
Dari luar ruangan khusus sekertaris zan terlihat biasa saja. tetapi orang yang menempati ruangan ini tidak sedang biasa-biasa saja. awalnya dia sedang membaca laporan, tetapi sekarang dia sedang berkutat dengan layar komputernya. sangat mudah baginya untuk mencari tahu tentang seseorang. siapapun bisa ia cari tahu profil orang itu.
Tangannya terhenti saat matanya membaca sepatah kata. nama perusahaan dan nama seseorang disana. ekspresinya tidak mencerminkan dia terkejut, bahkan terkesan biasa saja.
"jadi ini" menurunkan kebawah tulisan-tulisan itu.
zan menopang dagunya dengan tangan kanannya. dia baru menemukan sesuatu yang bisa ia pikirkan tentang sikap wanitanya kemarin.
dia meraih bolpoinnya dan menulis sesuatu dikertas kosong. lalu kembali membaca dokumen itu. dia merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya.
sebuah cincin didalam tempatnya. zan menatapnya lekat, dia berencana akan memberikan cincin ini secepatnya. tetapi sepertinya harus dia tunda dahulu.
zan berdiri dan keluar membawa laporan yang tadi dia baca. zan masuk ke ruang presdir tanpa mengetuk pintu, rangga juga sudah pasti tau itu siapa.
"bagaimana?" tanya rangga menaruh bolpoinnya.
"apa tuan?" menaruh kertas-kertas itu dimeja rangga.
"danita" jawabnya cepat.
"sepertinya mereka menikmati waktunya tuan" berdiri seperti biasa didepan meja rangga.
"apa yang mereka bicarakan? sepertinya seru sekali" meraih kertas laporan yang ditaruh zan.
"mereka membicarakan banyak hal tuan" mengamati rangga yang sedang membaca kertas laporan itu, sesekali menoleh sekilas ke dirinya.
"biarkan mereka" terlihat sedang membaca kertas yang di tangannya.
"baik tuan" menatap lamat rangga tanpa memalingkan pandangannya.
"bagaimana kau dengannya?" matanya masih membaca.
"saya semalam berkunjung ke rumahnya"
Rangga mengangguk dengan mata yang masih menatap kertas itu. dia hanya ingin bertanya tidak ingin kepo dengan selebihnya.
"tuan apa boleh saya menunda niat saya?"
Rangga berhenti membaca, menatap zan. "kenapa?" menaruh kembali kertasnya.
"saya akan melakukannya saat nona danita sudah melahirkan"
Rangga membuang nafas kasar, "memang benar berharap kepadamu itu sangat mustahil" gumamnya pelan menatap ke arah lain.
"masih banyak yang tidak bisa saya tinggalkan tuan termaksud tugas saya menjaga anda" menangkap gumaman rangga.
__ADS_1
Rangga mengusap wajahnya. "berhenti lah selalu mengedepankan ku zan"
zan tak bergeming, itu adalah janjinya kepada mendiang tuan kino. zan malah lebih bertekad untuk menunda niatnya setelah papa kino pergi. prioritasnya kepada rangga tambah menjadi-jadi.
"aku bukan rangga dahulu yang harus selalu kau jaga" menekan kata-katanya. menggoyahkan apa yang sudah zan katakan itu sangat sulit bahkan rangga belum tentu bisa.
"sa–"
"ini perintah" tegasnya tiba-tiba tidak memberi kesempatan zan untuk menyelip kata-katanya.
Zan diam, ini perintah katanya. berarti harus zan lakukan. tapi hatinya masih gusar-gusar tak tenang, dia harus mengejar seorang wanita seperti dahulu lagi. dia takut pengawasannya terhadap rangga kembali teralihkan seperti dulu. syukur zan belum terlambat saat itu.
"papa sangat ingin melihat mu bahagia zan" melipat tangannya diatas meja.
Tapi kebahagiaan zan adalah saat melihat rangga bahagia. jengah sekali dia memikirkannya, kenapa dia bisa jatuh cinta dengan rasya hanya dengan kecupan tak sengaja itu? dia mulai meragukan perasaannya sendiri.
Apakah ini benar-benar rasa cinta atau hanya rasa penasaran kepada rasya?.
kepala sekertaris zan dipenuhi dengan pertanyaan semacam itu, bagaimana sesungguhnya perasaannya? apa dirinya benar-benar mencintai rasya? tapi kenapa bisa dengan mudah?. benar-benar pusing kalau sudah berhubungan dengan cinta.
