rangga.
Rangga langsung menggendong danita keluar dari kamar mandi, tubuh danita sekarang terasa lebih berat dibandingkan sebelum hamil. tapi bagi rangga ini masih biasa-biasa saja.
"mana yang sakit? perut mu sakit? perutmu kram? atau kepala kamu pusing? bilang pada ku apa yang sakit" menaruh tubuh danita dengan perlahan, dan mengelus kepala danita sambil bertanya tanpa henti.
"aku hanya sedikit lemas sayang" memberhentikan pertanyaan rangga sebelum tambah berakar.
"kamu ingin makan apa? biar aku panggil pak tan" mengusap lembut rambut danita. matanya itu terlihat sangat khawatir.
"say–"
"nita kamu tidak makan malam kemarin?" tatapannya berubah, tetapi rasa khawatirnya tak hilang.
danita gagap mendengarnya, dia melupakan makan malamnya. alasan apa yang harus danita gunakan? bisa meledak emosi rangga kalau dia jujur.
"Nita?" tatapannya tak lepas dari danita.
"a–aku ketiduran sayang" dia tak punya alasan apapun untuk digunakan.
"ketiduran? apa gunanya pelayan dirumah ini? apa gunanya pelayan itu berada disamping mu?" nah kan emosinya memuncak.
"sayang ini bukan salah sari" gemetar takut mendengar nada suara rangga.
"zan sudah menjelaskan apa saja tugasnya disini, lalu untuk apa aku memperkerjakan nya?" tatapannya jadi kesal. tak seperti sebelumnya
"aku yang mengajak sari mengobrol seharian sayang, ini bukan salah sari" memegang tangan rangga dan berusaha tak gemetar melihat tatapan rangga.
"seharusnya pelayan itu mengingatkan kamu untuk makan bukan mengobrol" menakan kata-kata pelayan dengan keras.
"sayang namanya sari jangan sebut sari seperti itu" menggeleng pelan.
Rangga mengusap wajahnya kasar. ini bukan saatnya dia mengamuk tidak jelas. menormalkan kembali pikirannya.
"kamu mau makan apa?" nada suaranya kembali normal.
Sementara danita menatap dengan mata berkaca-kaca. rangga tadi membentaknya.
"nita kau mau makan apa?" tangannya menjulur menangkup wajah danita.
"tidak mau" menundukkan kepalanya.
"Nita jangan membuat ku memanggil pelayan itu kesini" suaranya merendah.
__ADS_1
"namanya sari sayang sari" menendang-nendang selimut, bertujuan menendang kaki rangga tapi malahan tidak kena sama sekali.
"yang penting dia pelayan, itu benar kan?"
"gak tau ah, nyebelin" membalikkan tubuhnya dan memeluk guling.
"oke aku akan memanggil pelayan itu kesini" sudah memegang telepon genggam.
"ahh sayang jangan, sari namanya sayang" menahan tangan rangga.
"syaratnya kamu harus makan"
"iya iya aku akan makan janji" mengangguk cepat dengan mata yang berbinar.
"bagus" memencet tombol yang langsung menghubungkan telepon rumah.
"sayang kok kamu malah mencet tombol itu?" wajah kecewa dan terkejut tergambar diwajahnya.
"kau tidak ingat perkataan mu tadi?" menggantungkan telponnya.
Danita berfikir. apa yang dia katakan?.
"antar kan sarapan kesini, bawa juga buah-buahan" menutup telponnya lalu beralih menatap danita.
"sayang tapi aku tidak terlalu lapar" was-was dengan porsi makanan yang akan dibawa nanti.
"jagoan kita yang lapar Nita" mengusap lembut perut danita dan senyuman manisnya menghiasi wajahnya.
Itu bukan senyuman manis, itu senyuman peringatan.
*****
"katakan aaa" memajukan sendoknya.
"sayang sudah, aku udah kenyang" memundurkan wajahnya.
"zan" terdengar seperti panggilan ancaman.
"nyam" langsung melahap makanan yang ada disendok.
"sepertinya dua jagoan kita menyukainya nita" tersenyum menatap perut buncit danita.
"tidak sayang, perut ku seperti ingin meledak" mengadu dalam hati.
manusia diujung sana hanya memperhatikan sambil menggenggam ponselnya. perintahnya satu, telpon pak tan kalau danita tak mau makan.
"dua jagoan kita sudah sangat kenyang sekarang sayang" menepuk-nepuk perutnya.
"sekarang minum, nanti kalau gak minum bisa mati" menyerahkan segelas air putih sambil menatap perut danita.
"jangan membuat bulu kuduk ku berdiri hiks" meneguk sambil memperhatikan rangga disana.
"zan kau lihat? aku menyuapi Nita dan anakku sampai kenyang" senyumnya belum hilang. sesekali dia melirik zan. lalu kembali menatap danita.
"ya, lakukan sesuka anda tuan" memasukkan hpnya kedalam jasnya. dia sebenarnya untuk apa disini?.
"sayang kamu gak ke kantor?"
"menyuapimu lebih seru dari pada pergi ke kantor" mengusap ujung bibir danita.
"aku yang tersiksa hiks" dia tak sama sekali merasakan apa yang rangga rasakan.
__ADS_1
"Nita apa anak kita ingin dibacakan buku cerita?" mendekatkan diri ke danita.
Danita mengangguk semangat. "sayang sepertinya anak kita ingin dekat dengan pamannya" mengusap-usap perutnya.
"paman?" rangga mengkerut kan keningnya.
"sekertaris zan" menunjuk semangat manusia yang ada diujung sana.
"nona saya bukan calon paman anak anda". zan pun mengelaknya dalam hati.
Rangga membuang nafas kasar. padahal dia ingin membaca buku cerita untuk anaknya. tapi kenapa anaknya ingin zan yang membacakannya?.
"zan tidak bisa membaca buku cerita, aku saja ya?" menarik tangan danita yang menunjuk zan.
"tapi anak kita maunya sekertaris zan yang baca" menunjuk kembali zan.
Rangga mendengus. "kau tidak mendengar ucapan danita?" menekan kata-katanya. kesal kenapa anaknya lebih memilih zan.
Zan berjalan mendekat. sepertinya ini akan menjadi ngidam pertama nona danita yang menyusahkannya.
"baca ini sekertaris zan" memberikan buku cerita yang sudah ia siapkan.
"wahh sepertinya kau sudah menyiapkannya ya? apa ini benar-benar keinginan anak kita Nita?" sorot matanya seakan-akan ingin membunuh.
"e–enggak sayang, ini buku cerita semalam yang tidak jadi aku baca" padahal iya, dia ingin mengetahui tentang sekertaris zan. berhubung sahabatnya mungkin sedang menjadi hubungan dengan sekertaris zan, dia ingin sedikit membantu.
cih. memalingkan wajahnya.
"ayo cepat baca sekertaris zan" duduk rapih disana. menatap binar.
zan menatap rangga terlebih dahulu, tentu dia akan mendapat sorot mata yang tak enak. tapi dia bisa paham kalau rangga menyuruhnya untuk membaca.
Zan mulai membaca ceritanya, danita mendengarkan dengan saksama. bahkan dia terus menatap sekertaris zan selama membaca. karna danita masih ingat kalau disini ada manusia pencemburu, jadi dia langsung berkedip beberapa kali. cara membaca sekretaris zan lebih baik dari pada rangga ternyata. dia nyaman saat zan membacanya.
Danita bertepuk tangan. zan lebih baik dari rangga dalam hal baca membaca.
"terima kasih sekertaris zan" tersenyum manis dan lebar.
"tutup mata mu zan!!" sang suami mulai beraksi kembali.
zan spontan langsung menutup matanya. tubuhnya akan reflek apapun yang rangga perintahkan.
"berani-beraninya kau tersenyum pada lelaki lain" kembali pada istrinya.
"sayang dia hanya sekertaris zan" melirik zan sedikit tapi langsung ditahan rangga.
"iya iya" akhirnya pasrah dengan tingkat pencemburu rangga.
"keluar kau" menatap tajam sekertarisnya.
"baik tuan" menunduk sambil membuka matanya dan langsung berbalik.
"kenapa aku harus ada disini?". dia pun menyesal telah masuk. membuang-buang waktu, dengan waktu segitu dia bisa menyelesaikan laporan yang tertunda.
"kenapa kau tersenyum dengan zan?" kecemburuan disini belum selesai.
"itu sebagai ucapan terima kasih sayang" tidak tahu harus menjelaskan seperti apa.
"kamu kan bisa hanya mengucapkan terima kasih tanpa harus tersenyum seperti itu" menggerak-gerakkan kepalanya. pertanda dia tak suka.
"astaga, hentikan ini tuan muda" menghela nafas pelan.
__ADS_1
terkadang rangga bisa sangat menyeramkan kalau sudah cemburu. tapi terkadang juga dia sepeti anak kecil kalau sedang cemburu. seperti ini contohnya.
BERSAMBUNG