****
Zan kembali kerumah ini, dia datang di jam setengah delapan. tidak mau diteriaki rasya lagi. ngomong-ngomong dia masih sangat bimbang dengan perasaannya. lalu untuk apa dia kesini? untuk menepati janjinya.
"kenapa kau selalu mendadak sih" suara itu terdengar nyaring ditelinga zan.
Rasya lupa. "ikuti cepat" berjalan mendahului zan. rasya berjalan ke jalanan yang agak sepi tapi masih ada orang yang berjalan disana.
zan menyusul rasya dengan langkah sedang. tetapi berhasil menyamakan jalannya.
"mau kemana?" menatap kedepan sambil menggulung lengan kemejanya.
zan tadi melepas jasnya dan menaruhnya di mobil.
"tidak tahu" melipat tangannya. rasya memakai hoodie dan celana jeans. dibilang rasya lupa kalau zan akan kesini. bahkan tadinya rasya memakai piyama.
"hah?" menoleh cepat.
Rasya mendengus lalu berbelok. katanya tadi tidak tahu kenapa malah belok?.
ternyata mereka ke taman. ada dua orang lelaki disana, sepertinya sedang bermain basket. rasya duduk di bangku taman diikuti zan yang duduk disebelahnya.
"kenapa tidak masuk kerumah saja?" menatapi rasya yang sedang menutup kepalanya.
"tidak apa-apa" menatap ke depan. dua lelaki itu masih bermain.
__ADS_1
zan masih memperhatikan rasya, dia tahu mengapa rasya menjauhi dirinya dari rumahnya. kulitnya rasya sangat bersih.
"apa cinta bisa muncul kapan saja?" matanya benar-benar tidak bergerak dari rasya.
"bisa lah" sementara rasya masih menatap kedepan.
"kenapa bisa?" merentangkan satu tangannya di senderan kursi.
"karna cinta itu datang tanpa permisi dan tanpa melihat keadaan" menikmati sepoy-sepoy angin yang menimpa kulitnya.
"kalau seperti kau itu apa namanya?"
"aku?" menengok kesamping dan mengkerut kan dahinya.
"kau kan mempunyai banyak mantan, berarti kau mencintainya atau tidak?" kok ucapannya sedikit tidak enak.
"pertanyaan macam apa itu? mantan itu pacar yang sudah menjadi bekas, aku berpacaran dengan mereka tentu aku pernah mencintai mereka" dia berfikir kalau zan sangat bodoh tentang percintaan.
"mencintai tapi ditinggalkan?" ucapnya tanpa dosa dan sangat enteng.
"sudahlah kau diam, membuat orang naik darah saja" gumamnya kesal. bener memang berbicara dengan zan itu kalau tidak kayak balok es ya harus narik urat.
"kenapa orang terkadang bingung dia sedang jatuh cinta atau tidak?" melanjutkan pertanyaannya.
"cinta itu datangnya tak terlihat tapi bisa dirasakan, bisa jadi seseorang itu hanya tidak yakin atau ada sesuatu yang menekannya" suaranya terdengar mulai malas.
"apa kau masih percaya cinta setelah ditinggalkan banyak lelaki?" dia tau gak si kalau ucapnya nyelekit di hati rasya?.
"kau akan merasa seperti di awan saat sedang jatuh cinta sampai-sampai lupa dengan sakit mu yang tercipta karna cinta juga" dia sedikit melirik zan. sebenarnya untuk apa zan menanyakannya?.
"kau mungkin akan tidak menyadari kalau kau sendiri sedang jatuh cinta tetapi ketika kau sedang berada didekat orang yang kau cinta pasti kau akan merasakan sesuatu yang berbeda" lanjutnya, menengok kesamping lagi.
"seperti?" mengangkat satu alisnya.
"akan merasa senang dan nyaman berada didekatnya" dia mulai merasa agak aneh dengan tatapan zan.
"kenapa aku merasakan itu sekarang?"
sekarang tatapan mereka bertemu dengan jarak yang hanya beberapa senti.
"m–mana ku tahu" kembali menatap ke depan. pipinya sudah memanas.
Rasya merasa tengkuknya diraih dan kepalanya diputar kesamping. benda kenyal menyentuh bibirnya. dia membeku di tempat, matanya tak berkedip. merasakan sesuatu masuk kedalam rongga mulutnya.
Sepertinya zan sekarang sudah menemukan jawaban.
__ADS_1
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada